Cinta Ini Membunuhku (Dark Love )

Cinta Ini Membunuhku (Dark Love )
Momen Di Puncak


__ADS_3

Freya langsung berlari masuk kedalam mobil, saat Calvin sudah melepaskannya. Freya memejamkan matanya, sambil mengusap bibirnya yang basah. Calvin telah mengambil ciuman pertamanya, dan dia tidak menolaknya sama sekali, apa yang terjadi dengan dirinya?


"Kau baik-baik saja Freya?" tanya Calvin yang tiba-tiba saja sudah duduk di sebelahnya.


Freya tidak menjawab, ia hanya menatap Calvin dengan pandangan tajam. Ia benar-benar kesal dengan lelaki itu.


"Apa itu ciuman pertamamu?" tanya Calvin sambil tersenyum.


Sontak Freya langsung memalingkan wajahnya, pertanyaan Calvin sungguh membuatnya malu.


"Ternyata aku sangat beruntung." gumam Calvin.


"Diam!" bentak Freya sambil menatap Calvin. Lelaki ini sungguh kurang ajar, Freya harus bisa bersikap tegas padanya.


"Kau terlihat lebih cantik, jika sedang marah." goda Calvin.


"Aku akan pulang, jika kau tak bisa diam." bentak Freya.


"Baiklah aku akan diam." jawab Calvin dengan santainya.


"Cepat jalankan mobilnya!" perintah Freya masih dengan nada tinggi.


Calvin menanggapi ucapan Freya dengan tertawa renyah, lalu ia menghidupkan mesin mobilnya, dan kembali melaju.


Freya mengeluarkan ponselnya, ia mencari tahu tentang lelaki di sebelahnya. Lelaki kurang ajar, yang sudah lancang mengambil ciumannya.


Beberapa menit kemudian, Freya sudah mendapatkan data tentang lelaki itu. Ternyata dia adalah Calvin Zaiden, putra dari Alm.Zacko Zaiden, pemilik perusahaan Emerald. Calvin adalah anak tunggal, jadi otomatis perusahaan Emerald sekarang menjadi miliknya.


"Hanya pemilik Emerald, perusahaannya hanya setara dengan Diamond. Tidak lebih hebat dari Jordan." gumam Freya didalam hatinya.


"Kau kenapa memandangku seperti itu?" tanya Freya saat melihat Calvin menatapnya dengan tajam.


"Kau sangat fokus dengan ponselmu, apa itu lebih menarik daripada aku." gerutu Calvin.


"Tentu saja, karena kau sama sekali tidak menarik." jawab Freya dengan tegas.


"Terima kasih untuk pujiannya." ucap Calvin sambil terkekeh.


Freya melirik Calvin, sambil mendengus kesal.


Dan untuk detik-detik berikutnya, tidak ada yang membuka suara. Baik Calvin, maupun Freya, tidak ada yang mengeluarkan sepatah katapun. Keheningan berlangsung cukup lama, hingga mereka tiba di tempat tujuan.


Calvin menghentikan mobilnya disebuah lahan kosong yang tak jauh dari lokasi pembangunan.


Freya melepaskan sabuk pengamannya dengan terburu-buru, ia ingin secepatnya keluar dari mobil itu.


Namun baru saja Freya membuka pintunya, Calvin meraih tangan Freya dengan cepat.


"Freya." panggil Calvin sambil menggenggam tangan Freya.


"Ada apa?" tanya Freya dengan nada datar. Ia menoleh menatap Calvin dengan raut wajah yang malas.


"Maafkan kelancanganku tadi. Tapi aku melakukan itu bukan tanpa alasan. Aku mencintai kamu Freya." kata Calvin sambil menatap Freya dengan lembut.


Jantung Freya berdetak semakin cepat, saat mendengar kata cinta dari Calvin. Perlahan pipinya mulai memanas, dan perasaannya menjadi tak karuan, entah senang, sedih, atau terharu, Freya tidak bisa mengartikannya.


"Apa maksud kamu?" tanya Freya dengan sangat pelan, nyaris seperti bisikan.


"Sejak kita bertemu di cafe waktu itu, aku sudah menganggap kamu istimewa. Dan aku sadar, aku telah jatuh cinta sama kamu." jawab Calvin dengan raut wajah yang serius.

__ADS_1


Freya menatap mata Calvin dengan tajam. Ia mencari tahu tentang kebenaran ucapannya, dan Freya melihat ada ketulusan didalamnya, mungkin yang dia ucapkan memang benar adanya.


"Aku keluar dulu." kata Freya sambil melepaskan tangannya. Ia tak tahu harus menjawab apa, jadi ia lebih memilih untuk menghindar saja.


"Aku menunggu jawaban kamu Freya." ucap Calvin pada Freya.


Freya yang baru saja menapakkan kakinya di tanah, pura-pura tak mendengar ucapan Calvin. Ia langsung berlalu begitu saja meninggalkan Calvin.


Calvin menatap Freya dari dalam mobil. Lelaki itu menyunggingkan senyum di bibirnya.


"Aku sangat mencintai kamu Freya, semoga kamu mempertimbangkan perasaanku." gumam Calvin sambil tetap menatap Freya.


Lalu Calvin turun dari mobil, dan menyusul Freya yang sudah melangkah lebih dulu, mereka pergi menemui Pak Benny, seseorang yang bertanggungjawab atas proyek itu.


Mereka menemui Pak Benny di ruangannya, dan kini mereka sedang duduk berhadapan di kursi kerjanya.


"Bagaimana penjelasan Anda tentang kesalahan ini Pak?" tanya Calvin tanpa basa-basi. Ia memang tidak suka dengan orang yang teledor dengan pekerjaannya.


"Maafkan saya Tuan Calvin, orang yang saya percaya untuk urusan meterialnya, ternyata korupsi. Dia membelanjakan material yang murah, dan sisa uangnya dia pakai untuk kebutuhannya sendiri." jawab Pak Benny.


"Lalu bagaimana tanggung jawab kamu?" tanya Calvin dengan nada yang sedikit tinggi. Ia tidak lagi mengucapkan kata 'anda'


"Saya sudah mengirimnya ke kantor polisi Tuan." jawab Pak Benny.


"Hanya itu, lalu bagaimana dengan material yang sudah terlanjur dipakai?" bentak Calvin sambil menatap Pak Benny.


Ia merasa sangat marah, mengingat proyeknya yang sudah berjalan lebih dari 25%, dan ternyata materialnya salah. Benar-benar kesalahan yang fatal.


"Maafkan saya Tuan." ucap Pak Benny sambil menunduk.


"Saya tidak butuh maaf kamu. Yang saya butuhkan adalah tanggungjawab kamu. Bongkar semuanya, dan mulai dari awal, gunakan material seperti yang saya mau, urusan biayanya, aku serahkan padamu." kata Calvin dengan tegas.


"Calvin." panggil Freya.


"Kenapa?" tanya Calvin sambil menoleh menatap Freya.


"Aku rasa kamu berlebihan. Kasihan dia." ucap Freya dengan pelan.


"Ini adalah yang terbaik Freya." jawab Calvin.


Freya menggelengkan kepalanya, lalu ia menarik tangan Calvin, dan mengajaknya keluar dari ruangan.


"Ada apa Freya?" tanya Calvin dengan heran, saat mereka sudah sampai diluar.


"Kamu tidak bisa membebankan semua ini padanya, kasihan dia Vin." jawab Freya, meski dirinya kini sudah menjadi pembunuh, namun ia juga masih punya hati nurani. Pak Benny hanyalah orang biasa, bagaimana caranya dia menanggung biaya sebanyak itu. Dan melihat dari umurnya, Pak Benny pasti sudah punya keluarga, kasihan anak istrinya kalau harus menanggung banyak hutang.


"Itu kesalahan dia, dia teledor dalam pekerjaannya." kata Calvin.


"Dia pasti tidak sengaja. Lagi pula proyek ini baru 25%, kita bisa memperbaiki yang selanjutnya saja, tidak perlu memulainya dari awal." kata Freya menjelaskan pendapatnya.


"Tapi itu bisa berpengaruh buruk Fre." jawab Calvin.


"Kita pasti punya jalan untuk memperbaikinya, tanpa harus memulainya dari awal." ucap Freya sambil menatap Calvin.


"Baiklah, jika seperti mau kamu." jawab Calvin mengalah.


"Terima kasih." ucap Freya sambil tersenyum.


"Tapi aku akan memecat dia." kata Calvin dengan tegas.

__ADS_1


"Kenapa?" tanya Freya dengan heran.


"Aku tidak suka dengan orang yang teledor, aku harap kamu bisa mengerti Freya." jawab Calvin sambil menatap Freya.


"Baiklah, aku tidak akan melarangmu untuk memecat dia. Asal kamu tidak meminta ganti rugi apapun darinya." ucap Freya.


"Tidak akan." jawab Calvin.


Lalu mereka berdua kembali masuk kedalam ruangan. Freya kembali duduk ditempatnya, sedangkan Calvin ia tetap berdiri di depan Pak Benny.


"Aku tidak akan membongkar proyek ini, aku sudah memutuskan untuk memperbaikinya saja. Dan kamu tidak perlu menanggung biaya sedikit pun." kata Calvin sambil menatap Pak Benny.


"Terima kasih Tuan, saya berjanji akan lebih berhati-hati, saya tidak akan mengulangi kesalahan yang sama." jawab Pak Benny.


"Kamu tidak saya denda, tapi kamu saya pecat." kata Calvin dengan tegas.


Pak Benny tersentak kaget, dan langsung memandang Calvin.


"Ta...tapi Tuan." ucap Pak Benny dengan terbata.


"Silahkan kemasi barang-barang kamu, dan pergi dari sini sekarang juga." kata Calvin sambil duduk di kursinya.


Pak Benny tidak punya pilihan lain, ia beranjak dari duduknya, dan mulai mengemasi barang-barangnya. Dan tak lama kemudian, ia menghampiri Calvin, sambil menenteng tasnya.


"Saya permisi Tuan." ucap Pak Benny dengan gemetar.


"Silahkan, uang pesangon untuk kamu, nanti akan saya transfer." jawab Calvin.


"Baik Tuan." jawab Pak Benny sambil melangkah pergi, meninggalkan Calvin, dan Freya.


"Apa ini tidak keterlaluan Vin?" tanya Freya saat Pak Benny sudah keluar dari ruangan itu.


"Tidak, ini sepadan dengan kesalahannya." jawab Calvin.


"Begitu ya." ucap Freya sambil mendengus kesal.


"Sekarang bagaimana jawabanmu?" tanya Calvin sambil menatap Freya.


"Jawaban apa?" tanya Freya dengan pelan, jantungnya kembali berdetak cepat.


"Aku mencintai kamu." ucap Calvin sambil menggenggam kedua tangan Freya.


"Ini...ini terlalu cepat Vin." kata Freya dengan gugup.


"Tidak, aku sudah menunggu saat seperti ini cukup lama. Aku selalu merindukan kamu, dan itu rasanya sakit Fre." ucap Calvin sambil menatap Freya lekat lekat.


"Ta...tapi..." Freya tidak tahu harus menjawab apa. Ia semakin gugup saat Calvin mulai meraih pinggangnya. Tenggorokannya seolah tercekat, bahkan untuk menelan ludahnya saja seakan ia tak mampu.


Deru nafas Calvin kembali menghangat di wajahnya, jarak di antara keduanya sudah terpangkas habis, wajah Calvin berada tepat di hadapannya. Dan lagi, kejadian tadi terulang kembali.


Dalam hatinya, Freya merutuki dirinya sendiri. Kenapa ia tidak bisa menolak perlakuan Calvin?


Kenapa sekarang ia malah menikmatinya?


"Perasaanmu sudah goyah Freya, mungkin sekarang kau sudah gila." gerutu Freya didalam hatinya.


Dan beberapa detik kemudian, Calvin menjauhkan wajahnya, Freya menghirup udara banyak-banyak, kejadian barusan benar-benar membuatnya sesak nafas. Dan anehnya Freya hanya terdiam sambil menatap Calvin, ia tidak punya niatan untuk pergi dari sana, meskipun Calvin sudah melepaskan pinggangnya.


Bersambung......

__ADS_1


__ADS_2