
Muffy mendongak ke atas melihat seseorang yang memanggilnya dan dia merasa suara genit itu familiar.
"Apakah kau mengingatku?" Ujar Daryl yang baru pindah hari ini, dan kebetulan pamannya adalah kepala sekolah. Jadi dia memiliki peruntungan lebih besar untuk masuk sekolah ini, dan tak perlu menunggu semester baru.
Daryl menjulurkan tangannya dan kemudian senyum manis dibibir tampannya. Ini trik biasa yang dimainkan kepada para wanita incarannya.
"Pria kencan buta apa yang kau lakukan di sini? Dan bagaimana kau mengenalku? Bukankah aku menyamar kemarin?" Bingung Muffy dengan tatapan penuh selidik, asal kalian tahu penyamarannya selalu tertata dengan rapi, dan orang-orang tidak bakal menemukan dirinya dengan mudah, kecuali senior itu, memikirkannya membuat Muffy merah padam.
Pemuda itu tak pernah melunturkan senyum menawannya, "Aku mengenalmu dari baumu."
'Orang mesum lainnya' "Sepertinya kita harus berpisah sekarang. Selamat tinggal!" Perasaan Muffy tidak enak kalau harus meladeni pemuda ini. Dia pun berjalan pergi setelah nengatakan itu, namun--
"Tidak!" Tahan Daryl tidak ingin kehilangan kesempatan.
Mata Muffy membulat pergelangan tangannya ditahan oleh anak ini otomatis bulu kuduknya merinding, "Hei, bro! Lepaskan tanganmu. Aku akan mendengar apa yang kau tanyakan."
Daryl sekali lagi tak melunturkan senyumnya, dan berpikir apa yang dilakukannya tak pernah salah, ok dia adalah playboy yang mantap. "Kenapa? Tangan sehalus bayi menyuntuhmu takkan membuatmu lecet."
'orang gila lainnya!' Batin Muffy Frustasi.
"Bisakah kau memperjelas apa yang ingin kau tanyakan? Aku sedang terburu-buru kelas akan dimulai." Ujar Muffy merasakan firasat buruk tidak lama lagi, dan dia kenapa harus berurusan dengan orang aneh.
Walau dia juga termasuk dalam golongan aneh juga sih, tapi, hei! Ini berbeda, bedanya dia hanya akan memiliki karakter berbeda-beda saat penampilannya berubah.
Dan dia berpenampilan seperti siswi populer cantik, dan anggun.
Demi seseorang yang mengatakan menyukainya, tunggu, cabut itu, dia hanya orang yang buruk dan senang menggodanya hampir saja dia terjebak, dan mengapa dia memiliki wajah setampan itu membuatnya goyah, hei, kenapa dia harus memikirkan itu, intinya dia tidak boleh terlibat.
"Apakah kau mendengarku?" Tanya Daryl yang sudah menjelaskan apa yang ingin dia pinta pada Muffy.
Sayang seribu sayang Muffy memiliki pemikirannya sendiri, Daryl memiliki kening berlipat dia diabaikan untuk pertama kalinya.
Tapi demi cintanya dia tidak menyerah, ok, baru pertama kali dia tertarik dengan seorang gadis.
Jadi dia tak boleh melepasnya, dan ini menarik, dan tidak membosankan seperti biasa."Muffy?"
"Hei!" Panggilnya lagi tapi kali ini menggucang bahu Muffy.
"Ada apa?" Bangun Muffy dari lamunannya.
"Kau tidak mendengarku? Apa yang kau pikirkan? Aku tau kau berdebat dengan hatimu. Karena aku menawan." Bangga Daryl dengan kadar malunya dilevel terendah.
'Peringatan : Jauhi orang narsis ini!' "Bro, aku tidak ingin mendengar kau memuji dirimu. Bisakah kau mengulangi apa yang kau tanyakan?" Muffy harusnya tidak menggoda pemuda ini dalam kencan grup sebelumnya, dan mengapa dia memberi tahu namanya, apakah dia tertarik dengan salah satu temannya?
Daryl menarik napas panjang lalu mengatakannya, "Aku ingin ke kelas XI MIPA 1."
"Oh XI Mipa 1, apa yang kau inginkan di kelasku?" Kaget Muffy apakah kelasnya langganan pindahan.
Mendengar itu Daryl mengatakannya sambil tersenyum, "Tentu saja aku ingin belajar."
"Apa kau murid pindahan?"
"Menurutmu."
"Bagaimana bisa kau pindah, ini sudah semester akhir." Bingung Muffy dan dia melupakan Brain yang dalam kurun beberapa hari sebelumnya juga pindah di sini.
"Kepala sekolah adalah pamanku." Bangga Daryl dan tak ingin terlalu menyombongkan diri, itu pamannya bukan dirinya.
Secret Roman: Siapa yang nanya?! Untung kau tampan *balik meja*
"Pantas saja. Jadi mari kita ke kelas bersama." Tawar Muffy dan ia menyesalinya mengapa pemuda ini selalu tersenyum seperti itu, itu aneh, kau tau.
__ADS_1
Daryl langsung menunjukkan ekspresi senang, dia menyetujuinya.
Daryl mendekatakan wajahnya ke tubuh Muffy sambil mengendus keenakan. Ini bau mint, tetapi ada juga buah-buahan.
"Wangimu sangat enak. Kau memakai parfum apa?" Tanyanya berulang kali mengendus.
Muffy yang risih berjalan ke samping, "Ini bau badanku." Datarnya.
"Keringat? Pantas saja." Senang Daryl masih mengendus, dan mencoba mendekat ke Muffy.
Muffy memiliki ekspesi kesal, "Berhenti mengendusku."
"Baiklah."
Sayangnya Daryl hanya mengatakan dia mengerti, tapi buktinya dia tak berhenti. "Aku akan menghajarmu." Ancam Muffy sambil mengatupkan giginya kesal.
"Baiklah!" Balas Daryl sekali lagi, dan dia masih tidak menjaga jarak.
"Bisakah kau berhenti berkata baiklah! Dan jauhkan wajahmu, atau kau pergi mencari kelas kita sendiri saja." Ancaman Muffy lainnya dan alhasil Daryl berhenti melakukannya.
***
Jam pelajaran pertama telah di mulai sejam yang lalu. Dan guru matematika yang mengajar memiliki kesombongan yang parah dengan pengetahuannya.
Dia memberi soal yang sulit layak untuk olimpiade nasional. Soal yang mudah untuk kelas ini.
Omong kosong. Ini kelas unggulan, dan dia harus pertahankan kebanggaannya.
"Adakah yang bisa menjawab ini?" Tanya guru matematika itu dengan alis terangkat dan tangan bersedekap melipat di depan dadanya.
Tubuh gemuknya dan kepala botak di bagian tengahnya menunjang penampilannya.
Dia mengulangi perkataanya tersebut sebanyak tiga kali.
Bug!
Sebelum guru matematika itu menjawab soalnya sendiri. Terdengar bunyi membuka pintu keras, dan membuatnya kaget.
"Anak nakal siapa yang menyuruhmu mengganggu kelasku!" Marah guru matematika itu, tetapi saat dia mendongak.
"Nak Mexim."
"Biar aku yang menjawabnya." Sinis Mexim melangkah maju ke depan, semua temannya memiliki penghormatan tinggi pada pemuda jenius tanpa belajar, dan senang main-main ini.
Mexim berjalan dengan ekspresi mendominasi dingin dan tak tersentuh, dia menaruh tanganya ke dalam kantong celananya, dan tatapannya lurus ke depan
Guru matematika itu tidak berani begitu sombong lagi di hadapan muridnya ini.
Dia tak boleh membuat murid ini memberinya penilaian jelek.
"Apakah ini saja kemampuan anda?" Sinis Mexim dengan suasana hati patah, dan ia meraih spidol dari tangan gurunya itu.
Guru matematika itu memiliki ekspresi kecut, andai saja anak ini bukan pemilik yayasan, dia pasti sudah menghukumnya.
Segera Mexim menjawabnya dengan santai. Dia menjawabnya dengan mudah.
Bahkan dia menunjukkan 3 cara sekaligus, dari jawaban singkat, menengah, mau pun yang paling terperinci hingga papan tulis itu terisi dengan caranya.
"Selesai!"
"Coba anda periksa di mana letak kesalahannya." Tantang Mexim dengan sudut bibir kanannya terangkat. Hanya kau yang bisa sombong, dia juga bisa.
__ADS_1
Semua orang di kelas bertepuk tangan girang. Setidaknya kekesalan mereka terbayar dengan tamparan jawaban Mexim pada guru sombong itu.
Guru matematika itu memiliki keringat dingin bahkan anak ini bisa memberinya 3 cara sedangkan dia hanya mempunyai satu cara.
Bagaimana bisa anak malas ini memiliki otak encer. Mexim benar-benar pantas mendapat predikat anak jenius angkatannya.
"Jawabanmu benar semua. Kau bisa kembali ke tempat dudukmu"
"Kenapa kau belum kembali." Bingung guru matematika itu.
"Aku ingin bertanya pak."
"Apa yang ingin kau tanyakan?"
"Bisakah bapak memberitahu saya sebuah rumus cinta agar orang yang saya sukai membalas perasaan saya."
"Ru-rumus cinta?"
"Apakah bapak tahu?"
"I-itu..."
"Cih! Apakah bapak tidak tahu? Bukankah bapak terlalu memiliki banyak waktu kosong untuk menekan murid lain. Dan ketika murid bertanya pada anda, mengapa anda terlihat kesusahan menjawabnya?" Ledek Mexim mempertanyakan lisensi guru ini yang bisa diterima menjadi guru di sekolah ini.
Guru matematika yang mendengar nada sinis dari muridnya itu membuatnya geram.
Dia ingin marah dan langsung menghukumnya.
Akan tetapi anak ini memiliki kartu as. Dia anak pemilik yayasan dan tidak ada berani yang menentangnya.
Selain pemilik yayasan, dia masuk jajaran siswa peraih nilai tertinggi nasional, dan memiliki kesempatan mendapatkan banyak tawaran beasiswa baik negara A - Z, berpenghasilan sendiri, bahkan dia menjabat sebagai ketua osis, dan para murid menjadikannya sebagai panutan.
"Apakah bapak tidak pernah jatuh cinta. Tapi dilihat dari penampilan bapak itu mencerminkan bapak sering ditolak." Ungkap Mexim tanpa menahan mulutnya berkata seperti itu.
Peringatan : Jangan ditiru
Sekali lagi guru matematika itu memiliki ekspresi hambar.
Bagaimana anak ini bisa memiliki lidah begitu tajam dan licik.
Apakah ini yang namanya anak yang patut diteladani namun sangat sombong. Dan bagaimana bisa dia mempertanyankannya--
Cinta?
Omong kosong!
Dia sudah dua kali bercerai.
Tentu saja dia berulang kali mendapatkan pahitnya dalam menjalin hubungan.
"I--itu,"
"Payah!" Mexim segera kembali ke bangkunya sambil menggelengkan kepala.
Sedangkan parah murid lainnya memiliki rahang jatuh.
Bahkan Mexim meminta saran percintaan pada guru itu melalui sebuah rumus.
Mereka harus memberinya tanda jempol. Hanya Mexim yang berani meragukan apakah guru matematika itu pantas menjadi guru atau tidak.
Orang yang memiliki pengaruh memang beda.
__ADS_1
Namun di sisi lain Mexim yang memiliki ekspresi suram sedang memikirkan apa yang dilakukan Muffy, dan apakah Muffy memikirkannya juga.
Dan tidak peduli lagi dengan mata pelajaran ini yang tidak menjawab pertanyaan menjagal hatinya sama sekali.