Cinta Ini Membunuhku (Dark Love )

Cinta Ini Membunuhku (Dark Love )
Ternyata Benar-benar Dia


__ADS_3

Jordan dan Alex menatap lekat ke arah Freya. Mencoba mencerna pertanyaan yang menurut mereka sedikit aneh.


"Kau punya kekasih?" tanya Jordan tanpa mengalihkan pandangannya. Tidak mungkin Freya menanyakan hal ini, jika dia tidak sedang memiliki kekasih. Atau setidaknya sedang jatuh cinta.


"Iya. Maaf aku terlambat mengatakannya, aku dan dia jadian sejak seminggu yang lalu." Jawab Freya sembari memejamkan matanya.


"Apapun yang terjadi, lebih baik jujur diawal daripada Jordan tahu dengan cara yang lain." Batin Freya dalam hatinya.


"Kamu serius Fre?" tanya Alex.


"Iya."


"Kamu benar-benar mencintainya?" tanya Alex.


Ia sedikit ragu saat Freya mengatakan tentang kekasih. Pasalnya ia yakin, bahwa Freya menyukai Jordan. Apakah ini sekadar pelampiasan, ataukah memang hatinya telah berpaling karena tidak ada harapan untuk bersama Jordan.


"Kenapa kamu menanyakan hal itu?" Freya balik bertanya, sembari menatap Alex dengan tajam.


"Aku hanya ingin tahu." Jawab Alex dengan santainya.


Freya terdiam, cukup lama ia membiarkan keheningan yang mendominasi. Lalu sekitar beberapa menit kemudian, Jordan yang membuka suara.


"Siapa kekasihmu?" tanya Jordan.


"Calvin Zaiden, pemilik perusahaan Emerald." Jawab Freya dengan tegas.


"Calvin, apakah dia lelaki yang pergi ke puncak bersamamu waktu itu?" tanya Jordan.


"Iya."


"Dia tahu siapa dirimu?" tanya Jordan.


"Tidak, aku belum menyelesaikan misiku, aku tidak mungkin menguak identitasku kepada siapa pun." Jawab Freya dengan serius.


"Bagus, memang alangkah baiknya jika kamu tidak membuka identitasmu. Aku tidak masalah kamu punya kekasih, sebagai wanita wajar jika kamu memiliki cinta. Tapi dengan catatan, kamu tidak bodoh karenanya. Kamu punya kehidupan, kamu punya masa depan. Jangan karena cinta, lantas kamu melupakan semua itu," kata Jordan sambil menepuk bahu Freya dengan pelan.


"Tentu tidak Jordan. Misi dan ambisiku, tetap yang nomor satu." Jawab Freya.


"Bagus, kamu sudah melangkah sejauh ini, pegang teguh pendirian kamu!" kata Jordan.


"Iya."


"Tapi ngomong-ngomong siapa Calvin, kamu sudah menyelidiki identitasnya?" tanya Jordan.


"Dia adalah pembisnis yang bersih, sama sekali tidak pernah berhubungan dengan mafia. Dia punya hubungan yang baik dengan Julian dan Diamond. Jika menurut Jonathan, Diamond punya hubungan dengan Mr.X, mungkin dari dia aku bisa menggali informasi." Jawab Freya dengan panjang lebar.


"Oh, jadi bukan sekedar perasaan. Ternyata ada maksud lain ya, hmm kau sangat licik Freya." Sindir Alex dengan tawa yang renyah.


"Apa sih Lex, aku cinta sama dia." Freya menyela dengan cepat.

__ADS_1


"Iya percaya, sangat percaya!" jawab Alex masih dengan tawanya.


"Menurut opiniku, perasaan terdalammu masihlah untuk Jordan. Aku bantu doa Freya, semoga suatu saat nanti, Jordan bisa melupakan Lyana, dan melabuhkan hatinya padamu. Menurutku kalian pasangan yang cukup serasi." Ucap Alex dalam hatinya.


"Mungkin kau menganggap, kalau aku masih menyukai Jordan. Tapi kau salah Lex, hatiku mulai berpaling pada Calvin. Ciumannya, perasaannya yang diluar kewajaran, itu yang membuatku tertarik. Tapi maaf aku tidak bisa menjelaskan hal ini padamu dan juga pada Jordan. Walaupun memang ada maksud lain, tapi perasaan ini benar-benar ada Lex." Batin Freya dalam hatinya.


"Freya, aku tidak akan mengusik masalah pribadimu. Tapi satu pesanku, tetaplah waspada!" kata Jordan dengan tegas.


"Iya, terima kasih Jordan," jawab Freya sambil menghela napas lega.


Jordan menanggapinya dengan anggukan dan senyuman.


"Oh ya, soal Mr.X, kau sudah menyelidiki Marcel?" tanya Alex.


"Aku sedang menyusun rencana untuk mengenalnya. Cepat atau lambat, aku pasti bisa membuat Mr.X meregang nyawa." Jawab Freya sambil memicingkan matanya. Aura dingin mulai terpancar dari raut wajahnya.


"Aku percaya kau bisa," kata Jordan sambil tersenyum.


"Dan aku tidak akan mengecewakan kepercayaan kamu," jawab Freya sambil beranjak dari duduknya.


"Ya sudah kalau begitu aku pulang dulu ya," sambung Freya seraya menatap Alex dan Jordan secara bergantian.


"Iya, hati-hati." Jawab Alex dan Jordan bersamaan.


Lantas Freya melangkahkan kakinya, dan pergi meninggalkan kedua rekannya. Namun tiba-tiba, Freya menghentikan langkahnya kala tiba di ambang pintu.


"Jordan!" panggil Freya.


"Tentang Calvin, tolong jangan beritahukan pada Andrew!" ucap Freya.


"Kenapa?"


"Tidak apa-apa." Jawab Freya. Kemudian ia meneruskan langkahnya tanpa memedulikan terikan Jordan yang memanggil namanya.


"Ada apa dengan Freya, apa dia ada masalah dengan Andrew?" tanya Jordan sambil menatap Alex.


"Aku juga merasa heran," jawab Alex sambil menggaruk kepalanya yang tidak gatal.


"Freya sangat cerdik, dia tidak mungkin melakukan suatu hal tanpa alasan." Kata Jordan.


"Kau benar, tapi aku tidak bisa menebak apa alasannya," ucap Alex sembari melirik Jordan.


"Akhir-akhir ini tingkah Andrew sedikit aneh, dia sering menghilang tanpa alasan yang jelas. Dia juga jarang berkumpul dengan kita, apa kau merasa demikian Lex?" tanya Jordan tanpa mengalihkan tatapannya.


"Iya, dan kurasa Freya juga menyadarinya. Hanya saja kita tidak tahu apa yang ada dalam pikirannya," jawab Alex membenarkan ucapan Jordan.


"Jika dia pulang, aku akan bicara empat mata dengannya." Kata Jordan.


"Ide yang bagus. Mmmm Jordan, ngomong-ngomong apa kau tidak masalah Freya punya kekasih?" tanya Alex sambil menilik wajah Jordan.

__ADS_1


"Tentu saja tidak, memangnya kenapa? Selagi dia masih memikirkan misi dan ambisinya, kenapa tidak?" jawab Jordan.


"Kau tidak cemburu?"


"Apa yang kau pikirkan Lex, dalam hatiku hanya ada nama Lyana. Hanya Lyana, sekarang, nanti, dan selamanya." Jawab Jordan dengan tegas.


Alex menghela napas panjang. Sejujurnya ia ingin Jordan menjalani kehidupan normal, punya cinta, dan punya mimpi untuk berumah tangga. Bukan terpaku pada masa lalu yang tak mungkin kembali. Tapi Alex hanya bisa mengingatkan, ia tak bisa memaksakan.


***


Jarum jam menunjukkan tepat pukul 11.00 malam. Freya gagal merebahkan tubuhnya di ranjang, setelah membaca satu pesan dari Eddie. Freya tersenyum lebar, ia teramat senang kala Eddi mengirimkan lokasi Mr.X saat ini.


"Aku tidak akan menyia-nyiakan kesempatan ini," kata Freya sembari melompat turun dari atas ranjang. Dia bergegas menyambar jaket hitam yang berada di atas sofa.


Freya berlari keluar dari kamarnya, dan kemudian bergegas menuju halaman apartemen. Di sana sudah ada anak buah yang siap mengantarnya ke lokasi. Mr.X sedang berada di kelab malam yang cukup jauh dari apartemennya.


"Biar aku saja yang mengemudi," kata Freya pada anak buahnya.


"Baik Nona," jawab lelaki itu.


Freya bergegas duduk di depan kemudi, lantas menginjak pedal gas dengan sangat kuat. Mobil melesat meninggalkan area apartemen, dan mulai membelah jalanan kota yang mulai lengang.


Freya terus memercepat lajunya, ia tak punya banyak waktu. Ia harus segera tiba, sebelum Mr.X pergi dan tak meninggalkan jejak.


Sekitar dua puluh menit perjalanan, akhirnya Freya tiba di dekat lokasi. Ia menghentikan mobilnya dengan mendadak, hingga bunyi decitan rem terdengar cukup nyaring.


"Tunggu di sini, aku akan ke sana sendiri!" kata Freya sambil membuka pintu mobilnya. Tak lupa ia menyelipkan pistol glock meyer di balik jaketnya.


"Baik Nona." Jawab anak buahnya dengan patuh.


Freya berlari-lari kecil menuju halaman kelab. Setelah tiba di sana, ia melangkah dengan santainya. Seolah ia pengunjung yang akan menemui temannya.


Belum sempat Freya masuk ke dalam kelab, tiba-tiba seorang lelaki keluar dari sana, dan berpapasan dengan Freya. Tubuh tegap dan manik hitam yang khas, membuat Freya langsung mengenalinya. Marcellino, setiap kali mendatangi lokasi Mr.X, kenapa selalu saja bertemu dengan dia?


Marcel menatap Freya dengan tajam. Lantas ia mendekatinya, dan menggenggam lengan Freya dengan erat.


"Kau, kenapa ada di sini?" tanya Marcel dengan tatapan yang luar biasa tajamnya. Aura dingin terpancar jelas dalam dirinya, tampak nyata jika ia seorang mafia.


"Aku, aku hanya ingin bertemu teman." Jawab Freya pura-pura gugup.


"Teman siapa? Sudah kedua kalinya aku bertemu denganmu di kelab malam, jangan bilang kalau kau bukan wanita baik-baik," kata Marcel tepat di depan wajah Freya.


"Dasar lelaki tidak tahu diri, memangnya kamu siapa. Kita tidak ada hubungan apa-apa, tapi kamu sangat mengusik urusan pribadiku. Kalau bukan karena misi, aku sama sekali tidak sudi dekat-dekat denganmu," batin Freya sambil menatap lekat ke arah Marcel.


"Lepaskan dia!" teriak lelaki yang baru saja keluar dari kelab.


"Suara ini," batin Freya dalam hatinya. Ia merasa sangat familiar dengan suara itu.


Freya mengalihkan pandangannya. Ia sedikit mendongak, dan menatap lelaki itu.

__ADS_1


"Ternyata benar-benar dia," batin Freya dengan jantung yang berdetak cepat.


Bersambung....


__ADS_2