CINTA KONYOL

CINTA KONYOL
BAB 8 - Cute?


__ADS_3

Setelah pulang sekolah seseorang berdiri di depan pintu anak kelas XI IPA 1.


Ia akan berusaha mengenal seseorang yang bisa merebut hati pangeran tak tersentuhnya itu.


Dan sebelumnya saat di kelas ia hampir ingin memakan buku pelajarannya.


Itu karena sikap pujaannya yang senang mengkhayalkan gadis yang disukainya.


Dan paling membuatnya tidak terima adalah dia menggoda gurunya, dan menganggap gadis itu adalah gurunya.


Kenapa bukan dia saja yang ada diposisi itu sih?


Yang di mana tangannya di sentuh, walau hanya sekedar dianggap orang lain.



Tap...tap...tap...


Semua siswa-siswi berlalu lalang keluar kelas.


Dan ada salah satu dari mereka berhenti dan memanggil gadis yang nampak bergumam sendiri di bangkunya.


Dan kedua temannya berusaha menyadarkan dan mengajaknya pulang bersama.


"Muffy! Kak Aria mencarimu!"


Kedua sahabat Muffy pun menoleh, dan mereka berbisik.


Pasti ada udang di balik batu, karena seniornya ini sebenarnya terkesan dingin dan senang merendahkan orang lain.


Namun mereka tahu juga bahwa seniornya ini sangat menyukai lelaki yang sekarang sangat menyukai sahabatnya, Muffy.


Muffy pun tersadar dari lamunannya dan menoleh ke arah pintu, dan seniornya berjalan ke arahnya.


Dengan parfum harum semerbak, jangan bersin, jangan bersin.


Muffy tidak suka mencium bau parfum berlebihan.


Aria melempar senyum menawannya pada Muffy, dan gadis itu membalasnya juga.


Salah satu teman Muffy mencolek Muffy, dan memberi peringatan padanya, "Kau harus berhati-hati dengannya!


Aku pikir dia memiliki maksud tersembunyi!"


Muffy memberi tatapan tak setuju dengan teman-temannya, "Kita tidak boleh berpikiran seperti itu padanya, tanpa melakukan apa pun, misalkan memanfaatkannya?


Hehehe..." Entah kenapa mimik wajah Muffy berubah menjadi mesum, dan hidungnya meneteskan darah.


"Ekspresimu benar-benar mengerikan Muffy!" Panik temannya,


Muffy menyeka hidungnya dengan menunjukkan mata berapi-api,"Setidaknya ini adalah kesempatanku , untuk bertanya apa pun mengenai kak Gerald, 'kan?" katanya sambil mengacungkan kepalan tangannya di depan dada.


Sebelumnya Muffy bertingkah aneh bahwa kehidupannya telah berakhir karena ulah orang itu, yang sama sekali tidak berhenti mengganggunya.


Namun sepuluh menit sebelum memulai pelajaran, dia [Gerald]datang kepadanya dan meminta maaf soal sikap dan tingkah laku sahabatnya yang berlebihan itu.


Seketika tubuh Muffy bergetar, saat ia bertanya apa dia baik-baik saja?


Seolah Muffy mendapat jackpot, senior yang disukainya itu mengkhawatirkannya.


"Sepertinya percuma aku khawatir padamu. Ketika ada orang yang jauh lebih tampan, dan keren mengejarmu.


Malah kau menyukai yang lain, dan notabene sahabatnya sendiri, dan dia sudah memiliki kekasih.


Dan Kau masih menginginkannya. Dasar bodoh" Ujar Amanda tak habis pikir dengan nada sarkastisnya itu.


"Kita jadi pulang bareng tidak?" Tanya Aria dengan mata berbinar, dia pasti tidak akan menolak ajakanku, mana mungkin Aria ditolak.


Muffy mengangguk setuju, dan ia sudah menyediakan buku catatan kecil ditangannya, ayolah kesempatan emas untuk mengetahui selak-beluk senior Gerald adalah hal utama.



Mexim berkaca di depan cermin, ia mencoba bersikap imut.

__ADS_1


Setelah mempelajari berbagai macam gaya sampai ia harus rela menghabiskan kuota di hapenya menonton berbagai tingkah imut anak kecil, ntahlah apa yang ia perbuat.


Ini memalukan, dan mencoreng kepribadiannya saat ini.


Walau begitu ia menampik semuanya demi belahan jiwanya.


Mungkin jatuh cinta pada pandangan pertama itu penting, atau bisa dibilang cinta itu buta.


Apa saja akan dilakukan?! Demi membuat orang yang dia sukai mulai merasakan hal yang sama padanya.


"Oh mungkin seperti ini terlihat imut, hmm...ayo kita pulang bersama, ya? Hmm..." Ucap Mexim dengan mengatupkan mulutnya, menggebungkan pipinya, mata berbinar layaknya anak kecil, kedua tangan bertautan, dan menggerakkan tubuhnya ke kiri dan ke kanan.


"Apa dia sudah gila?"


"Dia tidak gila cuman kurang waras saja."


"Sama saja bodoh!"


Mexim sudah bersiap-siap mengambil tasnya, dan segera ingin menjalankan misi cintanya yaitu mendapatkan hati Muffy.


"Aku duluan semuanya! Doakan aku ya nanti bisa digigit bukan menikah denganku bukan maksudku dekat dengan belahan jiwaku!


Dan Gerald sampaikan kepada Malika aku tidak bisa pulang bersamanya." Ujar Mexim yang telah berlari keluar kelas, dan menghilang begitu saja.


Gerald nampak tertunduk lesu.


Dia pulang bersama Malika lagi. Apakah ia akan berakhir ditoko belanjaan lagi?


Namun ekspresinya kembali semula, saat teman-temannya mengatakan hal yang tidak-tidak.


"Aku turut berduka cita padanya!" Ucap mereka kompak.


"Dia belum mati!" Datar Gerald tak habis pikir.


Setelah mengatakan hal sebelumnya, mereka malah menangis.


Hingga membuat Gerald mengerutkan keningnya. Dan bertanya, "Kenapa kalian menangis?"


Gerald memijit tulang hidungnya yang mancung itu, frustasi dengan sikap temannya, tidak Mexim, dan tidak mereka.


"Bagaimana bisa selama ini aku malah berteman dengan para idiot ini? Terserah kalian, aku pulang duluan!" Sinis Gerald berpamitan pada temannya sambil mengambil tasnya.


Saat ia sampai di ambang pintu, ia membuang napas berat.


Dia tidak bersemangat bertemu kekasihnya, Malika adik Mexim.


Namun ia juga tidak berdiam lama di sini, bisa-bisa ia pendarahan otak.


"Kenapa dia akhir-akhir ini sesintif ya?" Tanya Hans sambil mengelus-elus dagunya.


"Mungkin dia mengalami gejala datang bulan." Jawab Mark begitu yakin tanpa ada candaan.


Mereka kompak memberi ekspresi datar kepada Mark, "Dia itu laki-laki, bodoh!"


Tak lama setelah itu seseorang datang, mereka tahu orang itu.


Ia salah satu bagian dari kelompok mereka.


Namun penyakit narsisnya sudah sangat kronis, "Sang kapten basket yang tampan ini muncul!"


"Abaikan saja dia!" Bisik Ronald sang playboy yang suka menggoda banyak wanita, akan tetapi, sifat narsisnya kalah jauh dengan Gary.


"Ke mana Mexim dan Gerald?" Tanya Gary sambil celingak-celinguk mencari keberadaan dua makhluk hidup tersebut.


"Kau telat. Mereka sudah pulang duluan." Jawab Mark mengabaikan perkataan Ronald.


"Payah! Padahal aku ingin mengajak mereka berfoto bersama.


Pasti para penggemarku kecewa, karena mereka mengingikan aku berfoto bersama mereka." Ucapnya getir dengan menatap sendu layar hapenya sambil memeriksa fotonya di media sosial miliknya.


"Kali ini aku menyesal menjawab pertanyaannya," Parau Mark tingkat narsis temannya itu sudah melewati ambang batas kenyataan.


Hans meletakkan tangannya di depan dada, lalu ia berkata, "Orang-orang yang ia anggap penggemarnya adalah halusinasi semata, mereka hanya menginginkan wajah Mexim dan Gerald.

__ADS_1


Dia seorang anak SMA dengan tingkat kenarsisan yang tinggi. Jadi pura-pura saja, kita tidak kenal dia!"


Mereka semua kompak keluar dari ruangan ini, dan memiliki tujuan sama yaitu pulang ke rumah masing-masing.


Daripada harus melayani curhatan tidak berfaedah milik Gary.


Saat Gary mengangkat wajahnya, semuanya telah menghilang, "Ke mana mereka?"



Seorang lelaki berperawakan tinggi tegap berjalan menyusuri koridor sekolah, tujuannya hanya satu mengajak belahan jiwanya pulang bersama.


Sekarang waktu pulang sekolah, jadi otomatis banyak siswa-siswi berjalan menuju pintu keluar sekolah ini.


Dan hal sering terhadi pun dimulai.


Itu karena kedatangan Mexim yang berhasil membuat mereka takjub, dan memilih berhenti dan memperhatikannya.


"Ya tuhan. Dia tampan sekali!" Ujar salah satu dari para siswi di sekolah ini.


Mexim nampak tak terganggu dengan berbagai pujian para siswi tersebut padanya.


Sedangkan ia malah memilih mengkhayalkan dan tersenyum sendiri, saat ia menggambarkan bahwa setelah ia bersikap imut, belahan jiwannya angkat menggigit pipinya.


Ceklek!


Salah satu dari mereka memotret wajah Mexim tersenyum.


Seakan napasnya tercekat. "Astaga!Dia tersenyum! Pasti kepadaku!" Jeritnya histeris.


"Bukan! Tapi kepadaku."


"Kau jangan bermimpi di siang bolong! Dia itu tersenyum kepadaku!"


Sekali lagi sang pemilik senyum menawan tadi, tampak tidak tergubris dengan jeritan mereka yang memperebutkan dirinya.



Mexim telah berada di depan kelas Muffy.


Ia pun mencari keberadaannya. Saat ia melirik sekitar kelas ini.


Gadis itu tidak ada, tetapi hanya dua orang gadis lainnya yang sedang bersiap-siap akan pulang.


Mexim pun mencoba menanyakan di mana Muffy berada kepada dua orang gadis itu.


Ia berharap dia tidak terlambat untuk pulang bersama dengannya.


"Maaf mengganggu! Apakah Kalian tahu di mana Muffy sekarang?" Tanya Mexim,


"Dia sudah pulang, Kak!" Jawab gadis berambut panjang.


"Benarkah?" Pekik Mexim masih ingin memastikan pendengarannya.


Mereka berdua kompak menganggukkan kepala.


Setelah itu Mexim berpamitan pergi dengan raut wajah sangat kecewa.


Sedangkan dua orang gadis tadi adalah sahabat Muffy.


Mereka tampak melirik satu sama lain.


"Astaga Karin! Dia tampan sekali! Sepertinya aku panas dingin deh sekarang!" Heboh Amanda menarik dan membuang napasnya berulang kali.


"Iya, benar kuakui itu." Jawab Karin dengan ekspresi yang sulit ditebak, alias datar. Memang sifat Karin begitu tomboy dan dingin.


"Aku harus mengirimkan pesan pada Muffy. Ia harus tahu tentang ini.


Bagaimana bisa ia mengabaikan Mexim seperti ini.


Sedangkan ia malah tidak menyerah menyukai Gerald, yang jelas-jelas sudah memiliki kekasih yang sangat cantik. Yang tak lain adik Mexim sendiri."


Send...

__ADS_1


__ADS_2