
Jarum jam sudah menunjukkan pukul 11.00 malam, namun Jordan masih terjaga. Ia duduk sendiri di sofa kamarnya, sambil menyesap segelas wine yang baru saja ia tuangkan.
Jordan meraih foto yang ia letakkan di atas meja. Foto seorang wanita yang sedang tersenyum manis di pinggir pantai.
"Lyana." gumam Jordan dengan pelan. Ia membelai foto itu dengan dengan kedua jemarinya. Ada perasaan luka yang mendalam dihatinya.
"Aku pastikan orang yang menyakitimu, akan membayar atas perbuatannya, dia harus mendapatkan balasan yang setimpal." ucap Jordan sambil kembali menuangkan winenya.
"Aku merindukan kamu Lyana." gumamnya pelan sambil menatap foto itu lekat-lekat.
Ia ingat betapa bahagianya dia dulu, Lyana adalah cahaya dalam hidupnya. Dialah satu-satunya wanita yang mengajarkan cinta padanya. Dialah seseorang yang bisa membuat Jordan tersenyum, dan mengerti tentang makna hidup yang sebenarnya.
Tapi ternyata semua itu hanya sementara. Lyana begitu cepat meninggalkannya. Jordan merasa dirinya adalah manusia yang paling tidak berguna. Bahkan untuk menjaga wanitanya saja ia tidak bisa. Dan waktu sudah berlalu hampir tiga tahun, tapi ia belum bisa menemukan siapa sebenarnya yang membunuh kekasihnya.
Jordan meremas gelasnya, perasaan bersalah kembali menghantuinya. Andai saja dulu Lyana tidak menjadi kekasihnya, mungkin wanita itu masih bisa bernafas sampai saat ini.
"Arrrggghhh!" geram Jordan.
Rasa marah, sedih, dan kecewa bercampur menjadi satu. Kepergian Lyana membuat Jordan terjebak dalam kubangan rasa bersalah yang tiada ujungnya.
Dengan menahan rasa sesak didadanya, Jordan menengguk botol winenya, hanya minuman yang bisa membuat ia sejenak melupakan masa kelamnya.
Belum sempat Jordan menhabiskan winenya, tiba-tiba ponselnya berdering.
"Hallo." sapa Jordan dengan malas.
"Hallo Tuan Jordan. Ada kabar penting untuk Anda." jawab seseorang di seberang sana.
"Katakan!" ucap Jordan dengan tegas.
"Saya berhasil melacak keberadaan Mr.X, saya sudah mengirimkan lokasinya kepada Anda Tuan." jawab orang itu.
"Baik.'' jawab Jordan dengan singkat. Kemudian ia mengakhiri sambungan telefonnya, dan bergegas pergi menuju lokasi yang baru saja ia terima. Tetapi sebelum berangkat, ia menghubungi Freya terlebih dahulu.
Jordan berangkat seorang diri, karena Alex, dan Andrew sedang mengurus bisnis diluar kota. Mau membawa anak buah, itu terlalu lama ia tidak punya banyak waktu. Ia hanya mengajak Freya, tetapi mereka tidak berangkat bersama. Freya akan berangkat sendiri membawa mobil milik Eddie.
__ADS_1
Ditengah kesunyian malam, mobil hitam milik Jordan melaju kencang, menyusuri jalanan yang sepi, di daerah perbukitan. Ia berharap bisa menemukan Mr.X di sana. Ahh lelaki itu sangat licik, susah sekali ditemui, dan sulit sekali diungkap identitasnya.
Jordan semakin menambah kecepatannya, tujuannya adalah villa kosong di area puncak. Dari informasi yang ia dapatkan, Mr.X sedang melakukan transaksi obat-obatan terlarang ditempat itu. Semoga saja ia bisa tepat waktu, batin Jordan kala itu.
Tak berapa lama kemudian, Jordan sudah menemukan tempatnya. Ia memarkirkan mobilnya sedikit jauh, ia berlari menuju villa kosong itu. Dengan pistol ditangannya, Jordan mengendap-endap masuk kedalam.
Gelap, tidak ada cahaya sama sekali. Dimana Mr.X berada. Villa ini cukup besar, Jordan sedikit kesulitan untuk menemukannya.
Jordan mulai menaiki anak tangga, dan menuju lantai dua. Jordan melangkah dengan pelan sambil menajamkan pendengarannya.
Jordan berhenti di depan pintu ruangan, di lantai dua. Sunyi, tidak ada suara sama sekali. Pelan-pelan Jordan memeriksa disetiap sudut ruangan, namun tidak ada tanda-tanda adanya kehidupan di sana. Mungkinkah orang suruhannya salah memberi informasi, tapi itu terdengar mustahil. Orang suruhannya sangat profesional, informasi yang didapatnya selalu akurat.
Tiba-tba mata Jordan menangkap cahaya remang-remang yang berasal dari ujung tangga di lantai tiga. Dengan langkah yang pelan, Jordan mulai menaiki anak tangga. Pistol tetap ia genggam ditangannya. Lawannya bukan orang biasa, ia tidak boleh lengah sedikitpun.
Cahaya itu mulai meredup saat Jordan sudah menaiki tangga kelima, namun ia tetap meneruskan langkahnya.
Kini Jordan sudah sampai di lantai tiga, cahaya yang ia lihat tadi telah padam, namun ia melihat cahaya lain yang berasal dari dalam kamar, yang berada disudut ruangan.
Jordan melangkah mendekati pintunya, ia mencoba mengintip lewat lubang kunci.
Tidak ada orang di dalam, hanya cahaya remang-remang yang berasal dari lampu kecil, yang berada di atas meja. Ada kotak hitam di sebelah lampu itu, apa isinya? fikir Jordan.
Jordan tersentak kaget, ia menoleh dan mendapati sosok lelaki sedang berdiri tegap menatapnya.
Meski dalam kegelapan, dan tak jelas seperti apa rupanya, tapi Jordan bisa mengenali dengan pasti, lelaki itu adalah Mr.X.
"Orangmu bisa melacak keberadaanku di sini, tapi orangku juga bisa melacak kehadiranmu di sini. Kau kalah jauh dengan aku Jordan. Hahaha!" ucap Mr.X sambil tertawa keras.
"Lawan aku jika memang kau punya nyali. Jangan hanya bersembunyi dibalik jubah hitammu." bentak Jordan sambil mengacungkan pistolnya. Dadanya naik turun menahan emosi.
"Tembak saja jika kau menginginkan kematianku. Tapi itu kalau kau bisa. Bukankah kau pria yang payah Jordan Vinales?" ejek Mr.X sambil terkekeh.
Dorrr!!
Jordan menembakkan senjatanya. Namun Mr.X berhasil menghindar, dan dengan gerakan cepat ia menembak pistol Jordan. Berhasil, pistol Jordan terlempar jauh kebelakang.
__ADS_1
"Kau memang payah, pantas saja Lyana lebih memilih mati, mungkin itu lebih baik, daripada hidup, dan menghabiskan waktunya bersama lelaki sepertimu." kata Mr.X. Dia tahu betul apa kelemahan Jordan. Dengan mengungkit kata Lyana, Jordan tak bisa lagi berkonsentrasi, fikirannya mulai kacau.
"Jaga ucapanmu!" teriak Jordan sambil mengeluarkan sesuatu dari dalam saku jaketnya.
Jordan mengambil senjata cadangannya, kali ini ia lebih waspada.
"Kau tidak penasaran dengan kotak hitam itu pria payah?" tanya Mr.X dengan kalimat ejekan.
"Urusanku hanya denganmu, kau harus mempertanggungjawabkan perbuatamu." jawab Jordan dengan nada tinggi.
Dooorrr!!
Tanpa aba-aba Mr.X menembakkan senjatanya, namun Jordan berhasil menghindar. Dan kemudian mereka berdua saling baku hantam.
Beberapa kali terdengar suara tembakan, baik dari senjata Mr.X maupun Jordan. Namun diantara keduanya belum ada yang terluka. Mereka terlibat pergulatan sengit, dan akhirnya Jordan berhasil memukul Mr.X dengan keras, hingga ia terlempar, dan menabrak pintu kamar.
Kamar itu membuka, dan kini mereka melanjutkan pergulatannya di dalam kamar. Jordan masih berapi-api ingin mengahabisi Mr.X sekarang juga, hingga ia tidak tahu rencana apa yang sudah dipersiapkan untuknya.
Jordan kembali berhasil memukul Mr.X, hingga ia terjerembab ke lantai di dekat pintu.
Jordan tertawa menyeringai.
"Ucapkan selamat tinggal kawan." ucap Jordan sambil mengarahkan pistolnya tepat dikepala Mr.X.
Mr.X menatap Jordan sambil tertawa, kemudian dengan langkah cepat ia bangkit, dan keluar dari kamar itu.
Jordan berniat mengejarnya, namun tiba tiba Mr.X menutup ruangan itu dengan rolling door, karena keadaan gelap, tadi Jordan tidak menyadari, jika ruangan itu dilengkapi rolling door.
"Nikmati detik-detik terakhirmu Jordan Vinales." kata Mr.X dari luar ruangan sambil terkekeh.
Samar-samar Jordan mendengar bunyi seperti alarm, dan ternyata suara itu berasal dari kotak hitam di atas meja. Dengan cepat Jordan membukanya, dan ternyata isinya adalah bom. Jantung Jordan berdetak dengan cepat saat melihat angka yang tertera di sana. 50 detik lagi bom itu akan meledak. Waktunya tidak cukup untuk menjinakkannya, lagi pula ia tidak membawa alat apapun. Satu-satunya cara untuk menyelamatkan diri adalah dengan keluar dari ruangan ini.
Jordan berlari menyingkap tirai ruangan itu, dan hanya dinding yang ia temukan. Rupanya ruangan itu didesain tanpa jendela. Jordan menggeram marah, rupanya ia dijebak.
Waktunya tidak banyak, dan ia belum menemukan jalan keluarnya.
__ADS_1
Tapi ia harus selamat, ia tidak boleh mati. Ia belum membalaskan dendamnya. Demi Lyana, apapun caranya dia harus keluar, sebelum bom itu meledak.
Bersambung.......