
Waktu begitu cepat berlalu, kendati Freya hanya berdiam dalam pilu. Satu tragedi yang mengguncang jiwa, adalah kejadian yang nyata. Meski Freya berharap semua hanya bagian dari mimpi dalam tidurnya.
Satu minggu sudah berlalu, sejak kejadian nahas hari itu. Kini, Freya mulai keluar dari markas. Bukan beraksi menjadi mafia, melainkan pergi ke rumah Calvin. Sesuai amanat, dia akan mengambil cincin. Memakainya, dan tidak pernah melepaskan.
"Aku temani ya, Fre?" tawar Jordan kala Freya sudah berada di ruang tamu.
"Tidak usah, kehadiranmu di sana akan menimbulkan masalah, Jordan," jawab Freya sembari memaki blazer yang sedari tadi hanya ditenteng.
"Tapi aku khawatir kalau kamu pergi sendiri Fre," ujar Jordan.
"Kamu lupa siapa aku? Ya aku memang terpuruk, tapi aku masih tetap Freya. Aku cukup mampu melindungi diriku sendiri," jawab Freya sambil tertawa sumbang.
"Tapi Fre___"
"Kurasa Freya benar Jordan. Anak buahnya Calvin tidak akan tinggal diam, jika melihatmu bertandang ke rumah tuannya. Kau tidak ingin ada masalah lagi, kan?" pungkas Andrew yang baru saja tiba di ruang tamu.
Freya menatap Andrew sekilas, sejak malam itu hingga saat ini, dia belum bertegur sapa dengan Andrew.
"Freya!" panggil Andrew, ia kurang nyaman jika terus-terusan saling diam.
Freya tak menjawab, namun ia menoleh dan menatap Andrew dengan intens.
"Maafkan aku," ucap Andrew dengan tulus. Entah salah entah tidak, ia yang lebih dulu meminta maaf. Ia berharap kata maaf bisa memperbaiki hubungan keduanya.
"Untuk apa?" tanya Freya dengan datar. Pertanyaan yang terdengar ambigu.
"Aku tidak terbuka tentang Alice, dan aku juga tidak jujur dengan keinginanku untuk mundur dari dunia mafia. Sikapku yang tertutup membuatmu curiga, dan ... maaf semua jadi seperti ini," terang Andrew sambil menatap Freya.
"Bukan salahmu, aku yang terlalu bodoh, tidak bisa memahami situasi. Seharusnya aku tidak mencurigaimu, karena kita adalah rekan. Mundurlah, jika itu yang menurutmu baik!" ujar Freya sembari menepuk bahu Andrew dengan pelan.
Lantas ia pergi meninggalkan Andrew dan Jordan.
"Bekerjalah Jordan! Jangan mengkhawatirkan aku!" teriak Freya dari ambang pintu.
Tanpa menunggu jawaban, Freya langsung pergi ke garasi. Masuk ke mobil, dan melajukannya dengan kecepatan tinggi.
***
Jarum jam menunjukkan tepat pukul 10.00 siang. Freya menatap bangunan kokoh di hadapannya dengan nanar. Tubuhnya gemetaran, keringat dingin mulai bercucuran.
Pertama kali datang ke rumah ini, ia tertawa renyah dalam rengkuhan sang kekasih. Namun kini, ia datang seorang diri. Di dalam sana, sudah tak ada lagi cinta dan kehangatan. Hanya luka, sesal, dan hampa.
Tanpa dipinta setetes air jatuh dari sudut matanya. Kilasan balik tentang beberapa hari lalu, melintas begitu saja dalam ingatan. Menyiksa batin dan jiwa.
__ADS_1
"Andai saja boleh memilih, lebih baik aku yang mati di tanganmu. Kepergianmu, membawa sebagian dari jiwaku. Cinta dan sesal ini, seakan-akan membunuhku, Vin." Ucap Freya dengan pelan, sembari mencengkeram kemudi mobil dengan erat.
Disaat Freya masih larut dalam kesedihan, tiba-tiba satpam mengetuk kaca mobilnya. Freya tersentak, lantas ia menoleh dan menatap satpam.
"Silakan Nona, gerbangnya sudah saya buka," kata Satpam sambil tersenyum.
"Ehm iya, terima kasih." Jawab Freya. Lantas ia melajukan mobilnya, dan menghentikannya di garasi.
"Silakan masuk Non, tapi Tuan sedang tidak ada," ucap Luke, salah satu anak buah yang menyamar sebagai pelayan di rumah Calvin.
Anak buah yang ikut pada malam itu, berhasil dibungkam oleh anak buah Freya. Sehingga di antara mereka tidak ada yang tahu, apa yang terjadi dengan tuannya.
"Iya saya tahu, Calvin hanya menyuruhku mengambil sesuatu di kamarnya. Jadi boleh saya masuk?" tanya Freya sambil tersenyum anggun.
"Tentu saja, silakan Nona!" kata Luke. Semua orang di sana tahu bahwa Freya adalah calon Nyonya Zaiden. Sehingga mereka sangat menghormati, dan tidak berani macam-macam.
"Terima kasih." Jawab Freya.
Kaki yang terus mengayun, membawanya ke ruangan luas yang dominan warna putih. Kamar Calvin, untuk pertama kalinya Freya masuk ke sana, karena dulu dia hanya berdiam di ruang tamu. Matanya menelisik ke setiap penjuru, kala dirinya sudah menutup pintu.
Freya menutup mulutnya, air mata kembali bercucuran. Setiap barang yang ada di sana, mengingatkannya pada sosok lelaki yang sempat menjadi sandaran hati.
Freya melangkah mendekati meja, poto dirinya terpampang jelas di sana.
Ia sedang tersenyum, wajahnya ayu nan anggun berdiri di antara pepohonan yang rindang. Ia ingat di mana poto itu diambil, di pinggir jalan, di area puncak. Disaat mereka mengurus proyek di sana, disaat Freya baru membelokkan hatinya.
Lantas Freya membuka laci di hadapannya. Matanya langsung tertuju pada kotak beludru warna merah. Dengan gemetaran Freya meraih kotak itu, meletakkan di atas meja, lalu membukanya.
Cincin bertahta intan permata, berkilau manis memesona. Tangis Freya kian pecah, air mata berjatuhan membasahi pangkuan. Lelaki yang berencana melamarnya dengan cinta, malah ia celakai hingga kehilangan nyawa. Bagaimana bisa ia sekejam itu?
Setelah puas menangis, Freya mengambil cincin itu dan menyematkannya di jari manis. Sangat cantik, ukuran dan juga model sangat cocok dengan jemari lentik miliknya. Lantas Freya kembali menatap ke dalam laci. Ada selembar kertas yang dilipat kecil. Tempatnya persis di bawah kotak beludru yang baru diambil.
Freya memungut kertas itu, lantas membaca deretan aksara yang ditulis dengan tangan.
Aku bak malam tak bertepi
Gulita terpatri dalam sunyi
Sukma hampa tiada asa
Ke mana langkah tiada ujung jua
Namun diri menjelma pelita
__ADS_1
Kala dikau ulurkan cinta
Kau pendarkan lentera
Dalam jiwa seroja
Dalam rasamu aku berharap
Renjana tak terbalas senyap
Ulurkan jemari lalui hari nan suci
Habiskan usia dalam peluk semata
Freya terpaku pada satu kalimat terakhir, 'habiskan usia dalam peluk semata'
Mungkin makna yang tersirat adalah menikah dan berumah tangga hingga usia senja. Tak pernah meninggalkan, cukup maut yang memisahkan.
Namun, ada makna lain yang sempat terpikir dalam benak Freya. Sebuah makna yang ia lebih condong ke sana. Menghabiskan usia dalam pelukannya, dan hari lalu Calvin mengembuskan napas terakhir di pangkuannya.
Apakah ini firasat, ataukah hanya kebetulan belaka?
Freya melipat kembali kertas putih itu, ada sebagian yang basah karena air mata.
"Mungkin saat itu Marcel tahu siapa dirimu, Vin. Sehingga dia bersumpah di hadapanku. Dan ya, dia benar. Aku telah merasakan hal yang jauh lebih menyakitkan daripada kematian, yaitu kehilangan." Kata Freya pada dirinya sendiri.
Lantas ia mengusap habis sisa-sisa air mata. Kemudian beranjak pergi meninggalkan kamar Calvin.
"Tapi selagi jantungku masih berdetak, duniaku tak akan berhenti berputar. Mungkin setelah ini aku tak bisa jatuh cinta lagi. Tapi biarkan saja cinta dan hatiku mati, asal akalku tidak. Aku harus tetap menjalani hidupku dengan semestinya. Meskipun tanpa cinta, tapi aku masih punya cita-cita. Mungkin suatu saat nanti, aku akan menjadi pribadi seperti Jordan," batin Freya sambil melangkah pergi meninggalkan rumah Calvin.
Lantas ia melajukan mobilnya dengan kecepatan tinggi.
Bersambung...
Drama pojokan
Calvin : Apakah Freya akan berjodoh dengan Jordan?
Aku : Entahlah, masih remang-remang. Nunggu pendapat dari pembaca.
Calvin : Atau aku aja dihidupkan lagi!
Aku : Gak bisa, bukan novel horor.
__ADS_1
Calvin : Lagian, tiba-tiba aku dibikin mati, nyesek tahu!
Aku : Salah sendiri tampan, aku kan jadi pengen umpetin kamu.