
Calvin menghela napas panjang, dan mengembuskannya dengan pelan. Ia menggenggam jemari Freya dengan sangat erat, sembari menatap bola matanya dalam-dalam.
"Sebenarnya aku juga tidak tahu pasti siapa dia. Meski aku bekerja untuknya, tapi dia selalu bersembunyi di balik jubah hitamnya. Dan aku hanya anak buah kelas bawah, aku tidak berhak menatap wujud asli atasanku. Namun aku sempat berpikir, Mr.X adalah salah satu dari orang yang kau temui di depan kelab. Sejak bisnisku kacau kemarin, dua orang itu memutuskan kerjasamanya dengan Emerald. Jadi aku yakin, salah satu dari mereka pasti Mr.X." Calvin melontarkan serangkaian kebohongan.
"Maaf, aku terpaksa bohong Freya. Aku takut kau akan pergi, jika tahu siapa aku sebenarnya. Dari tatapan matanya, kulihat mereka tertarik denganmu. Dengan mengatakan kebohongan ini, kau tidak akan dekat-dekat dengan mereka. Dan soal kekacauan kemarin, aku sudah tidak memikirkannya, karena aku akan mundur dari dunia mafia. Jadi aku tidak perlu repot lagi mencari tahu siapa Atana." Batin Calvin dalam hatinya.
"Salah satu dari mereka. Ahh keduanya memang orang yang sangat kucurigai. Aku harus segera menuntaskan misteri ini, Marcel aku akan segera menemuimu!" gumam Freya dalam hatinya.
"Vin!" panggil Freya.
"Iya."
"Apa mereka itu sebenarnya saling berteman?" tanya Freya.
"Aku tidak tahu pasti, tapi ya kulihat mereka sering bersama." Jawab Calvin.
"Andrew, apakah dia benar-benar mengkhianati Jordan. Kenapa dia melakukan ini? Jika benar kamu berkhianat, aku tidak akan pernah memaafkanmu!" geram Freya dalam hatinya.
***
Keesokan harinya. Di bawah terik sang surya yang menyengat kulit, di antara debu-debu yang beterbangan dimainkan angin. Freya berjalan menyusuri trotoar dengan langkah yang sedikit cepat. Ia tak peduli dengan keringat yang mulai membasahi keningnya, juga tak peduli dengan deru kendaraan yang berlalu lalang di sekitarnya.
Sesekali Freya melirik jarum jam yang melingkar di tangannya. Sebentar lagi sudah masuk jam makan siang, Freya tak punya banyak waktu. Dia harus segera tiba di tempat tujuannya.
Sekitar lima menit kemudian, Freya sudah tiba di dekat Hotel High Land. Freya menyunggingkan senyuman di bibirnya, target sudah ada di depan mata.
Sejak pagi Freya berkutat dengan layar komputernya, guna melacak keberadaan Marcel. Dan akhirnya usaha kerasnya membuahkan hasil. Marcel sedang menemui relasinya di Hotel High Land.
Freya terus melangkah, menyusuri halaman hotel. Dan dia berhenti tepat di dekat parkiran. Freya berdiri di sana sambil memainkan ponselnya.
Detik terus berdetak menjadi menit. Cukup lama Freya menunggu, namun belum ada tanda-tanda kehadiran Marcel. Sesekali Freya melirik ke sana ke mari, menilik setiap wajah yang keluar dari hotel.
"Ke mana dia, kenapa tak kunjung keluar. Kau berani membuatku menunggu, kau harus membayarnya dengan harga yang setimpal!" geram Freya dalam hatinya.
Kendati terus menggerutu dan menggeram dalam hati. Namun Freya tetap berdiri di sana, menunggu seseorang yang sangat dinantikannya. Ia tak peduli dengan kakinya yang mulai terasa pegal. Satu hal yang ada dalam pikirannya, dia harus segera menyelesaikan misi, demi menyongsong hidup yang sejati.
Sekitar setengah jam kemudian, sosok yang ditunggu mulai menampakkan batang hidungnya. Freya tersenyum lega, akhirnya ada juga kesempatan untuk melancarkan aksinya.
Marcel memang bukan lelaki hidung belang seperti Jonthan. Namun menelisik dari sikapnya selama ini, sepertinya dia ada sedikit ketertarikan dengan Freya.
"Kau___" ucap Marcel, sambil berdiri tepat di sebelah Freya.
"Kamu lagi," sahut Freya pura-pura kaget. Lantas ia memasukkan ponselnya ke dalam tas, dan bergegas melangkah menjauh.
Namun baru beberapa langkah Freya berjalan, tiba-tiba Marcel sudah menarik tangannya.
"Sesuai dengan rencana," batin Freya sambil tersenyum licik.
"Lepaskan aku!" Teriak Freya pura-pura ketakutan.
"Masuk ke mobil!" kata Marcel dengan nada yang sedikit tinggi.
__ADS_1
"Tidak, aku tidak mau." Sahut Freya dengan cepat.
"Masuk!" kata Marcel untuk yang kedua kalinya, sembari membuka pintu mobil yang kebetulan ada di sebelah Freya.
"Aihh sangat pemaksa!" batin Freya sambil memutar bola matanya dengan jengah. Kendati demikian, ia menurut dengan ucapan Marcel. Ia masuk dan duduk di samping kemudi.
Tak lama kemudian, Marcel ikut masuk dan duduk sebelah Freya. Ia mulai menghidupkan mesin mobilnya, dan melajukannya dengan kecepatan tinggi.
Freya terdiam, ia hanya menunduk tanpa mengucapkan sepatah katapun.
"Kenapa kau ada di depan hotel?" tanya Marcel sambil menatap Freya sekilas.
"Kenapa kau ingin tahu?" Freya balik bertanya, dengan tetap menundukkan kepalanya.
"Jawab saja! Jangan sampai aku mengulangi pertanyaanku!" kata Marcel dengan nada yang semakin tinggi.
"Aku ada urusan, kenapa kamu selalu ingin tahu. Aku tidak mengenalmu, tapi kamu selalu mengusikku!" gerutu Freya dengan kesal.
Tanpa berbicara, Marcel menepikan mobilnya dan menghentikannya dengan mendadak. Andai tidak memakai sabuk pengaman, mungkin kening Freya sudah terbentur.
"Apa yang kau lakukan! Kau membuatku kaget!" teriak Freya sambil meolotot tajam. Kali ini ia benar-benar kesal dengan sikap Marcel.
"Apa kau memang sebodoh itu, hah! Seharusnya kau tahu, aku ini menyukaimu, aku tertarik denganmu! Freya, cepat atau lambat kau akan menjadi milikku!" kata Marcel tepat di depan wajah Freya. Sembari mencengkeram tangannnya dengan erat.
"Jadi dia benar-benar tertarik, apa mungkin ini alasannya dia berkhianat dengan Jonathan. Ahh wanita, pengaruhnya ternyata cukup besar. Tapi, kenapa mereka berdua bisa tertarik ya. Apa aku memang secantik itu?" batin Freya sambil tersenyum miring.
"Apa yang kau katakan! Kita belum kenal, dan tiba-tiba kau mengatakan aku akan menjadi milikmu. Tidak, aku tidak mau. Aku tidak mencintaimu!" teriak Freya sambil berusaha menepiskan tangan Marcel.
"Lalu siapa yang kau cintai, Calvin, iya!" bentak Marcel sambil melotot tajam.
"Lepaskan aku!" teriak Freya sambil menitikkan air mata palsunya.
Marcel melepaskan tangan Freya dengan kasar, lantas ia kembali melajukan mobilnya dengan sangat cepat. Keduanya sama-sama diam, membiarkan keheningan yang menemani perjalanan mereka.
Sekitar setengah jam kemudian, mobil Marcel berhenti di halaman apartemen tempat Freya tinggal. Freya turun dari mobil, dan belum sempat melangkah, Marcel sudah menarik tangannya.
"Ayo kuantar!" kata Marcel.
"Dari mana kamu tahu tempat tinggalku?" tanya Freya.
"Tidak penting." Sahut Marcel dengan cepat.
Lantas, tak ada perbincangan lagi diantara keduanya. Mereka berjalan cepat, dan tak lama kemudian berhenti di depan pintu apartemen milik Freya.
"Masuklah dan pikirkan perkataanku tadi! Calvin tidak pantas untukmu, kau akan menyesal jika terus bersamanya!" kata Marcel sambil menatap Freya lekat-lekat.
"Mampirlah sebentar, akan kubuatkan minum," ucap Freya sembari membuka pintu.
"Tidak, aku akan langsung pulang." Jawab Marcel.
"Kau sudah mengantarku, masuklah!" kata Freya sambil tersenyum.
__ADS_1
"Sial, dia tidak seperti Jonathan. Bahkan untuk singgah sebentar saja, dia tidak ada niatan." Gerutu Freya dalam hatinya.
"Sikapnya berubah drastis, tadi dia sangat dingin dan terus memberontak. Tapi sekarang, dia menawariku singgah dan akan membuatkan minum. Apa yang dia rencanakan, kenapa dia bersikap semanis ini?" batin Marcel sambil menilik Freya dari ujung kaki hingga ujung kepala.
Detik selanjutnya, Marcel melangkah masuk. Ia melirik Freya yang sedang tersenyum, dan kecurigaannya semakin meningkat.
Awalnya dia menganggap semua hanya kebetulan, bahkan semalam ia masih berharap Freya adalah wanita lugu yang tidak tahu siapa Calvin. Tapi melihatnya sikapnya sekarang, sepertinya harapan itu sudah hampa.
"Aku selalu bertemu denganmu di tempat yang janggal, dan Jonathan tiba-tiba menghilang setelah mengajakmu jalan-jalan, bahkan anak buahku juga tidak kembali. Dengan statusmu sebagai pasangannya Calvin, kurasa semua ini bukanlah kebetulan." Batin Marcel dalam hatinya.
Lantas Marcel membalikkan badannya, dan melihat Freya yang sedang menutup pintu. Dengan langkah cepat ia mendekati Freya, dan menarik tangannya. Marcel mengikat tangan Freya di belakang, ia mengabaikan teriakannya yang kesakitan. Lantas ia juga mengikat kedua kaki Freya, dan menjatuhkan tubuhnya di lantai.
"Apa yang kau lakukan!" teriak Freya.
Jantungnya berdetak dengan cepat, ia tak menyangka Marcel akan menyerangnya dengan tiba-tiba. Hingga ia sama sekali tak punya kesempatan untuk menghindar. Apakah dia mengetahui rencananya?
"Aku tidak sebodoh yang kau pikirkan Freya. Kau yang berniat menjebakku, tapi aku akan membuat jebakan ini menjadi lubang untuk mengubur dirimu sendiri!" kata Marcel sambil tertawa menyeringai.
"Aku memang sempat mencintaimu, bahkan aku sampai mengkhianati Jonathan demi kamu. Tapi, jika kau berada di kubu lawan, aku tidak akan peduli dengan perasaan." Batin Marcel dalam hatinya.
"Apa maksudmu, aku tidak mengerti!" teriak Freya sambil beringsut, dan merapatkan tubuhnya di daun pintu.
"Tidak mengerti? Baiklah, biar aku jelaskan!" kata Marcel sambil mendekati Freya. Ia berjongkok, dan menarik kasar tas kecil yang menyelempang di bahu Freya.
Marcel merogoh sesuatu dari dalam sana, "aku rasa benda ini cukup menjelaskan, siapa dirimu Freya!" kata Marcel sambil menunjukkan pistol glock meyer milik Freya.
Jantung Freya seakan berhenti berdetak. Ia tak menyangka Marcel secerdik ini. Melihat cara kerjanya, mungkinkah dia benar-benar Mr.X?
"Mungkin, nyawa Jonathan juga ada di ujung benda ini. Aku akan mengukir sejarah yang indah, sebuah senjata yang membunuh tuannya sendiri. Bukankah itu sangat menarik, Freya!" kata Marcel sambil memandangi pistol yang ada dalam genggamannya. Lantas ia beranjak dari duduknya, dan berdiri tak jauh dari Freya.
"Kematianmu akan menumbangkan satu rivalku. Aku sudah tidak sabar untuk berada di posisi paling puncak," ucap Marcel sembari menodongkan senjata itu ke arah Freya.
Bersambung....
Hai kakak semua, terima kasih ya masih mendukung Cinta Ini Membunuhku sampai part ini. Maaf ya kalau seandainya sedikit telat membalas komentarnya. Di RL lumyan banyak kesibukan. Tapi doakan semoga semua lancar ya, supaya bisa up tiap hari.
Sambil menunggu up selanjutnya, boleh dong mampir dikaryaku yang lainnya.
TENTANG RASA (romantis, komedi, sedih, sudah tamat)
Kesucian Cinta Yang Ternoda (romantis, sedih, sudah tamat)
Sekeping Asa Dalam Sebuah Rasa (romantis, sedih, masih on going)
Terima kasih!!
Salam manis dari penulis
Gresya Salsabila
__ADS_1