
Seorang gadis dengan kedua manik mata coklat miliknya yang indah, mengitip di balik cela buku di perpustakaan ini.
Dia menatap sosok yang dipuja olehnya selama dua tahun belakangan ini semenjak awal masuk sekolah.
Tak henti-hentinya ia tersenyum dengan rona pipi memerah di balik pipi tembemnya itu. Dia sangat bersyukur hanya bisa melihat orang itu di balik tempat ini saja.
Orang itu mengambil salah satu buku tepat di hadapan gadis itu. Dia tersenyum ke arahnya. Sepertinya gadis ini akan terkena serangan jantung mendadak. Oh tidak, dia seperti membeku saat orang itu menyapa dan mengingat dirinya yang biasa ini,
"Muffy?" Sapanya.
Apa yang harus dilakukannya sekarang? Dia tidak bisa melakukan apa pun. Dan sialnya, dia sulit menyapanya dengan mengatakan kata halo.
Aku harus kabur dari sini sekarang. batin Muffy. Tanpa perlu berpamitan kakinya yang awalnya kaku, tiba-tiba bisa digerakkan. Dia pun lari meninggalkan orang itu, padahal tadi adalah kesempatan yang paling menguntungkan bisa berbicara dengan cinta pertamanya.
Gadis bertubuh mungil dengan tinggi di bawah 160 cm, dan di atas 155 cm mengambil napas panjang, lega. Setelah ia berhasil bersembunyi di balik pot bunga raksasa dekat dengan meja penjaga perpus.
Di sisi lain seseorang sedang kesusahan, ia membawa banyak buku bertumpuk melewati tinggi kepalanya yang akan dipinjamnya demi keperluan ujian masuk ke perguruan tinggi nanti.
Karena tak memperhatikan tali sepatunya, dia tak sengaja menginjaknya. Yang hasilnya jidat pemuda itu terbentur buku, dan beberapa bukunya sudah berserakan di mana-mana.
Dia membuang napas kasar sambil menatap naas buku yang akan dipinjamannya.
Muffy yang sedari tadi menatap orang itu dari kejauhan terlihat iba melihat apa yang terjadi pada seniornya itu, ia ingin membantunya.
Apa salahnya jika dia ingin membantu orang yang dikaguminya itu? Dia akan menampik kecerobohannya, asal dia tak menatap dua manik mata hazelnya itu.
Saat kakinya melangkah, ternyata sudah ada orang lain yang ingin membantunya. Dan itu membuat Muffy tersenyum kecut. Apalagi orang itu satu angkatan dengannya, dan dia adalah gadis tercantik diangkatannya sekarang. Dia pun mengurungkan niat baiknya.
"Apakah ada yang bisa saya bantu, Kak?" Tawarnya dengan senyum manis.
Muffy bisa apa? Kalau orang itu sangat cantik dibanding dirinya. Mungkin saja kakak kelasnya itu akan mengatakan ya dengan mudah. Raut wajah murung terlihat jelas di balik kacamatanya itu.
Tiba-tiba ada seseorang yang berdiri di samping Muffy dan mengajaknya berbicara.
"Aku yakin dia tak akan menerima bantuan anak itu." Kata orang itu begitu optimis sambil melipat kedua tangannya di depan dada.
Gerald melemparkan senyum merekah di bibirnya. "Tidak, Terima kasih atas bantuannya!" Tolak Gerald halus kepada gadis yang menawarinya bantuan.
Gadis itu terlihat malu saat tawarannya di tolak, ia pun pergi tanpa ingin menoleh ke kakak kelasnya itu sambil marah-marah tidak jelas. Gerald pun kebingungan, padahal tadi adik kelasnya itu terlihat ramah. Pada kenyataan, kita harus tahu cover orang sebenarnya, baik di depan belum tentu baik di belakang.
__ADS_1
Muffy menaik turunkan kepalan tinjunya ke depan dada bahwa ia senang dengan hal itu, "Yes!" lalu ia berbalik, "Apakah kau seorang peramal?" Tanyanya pada orang itu dengan senyum merekah di bibirnya.
Muffy terdiam sejenak menatap orang itu. Seketika tubuhnya menegang dan kaku.
Orang itu terlihat melongo sebentar, lalu, "Cantik!" Satu kata terucap dari bibir orang itu.
Sedangkan Muffy setelah mengetahui orang yang mengajaknya tadi berbicara, membuatnya menegang dan ketakutan.
Ia pun melakukan gerakan ancang-ancang setelah mengatakan, "Maafkan aku!" Kata Muffy lalu berlari pergi.
Untuk apa dia meminta maaf padaku? Gadis aneh. Tapi aku menyukainya, batin orang itu.
Gerald sudah menyusun kembali buku yang akan dipinjamnya. Tapi naas bukunya jatuh kembali, saat seseorang menabraknya. Pemuda itu nampak mengerutkan keningnya. Bagaimana tidak? Gadis di hadapannya terlihat ketakutan. Muffy yang menyadari dirinya telah menabrak seseorang dengan segera ia menoleh ke arah orang itu.
Setelah melihat siapa orang itu, ia pun menoleh ke samping sambil mengumpati dirinya yang bodoh. Dia buru-buru membantu Gerald. Entah ini baik atau buruk baginya.
"Apa kau baik-baik saja?" Tanya Gerald melembut pada Muffy.
"Aku ba..." seseorang memutus perkataan Muffy.
Gadis itu merasakan sebuah senyum mengerikan tersungging dari bibir merah orang itu.
Tanpa ia sadari, sekali lagi dia kabur. Lalu ia mendorong Gerald yang dirundung kebingungan saat didorong. Mexim nampak terlihat senyum-senyum sendiri.
Seketika bulu kuduk Gerald berdiri, sebab tidak biasanya Mexim begitu. "Tidak bisakah kau membantuku?" Pinta Gerald memecahkan lamunan orang itu.
Mexim langsung menoleh ke arah Gerald dengan raut wajah penuh keseriusan. "Aku jatuh cinta pada gadis itu!" Ungkap Mexim menggebu-gebu tanpa memedulikan ekspresi kaget Gerald.
Gerald menumbuk tangannya dengan tangan kanan yang berbentuk kepalan tinju di atas, dan tangan kiri berbentuk kertas di bawahnya. "Baguslah! Ku kira kau hanya menyukaiku saja! Hampir saja aku akan memutuskan pertemanan kita. Karena aku ini orangnya masih normal tahu!" Jelas Gerald membalas pernyataan Mexim.
Mexim tersenyum kecut ke arah Gerald. "Kau kira aku ini penyuka sesama jenis apa?" Kesal Mexim.
"Hahaha...aku hanya bercanda. Jadi bisakah kau membantuku?" Pinta Gerald lagi namun kali ini sikapnya menjijikkan ia bergaya manja.
Mexim terlihat pucat pasi. "Berhenti bertingkah menjijikkan seperti itu!" Mexim jongkok lalu membantu Gerald memungut buku yang akan dipinjamnya.
"Ngomong-ngomong dia menyukaimu." Kata Mexim sambil memungut buku eksiklopedia yang besar itu.
__ADS_1
"Benarkah?" Gerald terdiam sebentar, terlihat jelas senyum tipis tersemat dibibir tipisnya.
Mexim menatap tidak suka dengan tingkah Gerald yang terlihat tertarik pada wanitanya.
Dengan kedua alis tebal yang berkedut pertanda dia marah, "Ku peringatkan kau jangan mendekati milikku!" Kesal Mexim.
Gerald yang merasakan aura mematikan di sekeliling Mexim membuatnya bergidik ngeri, dan ia harus mencairkan suasana yang menegang ini. Dia tahu Mexim sedang mencurigainya. Jadi tidak ada pilihan lain selain menyangkal,
"Ayolah! Aku sudah mempunyai adikmu mana mungkin aku melirik gadis lain? Kau tahukan adikmu itu! Bagaimana kalau dia mendengar aku berselingkuh?" Sangkal Gerald.
Mexim berpikir sejenak menyetujui bagaimana sifat adiknya itu, "Baiklah! Kali ini aku setuju denganmu. Ngomong-ngomong di mana kau mengenal Muffy?"
"Kebetulan saat dua tahun lalu, saat dia masih menjadi siswi baru di sekolah ini aku yang menjadi pedamping timnya. Hal yang paling penting sekarang dia sudah kelas 2 tepat dia di kelas ipa 1, walau kelihatannya dia ceroboh. Namun sebenarnya, dia adalah gadis terpintar di angkatannya, penampilannya luar terkadang mencolok, dan juga dia adalah anggota OSIS." Jelas Gerald membuat Mexim mengangguk-angguk setuju.
Matanya terbelalak, "Oi! Kenapa kau tidak memberitahuku kalau ada gadis secantik dirinya masuk dalam OSIS? Kau tahukan aku ini orang penting! Jabatanku Ke-tu-a O-SIS?" Kesal Mexim sambil memenggal kata perkata saat mengatakan jabatan yang dibanggakannya di sekolah ini.
"Kau terlalu sibuk untuk memikirkan yang lain. Apa kau ingat setiap aku membahas gadis-gadis yang mendaftar masuk OSIS. Itu karena mereka mengejarmu. Akan tetapi, kau malah menyuruhku untuk tidak membahas mereka. Sampai-sampai bogeman mentah mendarat ke pipi mulusku. Saat kau tak bisa menahan emosimu mendengar aku menceritakan seorang gadis dan kau sungguh muak mendengarnya!" Bela Gerald.
Mexim tersenyum kaku, dia lupa mengenai kejadian itu. Dia menepuk pundak Gerald, sambil menunjukkan wajah bersalahnya. Gerald yang tak tahan melihat wajah Mexim akhirnya luluh juga. Seketika itu juga raut wajahnya yang bersalah berubah menjadi sumringan.
Itu karena waktunya dia mengejar belahan hatinya sekarang. Dia mengabaikan keberadaan Gerald. Apalagi dia lupa jika dia sedang membantu Gerald, dan membuat Gerald kesusahan buku-bukunya yang dibawanya yang awalnya tersusun rapi, kembali berantakan saat Mexim berlari menendang bukunya tanpa sadar karena dirundung hati yang sedang berbunga-bunga, Gerald hanya mendesah pasrah melihat temannya itu.
"Dia menyukai Muffy, ya?" Gumamnya dengan guratan kecewa di wajahnya.
***
Muffy menarik napas panjang. Sekali-kali ia menoleh ke belakang bisa saja dia melihat orang itu. Apalagi orang itu adalah orang yang paling ingin ia hindari. Orang itu bernama Mexim.
Dia adalah lelaki terpintar se-angkatan kelas 3, Ketua OSIS, seorang model dengan tinggi yang tak perlu diragukan lagi 183 cm, kulit putih bersih, beralis tebal, iris mata berwarna hijau, sebab dia memiliki darah campuran. Bibir merah, bentuk tubuh tidak perlu diragukan lagi begitu atletis, dia dikagumi yang lainnya bukan hanya para murid namun para guru juga, predikatnya sebagai anak pemilik yayasan membuatnya semakin disegani, dan satu lagi tak bisa dipungkiri di balik itu semua sebenarnya dia seorang badboy loh.
Muffy menggelengkan kuat kepalanya, mengapa dia perlu membahas lelaki itu? Dan kenapa juga dia muncul merusak segalanya, dan dia melupakan sesuatu.
Kesalahan fatal terbesar dalam hidupnya saking takutnya dia mendorong orang yang disukainya, di mana lagi dia harus menaruh wajahnya? Di muka tentu saja mana mungkin dia lepas!
Dia berjalan menuju kelasnya. Tapi sekarang dia di hadapkan ke dalam situasi yang di mana dia akan menjadi seorang super hero atau sebut saja dia dengan sebutan wonder woman, julukan yang menarik hingga membuatnya tertawa cekikikan.
Dia mengibaskan rambut coklatnya yang bergelombang, dan tergerai ke belakang. Dia menyimpan kacamata yang dikenakannya di balik saku jas almamater merahnya itu. Seperti biasa dia melakukan pemanasan pada otot tangannya agar tidak tegang nanti sambil berjalan ke arah orang-orang itu, yang tak pernah bisa melihat situasi.
__ADS_1