Cinta Ini Membunuhku (Dark Love )

Cinta Ini Membunuhku (Dark Love )
Sah Tapi Gagal


__ADS_3

"Saya terima nikahnya Freya Ollivierra Binti Almarhum Ryan Anggara dengan mas kawin lima puluh gram emas dibayar tunai." Suara Jordan terdengar lantang, menggema dalam ruangan.


"Bagaimana, Saksi, sah?"


"Sah!" jawab para saksi secara kompak.


Jordan menghela napas lega. Setelah tadi sempat gagal, akhirnya ia berhasil melaksanakan ijab kabul. Awalnya, Jordan dan Freya kaget, ketika mendengar teriakan wanita. Namun ternyata, dia adalah Yana. Dia membawa kerudung putih panjang, yang kemudian ditutupkan di kepala Jordan dan Freya. Terlalu tegang, Jordan sampai melupakan hal itu.


Freya menyalami tangan Jordan, dan menciumnya cukup lama. Masih tidak percaya rasanya, bisa menikah layaknya wanita pada umumnya. Setelah sekian lama menjalani kehidupan yang teramat salah, Tuhan masih memberikan anugerah yang indah untuknya.


Detik berikutnya, Jordan meraih kepala Freya dan mencium keningnya. Wanita yang amat dicintai, kini sah menjadi istrinya. Hari ini mereka benar-benar melepaskan masa lalu, meninggalkan dunia mafia dan menyongsong kehidupan yang lebih berwarna.


Lantas, Pak Penghulu memimpin doa dan shalawat. Bersama-sama mengucapkan syukur kepada Tuhan atas limpahan rahmat-Nya, yang menyatukan dua insan dalam ikatan halal.


Usai melantunkan doa, masing-masing memberikan ucapan selamat pada Jordan dan Freya. Mereka saling memeluk dan memberikan doa terbaiknya. Setelah itu, mereka semua menyantap jamuan yang telah disediakan.


_______


Hiruk-pikuk perbincangan, serta lantunan musik yang cukup kencang, masih mewarnai pesta pernikahan Jordan dan Freya.


Kendati jarum jam sudah menunjukkan pukul 11.00 malam, namun masih banyak tamu yang enggan meninggalkan acara.


Rekan, kawan, dan bawahan Jordan yang tersebar di seluruh penjuru, nyaris semuanya datang menyaksikan hari bahagia ini. Mereka sangat senang melihat tuannya kembali seperti dulu. Ceria, bahagia, dan punya cinta.


"Ndrew, temani mereka ya, aku sangat lelah," bisik Jordan, tepat di telinga Andrew.


"Aku paham. Semoga malammu menyenangkan, Kawan," goda Andrew. Ia tersenyum miring sambil menepuk bahu Jordan.


Jordan tak menjawab, ia hanya menanggapinya dengan tawa keras.


"Jangan tertawa terlalu keras. Simpan tenagamu untuk nanti, ingat, dia wanita yang tangguh!" kata Andrew.


"Tidak lebih tangguh dariku," sahut Jordan.


"Jangan terlalu percaya diri, kau pernah kalah telak darinya," cibir Andrew.


Jordan tersenyum lebar, apa yang dikatakan Andrew memang benar. Ia nyaris mati di tangan Freya, dan ia juga lama tersiksa rasa karena mencintai Freya.


Benar-benar wanita yang luar biasa.


"Apa yang kau lamunkan?" Andrew menggoyangkan pundak Jordan.


"Tidak ada. Ya sudah, temani mereka, aku mau ke atas!" Jordan melenggang pergi, meninggalkan Andrew.


"Jangan mempermalukan kaum kita, Jordan!" kata Andrew dengan intonasi yang lebih tinggi.

__ADS_1


Andrew tersenyum getir, kala menatap punggung Jordan yang melangkah semakin jauh. Ia menghela napas panjang, hatinya sedikit tersayat ketika mengingat Alex. Sesungguhnya, semua ini sangat tidak adil baginya. Namun apa bisa dikata, ia hanya ingin membahagiakan wanita yang dicintainya.


"Impian kamu sudah terwujud, Lex. Freya dan Jordan sudah menikah, mereka saling mencintai dan mereka sudah meninggalkan dunia mafia. Semoga kamu juga bahagia di sana, Lex," gumam Andrew dengan pikiran yang menerawang jauh.


Di waktu yang sama, di sudut yang berbeda. Jordan menghampiri Freya yang kala itu sedang berbincang dengan Yana. Jordan kesulitan mengalihkan tatapannya, tawa Freya sangat memesona, seakan mengandung magnet yang senantiasa menarik netranya.


"Sayang." Jordan memanggil Freya sembari melingkarkan tangannya di pinggang sang istri.


"Jordan, ada apa?" Freya menoleh dan menatap suaminya.


"Jordan." Jordan mengulangi ucapan Freya dengan penuh penekanan.


"Mmm maksudku ... Sayang, ada apa?" Freya tersenyum malu. Ia belum terbiasa memanggil Jordan dengan sebutan sayang.


"Ikut aku," bisik Jordan tepat di telinga Freya.


Belum sempat Freya menjawab, Jordan sudah lebih dulu menarik tangannya dan membawanya naik ke lantai dua.


"Sayang, acaranya 'kan belum selesai," protes Freya, ketika mereka sudah tiba di tangga teratas.


"Aku punya acara yang lebih indah," sahut Jordan, tanpa menghentikan langkahnya.


"Oh ya, benarkah?" Freya tersenyum lebar.


"Tentu saja. Sebuah acara yang aku yakin kau tidak akan bisa melupakannya," jawab Jordan dengan penuh percaya diri.


"Kita lihat saja, Suamiku. Aku atau kamu yang tidak bisa melupakannya," batin Freya.


Tak lama kemudian, mereka sudah tiba di ambang pintu. Jordan membukanya, dan mereka langsung disambut dengan semerbak wangi mawar yang sangat tajam.


Freya melangkah masuk, ia terpukau saat menatap ribuan kelopak mawar yang tersebar indah di lantai dan di ranjang.


"Sangat cantik, siapa yang menghiasnya?" Freya bertanya sambil menoleh, menatap Jordan yang masih berdiri di belakangnya.


"Aku sendiri, semua ini kulakukan untuk menyambut istriku," jawab Jordan. Ia menutup pintu dan menguncinya.


Lantas ia padamkan lampu yang benderang dan menggantinya dengan yang temaram.


"Terima kasih, Sayang. Seharusnya kamu tidak perlu melakukan ini. Cintamu, itu sudah lebih dari cukup bagiku," ucap Freya. Ia mendekati Jordan dan mengalungkan tangannya di leher lelaki itu.


Aroma tubuh Freya, menguar harum dan menyeruak dalam hidung Jordan, menggugah hasrat yang sekian lama terpendam. Ditambah sentuhan hangat yang terasa jelas di kulit lehernya, rasa panas di tubuh Jordan, semakin menjalar tanpa batas.


Perlahan, Jordan mengikis habis jarak antara dirinya dan Freya. Ia rengkuh pinggang istrinya dengan erat, dan lantas ia raih tengkuknya.


Jordan semakin mendekatkan wajahnya, ia sudah tak sabar untuk mengulum bibir merekah yang sedari tadi mengacaukan pikiran.

__ADS_1


Freya menunduk dan menghindari ciuman Jordan. Ia tak membuka suara, namun menyembunyikan kepalanya di dada bidang sang suami. Jordan mengernyit heran, ia tidak mengerti dengan sikap Freya. Malu? Jelas tidak mungkin. Di masa lalu, mereka pernah berciuman dan Freya tidak keberatan akan hal itu.


"Sayang, kenapa?" Jordan bertanya sembari meraih dagu Freya. Ia memaksa wanita itu mendongak dan beradu pandang dengannya.


"Aku___" Freya menggantungkan kalimatnya. Ia menurunkan tangannya dan membelai dada Jordan yang masih terbungkus kemeja.


"Kenapa?" bisik Jordan.


Freya meraih tengkuk Jordan dan menariknya mendekat. Lantas ia menempelkan bibirnya di telinga Jordan.


"Aku ingin tidur, kelopak-kelopak mawar itu sangat menarik," bisik Freya dengan pelan.


Seakan ada aliran listrik yang menyengat tubuh Jordan, kala bibir Freya menempel di daun telinganya. Hangat napas pula menyembur, merasuk dan membuat hasratnya kian tak terkendali. Jantungnya kian berdegup kencang, seiring aliran darahnya yang semakin memanas.


"Aku akan membawamu tidur, Sayang. Kita akan mengukir keindahan di atas kelopak mawar yang katamu menarik. Persiapkan dirimu untuk kumiliki seutuhnya, Istriku." Jordan berkata sambil menggendong tubuh Freya.


Freya tersenyum manis dalam dekapan Jordan. Untuk pertama kalinya, ia digendong lelaki yang dicintai. Perlahan, ia merasakan tubuhnya mendarat di antara mawar-mawar merah. Semerbak wanginya semakin menyeruak dalam hidung Freya.


"Malam ini, kita akan saling memiliki, Sayang." Jordan menindih tubuh Freya dan hendak menghirup napas cinta darinya. Namun, lagi-lagi Freya menghindar.


"Sayang! Ada apa denganmu!" kata Jordan dengan napas yang memburu.


"Maaf, aku tidak bisa melakukannya," jawab Freya dengan pelan.


"Apa maksudmu! Kita sudah menikah!" Jordan menatap Freya dengan tajam.


"Jangan marah, Sayang. Aku tidak menolak, aku hanya menunda. Saat ini, aku sedang___" Freya sedikit beranjak dan lagi-lagi menempelkan bibirnya di telinga Jordan. Ia membisikkan sesuatu di sana.


Jordan menggeram kesal, ia mengepalkan tangannya dan menatap Freya dengan mata yang memicing.


"Kau!!!"


"Itu kodratku sebagai wanita, kau tidak boleh menentangnya," ucap Freya sembari tersenyum lebar.


"Kenapa tadi kau diam saja!" bentak Jordan.


"Kamu tidak bertanya, Sayang," jawab Freya, tak mau kalah.


"Kamu memang licik, Freya!" Jordan bangkit dan mengusap wajahnya dengan kasar.


"Licik-licik gini kau jadikan istri," goda Freya.


"Tidak lucu!" geram Jordan. Ia melangkah menjauhi ranjang dan menuju ke kamar mandi.


"Guyuran air dingin cukup efektif, Sayang. Semoga malammu menyenangkan," kata Freya, ketika Jordan tiba di ambang pintu.

__ADS_1


Bersambung....


__ADS_2