
Lelaki di hadapan Alex jatuh terkulai. Ada cairan merah yang merembas dari dadanya. Spontan Alex langsung menoleh ke belakang, tampak di sana Freya sedang berdiri tegak, sambil memegangi pistol dengan kedua tangannya.
Dengan tertatih Alex menghampiri Freya, ia masih tak percaya dengan apa yang dilakukannya.
"Kau yang melakukan itu Fre?" tanya Alex sambil bersandar di pintu mobil.
"Maaf aku terlambat Lex, kalau aku bisa lebih cepat, kau tidak akan terluka seperti ini," ucap Freya. Ia melihat baju Alex yang mulai memerah, karena terkena darah dari lengannya yang terluka.
"Aku tidak apa-apa Fre, ini hanya luka kecil." Jawab Alex.
"Bagaimana dengan mereka?" tanya Freya sambil menatap beberapa orang yang sudah tergeletak tak bernyawa.
"Nanti ada yang mengurusnya, sekarang ayo kita pulang!" kata Alex dengan tegas.
"Tunggu!" teriak Freya, saat melihat Alex membuka pintu mobil.
Alex menoleh, menatap Freya dengan heran, seolah meminta penjelasan.
"Tanganmu terluka, biar aku yang mengemudi," ucap Freya sambil mendekati Alex.
"Kau bisa?"
Freya tersenyum tipis, "aku dulu juga pernah kaya Lex, aku sudah terbiasa dengan mobil," ucapnya sambil masuk ke dalam mobil.
"Kau tidak ingin pulang?" teriak Freya, karena Alex masih juga terdiam di tempatnya.
Lalu Alex tersadar, dan kemudian ikut masuk ke dalam mobil.
Freya mulai melajukan mobilnya dengan kecepatan tinggi, ia ingin segera sampai di rumah, agar luka Alex bisa secepatnya diobati.
"Pelan-pelan saja Fre," kata Alex, ia kurang percaya dengan kemampuan Freya dalam berkendara.
"Kau meragukan aku Lex?" tanya Freya dengan kekehannya. Bukannya menuruti perintah Alex, namun Freya malah menambah kecepatannya.
"Bukankah seorang mafia itu harus pemberani?" tanya Freya sambil menatap Alex.
"Fre jangan melihatku, fokuskan pandanganmu!" teriak Alex.
Freya terkekeh geli, "kau bisa takut juga ya Lex, ekspresimu benar-benar lucu," goda Freya.
"Tidak lucu Fre." Jawab Alex dengan kesal. Dan Freya menanggapinya dengan tertawa renyah.
Beberapa menit kemudian, Alex kembali membuka suara.
"Apa yang kau rasakan sekarang Fre?"
__ADS_1
Freya mengerutkan keningnya, "biasa saja, dulu aku juga sering berkendara secepat ini." Jawab Freya.
"Ckk, maksudku bukan itu. Kau baru saja membunuh orang, bagaimana perasaanmu?" tanya Alex, jujur ia sedikit heran dengan sikap Freya. Kenapa tidak tampak takut, atau menyesal sedikit pun.
"Aku bahagia." Jawab Freya singkat.
Alex tersentak kaget, jawaban macam apa itu.
"Kau gila Fre, kau baru saja membunuh orang, dan kau merasa bahagia? Aku jadi tidak yakin, kalau dulu kau adalah wanita baik-baik," kata Alex.
"Aku baru saja menyelamatkanmu Lex. Kamu tahu tidak, tadi aku sempat merasa ragu, takut salah bertindak, dan malah berakibat fatal untukmu. Tapi ternyata aku berhasil, tentu saja aku sangat bahagia." Jawab Freya dengan tersenyum bangga.
"Kau aneh Fre," gumam Alex seraya menggeleng-gelengkan kepalanya.
Dan lagi-lagi Freya hanya menanggapinya dengan kekehan.
"Mudah-mudahan Jordan bisa bangga, dan tidak lagi berniat mengembalikanku ke jalanan. Jordan, aku akan sangat bahagia, jika kau bisa bangga padaku." Batin Freya dengan perasaan yang berbunga-bunga.
"Kau kenapa Fre?" tanya Alex tiba-tiba.
"Aku tidak apa-apa." Jawab Freya.
"Kau senyum-senyum sendiri."
"Kau salah lihat Lex," ucap Freya sambil menambah kecepatannya.
***
Jordan, dan Andrew sedang menunggu mereka di ruang tamu. Mereka sedikit terkejut melihat keadaan Alex.
"Lex, apa yang terjadi?" tanya Jordan sambil beranjak mendekati mereka.
Jordan ikut membantu Alex duduk di sofa, dan kemudian memanggil David untuk mengobati luka Alex.
David adalah dokter pribadi di rumah ini, mereka sudah lama bekerjasama.
"Martin dan anak buahnya menghadangku, mungkin mereka tahu, jika aku pulang dengan membawa ini," kata Jordan sambil menyodorkan botol kaca kecil pada Jordan.
Martin adalah adiknya Mike, mereka adalah salah satu rivalnya Jordan, dan kawan-kawannya.
"Apa ini racun langka yang sedang ramai dicari itu? Aku tidak menyangka, Jack bisa mendapatkannya," ucap Jordan sambil mengamati botol itu.
"Martin tidak akan tinggal diam, dia pasti akan kembali merebut racun itu dari kita." Sahut Andrew sambil memandang Jordan, dan Alex secara bergantian.
"Martin sudah mati." Kata Alex dengan tegas. Dan jawaban itu sontak membuat Jordan, dan Andrew langsung menatapnya dengan intens.
__ADS_1
"Kau berhasil membunuhnya?" tanya Andrew ragu-ragu. Melihat keadaan Alex saat ini, sepertinya mustahil, jika tadi ia telah membunuh Martin.
"Bukan aku, tapi Freya. Andai saja tadi tidak ada dia, mungkin sekarang aku sudah tidak bernyawa." Jawab Alex sambil meringis kesakitan saat David mulai membersihkan lukanya.
Baik David, Andrew, maupun Jordan mereka menatap Alex dengan penuh selidik, tidak percaya dengan apa yang dikatakannya.
Mereka semua tahu, jika Freya sempat kesulitan saat latihan, tidak pernah sekalipun bisa menembak sasaran. Dan kini tiba-tiba ada kabar, bahwa dia membunuh Martin, siapa yang bisa percaya.
"Aku tidak bisa diam saja saat melihat Alex hampir tertembak. Aku mengumpulkan keberanianku, aku berusaha sebisaku, dan akhirnya aku berhasil. Benda ini berjasa besar dalam hidupku." Ucap Freya sambil mengeluarkan pistol glock meyer dari saku jaketnya.
Jordan menatap Freya dengan tajam, lalu kemudian ia bertanya padanya.
"Lalu apa yang kau rasakan sekarang? Menyesal, takut, atau..."
"Bahagia." Potong Freya dengan cepat.
Sebenarnya ia juga merasa bingung dengan dirinya sendiri, kenapa ia justru bahagia. Tidak ada rasa takut, atau menyesal sama sekali. Ahhh terlalu lama hidup di samping Jordan, mungkin dia sudah ketularan sifat kejamnya.
"Kau serius?" tanya Jordan menyelidik.
Freya mengangguk. Kemudian Jordan mendekati Freya, dan duduk di sebelahnya.
"Kau akan menjadi rekan baikku. Besok aku akan menemanimu berlatih," ucap Jordan sambil tersenyum lebar.
"Aku tidak bisa fokus jika hanya menembak papan, bisakah kita berlatih dengan sesuatu yang sedikit menantang?" tanya Freya sambil tersenyum miring.
"Apa maksudmu?" tanya Jordan, ia kurang mengerti dengan maksud Freya.
"Kau punya banyak tawanan, kan?"
"Oh, aku mengerti. Baiklah besok kita akan berlatih dengan mereka," ucap Jordan dengan tegas.
Dan Freya tersenyum, sambil mengangguk.
Sedangkan David, Alex, dan Andrew mereka menatap Freya, sambil melongo tidak percaya.
***
Pagi-pagi sekali Jordan dan Freya sudah berada di pekarangan belakang rumah.
Mereka siap berlatih menembak, tetapi kali ini bukan papan yang menjadi sasarannya, melainkan beberapa tawanan yang dibiarkan lepas begitu saja.
Mereka diberi kebebasan untuk berlari, dan menyelamatkan diri.
Sedangkan Freya, dia akan berusaha memburu, dan membunuh mereka semua. Mungkin terdengar sedikit sadis, tapi mau bagaimana lagi, Freya bisa fokus jika sasarannya adalah makhluk bernyawa.
__ADS_1
Dan mereka adalah tawanan, cepat atau lambat, nyawanya juga akan melayang. Lebih baik mati secepatnya, dari pada terkurung dan mati kelaparan dipenjara bawah tanah.
Bersambung......