
Satu jam kemudian, David membuka pintu ruangan. Alex, dan Jordan langsung datang menghampirinya.
"Bagaimana Freya?" tanya Jordan.
"Jangan terlalu khawatir, wanitamu baik-baik saja." jawab David sambil tersenyum.
"Jaga ucapanmu Dav." kata Jordan dengan kesal.
"Kurasa David benar, dari tadi kau terlihat sangat panik, benarkah itu hanya rasa khawatir untuk seorang teman." sahut Alex sambil terkekeh
"Diam kalian!" bentak Jordan dengan kesal.
Lalu ia melangkah masuk kedalam ruangan, Alek, dan David menatapnya sambil terkekeh.
Jordan melihat Freya yang sedang berbaring di ranjang. Lengan kirinya diperban, sedangkan di tangan kanannya tertancap slang infus.
"Apa yang kau rasakan Fre?" tanya Jordan sambil duduk di samping Freya.
"Aku tidak apa-apa. Keadaanku sehat, tapi David ngotot memasangkan ini di tanganku." jawab Freya sambil melirik slang infus yang menancap di tangannya.
"Jangan keras kepala, aku yang lebih tahu tentang kesehatan." sahut David yang baru saja masuk bersama Alex.
Freya memutar bola matanya, sesungguhnya ia merasa risih diperlakukan seperti orang sakit.
"Apa yang kau lakukan pada Larry?" tanya Alex sambil menatap Freya dengan tajam. Ia merasa kesal, karena wanita itu bertindak tanpa memikirkan resikonya.
"Aku hanya mengunjunginya." jawab Freya dengan asal.
"Kau benar-benar gila Fre. Larry itu sangat ahli dalam menggunakan racun, kau bisa mati konyol di sana. Lain kali fikirkan dulu keselamatan kamu, sebelum bertindak. Jangan ceroboh!" kata Alex dengan suara yang sedikit tinggi.
"Aku sudah memikirkannya Lex, mereka memang ahli dalam racun, tapi tidak lebih hebat dariku." jawab Freya sangat percaya diri.
"Apa tujuanmu membuat kekacauan di sana?" tanya Alex masih dengan suara tinggi.
"Memancing Mr.X." jawab Freya singkat.
"Dan kau mengaku sebagai anak buahnya?" Alex kembali bertanya.
"Iya. Aku sengaja tidak membunuh Larry, agar dia bisa bicara pada semua orang. Hubungannya dengan Jonathan cukup baik. Jika memang Mr.X adalah Jonathan, tentu saja hubungan mereka akan retak, mereka akan saling mengahancurkan, sedangkan kita hanya menonton saja." ucap Freya sambil tersenyum licik. Ia melirik Jordan, dan Alex yang sedang menatapnya.
"Lalu jika Mr.X bukan Jonathan, apa keuntungannya?" tanya Jordan.
"Jonathan, dan Larry punya hubungan baik. Jadi kurasa Jonathan tidak akan tinggal diam, saat Larry dalam masalah. Jonathan akan mengusik ketenangan Mr.X, mereka akan saling berselisih, dan kita menontonnya dari kejauhan. Dan aku juga yakin, sebentar lagi Mr.X akan keluar dari persembunyiannya, mana mungkin dia bisa tenang, saat ada seseorang mengatas namakan dirinya, dan berkeliaran membuat kekacauan." kata Freya menjelaskan pendapatnya.
"Mungkin rencanamu cukup menarik Fre. Tapi kau fikirkan juga resikonya, jika mereka tahu identitasmu yang sebenarnya, kau akan hancur Fre, nyawamu yang akan jadi taruhannya." ucap Alex pada Freya.
"Tidak akan mudah menguak identitasku Lex. Kau tahu betapa sempurnanya aku dalam menyamar. Dan satu hal yang harus kau tahu, dibutuhkan umpan besar, untuk memancing ikan yang besar." kata Freya sambil menatap Alex.
"Aku menolongmu, hanya untuk menjadikanmu umpan Freya. Tapi kenapa kau harus senekat itu, untuk menyelesaikan misi ini. Kau tak perlu melakukan semua itu hanya demi aku." sahut Jordan.
"Hei, kau jangan salah paham Jordan. Aku melakukan semua ini tidak hanya demi kamu, tapi juga demi diriku sendiri. Aku ingin menjadi orang yang hebat, kuat, dan berkuasa. Aku ingin banyak orang yang tunduk, dan takut padaku. Aku ingin seperti kalian." ucap Freya sambil menatap Alex, dan Jordan.
__ADS_1
"Tapi kau..." belum sempat Jordan meneruskan kalimatnya, tiba-tiba ponsel Freya berdering.
"Tolong ambilkan ponselku." ucap Freya pada Alex, ponselnya berada di atas meja yang tidak jauh dari tempat duduknya Alex.
Alex meraih ponselnya Freya, dan memberikan padanya.
Freya menerima ponsel itu, dan melihat penelfonnya, ternyata Eddie.
"Hallo." ucap Freya saat panggilan telefon sudah terhubung.
"Hallo Nona." jawab Eddi di seberang sana.
"Ada apa?" tanya Freya.
"Orang dari perusahaan Emerald datang ke kantor Nona. Dia mencari Nona, untuk membahas tentang kerjasama." jawab Eddie.
"Tolong suruh menunggu sebentar, aku baru saja menghadiri rapat diluar, aku sudah dalam perjalanan menuju ke kantor." kata Freya dengan cepat.
"Baik Nona." jawab Eddi, dan panggilan telefon pun terputus.
"David, tolong lepaskan infusku, cepat!" perintah Freya sambil menatap David yang sedang meracik obat.
"Kau jangan gila Fre, kau harus tetap berbaring di sana." jawab David sambil menatap Freya dengan tajam.
"Cepat lepaskan, atau aku sendiri yang melepasnya." teriak Freya.
"Freya kau jangan gila." sahut Alex.
"Aku ada urusan yang sangat penting, ini tentang Diamond, kalian harus mengijinkan aku pergi." kata Freya tetap pada pendiriannya.
Tak ada pilihan lain, akhirnya David melepaskan slang infusnya. Dan Freya langsung bergegas turun dari ranjang, tak lupa ia menyambar ponsel, dan juga jubahnya.
"Lex, baju-bajuku masih ada kan?" tanya Freya sebelum membuka pintu ruangan.
"Tidak ada yang menyentuh barang-barangmu Fre." jawab Alex.
Tanpa memberi jawaban apapun, Freya melangkah keluar ruangan dengan cepat, ia terburu-buru menuju ke kamarnya.
"Wanitamu sangat keras kepala." gumam Alex dengan kesal, dan sambil melirik Jordan.
"Dia bukan wanitaku." ucap Jordan.
"Temuilah dia, mungkin dia mau mendengarkan, jika kamu yang melarangnya." kata Alex.
"Aku sudah melarangnya, tapi dia tetap saja pergi. Kau juga mendengar, tadi aku bicara apa." jawab Jordan.
"Jordan." ucap Alex sambil menatap Jordan.
Jordan mendengus kesal, sambil beranjak dari duduknya. Ia keluar ruangan, dan menuju kamar Freya.
Baru saja Jordan hendak mengetuk pintunya, tiba-tiba Freya sudah keluar lebih dulu. Freya memakai rok span selutut warna hitam, dipadukan dengan kemeja panjang warna putih, rambutnya digerai begitu saja, dengan sedikit aksesoris dibagian depannya. Wajahnya dioles make up tipis-tipis, terlihat sangat anggun, dan cantik. Siapapun yang melihatnya, tidak akan mengira, jika dia adalah seorang pembunuh.
__ADS_1
"Kau tidak mandi Fre?" tanya Jordan sambil mengernyitkan keningnya.
"Yang penting cantik, dan wangi." jawab Freya sambil tersenyum nyengir.
Jordan menggeleng-gelengkan kepala, wanita di depannya ini aneh. Terkadang sadis, terkadang cerdas, terkadang licik, dan terkadang juga konyol. Jordan menghela nafas panjang, lalu ia memegang bahu Freya.
"Fikirkan tentang kesehatan kamu Fre. Kau masih dalam tahap pemulihan, jangan pergi dulu. Aku akan menyuruh Eddi untuk mengurus semuanya." ucap Jordan dengan lembut.
"Kamu bisa khawatir juga padaku Jordan. Kamu tahu tidak, aku merasa bahagia, melihat sikap kamu yang seperti ini." batin Freya didalam hatinya.
"Aku tidak apa-apa Jordan. Kita tidak tahu siapa Mr.X sebenarnya. Jadi aku harus tetap menjadi Freya, agar tidak ada yang curiga padaku. Kau tenang saja, aku hanya pergi ke kantor, aku tidak akan kemana-mana." jawab Freya sambil tersenyum.
"Baiklah kalau begitu, hati-hati." kata Jordan mengalah. Freya memang keras kepala.
"Baik. Aku pergi dulu." ucap Freya sambil berlalu pergi, meninggalkan Jordan.
***
Freya menghentikan mobilnya di parkiran kantor, ia bergegas turun, dan masuk ke ruangannya. Ia mempercepat langkahnya, agar segera tiba di sana. Rekannya sudah menunggu cukup lama.
Freya membuka pintu ruangannya, dan ia melihat Eddi sedang berbincang dengan seseorang. Dia adalah lelaki yang Freya temui di cafe waktu itu.
"Maaf menunggu lama, jalanan sedang macet." ucap Freya sambil menghampiri mereka.
"Tidak apa-apa, saya yang salah. Datang begitu saja, tanpa membuat janji terlebih dahulu." jawab Calvin.
"Kalau begitu aku permisi dulu." ucap Eddi sambil beranjak dari duduknya.
"Silakan, terima kasih sudah membantu pekerjaan saya." kata Freya.
"Sesama karyawan harus saling membantu." jawab Eddi sambil melangkah pergi.
"Bagaimana kabarmu?" tanya Calvin sambil tersenyum.
"Saya baik." jawab Freya.
"Jangan terlalu formal." kata Calvin.
"Bagaimana bisa, Anda lebih dewasa daripada saya." jawab Freya sambil tersenyum.
"Apa aku terlihat sangat tua?" tanya Calvin.
"Bukan, bukan seperti itu maksud saya. Saya hanya..." belum sempat Freya meneruskan kalimatnya, Calvin sudah menyahut.
"Kalau begitu tidak usah terlalu formal. Jujur sebenarnya aku ingin berteman denganmu Freya." ucap Calvin sambil menatap Freya.
Nada bicaranya tersengar sangat serius, dan membuat Freya menjadi salah tingkah.
Berteman seperti apa yang dia maksud. Kenapa hati Freya mendadak berdebar-debar.
Freya menatap lelaki itu, sangat tampan, dan senyumannya juga sangat menawan. Semakin lama Freya menatap, pipinya terasa semakin memanas. Ahh ada apa dengan dirinya?
__ADS_1
Bersambung.....