Cinta Ini Membunuhku (Dark Love )

Cinta Ini Membunuhku (Dark Love )
Kamila Sakit


__ADS_3

Dua minggu sudah waktu berjalan, sejak drama noda merah yang cukup menyita perhatian.


Sejak hari itu, Jordan semakin menyibukkan diri dengan pekerjaan. Ia tak ingin terus-terusan memikirkan Freya, dan terbelenggu dalam perasaan yang tak pasti. Bisa dikatakan, ia mulai menjaga jarak dengannya.


Selain mengurus bisnis yang ada di Rusia, Jordan kerap kali datang ke kantor Freya. Mengambil alih kendali di perusahaan itu. Dia memperkenalkan diri sebagai calon suami. Entah apa alasannya, tiba-tiba hatinya tergerak untuk mengatakan hal itu.


Tak terkecuali hari ini, sejak pagi Jordan sudah meninggalkan rumah, dan biasanya akan kembali saat jam makan siang.


Dengan langkah tegap, Jordan menuju ruangan Freya. Sesekali ia tersenyum dan memberikan anggukan saat karyawan menyapa.


Banyak di antara mereka yang terpukau dengan pesona Jordan, mata biru bening yang langka, membuat kaum hawa betah memandangnya.


Sebagian karyawan, memuji hubungan Freya dan Jordan. Lelaki rupawan, bersanding dengan wanita yang cantik nan menawan, sangat serasi. Namun, ada juga di antaranya yang menyayangkan hubungan mereka. Jordan terlalu sempurna untuk menjadi pasangan Freya-yang menurut mereka perawan tua.


"Selamat pagi, Pak," sapa Yana dengan sedikit membungkuk.


"Pagi," jawab Jordan dengan senyum lebar. Di Indonesia, dia sangat membangun image-nya. Dia tidak menampakkan aura dingin dan kejam-ciri khas dari seorang mafia.


"Berkas yang Bapak minta kemarin, sudah saya siapkan di meja. Hari ini ada jadwal temu dengan Pak Bram, untuk membahas kerjasama yang beliau tawarkan beberapa hari lalu," terang Yana.


"Jam berapa?" tanya Jordan.


"Jam 11 Pak, karena beliau juga ingin makan siang bersama Anda," jawab Yana.


"Baik, terima kasih." Jordan melanjutkan langkahnya, dan masuk ke ruangan Freya.


Jordan tersenyum saat mendaratkan tubuhnya di kursi. Bram adalah bawahannya. Dia adalah orang yang dipercaya untuk mengurus perusahaan kecil yang baru ia dirikan di Indonesia. Dia sengaja menjalin kerjasama dengan perusahaan milik Freya.


"Freya Olliviera, wanita yang pernah kejam pada masanya. Tapi ... kini hidupnya ada dalam genggamanku." Jordan mengusap poto Freya yang dipajang di atas meja. Dalam balutan dress panjang, dia tampak anggun dan manis. Siapa sangka jika dia seorang mafia.


"Dengan menggunakan perusahaan ini, aku bisa mengembangkan bisnisku tanpa ada yang curiga. Indonesia, mungkin di sinilah tempat terakhirku," gumam Jordan.


Cukup lama Jordan tersenyum sendiri, entah apa yang dipikirkannya. Dilihat dari binar netra, sepertinya suasana hati sedang baik.


Kemudian, Jordan mulai menenggelamkan diri dalam tumpukan berkas. Ia mengerjakannya satu persatu, hingga tak sadar dengan matahari yang sudah merangkak tinggi.


Bunyi ketukan pintu, membuyarkan konsentrasi Jordan. Ia meletakkan pena, dan menoleh ke sumber suara.

__ADS_1


"Masuk!" teriak Jordan.


"Sudah jam setengah 11, Pak," ujar Yana nyaris bersamaan dengan derit pintu.


Jordan melirik jarum jam yang melingkar di tangannya, "aku akan berangkat," ucapnya.


"Iya, Pak." Yana menutup kembali pintu ruangan.


"Kalaupun aku terlambat, siapa yang akan marah. Bram itu orangku, dia tidak akan berani protes apapun padaku. Tapi ... ya, baiklah. Di sini aku hidup sebagai manusia normal," gerutu Jordan.


Lantas ia beranjak dari duduknya, dan bersiap menuju restoran yang telah disepakati. Ia dan Bram akan bertemu di sana.


"Yana, tolong bereskan mejaku, ya!" kata Jordan, ketika ia melintas di depan Yana.


"Baik, Pak." Yana mengangguk, sembari melirik tubuh Jordan yang semakin menjauh.


Yana meraih ponselnya, saat tubuh Jordan sudah menghilang di balik dinding.


"Pak Jordan akan bertemu dengan Pak Bram, membahas kerjasama yang selumbari saya katakan pada Bu Oliv. Mereka juga akan makan siang bersama," lapor Yana pada seseorang yang tak lain adalah Freya.


____


"Syukurlah, setidaknya masih ada waktu untuk menemani Kamila," ucap Freya. Ia merasa lega, setelah mendapat telepon dari Yana.


Pagi tadi, Reman menghubunginya, dan mengatakan kalau Kamila sakit. Suhu tubuhnya tinggi, tapi ia menggigil kedinginan. Freya langsung menyuruhnya ke rumah sakit, dan selepas Jordan pergi, ia pun ikut menyusul. Sebelum tiba di rumah sakit, Kamila pingsan di jalan, dan sampai saat ini ia belum siuman. Freya berharap, semoga dokter yang menanganinya segera memberikan kabar baik. Agar ia bisa sedikit tenang saat meninggalkannya.


"Ini Bu, minumannya." Reman menyodorkan sebotol air mineral kepada Freya.


"Terima kasih," jawab Freya. Lantas ia membasahi tenggorokannya dengan minuman itu.


"Ini kembaliannya." Reman menyerahkan beberapa lembar uang puluhan ribu.


"Ambil saja," jawab Freya.


Belum sempat Reman menjawab, tiba-tiba pintu IGD terbuka. Seorang dokter berdiri di ambang pintu sambil tersenyum.


Tanpa banyak kata, Freya dan Reman langsung menghampirinya.

__ADS_1


"Bagaimana keadaan adik saya, Dok?" tanya Freya.


"Alhamdulillah, keadaannya sudah membaik. Meskipun belum sadar, tapi detak jantungnya sudah normal. Pasien menderita tifus, dan dia pingsan karena dehidrasi parah. Setelah ini, usahakan pasien hanya mengonsumsi makanan lunak, tidak asam, dan tidak pedas. Juga perbanyak minum air putih, dan pastikan dia beristirahat dengan cukup. Sebelum kesehatannya pulih, saya sarankan untuk menjalani rawat inap di sini," terang Dokter dengan panjang lebar.


"Saya mengerti, Dokter. Tolong berikan perawatan yang terbaik untuknya, saya akan membawanya pulang, jika sudah sembuh total," jawab Freya.


"Pasti Bu, keselamatan dan kenyamanan pasien adalah prioritas kami." Dokter tersenyum sambil mengangguk pelan.


"Terima kasih, Dokter. Kalau begitu, saya akan mengurus administrasinya terlebih dahulu, sambil menunggu dia siuman," ujar Freya.


"Silakan!"


"Reman, tolong temani Kamila di sini!" perintah Freya.


"Siap Bu," jawab Reman.


Freya melangkah menuju ruang administrasi dengan tergesa. Detik waktu terus berjalan, ia tak ingin terlambat pulang.


"Baru jam 11, seharusnya Jordan masih bersama Bram sekarang. Ahh, semoga saja Kamila cepat sadar, dan aku bisa pulang sebelum jam 12." Freya melirik jarum jam yang menggantung di dinding rumah sakit. Lantas ia kembali melanjutkan langkahnya. Dan tak lama kemudian, Freya tiba di ruang administrasi.


"Sialakan duduk, Bu! Ada yang bisa saya bantu?"


"Saya keluarga Kamila Nagita Putri, pasien yang masuk IGD tadi pagi. Saya yang bertanggung jawab atas administrasinya," jawab Freya.


"Tapi Bu ... Dokter belum menerangkan, kapan pasien diperkenankan pulang. Apakah___"


"Saya tahu, saya akan membawa pulang setelah dia sembuh total. Tapi ... saya tidak bisa setiap saat datang ke sini. Jadi selain rawat inap, saya juga meminta tolong suster untuk menjaganya. Untuk itu, saya mengurus administrasinya lebih awal," pungkas Freya. Lalu dia mengeluarkan puluhan lembar uang ratusan ribu.


Setelah selesai, Freya pamit undur diri. Dia menuju IGD dengan langkah cepat, nyaris seperti berlari.


Freya terlalu memikirkan kondisi Kamila, hingga ia tak peduli dengan orang-orang di sekitar. Dan beberapa detik kemudian, langkah Freya terhenti. Ia menabrak seseorang yang berjalan di hadapannya.


Tubuh Freya sempat terhuyung, namun tidak sampai jatuh. Lantas Freya membuka mulutnya dan hendak mengumpat. Akan tetapi, ia gagal melakukannya, karena lelaki yang ditabrak lebih dulu membuka suara.


"Freya!"


Tubuh Freya membeku di tempatnya, ia hapal benar dengan sang pemilik suara.

__ADS_1


Bersambung...


__ADS_2