
Waktu berlalu begitu cepat, tak terasa dua bulan sudah Freya menghabiskan waktunya di tempat Jordan. Kemampuan Freya semakin meningkat, dan hubungannya dengan Jordan juga semakin dekat. Mereka sering berlatih bersama, Jordan mengajari Freya tentang bagaimana caranya menghindari serangan, dan juga memberinya trik untuk melumpuhkan lawan.
Namun mereka hanya sekedar berlatih, sejauh ini Freya belum pernah bertemu dengan lawan yang sebenarnya. Kini mereka sedang berkumpul bersama di ruang senjata. Alex, dan Andrew sedang merakit senapan laras panjang, yang baru saja dipesannya. Sedangkan Jordan, dan David mereka fokus dengan beberapa botol kecil yang berisi obat mematikan.
"Kapan aku bisa ikut dengan kalian?" tanya Freya sambil memandangi teman-temannya.
"Memangnya kamu sudah siap?" tanya Alex sambil tersenyum, dan menatap Freya.
"Tentu saja." Jawab Freya singkat.
"Kalau begitu besok ikut saja," ucap Andrew.
"Ndrew kamu jangan gila." Sahut Jordan sambil menatap Andrew dengan tajam.
"Misi kita besok cukup berat, jangan membahayakan Freya,'' sambung Jordan.
Besok, Jordan dan teman-temannya akan pergi ke pinggiran kota. Mereka akan menemui Mike, dan anak buahnya. Sejak kematian Martin, Mike semakin membenci Jordan. Dia terang-terangan mengacaukan bisnisnya Jordan.
Tentu saja Jordan tidak bisa tinggal diam. Jordan berencana menghadang mereka di pinggiran kota, itu adalah rute mereka saat menyelundupkan senjata ilegal.
"Tapi kamu bilang aku sudah cukup hebat, aku pasti bisa, aku ingin ikut," pinta Freya pada Jordan.
"Aku akan mengajakmu Fre, tapi tidak besok." Jawab Jordan cepat.
"Lalu kapan?" tanya Freya.
"Nanti." Jawab Jordan singkat.
Freya terdiam, dan tak lagi bertanya. Bicara lagi pun juga percuma, Jordan akan tetap pada pendiriannya. Jordan menatap Freya, terlihat jelas ada raut kecewa di wajah gadis itu.
"Fre, kau punya misi yang jauh lebih penting dari ini. Kau persiapkan saja diri kamu untuk misi nanti," ucap Jordan pada Freya.
Freya menatap Jordan sambil mengangguk, mau tidak mau ia harus mematuhi perintah Jordan.
***
Keesokan harinya, Jordan dan teman-temannya pergi ke pinggiran kota. Sedangkan Freya, dia tinggal di rumah bersama David.
Freya merasa bosan sendirian. Hubungannya dengan David tidak terlalu dekat, maklum David orangnya sangat pendiam, tidak mudah akrab dengan orang baru. Sehingga seharian Freya hanya berdiam diri di dalam kamarnya.
Jarum jam sudah menunjukkan angka 10.00 malam. Freya masih menatap langit-langit kamarnya. Ia sudah berbaring sejak tadi, namun entah kenapa matanya sulit sekali dipejamkan.
__ADS_1
"Kenapa aku tidak bisa tidur ya," gumam Freya sambil beranjak dari ranjangnya. Kemudian ia berjalan menuju balkon kamarnya.
"Jordan belum pulang." Ucap Freya pelan sambil menatap ke bawah. Di garasi hanya ada satu mobil milik David, tidak ada mobil Jordan, ataupun Alex.
Ketika Freya sedang asyik menatap ke lantai bawah, tiba-tiba listriknya padam. Gelap, hanya kegelapan yang Freya lihat.
Tetapi tunggu!
Kok hanya di rumah ini?
Freya melihat di kejauhan sana masih terang benderang, lampu-lampu tetap menyala seperti sedia kala. Pasti ada yang tidak beres, batin Freya.
Waspada, itulah satu kata yang tidak boleh dilupakan oleh seorang mafia. Seperti saat ini, Freya juga waspada. Ia keluar dari kamarnya, sambil membawa pistol glock meyer miliknya.
Ini adalah rumah mafia, bukan hal yang tidak mungkin jika ada penyusup yang datang ke sini. Karena di rumah ini juga menyimpan banyak rahasia yang berharga.
Pelan-pelan Freya melangkah menuruni tangga, kata-kata Alex pada waktu itu memang benar. Seorang mafia harus siap dengan segala situasi, seperti sekarang, Freya harus siap beraksi dalam kegelapan.
Dooorr!!
Samar-samar Freya mendengar suara tembakan. Freya tersentak kaget, ternyata dugaannya memang benar, ada yang tidak beres dengan padamnya listrik yang tiba-tiba.
Bayangan itu terus berjalan, hingga berhenti di depan pintu yang menghubungkan dengan penjara bawah tanah. Oh mungkin dia ingin melepaskan salah satu tawanan, pikir Freya kala itu.
Sialnya Freya lupa tidak membawa ponselnya. Sehingga ia tidak bisa menghubungi David, ahh kemana gerangan pria itu, dia tahu tidak ya, jika ada penyusup yang datang.
Bayangan itu sudah membuka pintu belakang, dan Freya terus mengikutinya, hingga bayangan itu sampai di penjara bawah tanah.
Bayangan itu mengeluarkan sesuatu dari dalam sakunya, ternyata sebuah senter kecil. Cahayanya hanya remang-remang, tapi cukup membuat Freya paham, jika bayangan yang diikutinya adalah seorang lelaki.
Lelaki itu mendekati tawanan satu persatu, dan akhirnya ia berhenti di depan tawanan yang paling ujung. Freya tidak terlalu paham seperti apa tawanan itu, tapi Freya dapat menyimpulkan, jika tawanan itu sangat penting bagi lelaki ini.
"Mike..." ucap tawanan itu dengan terkejut.
Namun bukan hanya tawanan itu, melainkan Freya juga ikut terkejut. Bukankah Jordan bilang akan menemui Mike, jika dia ada di sini, lalu bagaimana dengan rencana Jordan. Freya melangkahkan kakinya sedikit maju, ia ingin mendengarkan dengan jelas apa yang mereka bicarakan. Ada untungnya, lelaki itu hanya membawa senter kecil, jadi dia tidak bisa melihat keberadaan Freya.
"Aku akan membebaskanmu Frans," kata Mike sambil mengeluarkan pistolnya.
"Bagaimana caranya, kau bisa sampai di sini?" tanya Frans dengan keheranan.
"Kau tahu ternyata Jordan itu sangat bodoh, mereka sedang menungguku di pinggiran kota. Dia tidak menyadari apa yang sebenarnya kurencanakan." Jawab Mike sambil menembak gembok yang mengunci pintu penjara.
__ADS_1
"Lalu kemana David?" tanya Frans.
"Aku sudah membereskannya." Jawab Mike singkat. Dan ia mulai membuka pintu penjara.
David memang tidak terlalu ahli dalam pergulatan, karena keahliannya dalam hal obat-obatan.
"Aku harus bisa membereskan mereka, aku tidak bisa membiarkan Jordan dalam kesulitan," batin Freya sambil bersiap untuk menembak.
"Kita harus segera pergi Frans, waktu kita tidak banyak," kata Mike sambil menuntun Frans keluar.
"Tidak semudah itu!" bentak Freya dengan tiba-tiba.
Mike, dan Frans tersentak kaget, mereka tidak menyangka akan ada seseorang yang menghadangnya. Dalam kegelapan Mike tidak bisa melihat dengan jelas, seperti apa wajahnya, yang jelas dia seorang wanita.
"Siapapun kau, lebih baik menyingkirlah sebelum aku membunuhmu!" bentak Mike dengan lantang. Untuk apa takut, toh dia hanya seorang wanita.
Tetapi tiba-tiba dooorrr.....!!!!
Frans jatuh terkulai di sisinya, ada cairan pekat yang mulai keluar dari dadanya. Mike menggeram marah, ia merasa dilecehkan. Niatnya datang ke sini untuk melepaskan Frans, namun ternyata sekarang lelaki itu malah kehilangan nyawanya.
"Kau akan membayar atas semua perbuatanmu!" teriak Mike dengan penuh kemarahan.
"Aku sarankan untuk tidak terlalu banyak bicara, karena aku tidak suka," jawab Freya dengan santainya. Kemudian Freya menembakkan pistolnya, tapi gagal, Mike bisa menghindarinya.
Dan tanpa disangka-sangka Mike juga langsung menembaknya, Freya tidak sempat menghindar. Kini peluru itu bersarang di lengan kirinya, menyisakan rasa panas, dan sakit yang teramat sangat.
Kemudian lelaki itu kembali menembaknya, untung saja Freya bisa menghindar. Namun karena luka di lengannya, tenaganya tak lagi maksimal. Mike mulai menembakinya dengan membabi buta, dan tidak ada pilihan lain, akhirnya Freya berlari dari tempat itu.
Mike mengejarnya, nyawa harus dibayar dengan nyawa, pikirnya kala itu. Freya berlari menuju ruang keluarga, dan Mike masih terus mengejarnya. Namun kemudian Freya duduk bersembunyi di balik sofa.
Mike mengeluarkan senter yang lebih besar, mencari Freya disetiap sudut ruangan. Namun tidak ketemu, wanita itu seakan raib begitu saja. Mike bermaksud mencarinya ke ruangan dapur, namun baru saja ia melangkahkan kakinya, tiba-tiba ada peluru panas yang melubangi punggungnya.
Mike menoleh, dan tampak di sana ada seorang wanita sedang tersenyum miring menatapnya.
"Kau salah datang ke tempat ini," kata Freya sambil menatap Mike dengan tajam.
"Ka...kau..." ucap Mike terbata-bata, dan ia mulai jatuh tak berdaya.
"Selamat tinggal kawan!" kata Freya sambil menembak Mike tepat di dadanya.
Bersambung....
__ADS_1