CINTA KONYOL

CINTA KONYOL
BAB 13 - Brain is a genius boy (2)


__ADS_3

Kepalanya Muffy serasa mau meledak.


Bagaimana tidak kedua manusia yang menginginkan bangku di sebelahnya.


Sedang berdebat dan tak berunjung.


"Oi Pendek! Di sana masih ada tempat kosong.


Kenapa kau mesti mengambil tempatku!"


"Tempat itu punyaku. Dan aku tidak peduli kalau ini tempat dudukmu."


"Apa kau bilang?!"


"Menyingkir!"


"Apa?!"


"Kau mengerti bahasa indonesia yang baik dan benar, bukan?"


"Lalu apa hubungannya dengan bangkuku?! Kau itu hanya anak baru!


Jangan seenaknya menganggap tempat ini milikmu, dasar bocah berwajah imut!"


"Lalu itu urusanku? Menyingkir gadis cantik dengan bedak tebal!"


"Apa kau bilang? Bedak tebal? Aku hanya menggunakan bedak tipis!"


Amanda berdiri dari bangkunya. Tubuhnya yang tinggi dengan ukuran yang melebihi mampu membuat Brain melongo, "Cebol!" Ledek Amanda .


"Tiang listrik!"


"Kalian berdua berhenti berdebat. Huft..huft..." Muffy meniupi kepalan tinjunya pas di bagian tengah, dan meletakkannya ke telinga kiri dan telinga kanan.


Ia melakukannya berulang kali, ia merasa gendang telingannya mau pecah.


"Kalau di antara kalian tidak ada yang ingin pindah.


Lebih baik aku yang pindah. Permisi!" Seru Muffy sudah berdiri ingin meninggalkan bangkunya sendiri.


Grep!


Mereka berdua kompak menahan tangan Muffy.


Raut wajah mereka begitu horror, otomatis bulu kuduk Muffy merinding.


"Duduk!" Perintah mereka otoriter tak bisa dibantah seperti sersan dalam memerintahkan anak buahnya saat menghadapi sebuah peperangan,


dan jelas itu menakutkan suara mereka terlalu menggelegar.


Otomatis Muffy mengikuti perintah mereka yang tak terbantahkan.


"Biarkan aku pergi! Ku mohon!"


"Berhenti bersikap dramatis! Kau harus memilih di antara kami. Aku atau dia?!" Tanya mereka kompak.


Muffy berpikir sejenak, "Ini terlalu sulit. Di satu sisi ada sahabatku.


Di sisi lain ada seseorang yang paling kukagumi kecerdasan otaknya," Ujar Muffy membuat mereka berdua tak ingin menunggu.


"Pilih cepat!"


"Yang mana?"


"Hei kalian! Kalau kalian masih ingin belajar di mata pelajaranku segera patuhi permintaan anak Brain!" Titah pak Dodit tak ada kata bantahan.


Amanda nampak tak terima, dan sebelumnya ia begitu takut dengan kehadiran pak Dodit.


Tetapi karena beliau bersikap berbeda, ia pun memutuskan akan yakin dengan perkataannya dan takkan goyah,


walau terjadi perang ke tiga pun dia ladeni. "Bapak pilih kasih!"


Pak Dodit menaikkan satu alisnya, ia benar-benar pria tua yang menyeleneng dari profesinya,


dan menjadikan profesinya sebagai senjata untuk mengancam anak di bawah umur.


"Kamu mau saya usir keluar?" Matanya membulat marah, dan satu hal alisnya belum turun, tidak pegal kah? Ntahlah...


Amanda menelan ludahnya, ia sudah gugur duluan sebelum perang terjadi. "Tidak pak! Saya akan pindah,"


Ia segera membereskan semua barangnya.


Bahkan alat make up yang disembunyikan jauh ke dalam lacinya itu ia harus keluarkan itu semua.


Dia melakukannya setengah hati.


Dan ia tak berhenti meledek guru itu.


"Dasar guru botak jelek berwajah ikan, makanan sehari-hari sebagai seorang penjilat!"


"Apa kamu bilang?" Tanya pak Dodit dengan suara meninggi siap melahap Amanda.


"Tidak ada pak! Saya cuman ke ingat sama kucing saya yang mengalami kebotakan dini pak."


"Siapa yang menanyakanmu masalah kebotakan? Kamu mau ngeledek saya?"


"Betul pak, eh maksud saya bukan begitu pak. Sudah pak sudah saya pindah." Balas Amanda segera mengangkat kaki dari bangku lamanya menuju bangku barunya.


Guru itu mengangguk mendengar jawaban Amanda yang tepat.


Tak lama handphone yang tersimpan di balik saku celana kainnya itu bergetar.


Ia pun meminta izin anak-anak mau mengangkat telepon sebentar, lalu keluar.


Di sisi lain saat Amanda mau pergi, Muffy menahan tangannya sambil menunjukkan ekspresi sedihnya.


"Tenang saja! Kita masih berteman!" ucap Muffy mantap,


ia benar-benar berusaha menjadi teman yang baik dan berpikir lurus ke depan, tidak berbelok, atau pun menyimpang.

__ADS_1


Kening Amanda seakan berkedut. Jadi selama ini dia menganggapnya apa?


Dia benar-benar tidak yakin itu menghiburnya. "Diam kau! Itu bukan penghiburan untukku.


Berhenti meledekku." Balas Amanda dengan nada sarkastis.


Lalu Amanda mengambil tangan Muffy penuh, dan menggenggamnya erat. "Aku pergi!


Jangan merindukanku. Karena ku tahu kau tak berpikir hal yang sama denganku. Dan itu menyakitkan,"


Seseorang sudah begitu kesal dan berusaha menahan amarahnya hampir meledak.


Ia merasa seperti sahabat angin.


Tak dihiraukan seperti biasa.


Apalagi kedua sahabatnya itu bertingkah berlebihan dan menganggap bahwa hanya ada mereka saja di kelas ini.


Ia dengan inisiatif sendiri.


Melemparkan penghapus dengan bungkusan merek yang sudah menghilang entah ke mana, ia layangkan ke kepala bagian belakang Amanda.


"Oi monyet! Kau menganggapku apa? Dari tadi aku sudah bersabar.


Kau mau pindah ke tempatku.


Tapi kau bersikap seolah aku tak ada. Cepat ke sini.


Sebelum aku sendiri yang mendepakmu." Ancam Karin yang tak lain sahabat tomboy mereka.


Semua orang yang ada di dalam kelas sudah terbiasa dengan tingkah ketiga makhluk astral itu yang tingkat keabstrakannya bukan main.


"Kau lihat, Muffy? Dia cemburu pada kita!"


"Iya benar sekali. Kalau kau mau juga kemarilah.


Aku akan memelukmu dengan cara pelukan teletubies, tapi sayangnya aku tidak punya kostumnya, lain kali aku akan membelinya."


Kali ini jidat Karin berlipat-lipat dan ia pun dengan dinginnya, "Tidak, terima kasih. Mulai sekarang kalian adalah orang asing bagiku."


"Wah dia ngambek!"


"Beneran!"


Amanda segera berjalan ke bangkunya meminta maaf pada Karin yang nampak bungkam dan dingin sedangkan Muffy hanya menitip kata maafnya pada Amanda.


Sedangkan Brain bersorak penuh kemenangan.


Muffy menatapnya dan kemudian dia meraih tangannya, mereka berjabat tangan.


Muffy tampak antusias.


"Hai salam kenal! Aku penggemarmu."


Brain kehabisan kata-kata. Dan ia hanya menjawab dengan kata, "Hai..." padahal dalam hatinya, astaga Kumiko-chan memegang tanganku. Argh...jantungku sakit sekali.



Bagaimana tidak Muffy harus mendengar dengkuran keras dari anak pindahan di sampingnya.


Apalagi pelajaran sekarang adalah Fisika.


Belum lagi guru itu dengan gaya gemulainya mengajar, tak sama  gemulainya dengan soal yang ia berikan.


Gila, itukan pertanyaan sangat sulit setingkat pertanyaan olimpiade nasional, ibu! Ini otak bukan kalkulator atau pun buku cetak.


"Ada yang bisa jawab? Ini pertanyaan mudah." Tanya ibu Ani sambil melenggak-lenggokan pinggulnya, sensor anak di bawah umur.


Ibu Ani terdiam.


Dengan beraninya ada seorang murid yang tidur di kelasnya, dan hebatnya lagi ia mendengkur dengan keras.


Bukannya mendengar suara dan acungan tangan ia malah mendapatkan hal yang tidak diperlukan.


Ia pun marah dan melempari anak itu dengan penghapus papan tulis.


Sontak saja ia terbangun. Dan mengeluh kesakitan,


Brain mengangkat kepalanya, dan menoleh sekitar, lalu ia berkata, "Siapa yang melempariku dengan sengaja?!" Jeritnya kesal, ini pertama kalinya dia diperlakukan seperti ini.


Muffy mencolek Brain, memberinya kode bahwa yang melakukan itu adalah guru.


Brain terdiam sejenak saat bola matanya bertemu dengan Muffy.


Iya benar Brain dapat jackpot tapi ntah kenapa dia kehabisan kata-kata kalau berbicara dengannya Kumiko-Chan nya sampai sekarang,


padahal dia ngebet ingin bersekolah di sini dan berkeinginan menanyakan banyak hal padanya.


"Saya baru lihat kamu di kelas ini. Kamu anak baru ya?" Tanya ibu Ani selaku guru fisika yang terkenal dengan sifat gemulai dan centilnya itu.


Ia termasuk saingan cintanya ibu BK, bu Kumala.


Brain tak menggubrisnya ia malah terdiam membeku ditempat.


Muffy berusaha memberi kode mata berulang kali pada Brain.


Bahwa bu Ani sudah mendekat ke arah mereka.


"Kamu dengar saya tidak?" Kali ini sorot mata bu Ani nampak ingin menelan Brain hidup-hidup sambil tangannya sudah mencengkram bahu anak itu.


Brain nampak kesal. Ia tak suka diganggu, "Berisik!"


"Apa kau bilang?!"


Brain menoleh dengan wajah kaku. Sedangkan Muffy dan yang lainnya cengo menatap tingkah laku Brain.


"Kau bilang saya berisik?"


Brain hanya diam. "Oh kamu ngelawan saya dengan cara diam.

__ADS_1


Baiklah...aku akan mengeluarkanmu dari kelasku. Kecuali kau berhasil menjawab pertanyaan sulit di atas." Ancam guru itu menantang Brain sambil menyodorkan spidol papan tulis.


Di seberang tempat duduk sana yang masih menyimpan dendam terpendam pada anak baru itu yang seenak jidatnya mengambil bangkunya,


padahal sumber ilmu pengetahuannya ada di sana, artinya nilainya berpengaruh besar dengan nilai Muffy, alias ia senang menyalin.


Ia kali ini mendukung sifat tegas bu Ani.


Namun ia mengatakannya dengan cara sembunyi, "Bagus bu! Hajar bu!"


"Siapa yang bicara itu?"


Semua orang yang ada di kelas menoleh ke arah asal-muasal suara sebelumnya.


Mereka bukan temanku, Amanda pun mengangkat tangannya.


"Kamu?!" Suara guru fisika itu melengking namun menyeramkan


Glek!


Amanda menelan ludah sekenanya.


Dan aha! Tiba-tiba ia memiliki umpan pengalihan.


"Iya bu itu saya. Ibu bedak yang kemarin saya pesan sama ibu.


Masak dikatain sama anak baru itu, jelek kayak ibu-ibu kondangan yang pakai bedaknya diwajah beda sama warna kulit ditangan.


Kan saya malu, dan dagangan ibu lama-lama ketinggalan pelanggan." Ungkap Amanda dengan ekspresi sedih, setengahnya benar setengahnya dibuat-buat agar lebih dramatis.


Bu Ani nampak percaya, ia semakin bertambah kesal.


Padahal sebagian dari penghasilannya, yang bisa membuatnya membeli apa pun disukainya dari hasil menjual make upnya.


Dan kalau ia kehilangan pelanggan hanya karena itu. Bisa-bisa ia puasa shopping.


"Cepat jawab pertanyaan di atas, kalau tidak aku akan mengeluarkanmu."Kali ini guru fisika itu takkan memberi keringanan sedikit pun kepada murid baru itu, ia akan membabatnya habis dan mempermalukannya.


Brain terdiam.


Dia berpikir sebentar menatap papan tulis.


Lalu ia pun mengangguk setuju. Dia pun berdiri dari bangkunya dan menerima spidol pemberian guru barunya itu.


Muffy menggeleng-gelengkan kepalanya, guru fisikanya tidak tahu bahwa Brain master fisika.


Sedangkan yang lain menatap was-was dan menganggap Brain akan habis ditangan ibu Ani.


Mengingat soal di atas sangat susah.


Dan juga semua orang yang ada dikelas masih meragukan Brain walau pak Dodit telah mengatakan itu.


Anak berwajah smp itu mana mungkin sejenius itu.


Brain telah berdiri di depan papan tulis. Ia menarik napas dalam, dan terdiam lagi.


"Kamu tidak bisa jawab ya? Jadi dengan berat hati kamu tidak boleh masuk ke kelasku hari ini dan seterusnya."


Brain yang mendengar ancaman seperti itu membuatnya menahan tawa.


"Kenapa kamu senyum-senyum sendiri kamu ngeledek saya, huh?"


Brain mengubah ekspresinya menjadi raut wajah polos dan tak berdosa, sontak itu menyilaukan yang lain.


Mereka semua terpesona dengan keimutannya, dan abaikan betapa berlebihannya itu.


Dengan sigap dan cekatan Brain menjawabnya dengan raut wajah serius.


Ia mengerjakannya dengan cepat dan tepat, dan tak lama ia selesai.


Bu Ani selaku guru fisika itu tertegun. Bagaimana tidak jawaban anak baru sangat tepat bahkan luar biasanya lagi.


Dia mengerjakannya dengan 3 macam metode, dengan tingkat kesulitan berbeda.


Dimulai dari pengerjaan tingkat Hard yaitu penjelasannya sangat panjang, dengan sangat terperinci dan benar, kedua tingkat medium yaitu tidak sepanjang yang tadi, namun mudah dimengerti.


Lalu yang terakhir, ketiga , tingkat easy yaitu singkat, padat, dan jelas.


"Benar semua." Ujar bu Ani tertegun.


Semua yang mendengar itu.


Langsung riuh dan bertepuk tangan, walau mereka berada di kelas unggulan yang sama, tetapi tingkat kejeniusan anak itu berbeda dengan mereka.


Muffy berdiri dari bangkunya, dengan suara lantang ia berkata, "Hormat pada Master!" lalu ia membungkuk memberi penghormatan kagum dengan kehebatan Brain.


Bu Ani pun diam membisu, seakan ingin menggigit lidahnya sendiri.


Ia pun dengan tingkat keberanian menciut bertanya secara terbata-bata, "Ka-kamu siapa?"


Brain mengangkat sudut bibirnya, ia takkan sombong.


Namun ia tak bisa menahan gejolak dihatinya yang berbunga, karena di notice Kumiko-channya, Muffy.


"Saya?"


Brain berjalan ke bangkunya, dan di sana masih ada guru fisika yang masih setia berdiri di samping bangkunya.


Ia pun berhenti di depan guru fisikanya. "Saya Brain Staind." Jawabnya, dan guru itu membeku.


Ia pagi tadi telah mendengar kehebohan guru-guru di ruang guru.


Karena untuk pertama kalinya seorang anak jenius, kepercayaan dan kebanggaan negara ingin bersekolah , apalagi dia memilih sekolah ini.


Padahal ia tak pernah mau belajar di sekolah.


Dan lebih memilih tinggal di rumah, dan menunggu panggilan menteri pendidikan.


Apalagi ia dibuatkan nama sekolah khusus untuk dirinya seorang.

__ADS_1


Jadi takkan ada yang protes kalau ia mengikuti perlombaan.


"Ja-jadi kamu adalah Brain sih anak jenius yang terkenal itu 'kan?" Ujar bu Ani latah.


__ADS_2