Cinta Ini Membunuhku (Dark Love )

Cinta Ini Membunuhku (Dark Love )
Ibuku Orang Asia


__ADS_3

Embusan napas yang terdengar berat, mengisi keheningan di dalam surau. Di atas sajaddah yang digelar di lantai, Jordan bersimpuh sambil menengadahkan kedua tangan.


Setetes air matanya lolos dan jatuh membasahi telapak tangan. Hilang sudah sisi dingin dan kejam dalam dirinya, yang tersisa hanyalah rasa sesal yang tiada tara.


"Ya Allah ... ampunilah dosa-dosaku," bisik Jordan dengan parau, terlalu sakit mengingat kehidupannya yang berlumur dosa.


"Berikanlah kesempatan untuk memperbaiki diri, Ya Allah. Berikanlah jalan untuk kembali pada-Mu. Aku mohon, Ya Allah." Jordan semakin menunduk, membiarkan air matanya terus berjatuhan. Sedikit beban dalam hatinya seakan berkurang, setelah menangis di hadapan-Nya.


Beberapa menit berlalu, namun Jordan masih tetap bergeming. Ia masih setia menunduk sembari menitikkan air mata, ia sangat merindukan saat-saat seperti ini. Jordan tak peduli meskipun Freya menatapnya, dibandingkan rasa sesal, rasa malu seolah tiada artinya.


Jordan menggigit bibirnya kuat-kuat, ia berusaha menepis bayang-bayang kelam di masa silam. Sekarang, Jordan mulai memikirkan satu hal yang selama ini ia abaikan, yakni keberadaan orang tuanya.


Sejauh ini, ia sama sekali tak peduli dengan mereka. Ia terlalu angkuh dan selalu menjunjung tinggi dirinya, hingga ia berpikir bahwa orang tuanya bukanlah sesuatu yang penting.


"Masihkah ada jalan untuk menemukan mereka," gumam Jordan.


Satu-satunya benda yang pernah ia punya adalah selembar foto, yang kata ibu panti adalah gambar ibunya. Namun pada malam nahas itu, semua barang yang ada di panti hancur tanpa sisa, termasuk foto ibunya.


Sebenarnya, bukan hal yang sulit bagi Jordan untuk melukis sketsa wajahnya, dan dengan kekuasaannya, besar kemungkinan ia bisa menemukan wanita itu. Akan tetapi, rasa kecewa membuatnya enggan untuk melakukannya. Ia berjanji akan melakoni perannya dengan baik, sebagai anak yang terbuang.


"Jordan! Apa kau belum selesai?" Pertanyaan Freya membuyarkan lamunan Jordan.


"Sudah." Jordan menjawab sembali menghela napas panjang.


"Kalau begitu ayo kembali," ucap Freya. Sudah cukup lama ia menatap Jordan merenung, dan ia bermaksud mengalihkan perhatiannya.


"Ayo." Jordan beranjak dari duduknya. Ia gulung sajaddah tempatnya bersimpuh, lantas mengembalikannya ke tempat semula. Jordan menghampiri Freya sambil tersenyum kaku.

__ADS_1


"Maaf membuatmu menunggu lama," kata Jordan.


"Kau mau mengucapkan kata maaf, apa hatimu benar-benar berbelok arah, Jordan?" batin Freya.


"Tidak apa." Freya mengulum senyum sembari menatap wajah sendu Jordan.


Jordan tak lagi mengucapkan sepatah kata, ia terus mengayunkan kaki hingga ke teras surau. Freya pula tak banyak bertanya, ia mengikuti langkah Jordan dengan perasaan yang lebih nyaman.


Keduanya berjalan beriringan menyusuri lorong, lantas mereka berhenti di kursi tunggu, di depan IGD.


Jordan dan Freya duduk bersama seperti semula. Sesekali Freya melirik Jordan yang masih diam tanpa kata. Hanya embusan napas dan derap langkah di kejauhan yang menjadi pengisi suara di antara mereka.


"Freya!" panggil Jordan setelah diam hampir setengah jam.


"Iya," jawab Freya.


"Apa kamu yakin dengan pilihanmu?" tanya Jordan.


"Iya. Kau bertaubat dan kembali kepada Tuhan, apakah kamu yakin Tuhan akan mengampuni dosa-dosamu? Kita ini pembunuh, apakah masih ada pintu maaf untuk manusia seperti kita?" Jordan menoleh dan menatap Freya dengan lekat, seolah ia benar-benar mencari kepastian.


"Jordan." Freya menggenggam bahu Jordan. "Allah maha pengampun, selagi niat itu benar-benar tulus, dan kita benar-benar menyesali semuanya, aku yakin Allah masih mau mengampuni. Allah adalah Tuhan yang maha pengasih Jordan, Allah pasti menerima kita. Selain memohon ampunan dan berjanji untuk tidak mengulanginya lagi, kita juga harus berprasangka baik, Jordan. Yakinlah, percayalah, jangan pernah meragukan cinta dan kasih-Nya," sambungnya.


Jordan mengambil napas dalam-dalam, lantas mengembuskannya perlahan. Ia mengulanginya berkali-kali, seolah itu adalah cara untuk menenangkan pikiran.


"Freya!" panggil Jordan.


"Hmmm."

__ADS_1


"Sebenarnya masih ada satu hal lagi yang mengganjal," ucap Jordan.


"Apa itu?" tanya Freya.


"Orang tuaku," jawab Jordan dengan lirih.


"Orang tua?" tanya Freya sembari mengernyit heran.


"Iya. Selama ini aku merasa mampu hidup sendiri, sehingga tak pernah peduli dengan keberadaan mereka, namun sekarang, entah kenapa aku ingin mencarinya," ujar Jordan.


"Kamu punya petunjuk?" tanya Freya.


Jordan menggeleng, "tidak ada. Aku tidak pernah bertemu dengan mereka, aku juga tidak tahu siapa nama mereka. Dulu Bunda di panti pernah memberiku selembar foto, tapi aku tak memilikinya lagi sejak malam nahas itu."


"Kau masih ingat seperti apa wajahnya?" tanya Freya.


"Iya." Jordan mengangguk. "Tapi, apakah masih ada kesempatan? Bukankah ini sudah sangat terlambat?" sambungnya.


"Tidak ada kata terlambat, Jordan. Selalu ada jalan untuk mereka yang mau berusaha, dan selalu ada harapan untuk mereka yang mau berdoa," ujar Freya dengan senyum lebar.


"Bagaimana jika mereka sudah tiada," gumam Jordan.


"Setidaknya kau masih bisa berziarah ke makamnya," sahut Freya dengan cepat.


"Begitukah?"


"Iya." Freya mengangguk, "tapi, tunggu Kamila membaik, ya. Setelah itu, aku bisa menemanimu ke Rusia," sambungnya.

__ADS_1


"Tidak langsung ke Rusia, Freya. Dari foto yang pernah kulihat, Ibu adalah orang Asia. Jadi aku akan tetap di sini, dan menyebar anak buahku ke seluruh penjuru di benua ini," terang Jordan.


Bersambung...


__ADS_2