
"Terima kasih atas makanannya!" Senang Muffy lalu menjalankan aksi kaburnya,
Glep!
"Siapa menyuruhmu pergi?" Larang Mexim membuat Muffy bergidik ngeri sambil menahan lengan Muffy.
Dia menolehkan kepalanya ke belakang, "Kau kira ini semua gratis," Lanjur Mexim sambil tersirat senyum licik dibibirnya.
Glek!
Muffy menelan ludahnya susah payah, "Jadi kau menyuruhku membayar semua makanan ini?"
Mexim menggelengkan kepalanya kuat, lalu sudut bibirnya terangkat, seolah ia telah merencanakan segala sesuatu dengan sangat matang.
"Bukan begitu, sayang! Tapi aku butuh imbalan." Kata Mexim sambil mengedipkan satu matanya pada Muffy.
Sekali lagi Muffy merinding.
Seketika terasa percikan listrik mengacau di aliran darahnya, dan membuatnya hampir terjatuh,
"Imbalan? Apakah kau meracuni makananku?" Tanya Muffy panik sepertinya efek racun itu bekerja, karena kepalanya mulai pusing.
Mexim memijit pelipisnya, dia pusing antara gemas, dan kesal.
Apakah gadis di hadapannya ini hanya memikirkan hal yang buruk, meracuni tidak mungkin ia lakukan. "Siapa yang meracuni siapa?
Bahan makanan yang saya gunakan adalah higienis dan masih segar." Jawabnya tiba-tiba formal demi menjelaskan belahan jiwanya, agar ia tidak berlarut pada kesalahpahaman.
"Apakah kau memasukkan sianida ke dalamnya?" Tanya Muffy lebih aneh lagi.
Mata Mexim membulat mendengar pertanyaan Muffy, apa yang gadis itu pikirkan benar-benar terlalu melenceng.
"Tidak sama sekali!" Bantahnya tegas, lalu ia menyimpan tangannya di depan dada.
"Racun tikus?"
"Tidak!" Guratan kekesalan mulai menghiasi jidatnya.
"Arsenik?"
"Kau gila, ya! Tentu saja tidak!" Balas Mexim membantahnya kali ini ia mempunyai keinginan mencubit pipi Muffy.
"Aku harus memuntahkannya segera!" Panik Muffy tidak nyambung.
Mexim menghela napas kasar, "Dia benar-benar tidak mendengar apa yang kukatakan." Gumamnya sambil menggertakkan giginya.
"Mengapa kau hanya memikirkan tentang racun.
Siapa juga yang mau ku racuni? Namun sebaliknya kamu yang meracuniku." Kata Mexim serius dengan sorotan mata melembut,
"Apa? Aku meracunimu?" Kaget Muffy sambil menutupi mulutnya tidak percaya,
Mexim mengeluarkan senyum liciknya dengan satu alis terangkat. Ia berkata, "Tentu saja!
Kau telah meracuni hatiku, dan hanya kaulah yang bisa menjadi penawar racun hatiku," Katanya ngawur membuat teman-temannya menahan tawa.
"Dia benar-benar memalukan!" Bisik Mark.
"Hahaha...Apa-apaan dengannya? Meracuni hatiku?
Penawar racun hatiku? Darimana dia mendapatkan kata-kata aneh itu." Tawa Hans tak habis mengira temannya itu seorang perayu, tapi dengan ekspresi aneh begitu, bawaannya kan terlihat konyol.
Hans menyeka air matanya, "Hahaha...Perutku sepertinya mulas, mengapa di jam seperti ini ia harus merapalkan mantra aneh seperti itu.
Apa yang ia pikirkan? Ronald kau kalah dengannya,"
"Kau benar Hans! Aku rasanya mau meledak karena ketawa. Dia benar-benar dewanya menggoda gadis!
Aku kalah. Mulai sekarang aku akan berguru dengannya," Balas Ronald takkan menampik apa yang dikatakan Hans.
"Aku pikir bukuku ketinggalan di kelas." Gerald berpamitan pergi, dia pikir temannya itu benar-benar memalukan.
"Aku ikut denganmu. Aku pikir otakku yang encer ini akan ternodai dengan kalimat gaib yang dikeluarkan orang aneh itu." Ujar Gary sesekali menoleh pada Mexim setelah itu dia menggeleng-gelengkan kepalanya.
"Terserah kau saja." Balas Gerald acuh tak acuh.
"Mengapa kalian harus pergi? Kalian tidak ingin mendengar apa yang akan dikatakan teman kita lagi." Tahan Mark agar mereka berdua tidak pergi.
Di sisi lain, lebih tepatnya di balik pohon hijau sekolah, seorang gadis sedang bersembunyi.
Dia mencoba mengintip di balik pohon itu sambil mencakar pohon itu dengan kukunya.
Tapi sayangnya pohonnya yang tidak tergores sedikit pun.
Malahan jari-jari kuku tangannya lah yang mengeluarkan darah.
Sungguh amat disayangkan kukunya.
Dia sudah mani-pedi kemarin apalagi ia telah membayar mahal untuk itu.
Akan tetapi, harus berakhir tragis seperti ini, karena dibakar oleh api cemburu.
Dia segera mengambil sapu tangan di saku almamaternya, dia mencoba menghentikan pendarahannya.
"Apa-apaan itu! Rasanya hatiku seperti diremas-remas." Katanya pedih, sapu tangan bekas darahya malah sudah dikunyah, karena melihat pemandangan pasangan itu.
"Kenapa rasanya aneh. Ada asin-asinnya sih? Astaga darahku sendiri!" Jeritnya kaget setelah merasakan apa yang di kunyah itu, dan malah melupakan fakta itu, sambil membuang sapu tangannya, jijik.
"Dia kenapa? Dia terlihat begitu menyeramkan." Bisik Amanda pada Karin melihat Muffy, teman mereka yang terlihat mengganaskan dengan mulut menganga.
Muffy seperti ini karena ulah orang itu, dia mengatakan sesuatu yang membuatnya berpikir masa waktu hidupnya berkurang 10 tahun mulai dari sekarang.
Dan kalian bakal mengerti apa yang membuatnya berpikir sejauh itu mengenai masa hidupnya.
Mexim selalu saja mengatakan sesuatu yang hanya bakal dimengerti oleh para alien di luar bumi ini.
__ADS_1
Dia memperlakukannya seperti orang jahat! Bagaimana tidak?
Mengingat kejadian sebelumnya, saat dia terpaksa menerima tawarannya yang tidak bisa sama sekali ditolak olehnya,
Saat itu mereka berjalan kembali ke kelas Muffy sehabis makan siang tadi.
Tiba-tiba langkah mereka terhenti.
Mexim secara cepat melepaskan almamater yang dikenakannya, dia menunjukkan senyum menawan miliknya yang lainnya bakalan pingsan, dan sesak napas jika melihat itu.
Tapi berbanding terbalik oleh Muffy.
Dia pikir itu adalah senyum picik yang memikirkan segala sesuatu untuk membuatnya jatuh ke dalam jurang yang paling dalam, tanpa dasar.
Di sana ada sebuah genangan air yang tidak terlalu besar dan muat untuk menutupinya dengan almamater Mexim.
Dan kalian pasti tahu ini, dia melakukannya secara cuma-cuma.
Dia sengaja melepas almamaternya, dan membiarkannya kotor, dan menyuruh Muffy melewatinya sambil memegang tangan mungil Muffy, siapa pun bakal berpikir dia sangat beruntung, ia mirip seperti tuan putri.
"Tuan putri peganglah tanganku, agar aku bisa menuntunmu." Katanya sambil mengedipkan mata kanannya.
Membuat Mari bergidik ngeri, apa-apaan dengan matanya? apa dia sakit mata?
"Kya!" Jerit siswi-siswi yang melihat pemandangan itu.
Tapi itu tidak berpengaruh sama sekali buat Muffy, setelah itu dia mendengar bisik-bisik yang lainnya.
Ntah kenapa apa yang didengarnya terdengar berbeda dengan apa yang dikatakan siswi-siswi itu.
Dia dibilangi seperti seorang penyihir yang memaksa seorang pangeran untuk melayaninya layak seperti budak, padahal masa perbudakan sudah dihapuskan di muka bumi ini.
Memang pada dasarnya pikiran Muffylah yang tak pernah positif.
Padahal mereka hanya memuji dan iri padanya.
Seseorang telah berdiri di depan Muffy, lalu ia menyapanya, "Hei!" Sapanya dengan suara yang lembut mencoba menyadarkan Muffy.
"Bukankah itu kak Aria? Dia cantik sekali." Bisik para siswa di kelas Muffy.
Muffy yang cengo menolehkan wajahnya dengan penuh putus asa, sontak Aria kaget sambil mengelus dada, setelah melihat raut wajah Muffy yang menakutkan.
Kali ini rencana yang sudah matang haruslah terwujud dengan cepat! batin Aria memiliki maksud tersembunyi.
Apalagi dia tak ingin menyerah hanya karena hal semudah itu.
Dia mencoba tersenyum selebar mungkin, dia harus tahu bagian apa Mexim bisa menyukai gadis ini.
Walau dari segi informasi bahwa dia itu cantik, dan menakutkan menurut para anak brandal di sekolah ini.
"Ada apa?" Tanya Muffy tak bersemangat.
"Aku Aria kelas XII IPA 1, teman sekelas Mexim." Dia menjulurkan tangannya,
Muffy merasa kepalanya akan pecah, akhir-akhir ini nama itu menghiasi pikirannya, dan membuatnya hampir gila.
Brak!
Brak!
Ia menoleh ke kanan dan ke kiri, lalu mengatakan itu bukan salahnya, dan memintannya untuk berhenti.
"Hei! Apa yang kau lakukan? Ku mohon berhentilah, dan jangan melakukan itu!"
Temannya yang sedari tadi berada di sampingnya membantu menyadarkan Muffy, agar ia berenti bersikap bodoh.
Karin segera membisikkan sesuatu di telinga Muffy dengan suara kecil, namun sangat ampuh bagi telinga Muffy untuk mendengar itu,
"Kak Gerald sedang latihan renang, tubuh toplessnya sangat seksi!" Dan Karin pun berhasil menyadarkan Muffy.
Muffy menolehkan kepalanya pada Karin, "Apa kau yakin? Mana kameraku?" Senyum tak tertahankan tersirat jelas di wajah Muffy dengan darah segar keluar dari hidungnya, mimisan.
Aria yang melihat itu kaget, bukankah seharusnya kepalanya yang bakal bermasalah karena ia benturkan ke meja? Mengapa malah hidungnya berdarah?
Apakah jangan-jangan teman Muffy memberitahukan sesuatu aneh pada Muffy?
Ntahlah...ini membuatnya semakin bingung dan tak habis pikir.
Sebaiknya ia menyela pembicaraan mereka daripada diabaikan seperti ini, terlalu menyakitkan. "Hmm..."
Muffy menolehkan wajahnya, dan ia cukup sadar sekarang.
Setelah ia mengetahui bahwa Karin menipu dirinya.
Dia mendapati seseorang gadis cantik di hadapannya dengan rambut hitam legam di kucir dua itu.
Setelah memperhatikan dalam orang itu, ia mengetahui sebuah fakta, Bukankah dia senior semester terakhir yang selalu mengekori Mexim?
Dan presiden pendiri fan club Meximax Hei...ayolah kenapa aku bisa mengetahui itu semua.
"Halo! Aku akan memperkenalkan diriku ulang.
Namaku Aria, aku di kelas XII IPA 1, teman sekelasnya Mexim." Sapa Aria ramah sambil menjulurkan tangannya.
Muffy menggaruk tengkuknya canggung, dan ia pun membalas uluran tangan itu. "Aku Muffy salam kenal."
Di sisi lain teman Muffy pada curiga dengan sikap senior Aria yang terkenal dingin dan hanya menomor satukan Mexim, malah bersikap sok ramah seperti itu.
"Apakah kau tidak merasa aneh dengan sifat senior kita itu?" Selidik Karin.
"Ya, aku juga merasa begitu. Sepertinya ada udang di balik bakwan deh." Balas Amanda,
"Bisakah kau tidak membandingkannya dengan bakwan.
Kau membuatku merasa lapar mendadak."
"Aku juga lapar setelah mengatakan itu. Bagaimana setelah pulang sekolah.
__ADS_1
Kita singgah di warung pojok, 25 meter dari sekolah ini."
"Baiklah!" Abaikan pembicaraan teman-teman Muffy yang awalnya merasakan kecurigaan pada seniornya itu, malah melenceng membahas makanan bakwan.
Kembali lagi pada dua orang itu, Muffy dan seniornya Aria. "Mari kita berteman!" Pinta Aria dengan wajah memelas,
Muffy tidak tahu harus menjawab apa pun, apalagi ia baru berkenalan dengan seniornya itu hanya mengangguk sambil tersenyum kaku menyetujui permintaan pertemanannya.
"Apakah dia gila?"Bisik Hans.
"Aku pikir kalau dia jatuh cinta seperti itu malah terkesan menakutkan!"Balas Gary teman sebangkunya.
"Muffy, Muffy, Muffy..." Mexim tak pernah berhenti bergumam memanggil nama Muffy sambil senyam-senyum tidak jelas.
Dia benar-benar bertingkah seperti orang yang kehilangan kewarasan.
Dia selalu melakukan tingkah aneh semenjak berpisah dengan Muffy.
Dia bahkan tak bisa membedakan yang mana temannya, dan mana Muffy.
Dia hampir saja mengecup pipi temannya, berpikir kalau itu Muffy.
Dan gilanya lagi selama jam pelajaran, dia juga mengira gurunya adalah Muffy.
"Belahan jiwaku!" Dia mencoba memeluk gurunya, tapi keningnya tertahan oleh penggaris kayu milik guru itu.
"Apa yang kau lakukan, Mexim Alexander?"
"Mencoba menggoda belahan jiwaku," Jawab Mexim dengan senyum malu-malu sambil menggerling-ngelirkan matanya genit, ia masih melihat gurunya sebagai Muffy.
"Belahan jiwa? Sejak kapan kau memikirkan itu pada saat jam mengajarku sekarang?"
"Sejak kau dan aku telah ditakdirkan seperti ini,
lihatlah bukankah tangan kita tidak terpisahkan sekarang!" Ujarnya penuh kebahagian sambil menggenggam erat, dan mengangkat tangan mereka ke depan, dan yang mengangkatnya adalah Mexim.
Dia berhasil membuat gurunya kaget.
"Cie..." Goda yang lainnya,
Dia berhasil membuat guru muda ini tersenyum malu-malu mendengar pernyataan anak muridnya ini.
Yang terkenal memiliki paras yang sangat tampan, untuk kali ini gurunya terkena yang namanya salah paham.
"Hahaha..."Semua orang pun tertawa melihat tingkah gurunya yang terkena dampak salah palam.
"Kembali ke bangkumu, ibu mau mengajar dulu. Sebentar kita lanjutkan, ok!" Bisik Gurunya itu.
Mexim mulai tersadar saat mendengar kata, "Ibu?" Wajah Muffy menghilang, dan sekarang wajah gurunya.
Dia melongo, sedari tadi ia menggoda gurunya, dan gurunya ini sudah terkena rayuan mautnya.
Bulu kuduk Mexim seakan berdiri dengan buru-buru dia kembali ke bangkunya.
Dia merasa tubuhnya seperti digerogoti oleh semut, saat guru itu mengedipkan satu matanya ke arah Mexim.
Sontak pemuda yang cinta setengah mati pada Muffy itu langsung membenamkan wajahnya di meja.
Dia menyampingkan wajahnya dengan mata melotot ke arah Gerald, teman sebangkunya.
Dan dia hanya membalas Mexim dengan menertawakan tingkah konyolnya, guru muda juga diembat.
"Ke-na-pa kau ti-dak mem-be-ri-ta-hu-kan-ku, huh?" Kata Mexim memenggal kata satu persatu.
Gerald tak mengatakan apa pun.
Dan lebih memilih fokus ke arah gurunya sambil menahan tawa.
Mexim hanya bisa mendesah pasrah.
Dia telah menjadi bulan-bulanan teman sekelasnya yang senang sekali menggoda dirinya.
Walau begitu, dia tidak berhenti melakukan hal bodoh, dengan tidak tahu malu.
Ia mengundang teman sekelasnya untuk datang ke acara pernikahannya nanti bersama Muffy, jadian saja belum.
Setelah mengatakan itu, ia malah tak bisa berhenti tertawa cengengesan sendiri dengan pipi merah, dia seperti seorang gadis.
Bukan lagi layaknya seorang gadis yang sedang jatuh cinta, dia lebih terlihat seperti seorang gadis yang sedang datang bulan, aneh bukan? Tapi itulah menariknya.
Dia membulatkan matanya saat membaca salah satu artikel, jika seorang lelaki bertingkah imut.
Itu akan membuat seorang gadis menyukainya.
Dia mencoba membayangkan pipinya digigit Muffy.
Gedebuk!
Mexim memukul meja, hidungnya nampak menguluarkan darah setelah membayangkan hal mesum tadi.
Lalu dia meneriakkan tujuannya dengan fasih.
Penuh tekad, dan kali ini ia akan berhasil melakukannya.
"Aku harus melakukan ini!" Pekik Mexim bersemangat.
"Apa yang harus kau lakukan, Mexim Alexander?" Tanya gurunya melembut, dia benar-benar tergoda dengan rayuan Mexim.
Semua orang di kelas menertawai Mexim.
Dia yan menyadari kekonyolannya itu menggaruk tengkuknya yang tidak gatal kembali duduk dengan manis.
Itulah mengapa bermain ponsel di di saat jam pelajaran dilarang keras, kalian bakal menimbulkan kesalapahaman seperti Mexim.
Jadi semuanya, diharapkan untuk tidak mencontohinya, apalagi memberitahu orang lain, abaikan.
__ADS_1