Cinta Ini Membunuhku (Dark Love )

Cinta Ini Membunuhku (Dark Love )
Perasaan Yang Mulai Ada


__ADS_3

Satu persatu tawanan mulai dilepaskan. Mereka langsung berlari, dan bersembunyi di balik semak-semak, dan pepohonan.


Freya mulai melangkahkan kakinya, sambil memegang erat pistol yang ada di tangannya. Karena keberhasilannya kemarin, Jordan memberikan pistol Glock meyer itu padanya.


Freya menajamkan pendengarannya, ia mencari sumber dari suara gemerisik yang masuk ditelinganya. Pelan-pelan Freya melangkah mendekati semak-semak di balik pepohonan.


Kemudian doooorrrr.....!!!!


Freya berhasil menembak satu tawanan. Dia langsung jatuh terkapar tidak berdaya. Mungkin dulunya dia hanyalah anak buah kelas bawah, sehingga tidak terlalu sulit untuk membunuhnya.


Setelah memastikan lawannya mati, Freya kembali melangkah, dan mencari lawan yang lainnya.


Satu persatu dari mereka dapat Freya temukan. Freya tersenyum puas, karena hampir semua lawannya telah kehilangan nyawa.


Hanya tinggal satu tawanan lagi yang belum ia habisi. Dia cukup tangguh, berkali-kali ia berhasil lolos dari serangan Freya. Freya membuang nafas kasar, dan kemudian kembali mencari lawannya.


Tidak ada bunyi gemirisik sama sekali, Freya telah kesulitan dibuatnya. Sudah cukup lama ia mencari, namun belum juga menemukan lawannya. Freya menggeram kesal, ia merasa dipermainkan.


Tak lama kemudian, Freya berbalik arah, dan bermaksud menemui Jordan. Setiap tawanan dipasangi alat pelacak di bajunya, sehingga mereka tetap dalam pengawasan. Freya ingin menanyakan keberadaan lawannya pada Jordan, karena ia sudah lelah mencarinya secara manual.


Namun belum sempat Freya melangkah lebih jauh.


Tiba-tiba buuuukkk....!!


Ada yang memukulnya dari belakang. Freya terhuyung ke depan, dan nyaris jatuh. Tetapi untung saja pistolnya masih ia genggam dengan erat. Sontak Freya langsung menoleh ke belakang, dan mendapati lawannya sedang mengayunkan sebatang kayu untuk memukulnya.


Refleks Freya langsung menghindar, sehingga batang kayu itu hanya mengenai udara kosong.


Dengan cepat Freya menarik pelatuk pistolnya, namun lagi-lagi pria itu berhasil menghindar.


"Kau tidak bisa membunuhku, karena aku yang akan lebih dulu membunuhmu," kata pria itu dengan suara seraknya.


"Kau sudah cukup jauh mengejarku, Jordan tidak akan lagi menemukanmu," sambung pria itu sambil mendekati Freya.


Freya mundur selangkah, lawannya cukup kuat, ia harus waspada. Pria itu terus mendekati Freya, ia tak peduli meskipun Freya menodongkan pistol padanya. Freya kehabisan langkah, ia tak bisa mundur lagi, karena terhalang pohon yang cukup besar.


Tak ada pilihan lain, Freya menembakkan pistolnya, namun lagi-lagi pria itu bisa menghindar.


Dengan sigap pria itu mengayunkan kayunya, dan tepat mengenai lengan Freya. Freya terjatuh, dan pistolnya terlempar jauh. Belum sempat ia mengambil kembali pistolnya, pria itu sudah lebih dulu mengambilnya.


Dengan posisi berdiri, pria itu menodongkan pistolnya tepat di dada Freya. Freya yang saat itu masih terjerembab di tanah, mulai pucat pasi menyadari situasinya.

__ADS_1


Tidak, dia tidak boleh mati begitu saja. Bukankah kehidupannya yang indah baru saja dimulai, jadi dia harus berusaha keras melawan pria di hadapannya ini.


"Kau akan mati wanita sialan!" bentak pria itu sambil menatap Freya dengan tajam.


Tubuh Freya bergetar, rasa takut mulai menghampirinya. Namun keinginan kerasnya untuk hidup, masih menyisakan puing-puing keberanian dalam dirinya. Tangannya meraba-raba ketanah, mencari sesuatu yang bisa menolongnya.


Selang beberapa detik, tangannya meraba batu sebesar kepalan tangan. Freya menatap pria yang masih menatapnya dengan tajam sambil tersenyum licik.


"Kau sudah siap untuk mati?" ucap pria itu sambil bersiap menarik pelatuk pistolnya.


Freya tidak menjawab, namun dengan cepat ia melemparkan batu itu. Dan tepat sasaran, lemparannya mengenai kening pria itu hingga berdarah.


Refleks pria itu marah, ia menggeram kesal sambil bersiap menembak Freya.


Dan doooorrrr.....!!


Pria itu jatuh tak berdaya, rupanya Jordan yang menembaknya.


"Kau tidak apa-apa Fre?" tanya Jordan sambil mendekati Freya, dan membantunya bangun.


"Maaf aku mengecewakanmu," jawab Freya sambil menunduk.


Kemudian ia menuntun Freya, dan mengajaknya kembali.


"Kau tidak marah?" tanya Freya dengan hati-hati. Entah kenapa ia sangat gugup, dan takut saat berhadapan dengan Jordan.


"Tentu saja tidak. Aku yakin kedepannya kau akan lebih baik. Aku melihat ada kemauan yang sangat kuat dalam dirimu," jawab Jordan dengan tegas.


Diam-diam Freya tersenyum. Ahh pujian seperti itu saja, kenapa bisa membuat hatinya berdebar-debar. Tapi tidak mungkin Freya menyukai Jordan. Pria itu terlalu tinggi untuk ia raih.


Tak berapa lama kemudian mereka telah sampai di rumah. Freya langsung duduk di sofa, dan Jordan mengambilkan salep untuknya.


"Kemarikan tanganmu," kata Jordan sambil duduk di sebelah Freya.


Freya menurut, ia mengulurkan tangannya. Jordan langsung meraihnya, dan mengolesinya dengan salep. Ada luka lebam ditangannya, akibat pukulan dari pria tadi. Hati Freya kembali berdebar, sentuhan tangan Jordan terasa sangat hangat di kulit tangannya. Pipinya juga mulai merona, ahh semoga saja Jordan tidak melihatnya.


"Apa ada yang lain?" tanya Jordan sambil menatap Freya.


Ahh ternyata Jordan bisa perhatian juga, ditambah lagi tatapannya itu, benar-benar membuat hati Freya semakin meleleh.


Jordan menanyakan luka yang lain, sebenarnya ada di punggung, tapi apa dia tidak malu, jika harus membuka bajunya di hadapan Jordan.

__ADS_1


"Fre!" panggil Jordan.


"Tidak ada, hanya ini." Jawab Freya berbohong.


"Oh baguslah, sekarang beristirahatlah, nanti tanganmu akan membaik," ucap Jordan sambil beranjak dari duduknya.


"Terima kasih ya, kamu sudah menolongku hari ini. Andai saja tidak ada kamu, mungkin sekarang aku sudah mati," kata Freya sebelum Jordan melangkah pergi.


Jordan menoleh sambil tersenyum, "kita rekan Fre, tidak perlu berterima kasih. Sekarang aku yang menolongmu, tapi bisa jadi, suatu saat nanti kau yang akan menolongku," ucap Jordan.


"Kau lelaki yang sangat hebat Jordan, masihkah butuh pertolonganku?" tanya Freya sambil tersenyum manis.


"Dalam duniaku apapun bisa terjadi Fre. Mungkin sekarang aku hebat, tapi bukan berarti aku tidak akan pernah celaka. Dalam hidupku kematian adalah hal biasa. Mungkin sekarang aku masih bisa berdiri tegak, tapi aku juga tidak tahu, sampai kapan aku bisa bernyawa," kata Jordan sambil menatap Freya.


"Apakah dunia mafia sesadis itu?" tanya Freya pelan.


"Menurutmu?" ucap Jordan balik bertanya, sambil menaikkan alisnya.


"Aku tidak tahu." Gumam Freya nyaris tidak terdengar.


"Menjadi mafia harus siap membunuh, dan dibunuh. Semua orang berlomba-lomba menjadi yang terkuat. Semakin tinggi kedudukanmu, semakin banyak orang yang ingin membunuhmu. Dan jika kau tetap berada ditingkat bawah, semua orang akan menghinamu, menginjakmu, dan pada akhirnya nyawamu juga tidak akan berharga. Pada dasarnya kita semua harus siap dengan maut, dan kematian." Kata Jordan menjelaskan.


Freya tertegun mendengar penjelasan Jordan. Yah dengan kehidupan yang seperti ini, rasanya memang sangat dekat dengan kematian. Memang semua orang memiliki garis kematiannya sendiri-sendiri. Tapi jika hari-harinya bermain dengan maut, bukan tidak mungkin jika garis kematiannya akan dipercepat.


Namun bukan kematian yang sebenarnya Freya takutkan. Tapi lebih tepatnya kehilangan.


Ia siap mati kapan saja, tapi ia tak siap jika ditinggal mati oleh orang-orang di sekitarnya. Cukup ayah, dan ibunya saja yang pergi meninggalkannya, jangan ada orang lain lagi.


Kehilangan mereka sudah cukup menorehkan luka yang sangat dalam, dan sudah cukup menghancurkan hidupnya.


"Apa kau menyesal Fre?" tanya Jordan saat melihat Freya terdiam, dan merenung.


"Tidak." Jawab Freya sambil menggeleng.


"Kau tidak takut mati?" tanya Jordan lagi.


Freya kembali menggeleng, "tidak. Aku tidak takut dengan kematian, tapi aku takut kehilangan. Untuk itu berjanjilah untuk tetap baik-baik saja, Jordan." Jawab Freya sambil menepuk bahu Jordan.


Kemudian Freya melangkah menuju kamarnya, meninggalkan Jordan yang masih terdiam di tempatnya.


Bersambung......

__ADS_1


__ADS_2