Cinta Ini Membunuhku (Dark Love )

Cinta Ini Membunuhku (Dark Love )
Masa Lalu Jordan


__ADS_3

Freya duduk sendiri di balkon kamarnya, menatap bintang-bintang yang berkedip di atas sana.


Pikirannya menerawang jauh, mengenang masa-masa yang telah lalu. Saat ia menjadi gadis kecil yang polos, yang bermain dan tertawa bahagia bersama orang tuanya.


Perlahan memori bergeser, menampakkan sosok gadis kecil yang menangis meraung-raung, karena kehilangan sosok ibunya. Freya masih teringat dengan jelas, betapa sedihnya ia kala itu, kehilangan ibunya menyisakan luka terdalam dihatinya, luka yang bahkan sampai saat ini masih ada.


Lalu Freya teringat akan kebahagiannya bersama ibu sambungnya, ia kembali tertawa bahagia, memiliki ibu, dan dua saudara.


Namun kebahagiaan itu hanya sementara, ia kembali menelan luka, saat ayahnya telah tiada.


Saat Freya berada dititik terbawah, Jordan hadir mengulurkan tangannya. Meskipun terkadang sikapnya sedikit kejam, namun perhatian dan kepedulian Jordan bisa meluluhkan hatinya. Jordan adalah lelaki pertama, yang bisa membuat Freya jatuh cinta.


Namun belum lama rasa itu tumbuh, kenyataan telah memupuskan harapannya. Jordan tak akan pernah bisa ia miliki.


Apa memang seperti ini takdir hidupnya?


Menikmati kebahagiaan hanya sekejab saja.


Freya menatap lengannya yang masih dibalut perban. Sudah banyak nyawa, yang mati ditangannya. Tak pernah ia membayangkan kehidupan yang seperti ini. Bayang-bayang tentang dirinya dimasa lalu kembali melintas dalam ingatannya.


Ia adalah wanita baik-baik, yang bekerja di kantor ayahnya.


Setetes air matanya mulai jatuh, kenapa takdir membawanya dalam posisi ini, andai saja ayahnya masih ada, dia tak mungkin berada di sini. Dia akan menjalani hari-harinya seperti biasanya.


"Freya," panggil Jordan.


Freya menoleh kaget, Jordan sudah berada di sebelahnya. Ahh sejak kapan dia ada di sana?


"Jordan, sejak kapan kau datang?" tanya Freya.


"Baru saja, kamu kenapa menangis?" tanya Jordan sambil mengusap air mata Freya.


Freya tertegun, hatinya kembali berdebar.


"Bagaimana bisa aku menghapus perasaanku, jika kamu selalu ada disisiku, selalu perhatian, dan peduli padaku," gumam Freya dalam hati.


"Aku tidak apa-apa, hanya ingat Mama dan Papa." Jawab Freya sambil mencoba tersenyum.

__ADS_1


"Mereka sudah bahagia di sana. Kau tidak boleh menangisinya," kata Jordan.


"Aku tahu, hanya saja aku merasa takdir sedikit kejam padaku." Gumam Freya dengan pelan, dan sambil menunduk.


"Jangan menjadi lemah, hanya karena takdir tak sesuai dengan keinginanmu. Berjuanglah, dan bangkitlah, kelak kau akan menjadi pribadi yang luar biasa," kata Jordan sambil menepuk bahu Freya.


"Iya, aku sedang mencobanya." Jawab Freya sambil tersenyum.


"Kau tahu, tidak selamanya yang kita anggap buruk, itu benar-benar buruk. Pasti ada kebaikan disetiap kejadian. Kau mengerti maksudku?" tanya Jordan sambil menatap Freya.


"Aku mengerti." Jawab Freya sambil mengangguk.


"Jangan bersedih lagi, ini terakhir kalinya aku melihat air matamu," ucap Jordan sambil merangkul Freya.


Freya mengukir senyum di bibirnya.


Biarlah meski tidak ada cinta dalam hubungan mereka. Yang penting Jordan selalu ada di dekatnya. Meski ia tidak bisa memiliki cintanya Jordan, setidaknya juga tidak ada wanita lain yang memilikinya.


"Kau pernah mengalami masa suram Jordan?" tanya Freya saat Jordan sudah melepaskan rangkulannya.


Jordan tersenyum getir, "tidak hanya suram, tapi sangat gelap Freya." Jawab Jordan.


Freya membalas tatapan Jordan, ia tahu ada kesedihan yang terpendam jauh di hati Jordan.


"Hingga suatu hari, ada sekelompok orang yang menghancurkan panti itu. Ibu-Ibu panti di sana, dan teman-teman kecilku, semua terbaring tanpa nyawa. Kau bisa membayangkan betapa hancurnya diriku kala itu Freya. Andai saja boleh memilih, malam itu aku tidak akan pergi membeli makanan, agar aku bisa mati bersama mereka, daripada hidup seorang diri." Sambung Jordan.


"Kau mengalami semua itu Jordan?" tanya Freya dengan pelan. Ia tak menyangka masa lalu Jordan sekelam itu.


"Iya." Jawab Jordan.


"Setelah itu aku hidup di jalanan, berjuang keras hanya demi sesuap makanan. Aku benci dengan diriku sendiri, kenapa aku hidup, sedangkan teman-temanku tidak. Setelah dua tahun aku hidup sendiri di jalanan, lalu ada seseorang yang memungutku, menjadikan aku sebagai anak angkatnya." Sambung Jordan.


"Lalu dimana dia sekarang?" tanya Freya sambil menatap Jordan.


"Kau ingin tahu cerita selanjutnya, Freya?" jawab Jordan balik bertanya.


Freya mengangguk menjawab pertanyaan Jordan.

__ADS_1


"Aku dibawa ke rumahnya, ternyata dia adalah lelaki kaya raya yang mempunyai banyak wanita. Di sana juga banyak anak-anak seusiaku. Aku fikir dia adalah lelaki yang baik hati, yang menolong anak jalanan sepertiku. Tapi ternyata tidak, dia membawa kami, karena punya niat lain." Kata Jordan. Dan ia menjeda kalimatnya.


"Ternyata dia adalah seorang mafia. Dia mengajari kami bagaimana caranya menembak, dan juga menggunakan senjata lainnya. Orang tidak akan curiga dengan anak-anak, itu sebabnya dia menggunakan kami, untuk mengelabuhi musuh-musuhnya." Sambung Jordan.


Ia melihat Freya masih menatapnya, lalu Jordan melanjutkan kisah hidupnya.


"Meski aku tidak menginginkannya, tapi aku tidak punya pilihan. Mau tidak mau aku harus menurutinya.


Hingga suatu hari aku tahu satu fakta pahit. Ternyata dia adalah orang yang sudah menghancurkan panti tempatku tinggal. Aku sangat marah mendapati kenyataan ini, aku bertekad untuk membalaskan dendam teman-temanku, mereka tidak bersalah, dan nyawanya dirampas begitu saja." Sambung Jordan.


"Kenapa dia melakukan itu?" tanya Freya.


"Karena Ibu panti menolak, saat dia berniat mengadopsi kami semua. Ibu panti tahu, jika dia seorang mafia, Ibu panti bermaksud melindungi kami." Jawab Jordan.


"Lalu apa yang kau lakukan setelah tahu semua itu?" tanya Freya dengan pelan.


"Hanya bermodal tekad aku mencoba membunuhnya, dan aku nyaris mati ditangannya. Tapi untung saja Andrew menolongku. Dan akhirnya dia tewas ditangan kami. Malam itu menjadi malam yang paling berdarah. Kami para anak-anak memberontak, membunuh mereka dengan cara seperti yang mereka ajarkan." Jawab Jordan sambil menatap lurus kedepan.


"Lalu seperti apa akhirnya?" Freya kembali bertanya.


"Mereka semua mati, tapi diantara kami juga banyak yang mati. Hanya tersisa tiga anak, aku, Andrew, dan Alex. Malam itu adalah awal perjalanan kami." Jawab Jordan.


Freya menatap Jordan lekat-lekat, bagaimana bisa anak seusia itu, mengalami hal yang sangat mengerikan. Masa lalunya, tak sebanding dengan masa lalu Jordan. Tapi kenapa hanya itu yang ia ceritakan, bagaimana tentang Lyana? Kenapa Jordan tidak menceritakannya.


"Masa lalumu sangat pahit Jordan." Gumam Freya.


"Iya." Jawab Jordan singkat.


"Lalu bagaimana dengan kisah cintamu? Bolehkah aku tahu?" tanya Freya dengan hati-hati.


Jordan menatap Freya sambil tersenyum, "cukup tahu tentang kisah hidupku Freya, tapi tidak dengan kisah cintaku." Jawab Jordan.


"Kau tidak ingin membaginya denganku, apa itu artinya kau masih sangat mencintainya Jordan." Batin Freya sambil tersenyum getir.


"Sudah malam, tidurlah, aku juga akan tidur," ucap Jordan sambil beranjak pergi.


Freya terpaku menatap kepergian Jordan.

__ADS_1


"Apakah harapan itu benar-benar tidak ada, Jordan?" gumam Freya dengan pelan.


Bersambung........


__ADS_2