
Malam kian mencekam, hujan deras tak henti-hentinya mengguyur Kota Moskow. Sejak pukul 07.00 hingga kini tengah malam, air terus berjatuhan dengan begitu derasnya. Angin berhembus kencang, menerpa pepohonan dan bahkan merobohkannya.
Guntur terus menyambar melanglang buana, percikan cahayanya laksana listrik yang hendak membelah angkasa raya. Nyanyian alam yang begitu menyeramkan, seolah bumi lelah menopang berat tubuh para makhluk bernyawa.
Kendati harmoni alam, mengalunkan melodi yang mengerikan, namun dua insan tetap tenggelam dalam urusannya, seolah mereka tak melihat apa yang terjadi di sekitarnya.
Dua insan yang tak lain adalah Jordan dan Freya, mereka larut dalam tulisan yang tertera di layar komputer, di hadapannya. Sepulangnya dari apartemen milik Jonathan, Freya langsung menghubungi Jordan dan menemuinya di markas. Mereka membahas tentang Diamond, perusahaan yang telah dikuasai Jordan, perusahaan yang kemungkinan besar ada hubungannya dengan Mr.X.
"Jonathan mengira aku berdiri di pihak Mr.X, dia pikir aku adalah mata-mata yang menggantikan Julian. Siapa kira-kira Mr.X, kenapa kita tidak menemukan petunjuk apapun di sini." Kata Freya dengan pandangan mata yang tetap tertuju pada layar datar di depannya.
"Dia sangat cerdik, dia menutup semua informasi tentang Diamond. Aku sedikit khawatir Freya," gumam Jordan sambil menoleh dan menatap Freya.
"Khawatir, apa yang membuatmu khawatir?" tanya Freya sembari mengernyitkan keningnya.
"Aku khawatir ini hanya perangkap, karena dia tahu jelas siapa aku. Dengan kemampuannya selama ini, bukan hal yang sulit untuk menargetkan aku." Jawab Jordan, yang sontak saja membuat Freya membuka mulutnya lebar-lebar.
"Kenapa, kenapa kau bisa berpikir demikian Jordan?" tanya Freya.
Jordan menghela napas panjang, sebelum menjawab pertanyaan Freya.
"Waktu itu, Andrew menyarankan Diamond untuk kukuasai. Lantas menempatkan kamu di sana selama penyamaran. Aku langsung mengambil tindakan, tapi tidak sulit sama sekali. Dalam waktu singkat, aku bisa menguasai Diamond dengan begitu rapi, tanpa ada kesalahan sedikitpun. Dan sekarang aku tahu satu fakta, bahwa Diamond memiliki hubungan dengan Mr.X. Bisa jadi ini hanya jebakan yang sudah diatur Mr.X, untuk memantau rencana kita selanjutnya." Jawab Jordan menjelaskan dengan panjang lebar.
Freya berpikir keras, teori yang diungkapkan Jordan, sangat masuk akal. Mr.X adalah orang yang sangat cerdik, tidak mustahil jika ia bisa merancang ide yang sedemikian rapinya. Freya memijit pelipisnya, semakin rumit menerka siapa Mr.X. Jika selama ini dia mencurigai Marcel, namun kali ini dia mencurigai satu orang lagi.
"Jika ini hanya jebakan, tentu saja orang yang mampu melakukannya, adalah orang yang tahu betul tentang Jordan. Tapi apakah ini mungkin," batin Freya seraya memegangi kepalanya yang semakin pening.
Freya melirik Jordan sekilas, pria itu juga tampak berpikir keras. Freya ingin sekali mengutarakan pendapatnya, namun ada keraguan yang akhirnya memaksanya untuk tetap diam.
"Aku sudah melacak semua perusahaan yang ada hubungannya dengan Diamond, tapi hasilnya nihil, tidak ada satupun yang mencurigakan," kata Jordan sambil mengembuskan napasnya dengan kasar.
"Cara kerjanya sangat rapi, aku benar-benar kewalahan dibuatnya," sambung Jordan dengan pelan.
"Kau tenang saja, aku pasti bisa mengungkap identitasnya, sekaligus membawa mayatnya ke hadapanmu. Oh ya, masih ada satu hal lagi yang harus kamu tahu," ucap Freya sembari menggenggam bahu Jordan. Ia sengaja mengalihkan pembicaraan, agar pikiran Jordan bisa sedikit tenang.
__ADS_1
"Apa?" tanya Jordan.
"Hubungan Marcel dan Jonathan benar-benar buruk, tadi aku juga sempat melawan anak buahnya Marcel. Dia mendapat perintah untuk membunuh Jonathan, tapi sayangnya aku tidak berhasil mencari tahu, apa alasannya Marcel melakukan ini," ucap Freya sambil menatap Jordan.
"Kamu serius?" tanya Jordan.
"Tentu saja."
"Apa kamu masih mencurigai Marcel?" tanya Jordan.
"Untuk saat ini iya. Kau tenang saja Jordan, aku akan segera menyelidiki hal ini sampai tuntas," ucap Freya sambil menyunggingkan sebuah senyuman.
"Aku percaya padamu. Tapi setelah ini berhati-hatilah, Diamond bukan lagi tempat yang aman untukmu," kata Jordan dengan tegas.
"Aku pasti berhati-hati. Mmm Jordan, Alex dan Andrew ke mana? Sejak tadi aku tidak melihatnya," tanya Freya sembari menilik wajah Jordan.
"Alex sedang mengurus perdagangan di luar kota, kalau Andrew, dia keluar sejak tadi siang." Jawab Jordan.
"Aku tidak tahu, dia tidak bicara apa-apa padaku. Hari ini sedang senggang, jadi aku tidak masalah meskipun dia pergi." Jawab Jordan.
Freya tak menjawab, dia hanya menanggapi ucapan Jordan dengan anggukan dan senyuman. Lalu ia memejamkan matanya sekejab, mencoba menepis pikiran buruk yang sejak tadi terus mengusiknya. Entah pikiran buruk seperti apa, hanya Freya seorang yang tahu.
***
Sang surya mulai menghangat, sinarnya yang memesona mewarnai alam raya dengan begitu indahnya. Setelah semalam hujan lebat, kini Moskow kembali cerah. Langit membiru, dan sang mentari menunjukkan wujud aslinya. Tak ada secercah awan pun yang menutupi wajahnya.
Freya baru saja tiba di apartemennya, setelah semalam suntuk ia tidur di markas. Kini, Freya sedang berdiri di depan almari, menatap puluhan dress yang menggantung rapi di sana.
"Aku harus memakai yang mana," gerutu Freya sambil memilah satu demi satu dress miliknya.
"Ckk, membingungkan!' lagi-lagi Freya menggerutu dengan kesal.
Hari ini adalah hari Minggu. Ia libur dan tidak pergi ke kantor, namun ia punya satu acara yang tidak kalah pentingnya. Pagi-pagi sekali, Calvin menghubunginya, lelaki itu mengajaknya pergi ke pantai. Dan tanpa banyak bertanya, Freya langsung mengiyakan ajakannya, hanya saja dia ingin berbicara terlebih dahulu dengannya.
__ADS_1
"Aku ingin tahu siapa Shally, dan di mana wanita itu sekarang. Aku harus mengorek informasi sebanyak mungkin, aku sangat tertarik dengan dia, aku penasaran siapa yang menutup informasinya." Kata Freya pada dirinya sendiri.
Tak lama kemudian, Freya mengambil dress kuning gading tanpa lengan, panjangnya di atas lutut, dengan hiasan pita di bagian pinggangnya. Setelah membalut tubuhnya dengan dress, Freya menyisir rambutnya, dan menggulungnya asal-asalan.
Jarum jam menunjukkan tepat pukul 09.00 pagi, Calvin sudah tiba di apartemen Freya. Lelaki itu duduk di sofa ruang tamu, dan Freya, ia juga ikut duduk di sana setelah menyiapkan minuman untuk Clavin.
"Kamu ingin bicara apa Freya?" tanya Calvin, kala keduanya sudah duduk bersebelahan.
"Aku ingin bertanya sesuatu padamu, tapi maaf andaikata nanti___"
"Tidak perlu minta maaf, tanyakan saja apa yang ingin kau tanyakan, aku pasti akan menjawabnya," ucap Calvin sambil tersenyum lebar.
"Benarkah? Walaupun seandainya, ini tentang masalah pribadimu?" tanya Freya.
"Iya." Jawab Calvin dengan serius.
"Baiklah, kalau begitu aku tidak akan sungkan lagi. Calvin, sebenarnya aku ingin tahu masa lalumu. Apakah kamu pernah jatuh cinta, apakah kamu pernah punya kekasih?" tanya Freya sambil menatap Calvin.
"Aku berharap kamu benar-benar bercerita tentang Shally. Jika itu kau lakukan, aku akan yakin dengan perasaan kamu," batin Freya dalam hatinya.
"Kau ingin tahu?" Calvin balik bertanya.
"Iya," jawab Freya sambil mengangguk.
"Baiklah, aku akan memberitahumu tentang masa laluku, dan tentang diriku. Tapi berjanjilah untuk tidak marah Freya, apapun yang kukatakan nanti," ucap Calvin dengan tatapan mata yang lurus ke depan. Freya menangkap ada yang aneh dengan tatapannya, namun ia tak bisa menebak apa itu.
"Aku berjanji." Jawab Freya dengan tegas.
"Baiklah, dengarkan baik-baik!" ucap Calvin sambil menghela napas panjang.
Tatapan Calvin berubah sendu, seperti ada kemelut yang bergolak di dalam sana. Namun setelah itu, tatapannya berubah menjadi benci, seolah ada hal yang sangat tidak menyenangkan yang pernah terjadi dalam hidupnya. Freya semakin mengernyit heran, kala menatap jemari Calvin yang mencengkeram dengan erat. Calvin tampak menahan amarah dan kekecewaan yang begitu dalam. Ada apa dengan Calvin?
Bersambung...
__ADS_1