
Ditengah keremangan malam, Freya duduk sendiri di bangku taman, yang tak jauh dari lokasi pembangunan. Menatap ribuan bintang, yang bertabur indah di langit luas. Ia tak menghiraukan angin malam, yang berhembus menerpanya.
Freya menghembuskan nafas panjang, semudah itukah hatinya luluh dengan cintanya Calvin. Lelaki itu belum lama dikenalnya, benarkah ia belum mempunyai kekasih?
Benarkah Calvin mencintainya, ataukah hanya mempermainkannya?
Begitu banyak keraguan yang mengganggu difikirannya.
Freya menundukkan kepalanya, bayangan tentang Jordan kembali melintas dalam ingatannya. Perkataan lelaki itu masih terngiang jelas di telinganya, Jordan tidak akan membuka hati untuk wanita manapun. Satu kenyataan yang membuat hatinya terasa sakit.
Freya mengayun-ayunkan kakinya, bingung harus berbuat apa. Tetap mengejar Jordan, atau menerima cintanya Calvin?
Freya menggeleng-gelengkan kepalanya, hanya urusan cinta saja, kenapa membuatnya sebingung ini.
"Pakailah ini, di sini sangat dingin!" ucap Calvin yang tiba-tiba saja sudah memakaikan jaket untuk Freya.
"Calvin." gumam Freya sambil menatap Calvin yang sudah duduk di sebelahnya.
"Apa yang kau lakukan di sini?" tanya Calvin.
"Tidak ada." jawab Freya.
"Maukah jalan-jalan sebentar?" tanya Calvin sambil menatap Freya.
"Kemana?" Freya balik bertanya, hatinya mulai berdebar saat tatapan mata mereka saling bertemu.
"Di sekitar sini saja." jawab Calvin.
"Boleh." ucap Freya sambil tersenyum.
Lalu Calvin beranjak dari duduknya, dan Freya juga mengikutinya.
"Jaket kamu." ucap Freya.
"Pakailah!" jawab Calvin sambil tersenyum.
Lalu Freya tersenyum, dan memakai jaket Calvin.
Kemudian mereka berjalan bersama menyusuri jalanan yang cukup sepi, hanya satu-dua mobil saja yang melintas di sana.
"Jika seperti ini aku serasa kembali ke masa lalu. Menjadi wanita biasa, yang menjalani kehidupan normal. Calvin, apa kau tetap mencintaiku, saat tahu bahwa aku adalah seorang mafia." gumam Freya didalam hatinya.
"Freya." panggil Calvin.
"Hemmm." gumam Freya.
"Aku boleh tahu tentang masa lalu kamu?" tanya Calvin.
"Tidak ada yang istimewa dengan masa laluku." jawab Freya sambil tersenyum.
"Benarkah, tapi aku sangat tertarik ingin mengetahuinya." ucap Calvin sambil memetik setangkai bunga mawar, yang tumbuh di pinggir jalan.
"Apa yang ingin kau tahu?" tanya Freya.
"Pernahkah kau mempunyai kekasih?" tanya Calvin sambil memberikan setangkai mawar untuk Freya.
Freya menerimanya dengan tersipu malu, beginikah rasanya dicintai?
"Tidak." jawab Freya sambil menunduk, ia menyembunyikan senyumannya.
"Benarkah?" ucap Calvin dengan nada heran.
__ADS_1
"Mungkin memang sulit untuk dipercaya, tapi memang seperti itulah kenyataannya." jawab Freya.
"Kau berasal dari negara mana?" tanya Calvin.
"Indonesia." jawab Freya.
"Itu sangat jauh, lalu kenapa kau bisa sampai disini?" tanya Calvin.
"Orang tuaku berpisah, aku ikut Ayah, dan tinggal di Indonesia. Tapi kemudian Ayahku meninggal, jadi aku menyusul Ibuku di sini. Tapi hidupku memang malang, baru beberapa bulan saja aku di sini, Ibuku sakit dan akhirnya meninggal. Aku sendirian, tidak punya siapa-siapa." jawab Freya berbohong.
Ia memang menyembunyikan identitasnya yang sebenarnya untuk semua orang.
"Maafkan aku, aku tidak bermaksud mengingatkanmu pada masa yang sulit." ucap Calvin.
"Tidak apa-apa. Lagipula sekarang hidupku sudah lebih baik, aku sudah punya pekerjaan dengan gaji yang cukup besar." jawab Freya sambil tersenyum.
"Siapa yang mengajakmu bekerja di Diamond?" tanya Calvin.
"Tidak ada, aku melamar sendiri, dan ternyata diterima. Diamond adalah satu-satunya perusahaan yang mau menerimaku, kau tahu, sudah banyak perusahaan yang menolak lamaranku." jawab Freya sambil tersenyum lebar.
"Tapi kau tidak pernah melamar di Emerald." kata Calvin.
"Bukan tidak, tapi belum. Andai saja Diamond menolakku, aku akan melamar di Emerald. Ngomong-ngomong sudah berapa lama kau bekerjasama dengan Diamond?" tanya Freya.
"Sangat lama, sejak Emerald masih dikendalikan oleh Papa. Kau tahu Diamond adalah satu-satunya perusahaan yang setia dengan Emerald. Dulu Emerald sempat hampir bangkrut, dan Diamond yang membantu kami. Itu sebabnya sampai sekarang aku masih menjalin kerjasama dengan Diamond." jawab Calvin.
"Hubungan yang sangat baik." gumam Freya.
"Iya. Pak Julian adalah orang yang sangat bijaksana. Tapi rasanya aku sudah lama tidak bertemu dengannya, kemana beliau?" tanya Calvin.
"Katanya keluar kota, tapi aku juga tidak tahu kenapa cukup lama. Aku hanya karyawan, tidak berani ikut campur urusan bos." jawab Freya sambil tertawa.
"Kau ada-ada saja. Oh ya bagaimana kalau kau bekerja di kantorku, nanti kau boleh ikut campur urusanku." ucap Calvin ikut tertawa.
"Aku tidak tertarik." jawab Freya.
"Kau tidak tertarik menjadi karyawan di sana?" tanya Calvin.
"Tidak." jawab Freya singkat.
"Itu sangat bagus." ucap Calvin sambil tersenyum.
"Kenapa begitu?" tanya Freya dengan heran.
"Karena kau lebih pantas menjadi bosnya." jawab Calvin.
"Hah!" teriak Freya.
"Jika kita menikah, kau juga akan menjadi bosnya kan." kata Calvin sambil terkekeh.
"Jangan sembarangan, aku tidak menerima cintamu." ucap Freya dengan kesal.
Calvin semakin terkekeh melihat ekspresi Freya.
"Kau mau singgah di sana?" tanya Calvin sambil menunjuk sebuah cafe yang berada di depan mereka.
"Untuk apa?" ucap Freya masih dengan nada kesal.
"Tidur." jawab Calvin dengan singkat.
"Apa maksud kamu?" tanya Freya dengan nada tinggi.
__ADS_1
"Jangan marah-marah terus, kau sendiri yang aneh, diajak ke cafe tanya untuk apa." jawab Calvin sambil terkekeh.
"Aku mau, dan kau harus membayar apapun yang aku pesan." ucap Freya.
"Baiklah." jawab Calvin sambil tersenyum. Ia merasa bahagia, karena hubungannya dengan Freya semakin dekat.
***
Jarum jam menunjukkan pukul 08.00 malam.
Jonathan, dan Marcel sedang duduk bersama di ruang kerjanya.
"Bagaimana keadaan Larry?" tanya Jonathan sambil menyulut rokok yang baru saja diambilnya.
"Belum ada kemajuan Tuan, semua sarafnya masih kaku, beliau belum bisa menggerakkan kaki, dan tangannya." jawab Marcel.
"Siapa wanita itu sebenarnya." gumam Jonathan sambil menggeram kesal.
"Menurut penjelasannya Tuan Larry, dia bernama Atana, dia adalah orangnya Mr.X." jawab Marcel.
"Aku tidak yakin, jika Atana adalah namanya yang sebenarnya. Aku tidak pernah mendengar nama itu." kata Jonathan sambil menyesap rokoknya.
"Lalu apa yang harus kita lakukan Tuan? dia sudah mengacaukan markasnya Tuan Larry." tanya Marcel.
"Kita harus menyelidiki siapa Atana itu sebenarnya. Dan kita harus mencari penawar dari racun yang telah disuntikkan pada tubuh Larry." ucap Jonathan.
"Itu racun yang cukup ganas Tuan, dan selama ini saya belum pernah menemukan racun yang seperti itu." kata Marcel.
"Kau benar. Atana memang berbahaya, dan juga misterius. Aku tidak yakin, jika dia orangnya Mr.X, selama ini Mr.X bukanlah orang yang suka bermain dengan racun." kata Jonathan sambil menatap Marcel.
"Lalu dia orangnya siapa Tuan?" tanya Marcel.
"Entahlah, masih sulit untuk menebaknya." jawab Jonathan sambil membuang puntung rokoknya kedalam asbak.
Kemudian Jonathan beranjak dari duduknya.
"Oh ya aku hampir lupa. Aku punya satu tugas penting untukmu." ucap Jonathan sebelum melangkah pergi.
"Tugas apa Tuan?" tanya Marcel.
"Selidiki wanita ini, namanya Freya, dia adalah karyawan di perusahaan Diamond. Cari tahu tentangnya, dia karyawan biasa, atau punya hubungan khusus dengan Julian." kata Jonathan sambil menyodorkan selembar foto.
Marcel menerima foto itu, dan ia sedikit kaget saat tahu siapa wanita yang dimaksud Jonathan.
"Kau ingin mengencaninya Tuan?" tanya Marcel.
"Iya, tapi aku harus memastikan dulu, dia punya hubungan dengan Julian atau tidak. Aku sangat tertarik dengannya Marcel, aku harus mendapatkannya." kata Jonathan sambil tertawa menyeringai.
"Dia memang cantik Tuan." gumam Marcel.
"Tentu saja. Aku pergi dulu, jangan lupa dengan tugasmu." ucap Jonathan sambil berlalu pergi meninggalkan Marcel.
Marcel menatap kepergian Jonathan dengan nanar. Giginya bergemeletuk menahan amarah.
Ia menatap lembar foto yang masih dipegangnya. Ia menggeram kesal sambil meremas foto itu.
Lalu ia beranjak dari duduknya, dan menggebrak meja dengan keras.
"Sudah cukup aku mengalah untukmu Jonathan. Kau selalu mengusik wanita yang kucintai. Tapi tidak untuk kali ini, aku tidak akan membiarkanmu menyentuhnya sedikitpun. Aku akan memberikan hadiah yang lebih manis untukmu. Hahaha kau tunggu saja, bagaimana aku menghancurkanmu Jonathan." ucap Marcel sambil tersenyum licik. Entah rencana apa yang sedang dia susun dalam benaknya.
Bersambung......
__ADS_1