
Gemericik air yang mengalir di kamar mandi, mengusik ketenangan Jordan yang masih terlena di alam mimpi. Perlahan ia membuka mata, dan kemudian menghalau sinar surya yang menyilaukan. Jordan melirik ke sana ke mari, menilik setiap jengkal ruangan. Dan Jordan terkesiap, kala menyadari bahwa dirinya sedang tertidur di kamar Freya.
"Apa yang terjadi," gumam Jordan tak mengerti.
Dia bangkit dan membuka selimut tebal yang menutupi tubuhnya. Jordan semakin heran, ketika melihat dadanya tak tertutupi sehelai benang. Hanya ada celana kasual yang melekat di raganya. Kenapa bisa? Apa yang terjadi?
Dua pertanyaan yang mengacaukan pikiran Jordan.
"Apa ini?" Jordan membelalak lebar, kala menatap noda merah di sampingnya. Terlihat sangat kontras dengan sprei yang berwarna putih.
Jordan mengusap noda itu dengan pelan, tampak seperti darah yang sudah mengering. Benarkah semalam terjadi sesuatu?
Jordan memegangi pelipisnya, mengingat-ingat apa yang telah ia lakukan. Nihil, ia sama sekali tak bisa mengingat. Memori otaknya seolah buntu. Waktu seakan berhenti, di saat ia mencoba mencium Freya.
"Jika aku hanya menciumnya, kenapa aku bisa tidur di sini. Dan ... ini apa, tidak mungkin noda ini datang begitu saja, jika tidak terjadi sesuatu. Ahh, kenapa aku sama. sekali tidak bisa mengingatnya. Padahal jelas-jelas semalam aku tidak mabuk," gerutu Jordan. Tangannya kembali mengusap noda merah yang sangat mencuri perhatiannya.
Belum sempat Jordan menemukan jawaban yang pasti, tiba-tiba pintu kamar mandi terbuka. Jordan menoleh, dan tampak di sana Freya sedang menggosok wajahnya dengan handuk kecil.
Cukup lama, Jordan tak memalingkan pandangan. Ia menilik setiap hal yang ada pada Freya.
Wanita itu memakai dress selutut, dan rambutnya digulung dengan handuk. Tetes demi tetes air, berjatuhan dari ujung rambutnya yang tak tertutup kain. Freya berjalan tak seperti biasanya, ia sedikit tertatih kali ini.
"Kenapa kau terus menatapku?" tanya Freya dengan pelototan tajam.
Melihat Freya yang memandang tepat ke arahnya, Jordan menelan saliva. Bukan karena tatapan tajamnya, melainkan karena bekas kemerahan yang ada di lehernya. Bekas yang menyerupai kiss mark itu tidak hanya satu-dua, namun banyak. Bahkan ada beberapa di antaranya yang menyembul malu di balik belahan dress.
"Apa aku benar-benar melakukannya?" batin Jordan dengan jantung yang berdetak cepat.
"Freya!" panggil Jordan kala wanita itu berpaling, dan melangkah tertatih ke sofa.
Freya tak menjawab, dia hanya menoleh dan menatap Jordan sekilas.
__ADS_1
Lantas Jordan beranjak turun dari ranjang, dan berjalan menghampiri Freya. Dia tahu, suasana hati Freya sedang tidak baik. Dan entah kenapa, dia merasa kurang nyaman melihat Freya yang seperti itu.
"Freya, apa ... apa yang kulakukan semalam?" tanya Jordan dengan hati-hati.
"Apa kau tiba-tiba amnesia?" sindir Freya tanpa menoleh.
"Bukan begitu, tapi ... aku memang tidak ingat. Freya, apakah kita benar-benar___"
"Bagus kalau kau tidak ingat, karena aku juga tidak ingin mengingatnya," pungkas Freya disertai embusan napas kasar.
"Jadi kita benar-benar___"
"Jordan, aku tidak ingin membahasnya!" potong Freya dengan intonasi yang lebih tinggi.
Jordan mengambil napas dalam-dalam, kini ia yakin telah terjadi sesuatu semalam.
Kendati di awal Jordan memang menginginkan Freya, dan berharap dia mengandung anaknya. Namun entah kenapa, saat ini ia merasa menyesal. Secercah perasaan bersalah, diam-diam menyeruak dalam relung hati.
Bagaimana ekspresi Freya semalam? Sedih, terluka, atau bahagia? Apakah dia menangis, atau mungkin menikmati? Berbagai pertanyaan membuatnya semakin tak karuan.
"Maafkan aku," gumam Jordan setelah cukup lama dalam keheningan.
"Kau tidak bersalah," jawab Freya.
"Tapi aku sudah melakukan hal yang tidak pantas, Freya," ucap Jordan.
"Kau tidak melakukan apa-apa, tidak ada istilah tidak pantas." Freya membuang muka, seolah enggan ditatap Jordan.
"Maafkan aku, Freya." Lagi-lagi hanya kata maaf yang keluar dari mulut Jordan.
"Jika kau terus membahas hal itu, keluarlah!" Freya berucap tanpa mengubah posisi. Dia tetap membuang muka sambil melipat tangan di dada.
__ADS_1
"Baiklah, aku akan keluar." Jordan beranjak dari duduknya. Ia menyambar kaus miliknya yang tergeletak di lantai, lantas melangkah keluar kamar. Ia tahu, saat ini Freya butuh waktu untuk sendiri.
"Aku tidak akan meninggalkanmu, Freya," ucap Jordan sebelum tubuhnya menghilang di balik pintu.
Freya tak menjawab, namun senyuman lebar terkulum di bibirnya, yang tentu saja tanpa sepengetahuan Jordan.
"Kali ini, aku pasti memenangkan hatimu, Jordan. Untuk membuatmu jatuh cinta, pertama-tama harus memastikanmu selalu mengingatku. Dari sekian banyak waktu yang telah kita lalui bersama, aku yakin kau menganggapku lebih dari teman, walaupun belum bisa dikatakan cinta," ucap Freya.
"Boleh saja kau lebih kuat dariku, tapi tetap aku yang lebih cerdas darimu." Freya menunduk, dan meraba ke bawah sofa. Ia mengambil ponsel yang disembunyikan di sana.
"Pengamanan yang kau pasang, belum cukup mampu untuk membatasi gerak-gerikku, Jordan," gumam Freya dengan senyum penuh kemenangan.
Kemudian ia mulai menghubungi Yana, memberikan arahan untuk mengurus semua pekerjaan di kantor. Lantas ia menghubungi Reman, salah satu anak buah yang dipercaya menjaga Kamila.
Di tempat yang berbeda, Jordan melemparkan kausnya begitu saja. Kemudian ia menghempaskan tubuh kekarnya ke atas ranjang. Dengan berbantalan lengan, Jordan menatap langit-langit kamar. Lagi-lagi ia berusaha memahami situasi yang telah terjadi.
"Aku sama sekali tidak bisa mengingatnya, dan tubuhku juga tidak lelah sedikit pun. Padahal, dulu sewaktu aku melakukannya dengan Lyana, aku merasa sedikit pegal dan aku juga dapat mengingatnya dengan jelas. Apa sebenarnya tidak terjadi sesuatu semalam?" gumam Jordan.
"Tapi, jika tidak terjadi sesuatu, lantas darimana datangnya noda merah dan bekas kiss mark itu?" ujar Jordan menyangkal opininya sendiri.
"Dan lagi, apa yang terjadi dengan diriku? Bukankah aku memang menginginkan ini. Mengikat Freya di sisiku, dan berkuasa penuh atas hidupnya. Lalu kenapa sekarang aku menyesal, dan merasa bersalah? Kenapa semakin hari, perasaanku semakin sulit dipahami?" Jordan memejamkan mata, berusaha mencari jawaban dari semua tanya.
Setelah cukup lama menutup mata, Jordan bangkit dari tidurnya.
"Dia sudah berusaha membunuhku, dan dia juga yang membuat Alex tiada. Apapun yang kulakukan sekarang, itu tidak seberapa jika dibandingkan dengan kesalahannya. Jadi untuk apa aku menyesal, tidak, semua ini sudah benar. Dia harus membayar atas kesombongannya."
Setelah gagal mendapatkan jawaban, Jordan meyakinkan dirinya sendiri, jika apapun yang terjadi, itu bukanlah hal yang salah. Namun, hatinya berkhianat. Jauh di dalam sana, ada sekelumit rasa yang menyangkal logikanya. Dan perlahan, sketsa wajah Freya semakin jelas tergambar dalam pikiran.
"Lebih baik sekarang aku mandi, dan memeriksa kerjasama di Rusia. Aku tidak boleh membuang-buang waktu seperti ini," ucap Jordan. Ia berusaha mencari kesibukan, demi mengenyahkan bayangan Freya.
Bersambung...
__ADS_1