CINTA KONYOL

CINTA KONYOL
BAB 5 - Free


__ADS_3

"Tidak masalah kalau kau ingin terus memandangi wajahku seperti itu!" Malu Mexim mendorong bahunya hingga dia tersungkur di tanah.



Muffy mendongakkan wajahnya ke atas menatap lelaki jangkung itu dengan ekspresi kesal. Sungguh tenaganya kuat sekali, jelaslah dia kan laki-laki.



Mexim bertingkah malu-malu sambil mengibaskan tangannya ke depan berulang kali, tidak melihat apa yang dia perbuat pada Muffy.



Muffy meniup poninya acakan, lalu ia berdiri menegakkan posisi berdirinya. Dia juga membersihkan pasir yang menempel di rok miliknya.



Andai dia bukan sosok menakutkan, mungkin kedua jarinya yaitu telunjuk, dan jari tengahnya bakal digunakan mencolok kedua bola mata milik orang itu, yang sering sekali digunakan untuk membius para gadis di sekolahnya.



"Mohon maaf anda siapa ya?" Dingin Muffy pura-pura tidak kenal, namun sebenarnya dia takut loh. Dan juga dia sudah berdiri di samping satpam rumahnya.



Mexim mengibaskan tangan kanannya di depan berulang kali sambil malu-malu, "Jangan bercanda! Aku ini belahan jiwamu, aku kamu selamanya cinta!" Kata Mexim ngawur sambil memberi tanda love dengan menyilangkan kedua jarinya ala korea begitu.



Muffy yakin orang ini otaknya mungkin sudah rusak



"Bapak dengarkan? Dia seorang pengutit!" Cecar Muffy pada satpam itu.



"Aku pikir apa yang kau katakan benar nona. Percuma parasnya tampan. Untung saya sudah tua,"



"Bapak tua atau muda sama saja."



"Sama apa maksud nona Muffy?"



"Jelek, pak!" Kata Muffy ke lewat jujur.



Satpam itu telah dihina oleh Muffy, dia nampak putus asa sambil membenturkan kepalanya berulang kali di pos penjagaannya.



Muffy hanya menggelengkan kepalanya, dia hanya mengatakannya dengan jujur, bohong itu dosa loh.



"Kesadisanmu aku menyukainya! " Kata Mexim memberi tanda jempol pada Muffy sambil darah dihidungnya jatuh.



Muffy dibuat melongo lagi. Dia yakin pria di hadapannya ini seorang 'M' alias masokis.



Mexim mengumpulkan keberanian dia menanyakan pertanyaan yang sama, dan tak akam pernah berubah bila dia ditelan di pasir penghisap sekali pun.



"Hmm...Jadi gimana apakah kau mengizinkanku berkunjung ke rumah mu?" Mexim berakting sok keren saat mengatakan itu, senyum lebar miliknya memperlihatkan deretan giginya yang putih, dan teratur itu.



Klep!



Muffy sudah tahu apa yang akan dikatakan Mexim, jadi dia buru-buru menggembok pagar rumahnya yang tinggi menjulang itu.



Mexim memegang erat pagar Muffy seperti pagar jeruji di lapas narapidana.



"Kenapa kau tak membiarkan aku masuk ke dalam? Biarkan aku bertemu calon mertua!"



Muffy menekan tombol handphonenya, dia sedang menekan nomor telepon kantor polisi.



Sebab dia ingin melaporkan ada orang yang mengganggu kebebasannya, dan mengikuti dia ke mana pun.



Halo dengan kantor polisi?



...



Saya ingin melaporkan ada seseorang yang mencurigakan sedang mengikuti saya sedari tadi, saya berada di jalan x.



...



Ciri-cirinya? (Menatap lekat Mexim)



...



Dia memiliki tinggi sekitar 183 cm, kulit putih bersih, beralis tebal, iris mata berwarna hijau, bibir merah, tubuh tegap nan atletis, itu saja.



...



Dia benar-benar seorang pengutit, anda tidak percaya saya! (Mulai marah)



...



Kami tidak berpacaran, apalagi melaporkan sesuatu pribadi seperti itu! Saya tidak mengenalnya. Jadi datanglah! (emosi meledak)



...



Saya benar-benar yakin!



...



(mengambil napas) Baiklah, terima kasih!



Tut...



"Pergilah sebelum polisi datang!" Usir Muffy kembali bersembunyi di balik satpam yang sudah diejek olehnya.



"Pak berhentilah melakukan tindakan konyol itu.  Itu tak akan mengubah wajah bapak seperti Sq*idward di kartun Sp*ngebob Squ*rpants."

__ADS_1



Satpam rumahnya berlari ke kamar mandi dengan mata berkaca-kaca. 



Muffy nengerutkan keningnya,  memangnya dia sedang bermain sinetron atau apa pun itu.



Kembali lagi pada Mexim yang sedang menggeleng-gelengkan kepalanya kuat artinya ia tidak mau.



Muffy menepuk jidatnya keras, orang ini benar-benar keras kepala. Dia berulang kali berteriak dengan horrornya Aku perlu kebebasan, biarkan aku keluar!



Pletak!



Muffy membanting pensilnya kasar yang tadi dia simpan disaku almamaternya, saking frustasinya.



Sebelum dia naik ke bus, Muffy sudah mengambil ulang almamaternya.



sebab Mexim melemparnya ke sembarangan tempat hanya karena ingin memeluknya.



"Kau pikir rumahku adalah rutan! Di mana ada para narapidana di penjara!" Kesal Muffy.



"Aku perlu kebebasan, biarkan aku keluar!" Jerit Mexim.



"Dia benar-benar mengabaikanku." Muffy menunjukkan raut wajah datarnya.



10 menit kemudian...



Bunyi sirine mobil polisi memekakkan telinga sudah berada di depan rumah Muffy. Dua polisi turun dari mobil itu.



Mereka berjalan dengan gagahnya, melaporkan bahwa siapa orang yang mengganggunya.



Muffy menunjuk Mexim, dia sedang mengeluh berulang kali dengan kata yang sama Aku perlu kebebasan, biarkan aku keluar!



"Kami polisi! Kami akan menahan anda karena menganggu kententraman, dan keamanan bagi gadis ini." Kata polisi itu.



Mexim menoleh ke asal suara itu menunjukkan wajahnya yang datarnya.



Mereka tertegun melihat paras Mexim. Astaga, mereka ternyata polisi wanita.



"Atas dasar apa anda ingin menahan saya?" Dingin Mexim.



Kedua polisi itu saling menatap satu sama lain, mereka mengeluarkan buku kecil ditangan mereka.



Muffy tersenyum licik, untung saja mereka tak tergoda dengan paras rupawan milik Mexim.




"Astaga! Demi mie ayam buatanku sendiri, mereka tersanjung!" Muffy membulatkan matanya.



"Dengan segala hormat saya menolak." Tolak Mexim datar.



"Kalau begitu anda saya tahan!" Kata polisi wanita itu. Salah satu dari mereka mengeluarkan borgol dari saku celananya.



Mereka telah memborgol tangan Mexim. Mereka berpamitan pada Muffy memastikan bahwa dia akan ditahan.



Muffy sangat berterima kasih atas bantuan mereka. Mobil polisi itu sudah mau melaju.



Mexim yang tangannya diborgol, dan dia sedang duduk dibangku belakang.



Dia mengetuk jendela belakang mobil, berharap Muffy menghentikan laporannya.



Muffy melambaikan tangannya ke atas maksudnya adalah ucapan selamat tinggal, "Hati-hati di jalan!" Senyum licik penuh kemenangan terpatri dibibirnya membuatnya tenang sekarang.



***



Mexim duduk di hadapan polisi yang menanganinya, di sini penuh sesak.



Bagaimana tidak? Dia sekarang di kerumuni para polisi wanita yang mengeluarkan binar mata yang menyilaukan padanya.



"Siapa nama anda?" Tanya polisi pria itu, untung pria.



"Mexim Alexander." Jawab Mexim datar, dia kembali ke sifat biasanya.



"Berapa umur anda?"



"18 tahun."



"Dia terlalu muda, dan tampan." Bisik para polisi wanita itu,



"Anda sebagai tersangka yang melakukan tindakan pengutitan pada seorang perempuan berumur 18 tahun. Atas nama Muffy Ariana Addison. Apakah itu benar?"



Mexim menaikkan satu alisnya ke atas, "Anda bisa menanyakan semuanya kepada pengacara saya." Dingin Mexim.



Polisi itu pun membuat laporan tanpa menanyakan apa pun lagi.



para polisi wanita mulai melayangkan berbagai pertanyaan padanya, tapi dia hanya menjawab singkat, dan dingin.



***

__ADS_1



Muffy berguling ke kanan, dan ke kiri. Dia merasa bersalah pada orang itu. Apalagi dia berpura-pura tidak mengenal orang itu.



Bagaimana jika dia ditahan di balik jeruji bisa-bisa setelah dia keluar dia bakalan balas dendam padanya, parno.



Setelah sepuluh menit berguling ke kiri lalu ke kanan akhirnya kepalanya membentur tembok. Dia mengelus jidatnya yang kesakitan.



Apalagi orang itu masih menjabat sebagai ketua osis di sekolah, dan juga dia anak pemilik sekolah.



Bisa-bisa dia angkat kaki dari sekolah, dan orang tuanya bakalan malu menerima anak sepertinya, pikir Muffy terlalu kejauhan.



"Demi langit dan bumi! Apakah keputusanku sekarang benar?" Jerit Muffy menggelegar hingga.



Bug! Bug! Bug!



Seseorang di balik pintu menggedor pintu kamarnya, dan menceramahi Muffy di luar.



"Oi! Buka pintunya! Kau membangunkanku di saat aku bermimpi menjadi kekasih Kendal Jenner!" Jerit Kakak lelakinya, Muffy hanya bisa bersembunyi di balik selimutnya, ditambah lagi menutupi telinganya dengan bantal.



***



Hosh...



Seorang gadis ngos-ngosan berlari menuju kantor polisi dengan hanya mengenakan piyama bergambar pokimon.



Dia tak ada waktu mengenakan kacamatanya, apalagi dia hanya asal menguncir rambutnya ke samping.



Keringat bercucuran dikeningnya, bodohnya kenapa dia berlari ke sini yang jauhnya 10 km dari rumahnya.



Apakah dia ketularan gilanya dengan orang itu? Gadis ini adalah Muffy, dan kalian tahu. Dia butuh waktu lama ke sini, kakaknya menceramahi sampai dia benar-benar lelah.



"Apakah di sini ada anak seumuran saya ditahan?"



"Siapakah namanya?" Tanya polisi penjaga.



"Mexim Alexander." Jawab Muffy.



"Dia baru saja pulang."



Seketika Muffy memucat, "Be-benarkah?"



"Iya." Jawab orang  itu singkat.



"Terima kasih." Kata Muffy melemah.



Muffy nampak memucat,  dan kaku.  Dia menelan ludahnya kasar. 



Apa yang akan dilakukannya besok. Semoga orang itu tidak muncul lagi di hadapannya, apalagi dia berharap orang itu melupakan kejadian tadi.



Dia tidak menantangnya lagi dengan sebuah lamaran. Dan tak membalaskan dendam padanya.



***



Sebelum Muffy berada di dalam kantor polisi. Dua orang manusia mengenalnya, yang satunya heboh, dan yang satunya menghiraukan temannya.



Dia benar-benar kesal padanya yang menguntiti seorang gadis dikenalnya, apalagi dia sedang cemburu berat sekarang.



"Hei bukankah itu belahan jiwaku?" Kata pemuda tampan itu.



"Kau salah orang. Tidak mungkin dia datang untuk membantu mengeluarkanmu." Jawab pemuda ini.



"Hmm...Betul juga! Astaga!" Suara bass pemuda ini naik 3 oktaf saat mengatakan astaga.



"Kau kenapa?"



"Aku merasakan sesak di sini, coba pegang!" Pemuda tampan ini menuntun temqanya memegang dadanya.



"Kita harus ke dokter sekarang! Detak jantungmu terlalu cepat, pertanda itu tidak normal!"



"Aku yakin kau benar-benar orang yang bodoh. Aku akan mengatakan kepada guru yang berbaik hati memberikanmu nilai yang tinggi, mereka harus tahu seberapa bodohnya kau yang tak peka apa maksudku menyuruhmu memegang dadaku."



"Lalu apa?"



"Detak jantungku yang berpacu cepat karena aku merindukan belahan jiwaku ! Antarkan aku ke rumahnya sekarang!" Titah Mexim dengan binar mata kucing persia.



"Tidak bisa! Setelah kau berbuat masalah, bagaimana aku tidak peduli dengan sahabatku. Untung saja kau memiliki pengacara yang bisa membantumu keluar." Tolak Gerald tegas.



"Hei mereka menahanku karena aku menolak memberi mereka nomor teleponku." rajuk Mexim dengan pipi menggembung.



"Jangan bercanda, dasar gila!"



"Apakah kau lupa waktu saat kita masih kelas 1 SMA lalu? sekelompok gadis di pinggir jalan memperebutkanku.



Dan mereka hampir saja membuat tanganku hampir lepas dari tubuhku! Karena mereka menginginkanku!" Gerald mengingat itu, dia benar-benar menatap naas temannya itu yang kembali mengingat masa-masa di mana membuatnya trauma, dan menjadi pribadi dingin saat bersama perempuan.


__ADS_1


__ADS_2