
Bunyi ketukan high hells yang Freya kenakan, menyiratkan amarah yang membuat bulu kuduk meremang. Semua staf tahu apa yang telah terjadi pada Siska, Tamara, dan juga Andin.
Diantara mereka ada yang menyalahkan Siska dan teman-temannya, karena lancang menggunjingkan atasan. Namun ada juga yang menyalahkan Freya, mereka menganggap dia terlalu kejam, karena memasukkan nama Siska, Tamara, dan Andin dalam daftar hitam.
Kendati demikian, mereka tak berani menyuarakan isi hati. Opini yang mereka gagas hanya tersimpan dalam benak.
Dengan langkah cepat, Freya masuk ke ruangannya. Pintu berderit keras, karena Freya membuka dengan kasar. Tiba di sana, ia langsung disambut oleh Yana. Sekertarisnya itu membungkuk, sambil mengucapkan kata maaf.
"Maafkan saya Bu Oliv, saya gagal mendisiplinkan karyawan. Saya benar-benar mohon maaf, atas kejadian yang tidak mengenakkan ini." Yana terus membungkuk, tak berani mengangkat kepala barang sedetik saja.
"Tidak perlu minta maaf, ini bukan tugasmu!" jawab Freya singkat.
"Saya tahu Bu, tapi___"
"Keluarlah! Selesaikan pekerjaanmu dengan benar! Temui klien ataupun relasi yang datang. Aku ingin sendiri, aku tidak mau diganggu!" Freya mendaratkan tubuhnya dengan kasar di atas kursi.
"Baik, Bu." Yana melangkah keluar meninggalkan Freya.
Setelah Yana pergi, Freya beranjak menuju jendela. Menatap terik surya yang tak pernah lelah menyinari buana.
Pikirannya kembali melayang ke belahan bumi yang lain, yakni Rusia.
Freya menautkan tangannya, menggenggam erat dua cincin yang melingkar di jari manis. Sebelah kiri dari Calvin, dan sebelah kanan dari Jordan. Freya berusaha menepati janjinya pada Calvin, tidak melepaskan cincin itu sampai kapanpun.
Sedangkan cincin dari Jordan, berulang kali ia mencoba melepasnya. Namun gagal, hatinya selalu menolak setiap kali ia akan melakukan itu. Rasa benci dan kecewa belum cukup mampu mengikis rasa yang telah tertanam dalam khalbu.
"Jordan, apakah kamu masih berpijak di alam ini? Maafkan aku yang telah membuatmu sakit, tapi kau tahu, hati ini juga sangat sakit Jordan," gumam Freya pada deru angin yang membelai wajahnya.
"Jika suatu saat nanti ada sempat untuk bersua___"
Suara gaduh di ambang pintu, membuat kalimat Freya menggantung tanpa ujung. Suara Yana yang sedikit emosi, tertangkap jelas dalam pendengaran Freya.
"Bu Oliv, saya benar-benar minta maaf! Saya sudah melarangnya, tapi dia memaksa masuk!" teriak Yana bersamaan dengan bunyi derit pintu.
"Freya!"
Jantung Freya berdetak cepat, kala mendengar suara lelaki yang memanggil namanya.
__ADS_1
Kendati bertahun-tahun tanpa temu, namun ia masih ingat jelas dengan suara itu. Suara lelaki yang memiliki hatinya, sedari dulu, hingga saat ini.
Freya membalikkan badan, netranya menangkap sosok lelaki bermata biru sedang menatap ke arahnya. Freya meremas tangannya sendiri, meyakinkan hati jika semua ini bukanlah penggalan mimpi.
"Bu, saya benar-benar minta maaf. saya sudah menolaknya, tapi dia sangat memaksa!" Yana masih terus meminta maaf, ia takut atasannya kecewa karena gagal menjalankan tugas.
"Tidak apa-apa, keluarlah!" kata Freya pada Yana.
"Ba...baik, Bu." Yana melenggang pergi, dan tak lupa ia kembali menutup pintu.
"Freya, akhirnya aku menemukanmu." Jordan mengayunkan kakinya, dan berjalan ke arah Freya.
"Jordan, benarkah dia Jordan? Beberapa detik yang lalu aku memikirkannya, dan sekarang dia muncul dalam nyata. Apa artinya ini?" batin Freya.
"Freya!"
"Jordan, benarkah ini kamu?" gumam Freya dengan gugup.
"Iya, aku mencarimu." Jordan berhenti tepat di hadapan Freya.
"Kau baik-baik saja?" tanya Freya.
Freya terkesiap, tak menduga akan mendapatkan pertanyaan sarkas macam itu.
"Bukan begitu maksudku, aku hanya ... kaget. Aku tidak menduga kau akan datang ke sini," jawab Freya. Jantungnya mulai berdetak cepat, kala menyadari aura dingin yang terpancar jelas dari diri Jordan.
"Kau memang cerdik, tapi aku juga tidak bodoh! Menemukanmu adalah hal mudah, Freya." Jordan menatap Freya dengan tajam.
"Sebenarnya apa yang kau inginkan? Membunuhku, seperti yang kulakukan padamu waktu itu, iya!" bentak Freya.
Freya tak mau membuat dirinya terlihat lemah di hadapan siapa pun, termasuk Jordan. Awalnya dia mengira Jordan datang dengan maksud baik, namun rupanya tidak, Jordan datang membawa amarah, dan mungkin juga dendam.
"Kau memang sombong, Freya!" Jordan mencengkeram bahu Freya dengan erat, mendorongnya hingga merapat di dinding.
"Jordan___"
"Aku tahu aku salah, kau kecewa dengan sikapku. Tapi aku melakukan itu demi masa depanmu. Meski aku tidak punya cinta, tapi kebahagiaanmu adalah prioritasku. Namun apa balasanmu, hah! Hanya masalah perasaan, kau berniat membunuhku! Di mana hati nuranimu, Freya!" bentak Jordan dengan napas yang memburu.
__ADS_1
"Aku___"
"Kau tahu, tindakanmu berakibat fatal. Karena ulahmu, aku kehilangan seseorang yang berharga. Kau harus bertanggungjawab, Freya. Aku akan merampas sisa hidupmu, mulai detik ini," pungkas Jordan masih dengan intonasi tinggi.
"Aku tidak akam membiarkan hal itu terjadi, hidupku akan tetap menjadi milikku sendiri!
Kau bilang aku tidak punya hati nurani, lalu bagaimana dengan dirimu sendiri, Jordan! Aku sudah membunuh rival terbesarmu, walau ternyata dia adalah kekasihku. Aku terpuruk, aku berusaha mengobati lukaku. Dan kau datang dengan sikap yang manis, seolah aku adalah ratu dihatimu. Lantas aku luluh, dan mulai mencintaimu, lalu aku tahu jika semua itu hanya pura-pura. Apa kau pikir aku ini hanya lelucon, Jordan! Setelah apa yang kulakukan untukmu, kau sama sekali tak menghargaiku!" bentak Freya. Setelah ada sempat, dia meluapkan segala hal yang mengganjal dalam sanubari.
"Apa pentingnya cinta? Seharusnya kau bahagia, karena aku mau menyembuhkan lukamu dan membahagiakan kamu. Kau menganggap dirimu terlalu tinggi, Freya!" geram Jordan.
"Aku memang tidak tinggi, tapi aku tidak serendah kekasihmu yang seorang pengkhianat. Dan bodohnya, kau tetap tergila-gila padanya!" Freya tersenyum sinis.
Jordan semakin mengeratkan cengkeramannya, tak peduli meskipun Freya meringis menahan sakit. Mendengar Freya merendahkan Lyana, emosinya semakin membuncah.
"Meskipun dia menjalin hubungan denganku dilandasi kebohongan, tapi dia tidak membuatku kehilangan seseorang," ucap Jordan tepat di wajah Freya. "Baca ini baik-baik, dan pahami apa akibat dari tindakan bodohmu!" Jordan melepaskan cengkeramannya, dan menyodorkan lipatan kertas yang sedari tadi ia genggam.
Freya meraih lipatan kertas itu sambil mengernyitkan kening. Matanya melirik Jordan yang masih berdiri di hadapan.
Kemudian Freya membuka lipatan, dan netranya menangkap coretan aksara tertuang rapi di sana.
Untuk Freya Ollivierra
Tiga kata yang berada di barisan paling atas.
Lantas Freya melirik ke sudut kanan bagian bawah. Matanya memicing saat menatap nama Alex di sana. Untuk menepiskan rasa penasaran, Freya mulai membaca baris demi baris kalimat yang Alex tulis untuknya.
Tubuh Freya gemetaran, keringat dingin mengucur membasahi baju yang dikenakan. Tenaganya perlahan sirna. Tak membutuhkan waktu lama ia terjatuh lemas di lantai. Air mata berderaian, membasahi lembaran kertas yang masih dalam genggaman.
Bersambung...
Terima kasih untuk kakak-kakak semua yang masih mendukung Cinta Ini Membunuhku sampai saat ini.
Tak terasa kita sudah sampai di penghujung Ramadhan, semoga amal ibadah kita di bulan ini diterima oleh Allah SWT.
Beberapa hari lagi kita akan tiba di hari Fitri. Maafkan semua salah dan khilaf, entah yang kusadari atau yang tidak. Minal aidzin wal faidzin,,, mohon maaf lahir dan batin.
Maaf jika hari-hari ini selow update, dan belum bisa balas komentar. Seusai lebaran, Insyaa Allah akan kembali normal. Up teratur, balas komen juga teratur.
__ADS_1
Sekali lagi terima kasih dan mohon maaf yang sebesar-besarnya.