Cinta Ini Membunuhku (Dark Love )

Cinta Ini Membunuhku (Dark Love )
Cinta Ini Membunuhku (Calvin)


__ADS_3

Semakin jauh mobil meluncur, menyusuri jalanan yang lengang. Markas Jordan semakin dekat, tinggal beberapa menit lagi mereka akan tiba.


Namun, tangis Freya semakin pecah. Wajah Calvin kian memucat, tangannya semakin dingin, dan deru napasnya semakin melemah.


"Vin, tinggal beberapa menit lagi. Bertahanlah, demi aku, kamu harus bertahan!" ucap Freya sambil terisak.


"Freya," panggil Calvin dengan pelan, suaranya hanya tercekat di tenggorokan.


"Aku di sini Calvin, aku tidak akan meninggalkan kamu. Kumohon bertahanlah!" kata Freya sambil menggenggam jemari Calvin dengan erat. Berharap tangan itu akan menghangat seperti hari lalu.


"Aku mencintaimu, Freya. Terima kasih untuk kenangan indah, yang telah kita ukir bersama. Terima kasih untuk cinta dan waktumu selama ini. Freya, berusahalah untuk meninggalkan dunia mafia. Aku tidak ingin kau celaka. Aku selalu mencintaimu, Freya," bisik Calvin dengan sangat pelan, namun masih terdengar jelas di telinga Freya.


"Aku juga mencintaimu Vin, dan aku juga ingin meninggalkan duniaku. Untuk itu bertahanlah, agar kita bisa hidup bersama. Menikah, lalu punya anak. Apa kau tidak menginginkan itu, Calvin!" jawab Freya dengan cepat.


"Maafkan aku, Freya," bisik Calvin.


Seusai mengucapkan kata maaf, kepala Calvin terkulai, seiring dengan matanya yang menutup. Freya terperanjat, darahnya seakan berhenti mengalir, kala menatap tubuh Calvin yang tak bergerak.


"Calvin! Calvin!" teriak Freya sembari mengguncang tubuh Calvin.


Detik selanjutnya, mobil berhenti di halaman markas. Dengan cepat Freya membuka pintunya, dan mengangkat tubuh Calvin.


"Biar saya bantu, Nona," ujar bawahannya.


Namun Freya sama sekali tak peduli, setengah berlari ia membawa tubuh Calvin. Pintu utama ia tendang begitu saja, lantas berlari menuju lantai dua. Freya membawa Calvin ke ruangan David, dan membaringkannya di sana. Kebetulan malam itu David tidak tidur, dia menunggu Freya, karena khawatir dengan kondisinya.


"Cepat tolong dia, aku akan mengambilkan penawarnya!" kata Freya sebelum David sempat bertanya.


Freya melesat pergi menuju ruangannya. Mengambil sebotol cairan dalam lemari kaca. Kemudian ia kembali ke ruangan David, lagi-lagi dengan berlari.


"Dav, kenapa belum kamu tangani! Cepat tolong dia!" teriak Freya. Kala itu David hanya berdiri terpaku di sebelah Calvin.


"Dav!" bentak Freya.


"Freya dengarkan aku, dia sudah tiada! Aku tidak bisa menemukan denyut nadinya ataupun detak jantungnya." Jawab David.

__ADS_1


"Tidak! Ini tidak mungkin! Dia masih hidup, tolong dia David! Cepat tolong dia!" jerit Freya dengan air mata yang terus berderai.


"Freya dia___"


"Dia masih hidup, dia tidak boleh mati! Kamu harus menolongnya, David. Cepat!" sergah Freya dengan nada tinggi, tanpa memberi David kesempatan meneruskan ucapannya.


"Freya, dia sudah tiada."


"Tidak, ini tidak mungkin! Kamu harus bertahan Calvin, jangan tinggalkan aku!" ratap Freya sembari menjatuhkan tubuhnya di lantai.


Kenyataan yang saat memilukan, berharap bisa hidup bersama setelah menyelesaikan misi. Namun ternyata lelaki yang dicintai, adalah bagian dari misi itu sendiri.


Lagi-lagi Freya dihadapkan pada kehilangan. Setelah ibunya, lalu ayahnya, dan kini lelaki yang hadir bak cahaya. Freya kembali terjatuh dalam kesuraman. Kenapa takdir selalu memepermainkannya?


"Kenapa, kenapa takdirku harus seperti ini. Kenapa cinta itu bersemi, jika akhir kisahnya akan begini. Kenapa aku tercipta, jika tak diijinkan bahagia. Kenapa bukan aku saja yang pergi, kenapa harus orang-orang yang kusayangi," batin Freya sambil menggigit bibirnya. Ia memeluk lututnya dan menyembunyikan wajahnya di sana.


Alex dan Jordan masuk ke ruangan dengan tegopoh-gopoh. Mendengar Freya menangis dan menjerit, mereka takut terjadi apa-apa dengan rekannya. Malam itu Jordan dan Alex menunggu kepulangan Freya sambil merakit senjata yang baru saja tiba.


"Fre, ada apa Fre?" tanya Jordan dengan cepat, sembari berjongkok di sebelah Freya.


Tak ada jawaban dari mulut Freya, hanya isakannya yang terdengar memilukan.


"Calvin, jadi dia___" gumam Alex dengan pelan.


"Kau mengenalnya?" tanya David.


"Dia adalah Calvin, kekasihnya Freya. Tapi melihat penampilannya, kemungkinan besar dia adalah Mr.X," jawab Calvin sambil melirik Freya. Wanita itu sedang menangis dalam pelukan Jordan, Alex tahu betapa hancur hatinya.


"Kamu serius, Lex?" tanya David seakan tak percaya. Apakah dunia memang sesempit itu?


"Iya." Bisik Alex dengan sangat pelan.


Alex kembali menatap sosok raga tak bernyawa yang berbaring di hadapannya. Freya berhasil membawa mayat Mr.X ke hadapan Jordan, sesuai dengan janjinya. Namun bukan seperti ini yang Alex inginkan, dia berharap Freya akan bahagia, bukan terpuruk.


Ini adalah akhir dari misinya, dan awal dari luka hatinya. Mampukah kiranya Freya melewati semua ini?

__ADS_1


Tak lama kemudian, Freya mendekat. Matanya yang sembap dan merah, menatap Calvin dengan nanar. Lelaki yang hari lalu memeluknya dengan penuh kasih, kini terbaring dalam tidur panjangnya.


Dengan air mata yang masih terburai, Freya menghambur memeluk tubuh Calvin. Ia menumpahkan tangisnya di dada lelaki yang bertahta dalam hati.


"Maafkan aku Vin, maafkan aku! Bangun Vin, jangan menghukumku dengan cara seperti ini. Aku mencintaimu, tolong jangan tinggalkan aku! Calvin bangun, Calvin!" ratap Freya sembari mempererat pelukannya.


Air matanya bercucuran, membasahi dada Calvin. Namun lelaki itu tetap bergeming. Ia sudah pergi dan tak mungkin kembali. Antara Calvin dan Freya, terbentang jarak yang tak bisa ditempuh. Keduanya terpisahkan oleh alam yang berbeda.


"Freya, tenanglah!" ucap Jordan sambil merangkul tubuh Freya.


"Ayo kuantar ke kamar, dan tenangkan dirimu di sana," sambung Jordan seraya menarik tubuh Freya, dan mengajaknya keluar ruangan.


Freya tak menjawab, namun ia juga tak menolak ajakan Jordan. Dengan tangis yang masih pecah, ia mengayunkan kakinya dan menuju ke kamarnya.


Jordan membuka pintu kamar Freya, dan membimbing wanita itu duduk di tepi ranjang. Jordan menyeka air mata Freya dengan jemarinya. Ia merasa bersalah atas apa yang terjadi padanya. Dia yang menyeret wanita itu ke dunia mafia, dan sekarang dia hancur, bahkan lebih hancur daripada malam itu. Melihat Freya menangis seperti ini, ada rasa ngilu didalam hatinya.


"Maafkan aku Freya, karena aku, kamu harus merasakan semua ini. Menangislah jika itu bisa membuatmu lega. Namun setelah ini, berjanjilah untuk selalu tersenyum," ucap Jordan seraya menarik tubuh Freya, dan membawanya ke dalam pelukan. Ia menyandarkan kepala Freya di dadanya.


"Menangislah, jika air mata itu bisa menyembuhkan lukamu. Aku di sini, siap menjadi sandaranmu," sambung Jordan sambil mengusap-usap rambut Freya dengan lembut.


Dalam dekapan Jordan, Freya masih terus menitikkan air mata. Dengan tangannya sendiri, ia mencelakai Calvin hingga tiada.


Satu hal yang membuat hati Freya teriris sakit. Calvin datang menemui Atana, karena ingin melindungi wanita yang dicintainya, yang tak lain adalah Freya sendiri.


Demi dirinya, Calvin rela mempertaruhakan nyawa. Sebesar itu perasaan Calvin padanya. Namun apa balasannya? Ia malah merampas masa depan Calvin, dan mengubur semua mimpi serta cinta yang mereka punya.


Dengan menyelesaikan misi, Freya berharap bisa hidup bahagia bersama Calvin, dan meraih asa dengan cinta. Namun takdir belum mengijinkan Freya bahagia, cinta terpaksa mati bersama akhir sebuah misi.


"Apa ini karma untukku, hukuman karena terlalu sering membunuh. Tanpa peduli, jika disekitar mereka akan ada yang kehilangan. Tapi jika ini karma, kenapa bukan aku saja yang mati, kenapa harus Calvin. Apa aku memang ditakdirkan untuk selalu kehilangan? Kenapa garis hidupku sangat tidak adil, kenapa!" jerit Freya dalam hati. Ia merutuki takdirnya, ia kini terbelenggu dalam penyesalan yang tak berujung.


Freya menggigit bibirnya, sembari menahan rasa sakit dalam relung hati. Setelah lelah menangis, lambat laun pikirannya berkelana dalam dunia mimpi.


Jordan membaringkan tubuh Freya, dan menutupinya dengan selimut tebal. Lantas ia mengusap sisa-sisa air matanya. Kendati matanya terpejam rapat, namun Freya masih sesenggukan. Jordan mengusap kepalanya, dan merapikan rambutnya yang berantakan.


"Aku yang membawamu ke sini, dan menjadikanmu seperti ini. Kedepannya aku akan berusaha membuatmu bahagia, Freya," ucap Jordan dengan pelan.

__ADS_1


"Meskipun cinta ini masih terpaku pada masa lalu, tapi aku akan menebus kesalahanku. Aku akan berusaha menyembuhkan lukamu," sambung Jordan dalam hatinya.


Bersambung...


__ADS_2