
"Berhenti kalian!" Jerit Muffy dengan mata menyalang siap membuat siapa pun berkeringat dingin.
Orang-orang yang membully seorang anak tak bersalah, berbalik meliriknya dengan tatapan yang sama. Muffy tertegun, kalau 2 atau 3 orang dia bisa meladeni mereka. Tapi ini, lebih dari 10 orang.
Namun ia harus menampik seberapa banyak orang itu, sebab ini sudah keterlaluan. Bagaimana tidak? Mereka begitu menyerang satu orang secara berkelompok.
Salah satu dari mereka dalamkelompok itu membisikkan sesuatu kepada bos mereka. "Jangan berurusan dengannya," Bisik temannya melihat kehadiran Muffy.
"Memangnya kenapa? Dan dia siapa?!" Kesal bos dari orang-orang itu.
Mereka nampak pucat pasi, kecuali bosnya yang tidak mengetahui gadis itu sama sekali. "Aku bilang jangan berurusan dengannya kita bakalan tamat olehnya!" kata temannya lagi menarik tangannya,
Muffy mengangkat sudut bibirnya. Jadi ia tak perlu untuk membuang tenaga dengan percuma, maksudnya berdebat. Orang itu tak mendengar teman yang mengajaknya pergi. Ia mengenal berandalan itu.
Dia orang nomor dua disegani di sekolah ini dengan kebringasannya, lebih tepatnya anak kelas 2 seangkatan dengan dirinya.
Orang itu bernama Brandon Moore, Lelaki bertubuh jangkung dengan warna kulit putih pucat, hidung mancung, sorot mata pemarah melekat pada dirinya, dan siapa saja akan berpikir dia orang yang menakutkan, namun tampan. Kenapa ujung-ujungnya malah memuji ketampanan orang itu, sadarlah Muffy.
Dia menarik kerah baju Muffy, tentu saja Muffy tersendak kaget membalas tajam orang itu dengan keangkuhan. Cih...mereka tidak bisa memperlakukan perempuan dengan baik, batin Muffy kesal.
Mereka saling beradu pandang, "Jauhkan tangan kotormu dariku! kalau kau tak ingin cari masalah denganku!" Gertak Muffy dengan sudut bibir terangkat.
Brandon berbalik ke arah teman-temannya sambil tertawa lebar, sedangkan teman-temannya memucat tak merespon. Apakah gadis di hadapannya ini sebegitu menakutkannya.
"Memangnya kenapa? Bukankah kau yang mencari masalah denganku? Jadi apa salahnya menakutimu sekarang. Kalau kau menangis, dan berlutut memohon padaku. Aku akan melepaskanmu sekarang! Bagaimana? Tawaranku bagus bukan?" Ajak orang itu yang bakal menyesali perkataannya.
Fiuh...
Muffy meniupi poninya dengan napas hangat. Agar poninya yang berantakan bisa rapi lagi, sempat-sempatnya dia mengaturnya.
Bug!
Muffy menendang selangkangan orang itu yang tak memiliki penjagaan sama sekali, hingga ia menjerit kesakitan, dan tersungkur di lantai. Ia menunjuk wajah Muffy sambil memegang itunya. Muffy berjongkok tepat di hadapan orang itu.
"Aku harap punyamu kali ini tidak bengkok mengingat sudah berapa kali selangkangan orang yang sudah ku tendang sama sepertimu. Aku pikir kau memerlukan UKS? Atau kau perlu dirujuk ke rumah sakit?" Kata Muffy dengan alis terangkat bertingkah sekeren mungkin, padahal hati dan pikirannya berkata lain.
Apa yang telah kulakukan, biaya rumah sakit, biaya rumah sakit di mana harus kudapatkan lagi! Mengingat uang jajanku dipotong oh tidak. Ku harap dia tak meminta biaya untuk perawatannya, pikir Muffy tanpa menunjukkan raut wajah gelisahnya.
"Apa kau bilang bengkok?!" Wajahnya mulai memucat,
Ditambah lagi dengan anggukan Muffy dengan menggigit bibir bawahnya berakting serius tanpa ada kebohongan apa pun. Ia sebenarnya menahan tawa saat menggigit bibir bawahnya.
"Siapa saja selamatkan aku dari gadis gila perusak masa depan!" Jerit Brandon meminta bantuan teman-temannya, tetapi tak diidahkan oleh mereka.
__ADS_1
"Bukankah aku sudah menegurnya," Bisik temannya tidak percaya.
"Tinggalkan saja dia! Aku masih waras untuk menyelamatkan masa depanku." Bisik teman lainnya.
Mereka pergi meninggalkan Brandon yang mengeluh kesakitan. Muffy menatap nanar orang di hadapannya . Apalagi teman-temannya tidak ada yang mau membantunya. Mau tak mau dia juga harus bertanggung jawab terhadap orang ini, apalagi dia tak bisa menanggung biaya rumah sakit yang bakal menguras kantongnya.
"Aku akan menemanimu. Jadi ingatlah jangan menunjukkan batang hidungmu lagi di hadapanku setelah kau beristirahat di UKS!" Kata Muffy memperingati sambil tersenyum tipis.
Muffy melirik orang yang di sebelahnya, dengan mengangkat tangannya menunjuk korban bullying itu. "Dan kau! Jika dia berani merisakmu beritahu saja aku, ok! Kau hanya perlu datang ke kelasku di 11 IPA 1." Lanjut Muffy sambil mengedipkan mata kanannya.
Di tempat berbeda seseorang sedang mengutiti Muffy. Dia menahan tawanya sedari tadi, apalagi dia melihat kejadian langka. Jarang sekali ada seorang gadis yang biasanya ketakutan menatap mata seseorang yang sedang mengancamnya bakal lari terbirit-birit saat digertak seperti itu.
Tapi dia berbeda, dia malah membalasnya, dan membicarakan sesuatu yang seharusnya seorang gadis tak boleh membicarakannya. Manisnya, batin Mexim sang pengutit.
Mata Mexim terbelalak melihat sesuatu yang membuatnya terbakar api kecemburuan.
"Bukankah itu Mexim? Tampannya!" Jerit para gadis yang melewati Mexim, mata meraka tak lepas melirik Mexim yang bersembunyi
"Aku ingin sekali dekat dengannya!"Bisik gadis yang lainnya sambil meloncat-loncat kegirangan.
Sayangnya mereka tidak dihiraukan oleh Mexim yang masih fokus dengan Muffy. Dia menahan kemarahannya sambil menggaruk tembok yang susah untuk digaruk. Dia harus menahan cemburu sekarang.
Tiba-tiba ada batas bagi mereka untuk tidak bisa mendekati Mexim. Bagaimana tidak? Aura api kecemburuan berkobar-kobar di sekelilingnya. "Ku pikir dia ingin sendiri. Ayo kembali ke kelas!" Seru gadis itu merinding menarik temannya untuk pergi.
***
Muffy melihat orang itu yang sudah terbaring di atas tempat tidur. Dia tak berhenti mengeluh, dan meminta pertanggung jawaban padanya hingga membuat kupingnya panas.
"Diamlah! Sebelum itu mu makin parah lagi!" Ancam Muffy sambil berkacak pinggang.
Brandon menekuk wajahnya, "Ba-baiklah!"
"Dia perempuan atau tidak sih?" Gumam Brandon yang didengar oleh Muffy yang sudah melototkan matanya.
Dia mengatupkan mulutnya tak akan bicara banyak lagi, dan beristirahat dengan baik.
"Anak pintar!" Puji Muffy mengelus rambut Brandon yang bersikap patuh padanya, dan itu sudah menjadi kebiasaan Muffy.
Deg!
Degupan jantung begitu cepat terjadi pada Brandon. Dia memalingkan wajahnya sambil merona. Sedangkan Muffy mengerutkan keningnya terheran-heran dengan sikap mendadak Brandon yang membuang muka darinya.
__ADS_1
"Waktunya aku kembali ke kelas, sampai jumpa! Ingat aku akan mengawasimu, dan jangan sampai pandangan kita bertemu. Atau aku mendapatimu melakukan tindakan tidak terpuji seperti tadi. Jika kau melakukannya lagi itumu mungkin akan menghilang untuk selama-lamanya." Ancam Muffy dengan kesadisan yang di luar akal sehat.
"Cih...baiklah!" Decak Brandon kesal.
Dia menatap punggung Muffy yang keluar dari pintu itu. Senyum lebar tersungging dibibirnya untuk pertama kalinya dia merasa sangat terhibur di sekolah ini. apalagi sikap gadis itu berbeda dengan yang lainnya, yang selalu saja bersikap sok manis yang ingin membuatnya muntah.
***
Muffy sudah menutup pintu UKS rapat-rapat. Dia langsung menjatuhkan tubuh mungilnya ke lantai. Apakah dia sudah gila? Untung saja dia bisa menang dari berandalan itu. Dan dia berharap orang itu akan baik-baik saja.
Dia mengambil kembali kacamatanya yang tersimpan di balik kemeja almamater merahnya. Setelah itu dia memakainya, dan membenarkan posisi berdirinya.
Plak! Plak! Plak!
Muffy menepuk-nepuk wajahnya, dan menyemangati dirinya untuk hari ini dia telah menghindari orang-orang yang membuatnya ketakutan seharian ini. Terlebih lagi orang yang bernama Mexim itu. Semoga saja dia tak bertemu dengannya lagi,
"Sedang memikirkanku?" Kata seseorang membuat Muffy tersadar dari pikirannya.
Muffy menoleh ke arah orang itu, dia tak bisa memikirkan kata apa lagi yang perlu ia katakan selain dia harus kabur lagi.
Grep!
Orang itu menahan kerah kemeja belakang Muffy, "Mau ke mana kau? Kabur lagi?" Muffy menoleh ke arah orang itu dengan wajah memucat.
Orang itu melepaskan tangannya dari kerah Muffy. Raut wajahnya kali ini terlihat melembut. Muffy malah takut melihat muka seperti itu. Biasanya dia melihat wajah itu dari kejauhan terlihat dingin, dan cuek.
Tapi kali ini berbeda, kenapa dia membahas orang itu seolah dia senang curi pandang padanya. Dia mendekatkan mulutnya ke telinga Muffy sambil berbisik.
"Apa yang kau pikirkan? Memuji ketampananku? Tenang saja aku senang dipuji olehmu."
Muffy menekuk wajahnya, apa yang dia bicarakan? Padahal dia sedang ketakutan sekarang.
"Ada suatu hal yang sangat penting ingin ku katakan padamu!"Dia mengacuhkan apa jawaban Muffy,
"Menikahlah denganku setelah itu kita pacaran!" Lanjut Mexim sambil menjerit di koridor sekolah ini.
Orang-orang yang berada di sekitar mereka yang menyanjungnya, dan sekedar lewat saja terpaku dengan pengakuan Mexim yang sedang melamar seseorang.
Ia membuat Muffy diam seribu bahasa. Dia sedang menembaknya atau sedang melamarnya. Buluk kuduknya seakan berdiri, dan ini sangat memalukan. Siapa saja tolong telan aku!
Di tempat berbeda, orang yang berada di dalam UKS yang sedang menahan rasa sakitnya dengan jalan tertidur, ia membuka matanya lebar sambil mengernyitkan keningnya setelah mendengar keributan di luar sana.
__ADS_1
"Mereka benar-benar menggangguku. S*al! Andaikan punyaku tidak kesakitan akan ku sumpal mulut mereka dengan kaus kakiku yang bau ini!"Kesal Brandon sambil menutup wajahnya dengan lengan kanannya.