Cinta Ini Membunuhku (Dark Love )

Cinta Ini Membunuhku (Dark Love )
Transplantasi Jantung


__ADS_3

Freya tetap melangkah pergi, tak peduli dengan Alex yang terus berteriak memanggil namanya.


Tak lama kemudian, ia berpapasan dengan Andrew. Lelaki itu mengernyit heran kala menatapnya.


"Freya, kau___"


"Kau juga menyalahkan aku! Dia pantas mendapatkan itu Ndrew, dia sudah mempermainkan aku! Dia pikir aku ini apa, hah!" pungkas Freya dengan nada tinggi. Tangan kanannya masih mencengkeram pistol.


Mata Andrew beralih menatap Jordan, yang kini sudah berada dalam gendongan Alex. Seusai memberikan obat penawar, Alex langsung mengangkat tubuhnya. Ia berharap David mampu menyelamatkan Jordan, meskipun peluangnya sangat tipis, karena peluru itu tepat mengenai jantungnya.


Alex berjalan cepat melewati Andrew dan Freya, "aku pinjam kamarmu!" ucapnya sembari melangkah pergi.


"Kamu gila Fre, apa yang ada dalam otakmu! Jangan karena kau mampu, lantas kau menembak siapa saja yang membuatmu kesal. Dia sudah menolongmu, inikah balas budimu! Kau sangat gegabah Freya, kau kekanak-kanakan!" teriak Andrew dengan kesal.


"Diamlah! Kau tidak mengerti apa yang kurasakan Ndrew. Kau tidak tahu betapa kejamnya dia mempermainkan aku," ujar Freya.


"Hanya mempermainkan, dan kau membunuhnya. Kau terlalu sombong Freya, kau pikir karena berhasil mengalahkan Mr.X, kau adalah yang terkuat. Tidak, itu hanya pikiran bodohmu saja! Aku menyesal pernah menjadi rekanmu!" bentak Andrew.


"Hanya mempermainkan kau bilang. Kau sama saja seperti dia, tidak punya hati!" geram Freya.


"Kalau aku dan dia tidak punya hati, lalu bagaimana denganmu? Tidak punya akal pikiran, iya!" bentak Andrew.


"Terserah bagaimana kau akan menilai, aku tidak peduli. Karena seperti apapun aku menjelaskan, kau tidak akan pernah mengerti." Freya bicara sambil melangkah pergi.


"Kau tidak boleh pergi!" teriak Andrew. Ia menarik tangan Freya yang hendak meninggalkannya.


"Kenapa?"


"Jordan terluka parah, kau harus bertanggung jawab!" geram Andrew.


"Sudah ada David. Lagi pula aku bukan dokter, apa yang bisa kulakukan?"


"Jangan sombong Freya, kau harus tetap di sini!" bentak Andrew.


"Tidak. Aku akan pergi," ujar Freya.


"Aku tidak akan pernah mengijinkan itu." Andrew mencengkeram tangan Freya dengan lebih erat.


"Lepaskan aku Ndrew!" kata Freya.

__ADS_1


"Tidak, kau harus tetap di sini!" jawab Andrew.


"Lepas, atau kau akan menyesal!" geram Freya. Ekor matanya menatap tajam ke arah Alice. Wanita yang masih mengenakan gaun pengantin itu baru saja tiba di rooftop.


"Kau harus bertanggung jawab Freya, kau tidak boleh pergi!" ucap Andrew. Ia masih bersikeras pada pendiriannya.


"Baiklah," jawab Freya dengan pelan.


Satu detik kemudian, ia mengangkat tangan kanannya. Dengan cepat ia mengarahkan pistolnya ke arah Alice, dan menembak tepat mahkota yang ada di atas kepala.


Mahkota itu terlempar dan berdenting nyaring. Bersamaan dengan jeritan histeris yang keluar dari mulut Alice.


Sontak, Andrew langsung menoleh ke belakang. Ia membelalak lebar kala menatap tubuh sang istri yang terduduk lemas di lantai.


"Kamu gila, Freya!" teriak Andrew sembari menghampiri Alice.


"Aku hanya mengalihkan perhatianmu, agar kamu tidak lagi menahanku." Freya melangkah cepat, meninggalkan Andrew yang sedang menenangkan Alice.


"Kamu tidak tahu balas budi Fre, kamu gila, kamu akan menyesal!" teriak Andrew mengumpat Freya.


Freya tetap tak peduli, ia terus berlalu dan menganggap teriakan Andrew hanyalah angin lalu.


***


Freya menepikan mobilnya di pinggir jalan, air mata mengalir seirama dengan hujan yang terus membasahi bumi. Freya mencengkeram kemudi mobil dengan erat. Hatinya teramat sakit, seakan tak mampu menapaki titian hidup yang senantiasa berujung luka.


Di tengah malam, di antara guyuran hujan dan halilintar. Susana kelam yang mengingatkannya pada masa silam. Ia pernah berada di posisi seperti sekarang, merasa sendiri dan terasing dalam sepi. Hanya saja, sekarang dia membawa harta dan mobil. Sedangkan dulu, ia sama sekali tidak membawa apapun.


"Jordan, kenapa kamu tega mempermainkan perasaanku," gumam Freya disela-sela tangisnya.


Air mata terus berderai membasahi pangkuan. Rasa cinta untuk Jordan teramat besar, namun kenyataan menghempaskan perasaan yang ia punya. Kini Freya terkubur dalam nestapa tanpa dasar.


Setelah cukup lama menitikkan air mata, Freya kembali mengangkat wajahnya. Diluar, hujan turun lebih lebat, begitu halnya dengan halilintar. Freya menghela napas panjang, dan mengembuskannya perlahan. Lantas ia mulai melajukan mobilnya dengan pelan, menerjang hujan yang enggan mereda.


"Jordan, Alex, Andrew, David, maafkan aku. Terima kasih untuk semua hal yang telah kalian berikan padaku," ucap Freya dengan suara tertahan.


***


Sang surya sudah merangkak naik, menyemburatkan sinarnya yang hangat dan keemasan. Kendati demikian, Alex dan Andrew sama sekali tidak merasakan hangatnya. Hati mereka diliputi kecemasan, takut akan kehilangan seseorang yang disayangi.

__ADS_1


Jordan sudah dipindahkan ke rumah sakit milik Leon. Kini Leon dan David sedang berusaha keras menyelamatkan Jordan. Andrew meninggalkan Alice di rumah, wanita itu masih ketakutan setelah menyaksikan aksi Freya semalam.


Andrew tak pernah menduga, pesta pernikahannya akan berujung tragedi berdarah. Terlebih lagi, tragedi itu menyangkut rekannya.


Tak lama kemudian, pintu ruangan terbuka. Leon berdiri di sana dengan peluh yang membasahi seluruh wajah dan tubuh.


"Bagaimana keadaan Jordan?" tanya Alex dengan cepat. Kakinya terayun begitu saja menghampiri Leon.


Leon menarik napas dalam-dalam, lantas mengusap wajahnya dengan kasar.


"Sulit Lex, jantungnya nyaris berhenti berdetak. David sedang menangis di dalam, kami sudah berusaha keras, tapi ... ah." Leon tidak sanggup meneruskan kalimatnya.


"Yon, tolong! Kamu dan David harus menyelamatkan Jordan, bagaimanapun caranya!" tegas Alex.


"Alex benar, Jordan harus selamat!" timpal Andrew yang kala itu sudah berdiri di sebelah Alex.


"Sebenarnya ada satu cara, tapi sedikit sulit," ucap Leon ragu-ragu.


"Katakan apa itu, sesulit apapun kita pasti bisa melakukannya!" Alex menatap Leon dengan intens.


"Transplantasi jantung. Sebenarnya organ lain sehat, karena kadar racun belum sempat menyebar. Tapi, jantungnya rusak parah. Dan sepertinya mustahil untuk disembuhkan. Satu-satunya harapan untuk menyelamatkan dia adalah transplantasi," terang Leon. Ekor matanya menatap Alex dan Andrew.


"Transplantasi jantung," gumam Alex dengan pelan.


"Iya. Kita membutuhkan jantung yang normal dan sehat, dengan ukuran yang sama, dan golongan darah yang sama pula. Ini sulit Lex, karena kita hanya bisa mengambilnya dari orang yang mati kecelakaan, bukan mati karena sakit. Dan menurut analisaku, Jordan tidak akan bertahan lama. Kita hanya punya sedikit waktu untuk mencari orang yang mati kecelakaan, dengan golongan darah yang sama. Aku takut, Jordan tidak bisa menunggu," ujar Leon menjelaskan.


"Kalau dari orang hidup, bukankah itu juga bisa?" tanya Alex tanpa keraguan.


Leon mengernyitkan keningnya, "sebenarnya itu lebih bagus. Tapi ... kamu tidak berniat mengorbankan anak buahmu, kan?"


"Tentu saja tidak!" jawab Alex.


"Lalu apa rencanamu? Semua tawanan kita sudah terinfeksi racun, kita tidak bisa menggunakan mereka," sahut Andrew.


"Bukan tawanan, bukan rival, dan bukan bawahan. Aku punya satu orang yang siap mendonorkan jantungnya. Dia sehat, dan memiliki golongan darah yang sama. Leon, jika transplantasi itu dilakukan hari ini, apakah Jordan dijamin selamat?" tanya Alex dengan napas yang memburu. Saat ini, keselamatan Jordan adalah yang paling utama.


"Aku tidak bisa menjamin seratus persen, tapi ini adalah satu-satunya cara untuk menyelamatkan dia. Dan, lebih cepat memang lebih baik. Peluang berhasilnya lebih besar." Leon menatap Alex lekat-lekat.


"Kalau begitu lakukan sekarang juga! Aku sudah menyiapkan pendonor yang tepat, berjanjilah untuk tidak menyia-nyiakan kesempatan ini, Leon!" kata Alex dengan tegas. Kedua tangannya mengepal dengan erat. Untuk mendapatkan hasil besar, memang dibutuhkan usaha yang besar pula.

__ADS_1


Bersambung...


__ADS_2