Cinta Ini Membunuhku (Dark Love )

Cinta Ini Membunuhku (Dark Love )
Mungkinkah Ini Cinta?


__ADS_3

Semilir angin pagi, berhembus perlahan menggoyangkan setiap dedaunan yang diterpanya. Sinar jingga dari sang mentari, menyemburat indah menyinari bumi. Buliran embun yang sebening kristal, menetes, dan pecah menguarkan aroma basah.


Melukiskan suasana pagi yang masih sunyi, dan sepi. Masih banyak insan yang belum terjaga dari dunia mimpi.


Freya membuka jendela kamarnya. Ia bukanlah wanita yang suka menghabiskan waktunya dengan bermimpi. Ia lebih suka bangun, dan berusaha untuk mewujudkan mimpi itu.


Freya menatap keluar, kabut putih masih menyelimut tebal di sekitar tempatnya. Freya kini sedang berada di villa kecil, dan sederhana yang terletak di sebelah lokasi pembangunan. Ia menempati villa ini bersama dengan Calvin.


Freya menghirup nafasnya dalam-dalam, udara yang sangat segar, berbeda jauh dari udara ditengah kota. Freya menatap bunga mawar yang tumbuh di pinggir jalan, bibirnya mengukir senyuman yang manis.


"Andai saja aku hidup seperti wanita lainnya, aku akan memilih tinggal di puncak seperti ini, sangat nyaman." gumam Freya dengan pelan.


Kemudian Freya melangkah menjauhi jendela, ia menyambar handuknya, dan bergegas pergi ke kamar mandi.


Hampir tiga puluh menit, Freya menghabiskan waktunya di kamar mandi. Kemudian ia keluar, dan memakai pakaiannya. Blouse panjang warna putih, ia padukan dengan rok pendek warna coklat. Rambutnya ia kuncir tinggi, memperlihatkan lehernya yang jenjang.


Freya keluar dari kamarnya, dan berjalan menuju dapur. Ia mengernyit heran, saat matanya menatap sosok lelaki sedang memasak di dapur.


"Calvin." panggil Freya sambil melangkah mendekati Calvin.


"Hei, kau sudah bangun rupanya." ucap Calvin sambil menoleh, dan tersenyum.


"Aku tidak terbiasa bangun siang. Kau sedang apa?" tanya Freya sambil menatap irisan daging yang dipanggang di atas teflon.


"Menyiapkan sarapan. Tapi aku tidak tahu apa kesukaanmu, jadi aku membuat beef burger, aku harap kamu akan menyukainya." kata Calvin sambil memotong selada.


"Aku bukan tipe orang yang suka pilih-pilih makanan, apapun itu asal bisa membuatku kenyang, aku pasti suka." ucap Freya sambil tertawa renyah.


"Kau lucu Freya." kata Calvin ikut tertawa.


"Ehmm, ada yang bisa kubantu?" tanya Freya.


"Sebenarnya ini sudah selesai, hanya tinggal menyusunnya saja. Tapi kalau kamu mau membantu, buatkan minumannya saja." jawab Calvin sambil membuka laci mejanya.


"Baiklah, tapi kau mau yang mana?" tanya Freya sambil menatap isi dalam laci itu. Ada teh, kopi, susu, dan juga coklat.


"Kopi saja." jawab Calvin.


"Baiklah." jawab Freya, lalu ia mengambil sebungkus kopi, dan menyeduhnya di gelas.


"Kenapa minumannya hanya satu?" tanya Calvin sambil menatap Freya yang sedang mengaduk kopinya.


"Aku tidak suka minuman manis." jawab Freya sambil tersenyum.


"Oh begitu ya." ucap Calvin sambil menaruh beef burger kedalam piring.


"Iya." jawab Freya.


"Ayo duduk di sana, kita sarapan bersama!" ajak Calvin sambil menunjuk kursi yang berada di ruang tamu.

__ADS_1


"Ayo." jawab Freya sambil mengangguk.


Kemudian mereka melangkah bersama menuju ruang tamu. Mereka duduk bersebelahan menikmati sarapan bersama.


"Kapan kita pulang?" tanya Freya sambil menggigit burgernya.


"Penggantinya Pak Benny belum ada." jawab Calvin.


"Lalu?" tanya Freya.


"Aku harus mencari penggantinya dulu, baru aku bisa meninggalkan proyek ini." jawab Calvin.


"Tapi itu lama, tidak bisakah kita langsung pulang, setelah selesai mengatasi semua masalah di sini." ucap Freya.


"Kenapa kamu ingin buru-buru pulang, bukankah di sini sangat nyaman?" tanya Calvin sambil menaikkan alisnya.


"Aku harus bekerja, aku tidak bisa terlalu lama meninggalkan Diamond." jawab Freya.


"Kau di sini juga bekerja kan." kata Calvin sambil menatap Freya.


"Iya, tapi kalau masalahnya sudah selesai, tidak ada lagi kan yang harus aku kerjakan." ucap Freya.


"Tapi aku tidak bisa meninggalkan proyek ini begitu saja, sebelum ada seseorang yang mengisi jabatannya Pak Benny, aku tidak mau ada kesalahan untuk yang kedua kalinya." kata Calvin sambil menyesap kopinya.


"Kalau begitu kau tetaplah di sini, aku akan pulang sendiri." ucap Freya sambil menatap Calvin.


"Aku tidak bisa terlalu lama tinggal di sini, aku punya banyak pekerjaan yang jauh lebih penting. Sudah saatnya Atana kembali beraksi." batin Freya didalam hatinya.


Hati Freya kembali berdebar, sentuhan tangan Calvin rasanya begitu hangat dikulitnya. Dan rasa hangat itu merayap hingga ke dasar hatinya, apakah ini yang dinamakan cinta?


"Kau mengkhawatirkan aku, padahal aku bukanlah wanita yang selemah itu. Calvin, apa nanti kau tetap mencintaiku, saat kau tahu siapa aku sebenarnya." gumam Freya dalam hatinya.


"Freya." panggil Calvin, karena Freya hanya diam sambil menatapnya.


"Jangan lebih dari satu minggu" ucap Freya.


"Tidak akan." jawab Calvin sambil tersenyum.


"Itu bagus." ucap Freya sambil tersenyum, dan menarik tangannya.


Lalu Freya beranjak dari duduknya, dan hendak pergi, namun baru saja ia melangkahkan kakinya, Calvin kembali meraih tangannya.


"Freya." panggil Calvin dengan lembut.


"Kenapa?" tanya Freya dengan nada pelan.


"Aku mencintai kamu." ucap Calvin sambil menatap Freya lekat lekat.


"Aku...aku..." jawab Freya terbata-bata.

__ADS_1


"Apakah tidak ada namaku dalam hati kamu Freya, apa sudah ada lelaki lain yang kamu cintai?" tanya Calvin masih tetap menatap Freya.


Freya membalas tatapan Calvin dengan gugup. Jantungnya terus berdetak semakin cepat. Apa yang harus ia katakan? Freya sendiri masih bingung dengan perasaannya. Dia memang mencintai Jordan, tapi kehadiran Calvin mampu membuatnya berdebar, dan mampu memberikan rasa nyaman. Freya teringat kembali akan ciumannya bersama Calvin, sudah dua kali bibir lelaki itu menyentuh bibirnya. Ahh sebenarnya kepada siapa hatinya mencinta?


Freya memejamkan matanya, sambil menghela nafas panjang. Ia butuh jeda untuk memilih kata yang tepat sebagai jawaban.


"Calvin, kita saling mengenal masih dalam hitungan hari. Apakah cinta akan datang secepat itu, aku takut kata cinta yang kau ucapkan, bukanlah cinta yang sesungguhnya. Bisa jadi itu hanya rasa nyaman, atau sekedar rasa penasaran." ucap Freya menjelaskan isi hatinya.


"Aku sudah yakin dengan perasaanku Fre, aku mencintaimu sejak pertama kali kita bertemu." kata Calvin dengan serius.


"Bahkan sebelum kau tahu bagaimana sifatku, dan seperti apa kepribadianku." jawab Freya.


"Bagiku kau adalah wanita terbaik yang pernah kutemui. Aku mencintai kamu Freya, aku bisa menerima semua sifat, dan kepribadian yang ada dalam dirimu." kata Calvin sambil tersenyum.


"Aku tidak yakin, kau masih bisa mengatakan hal sama, saat tahu, jika diriku adalah mafia." batin Freya didalam hati.


"Aku butuh waktu untuk memberimu jawaban, karena saat ini aku belum bisa memahami perasaanku." ucap Freya.


"Aku selalu menunggumu Freya." kata Calvin.


***


Dua hari kemudian.


Jordan, dan Alex sedang duduk bersama di ruang kerjanya.


Mereka sibuk dengan beberapa berkas yang tampak menumpuk diatas meja.


"Hari ini sangat melelahkan." gerutu Jordan sambil mendengus kesal.


"Aku sependapat denganmu." jawab Alex dengan asal.


"Kemana Andrew?" tanya Jordan sambil menatap Alex.


"Entahlah, sejak tadi dia pergi." jawab Alex sambil mengedikkan bahunya.


"Aku sangat bosan Lex, bisakah kita menyelesaikannya besok saja." ucap Jordan sambil beranjak dari duduknya.


"Kau selalu saja seperti itu. Kerjakan, tinggal sedikit Jordan, semua ini harus siap besok pagi." ucap Alex sambil menatap Jordan.


"Kau sangat cerewet." jawab Jordan sambil kembali duduk di kursinya.


Disaat Jordan sedang sibuk dengan pekerjaannya, tiba-tiba ponselnya berdering. Ternyata Andrew yang menelfonnya.


"Hallo." sapa Jordan dengan nada yang sedikit malas.


"Hallo Jordan, aku punya kabar penting untukmu." jawab Andrew dari seberang sana.


"Kabar apa Ndrew, cepat katakan." kata Jordan dengan tegas.

__ADS_1


Bersambung........


__ADS_2