
Freya terkesiap, tak disangka Jordan mengatakan cinta secepat ini. Dalam hati, Freya tersenyum, karena lelaki yang dicintainya mulai luluh, namun juga terbesit rasa takut, takut jika perasaan itu hanya pura-pura seperti hari lalu.
"Cinta?" Freya mengulangi ucapan Jordan.
"Iya, aku mencintaimu, Freya," sahut Jordan dengan sungguh-sungguh.
"Cinta yang seperti apa, Jordan? Apakah cinta yang tulus, atau sekedar perasaan bersalah seperti dulu?"
"Maafkan aku, Freya, dulu aku sudah bersalah karena memainkan perasaanmu. Tetapi kali ini tidak, sekarang aku benar-benar mencintaimu. Sejak kemarin-kemarin aku sudah merasakan perasaan ini, hanya saja aku masih malu untuk mengakui. Maafkan keangkuhanku, Freya," jawab Jordan menerangkan perasaannya.
Freya menunduk, menyembunyikan wajahnya yang merona. Ia sangat bahagia mendengar pengakuan Jordan. Jika benar lelaki itu tulus mencintainya, hidupnya akan kembali berwarna, seperti semalam sebelum ayahnya meninggal.
"Kau benar-benar yakin dengan perasaanmu?" tanya Freya.
"Sangat yakin, Freya."
"Jika aku meminta pernikahan, apa kamu bersedia?" Freya kembali bertanya.
"Sangat bersedia. Mungkin ini adalah jawaban dari doa-doaku semalam. Aku ingin memperbaiki hidupku, dan mungkin Tuhan mengirimkanmu untuk bersamaku. Kita manusia yang pernah buruk, dan sekarang kita berusaha kembali ke jalan-Nya. Mungkin ini adalah jalan yang digariskan untuk kita, agar kita bisa bersama-sama memperbaiki diri, sembari mengais makna hidup yang hakiki," jawab Jordan dengan panjang lebar.
__ADS_1
Freya semakin tersipu, ia terlalu bahagia sampai tak tahu harus menjawab apa. Ia kehabisan kata-kata untuk menanggapi setiap kalimat yang Jordan lontarkan.
"Freya!" Jordan meraih dagu Freya dan memaksa wanita itu untuk menatapnya.
"Mmmm aku___"
"Kapan kau siap untuk melangkah bersamaku? Katakan mahar apa yang kau minta, dan aku akan segera menghalalkanmu," pungkas Jordan.
"Sekarang aku percaya dengan cinta dan keseriusanmu, tapi Jordan ... jangan terburu-buru. Kita baru menemukan ibumu, masih ada ayahmu yang belum kita ketahui keberadaannya. Lebih baik kita cari tahu dulu tentang dia, karena ... dulu Ibu menikah dengan Papa, itu statusnya perawan, bukan janda," ujar Freya.
"Perawan?"
"Iya." Freya mengangguk.
"Mungkin ada kejadian yang belum kita ketahui. Untuk itu, ayo kita tuntaskan dulu masalah ini, baru nanti membahas pernikahan," kata Freya.
"Baiklah," Jordan menghela napas panjang, sesungguhnya ia sangat enggan mencari tahu tentang ayahnya.
Ibunya berstatus perawan sebelum menikah dengan ayah Freya. Jordan takut ada kejadian yang cukup pahit di masa lalunya.
__ADS_1
______
Jarum jam menunjukkan tepat pukul 08.00 malam. Jordan baru saja menghentikan mobilnya di halaman rumah sakit. Ia sedikit terlambat, karena terlebih dahulu mengirimkan data-data tentang Bu Dewi kepada anak buahnya. Jordan melirik wanita yang duduk di sampingnya, sifat dingin, kejam, dan licik, tersimpan rapi di balik parasnya yang ayu dan anggun.
"Dia memang licik, tapi karena kelicikannya, aku bisa jatuh cinta dengannya." Jordan membatin sembari tersenyum simpul.
"Apa yang kau pikirkan?" Freya bertanya sambil menggenggam bahu Jordan.
"Kau." Jordan menoleh dan menatap Freya.
Dalam cahaya yang remang-remang, manik biru Jordan tampak lebih menawan. Sebenarnya bukan hanya kali ini Freya menatapnya, namun entah mengapa malam ini rasanya berbeda. Manik biru itu seakan menghipnotis, dan membuatnya tak mampu berpaling. Jordan, sepandai itukah dia meluluh lantakkan pertahanannya?
"Jordan, Kamila sudah menunggu kita," ucap Freya mengalihkan perhatian.
Ia tak bisa berlama-lama beradu pandang dengan Jordan. Sentuhan dan tatapan lelaki itu membuat Freya hilang kendali atas dirinya sendiri.
"Iya, ayo turun!" Jordan tak membantah ucapan Freya, karena sebenarnya dia juga merasakan hal yang sama.
"Sebenarnya aku tidak ingin, jika keberadaan Ayah segera kuketahui, karena aku takut kisahku di masa lalu itu kelam. Tapi ... demi Freya aku mampu melawan rasa takut itu. Aku akan segera menuntaskan masalah ini, dan lekas menikahinya. Aku sangat menantikan saat-saat bersamanya dalam ikatan yang sebenarnya," batin Jordan sebelum turun dari mobil.
__ADS_1
Lantas keduanya turun dari mobil, dan bersama-sama melangkah menuju ruangan tempat Kamila dirawat. Kali ini, Jordan datang dengan membawa segenggam kasih untuk Kamila. Dia adalah keponakannya, dia adalah satu-satunya keluarga yang saat ini ada di dekatnya.
Bersambung....