Cinta Ini Membunuhku (Dark Love )

Cinta Ini Membunuhku (Dark Love )
Pesta Pernikahan


__ADS_3

"Jordan, kenapa kamu diam? Kamu tidak suka mendengar pengakuanku?" tanya Freya. Beberapa detik lamanya, ia menatap Jordan terpaku. Pandangan matanya datar, seakan memikirkan sesuatu yang teramat berat.


"Tentu saja suka Baby, bahkan sangat suka. Aku hanya kaget, rasanya ini seperti mimpi. Kau benar-benar milikku, suatu hal yang sangat indah." Jordan menarik tubuh Freya dan membawanya ke dalam pelukan. Ia tak ingin wanita itu melihat kegelisahan dalam sorot matanya.


"Aku berharap perasaan itu benar-benar datang. Freya, bantu aku melupakan Lyana," batin Jordan.


Freya memejamkan mata, menikmati hangatnya dekapan Jordan. Perlahan ia melingkarkan tangannya di pinggang Jordan, merengkuh tubuh lelaki itu hingga tak ada lagi jarak di antara mereka.


Semerbak wangi yang menguar dari tubuh Freya, juga bibir ranum nan menawan yang tak henti-hentinya mengulas senyuman. Meruntuhkan pertahanan Jordan. Membangkitkan hasrat yang sekian lama tak pernah menjalar. Kendati belum ada rasa, namun nafsu telah berkuasa.


Jordan mendekatkan wajahnya, dan menyentuh bibir basah yang seolah menggoda. Manis, satu hal yang pertama kali ia rasakan. Entah lipstik apa yang Freya pakai, rasanya menenangkan dan membuatnya enggan untuk melepaskan.


Beberapa menit kemudian, Jordan melepaskan kecupannya. Perasaan bersalah semakin merongrong di dalam hati. Kesal, dan juga benci pada dirinya sendiri. Kenapa tak bisa mengendalikan hasratnya, kenapa begitu tega menyentuh wanita yang selalu ia dusta.


"Maafkan aku, Freya." Hanya kata maaf yang terus terucap dalam batin Jordan.


Kendati tangannya masih merengkuh pinggang Freya, namun tatapan matanya beralih pada udara hampa. Ia tak ingin menatap wajah elok yang membuatnya hilang kendali.


"Baby, ayo masuk! Udara semakin dingin, nanti kau masuk angin," ujar Jordan.


"Kau lupa aku siapa, aku tidak akan kalah dengan udara dingin." Freya tertawa renyah, memancing mata Jordan untuk kembali menatapnya. Ahh bibir basah itu, lagi-lagi membuat hasratnya membara.


"Aku tahu, tapi bukan itu saja alasanku," jawab Jordan.


"Lantas?"


"Aku tidak bisa berjanji untuk tidak menyentuhmu lebih jauh, jika kita tetap berdua di sini, Baby," jawab Jordan dengan cepat.


"Jordaaaannn!" teriak Freya. Lantas ia beranjak dari duduknya, dan mendengus kesal ketika melihat Jordan yang tertawa.


Detik berikutnya, Jordan ikut beranjak. Ia menyelipkan helaian rambut Freya yang menutupi pipi.


"Aku ingin melakukannya nanti, setelah aku dan kamu terikat pernikahan. Aku tidak ingin menodaimu, Baby!" ucap Jordan.


"Terlebih lagi, menyentuhmu karena nafsu, bukan cinta. Aku tidak ingin itu terjadi, Freya!" sambung Jordan dalam hati.


"Aku mengerti, terima kasih sudah mau menjagaku, Jordan. Mmm tapi, boleh aku bertanya?" tanya Freya.


"Silakan saja, aku akan menjawabnya," ujar Jordan.


"Dulu, saat kau menjalin hubungan dengan Lyana. Apakah kau juga menjaganya, jordan?" tanya Freya dengan hati-hati.


Jordan tersenyum masam, lagi-lagi pikirannya mengingat tentang kenangan bersama Lyana.


"Maafkan aku Freya. Aku dan dia hampir menikah, jadi kita ... sudah mmm___"


"Aku paham." Freya menempelkan jemarinya di bibir Jordan.


"Kau tidak marah?" tanya Jordan.


"Tentu saja tidak. Semua orang punya masa lalu Jordan, tak terkecuali kamu dan aku, walaupun hubunganku dengan Calvin tidak sejauh itu. Pertama memang istimewa, tapi terakhir itu yang lebih berharga. Aku lebih senang menjadi yang terakhir. Karena hidup untuk meraih masa depan, bukan merenungi masa silam," terang Freya dengan senyum menawan.


Jordan terkesiap, 'meraih masa depan, bukan merenungi masa silam' satu kalimat yang mengena tepat di relung hati.


Jordan menunduk, mencoba meyakinkan dirinya, jika Lyana hanya masa lalu. Dan Freya adalah wanita yang harus ia cintai.


"Aku harus bisa," batin Jordan. Ia menghela napas panjang, dan kembali menatap Freya.

__ADS_1


"Terima kasih untuk pengertianmu, Baby. Ya sudah, ayo masuk!" ajak Jordan.


"Iya." Freya menerima uluran tangan Jordan. Lantas keduanya berjalan beriringan memasuki rumah.


***


Waktu tetap berjalan dengan semestinya. Tak pernah berhenti, kendati ada jiwa yang terluka, atau bahkan rapuh. Satu bulan sudah, waktu berjalan sejak hari ulang tahun Jordan.


Alex, Jordan, dan Freya masih tetap menjalankan tugasnya sebagai seorang mafia. Terkadang merancang siasat dan strategi, terkadang juga melenyapkan nyawa demi melancarkan urusan.


Andrew sudah resmi mundur sejak dua minggu yang lalu. Dan hari ini adalah hari terakhirnya menyandang status lajang. Mulai esok dan seterusnya, dia hidup berdampingan dengan seorang istri.


David, dia kembali bekerja di markas Jordan. Setelah satu bulan penuh, membantu pekerjaan Leon.


Pesta pernikahan diselenggarakan di rumah pribadi milik Andrew. Rumah megah bak istana yang dibangun beberapa bulan lalu. Setelah menikah, Andrew dan Alice akan tinggal di sana. Alice adalah gadis yatim piatu yang berasal dari kalangan sederhana. Dan Andrew yang akan menjadikannya seorang putri.


Jarum jam menunjukkan tepat pukul 07.00 malam. Freya sudah tampil anggun dalam balutan gaun biru panjang tanpa lengan. Rambutnya yang panjang dibiarkan tergerai menutupi bahu. High hells warna hitam membungkus kaki mulus nan jenjang. Wajah cantik, elok dan memesona, tidak kalah dengan mempelai wanita.


Lantas Freya melangkah keluar dari ruangan tempatnya berdandan. Sejak pagi dia dan ketiga rekannya sudah berada di rumah Andrew. Tak lupa ia membawa pistol glock meyer, dan menyelipkannya di balik gaun.


Terkadang pesta dijadikan momen bagi sebagian orang untuk melancarkan aksi licik. Terlebih lagi mempelainya adalah mantan mafia, pasti banyak rival yang tidak senang melihatnya bahagia.


"Sudah siap, Baby?" tanya Jordan yang baru saja keluar dari ruangan lain.


"Sudah. Yang lain mana?" Freya balik bertanya.


"Sudah berbaur dengan beberapa tamu," jawab Jordan.


"Oh,"


"Agar layak bersanding denganmu yang rupawan, Jordan," jawab Freya.


"Kalimat yang manis, katakan sekali lagi!" goda Jordan.


"Tidak mau." Freya menggelengkan kepala.


"Baby!"


"Tidak Jordan. Ayo keluar! Sudah ada banyak tamu yang datang," kata Freya.


"Tunggu!" Jordan menahan tangan Freya yang hendak melangkah.


"Ada apa?" tanya Freya.


"Persiapanmu?"


"Sudah." Freya tersenyum sembari mengedipkan sebelah matanya.


"Bagus, terkadang banyak hal yang tak terduga terjadi di pesta." Jordan menggenggam jemari Freya dan mengajaknya melangkah bersama.


Ruang tamu yang luas, sudah disulap sedemikian rupa untuk melangsungkan pesta pernikahan. Tamu undangan terus berdatangan, memberikan ucapan selamat pada kedua mempelai.


Alice terlihat cantik bak seorang ratu. Gaun putih yang glamour melekat, membungkus tubuhnya yang sintal. Rambut panjang dibiarkan tergerai, berhiaskan tiara. Di sampingnya, berdiri seorang lelaki bertubuh tegap. Wajahnya rupawan, dan sedap dipandang. Lelaki yang tak lain adalah Andrew, dia terlihat lebih gagah dalam balutan jas dan setelan formal.


"Alice," sapa Freya.


Wanita yang dipanggil Alice menunduk malu. Sejak pertemuan pertama, dia memang bersikap demikian. Selalu insecure setiap kali berhadapan dengan Freya.

__ADS_1


"Sangat perfect," puji Freya dengan senyuman ramah.


"Terima kasih Kak. Tapi Kak Freya jauh lebih cantik." Alice tersenyum sambil menatap Freya sekilas.


Alice adalah gadis berumur 20 tahun, usianya terpaut jauh dengan Andrew. Terbiasa hidup dalam kesederhanaan, ia kurang percaya diri jika berbaur dengan orang-orang kalangan atas. Dulu ia sangat takut dengan Andrew. Itu sebabnya Andrew lebih memilih meninggalkan mafia, daripada tidak bisa mengejar cinta.


"Alice, kita teman. Jangan terlalu sungkan." Freya menggenggam lengan Alice dengan erat.


Andrew, David, Jordan, dan Alex, mereka menyalami tamu lain yang baru tiba.


"Terima kasih Kak, tapi aku merasa Kak Freya jauh diatasku. Aku, aku merasa sangat kecil," ujar Alice dengan polosnya.


"Apa yang kau katakan, aku sama sepertimu. Dulu aku juga wanita sederhana, dan setelah menjadi kekasih Jordan, baru aku sedikit membaik," terang Freya lengkap dengan senyuman.


"Benarkah? Tapi Kak Andrew bilang, Kak Freya juga ... mafia," ucap Alice, dia menurunkan suaranya di akhir kalimat.


"Mau saja kamu dibohongi. Aku hanya berteman dengan mereka. Dulu aku bekerja di Diamond, itulah awal mula aku kenal dengan Jordan," dalih Freya. Dia melakukan ini, agar Alice bersikap biasa padanya.


"Tapi, tapi kata Kak Andrew tidak seperti itu," gumam Alice.


"Andrew aja yang berlebihan," ucap Freya dengan senyuman yang tertahan.


"Jangan merusak nama baikku Fre. Aku tidak pernah membohongi Alice, jangan membuat dia salah paham," sahut Andrew yang tiba-tiba muncul di antara mereka.


Freya tertawa renyah. Sedangkan Alice, dia menatap Andrew dan Freya bergantian. Siapa diantara mereka yang berbohong?


"Alice, ingat ya kita teman! Seorang teman tidak akan berbohong, ya sudah aku cari minum dulu ya." Freya melenggang pergi meninggalkan Alice yang masih kebingungan.


"Sayang, aku tidak bohong. Dia memang mafia, sama sepertiku, bahkan dia jauh lebih kejam," ucap Andrew dengan pelan.


"Tapi katanya bukan," sergah Alice.


"Dia hanya ingin membuatmu nyaman. Dia tidak mau kau terus-terusan sungkan padanya. Dia rendah hati, walaupun berada di puncak yang tinggi. Satu rival kami yang sangat kuat, dia yang membunuh. Dia menyembunyikan sisi kejamnya, dibalik sikap yang anggun," ujar Andrew dengan panjang lebar.


"Sulit dipercaya, masa iya wanita secantik dia seorang pembunuh," gumam Alice.


"Kalau kamu masih ragu, kapan-kapan aku ajak ke markas. Biasanya dia menghabisi nyawa tawanan secara ... sadis," kata Andrew.


Belum sempat Alice menjawab, beberapa tamu datang menghampiri mereka. Memberikan ucapan selamat, lantas berbincang seputar bisnis. Alice hanya bisa mendengarkan, ia terlalu awam mengenai saham, investasi, dan lain sebagainya.


Sekitar satu jam kemudian, Freya datang menghampiri mereka.


"Ndrew!" panggil Freya.


"Ada apa?"


"Jordan ke mana?" tanya Freya.


"Tadi di depan, berbincang dengan relasinya," jawab Andrew.


"Tidak ada, aku sudah mencarinya di mana-mana, bahkan David juga tidak tahu. Apa dia mengatakan sesuatu?" tanya Freya dengan pelan. Mungkinkah ada tikus-tikus kecil yang mencari masalah?


"Tidak, sejak berbincang tadi aku belum bertemu lagi dengan dia." Andrew menggeleng.


"Ya sudah." Freya melangkah pergi dengan raut masam.


Bersambung....

__ADS_1


__ADS_2