
Seorang gadis bernampilan kasual sedang duduk disofa tamu, ia menunggu adik kelasnya di sini.
Ya, ia adalah Aria. Dia adalah orang yang sangat menyukai Mexim.
Dan kalian sudah tahu apa tujuannya kemari di rumah Muffy.
Lututnya gemetar, gelisah. Sebab dia sudah menunggu sejam lamanya di sini.
Dan anak itu batang hidungnya belum muncul. Sebegitu lamakah ia berpakaian?
Sedangkan ia malah bertambah gugup, kedua adik Muffy menatapnya dengan tatapan tajam.
Dia akui adik Muffy memiliki paras yang tampan, tetapi mereka semua masih SMP.
Terlebih lagi dia tidak sengaja mimisan, mengapa bisa ada pemuda setampan itu, tidak harusnya Mexim selalu ada dihatinya.
Dan ternyata orang itu kakak Muffy. Dia sedang bersiap-siap pergi ke kampus. Dia tersenyum padanya.
Dia langsung mengkhayalkan tubuhnya jatuh ke lantai. Dia benar-benar tidak tahan.
Untuk melupakan sosok itu. Dia mengkhayal Mexim. Dia seratus kali lebih tampan dari kakaknya Muffy.
Dan kenapa malah khayalannya adalah saat Mexim membuka bajunya saat berkeringat bermain basket. Ok dia butuh rumah sakit!
Kenapa dia malah membahas asal-muasal kakak dan adik Muffy, dan sekarang menuju suami masa depannya, ini tidak baik.
Kembali lagi ke dunia nyata. Lamunan Aria kembali hancur, dan ia terselamatkan.
"Apakah kau orang baik?" Ayolah pertanyaan apa-apaan itu.
Mereka pikir dirinya seorang lelaki.
Seorang Aria yang biasanya merendahkan orang lain, takkan kalah dengan pertanyaan anak bau kencur itu, "Menurut kalian?"
"Kau sepertinya memiliki niat yang tidak baik pada kakak Muffy?" Tanya salah satu adik Muffy.
Glek!
Dia seperti menelan ludah sendiri. Mereka menebaknya dengan sangat akurat.
Kali ini tatapan mereka mengintimidasi.
"Apa yang kalian maksud?"
"Mengaku saja!"
Aria berpikir sejenak mereka seperti cenayang, dan apa-apaan mereka? Mengajaknya berbicara namun memulai dengan cara menyudutkannya.
Bug!
Muffy menjitak kedua kepala adiknya dengan tangannya, "Apa yang kalian lakukan?
Jangan membuat orang lain ketakutan karena sifat kalian yang brothers complex!" Tegur Muffy dengan menunjukkan raut wajah mengerikan, padahal sifat mereka yang brothers complex itu, hanya untuk Muffy.
"Kakak sakit! Kami hanya ingin melindungimu!" Pekik mereka kompak kesakitan.
"Hmm..." Aria mencoba memecahkan perdebatan kakak adik itu.
Namun ia harus menanyakan pakaian yang Muffy kenakan.
Apa dia yakin berpakaian seperti itu? Rasanya kepala Aria mau meledak karena Muffy.
"Apakah kau yakin dengan mengenakan pakaian itu?" Tanyanya getir dengan penuh tanda tanya, sedangkan orang yang ditanya hanya berputar-putar tidak jelas, dan mengatakan apa yang salah padanya.
"Kakak kau selalu terlihat cantik!" Puji salah satu adik Muffy sambil memberi tanda jempol kepada kakaknya.
"Aku diabaikan! Bagaimana bisa?"
"Kakak mari kita berfoto bersama!" Ujar adik laki-laki Muffy lainnya.
Dan Muffy tampak antusias dan menerima ajakan adiknya, dia berpose dengan menunjukkan raut wajah dingin serasi dengan pakaian dikenakannya.
Aria mengangkat sudut bibirnya, "Aku bisa gila!" Gumamnya lemah, lalu ia menatap lantai di bawah kakinya.
Mereka sudah berada di Lotto mall.
Dan gadis dengan rambut yang dikuncir dua, topi bunga, gaun gothic yang menampilkan kesan misterius melekat pas ditubuhnya, dan tak lupa payung sebagai nilai tambah...
__ADS_1
Ia berhasil membuat orang-orang terperangah.
Sedangkan gadis di sebelahnya yang terlihat berpakaian santai nampak risih, dan merasa geli, malu.
"Apakah hari ini ada acara cosplay ya?"
"Keren!" Ujar para pengunjung Mall, sesekali mereka mengambil gambar.
Aria yang sekarang berdiri di samping Muffy.
Ia mencoba mengajak bicara Muffy, lalu Muffy pun berbalik dan menatap Aria dengan sorot mata dingin.
Membuat Aria segan dan bulu kuduknya menegang.
"Iya? Ada apa?" Ujar Muffy dengan suara yang tak kalah dinginnya berbeda dengan sebelumnya yang terdengar ceria.
Bagaimana bisa hanya karena penampilan kepribadian orang berubah.
"Mengapa kau memakai pakaian seperti itu?
Dan juga hari ini cuaca cuman berawan , mengapa kau membawa payung?" Tanya Aria berusaha tenang, dan tidak membuat Muffy menatapnya jauh lebih tajam dari sebelumnya.
"Ini adalah gayaku." Jawab Muffy singkat dan dingin.
Aria berhenti di tempat, sedangkan Muffy berjalan terus ke depan tanpa memperdulikan orang lain yang sedang berbisik-bisik, dan mengambil potret wajahnya.
"Mengapa hal ini harus terjadi padaku?!" Gumamnya dilanda frustasi berkepanjangan ia pun menyusul langkah kaki Muffy.
***
Muffy dan Aria sekarang berada di sebuah cafe pancake, yang ada di dalam Lotto Mall.
Mereka duduk tepat di dekat jendela. Lagi-lagi Muffy menjadi pusat perhatian.
Pelayan cafe pun datang mendekati mereka.
Dan menanyakan pesanan mereka.
Muffy meminta secangkir teh hitam beserta kue scones hangat, roti lapis atau sandwich dan berbagai macam roti kering (pastries).
Aria merasa tak asing dengan pesanan itu, dan tiba giliran dia ditanya. Dan pilihan kesukaannya yaitu lemon tea dengan cheese cake.
Tak lama setelah itu pesanan pun sampai.
Bau aroma enak menyeruak masuk ke dalam penciuman, itu adalah kue pesanan mereka.
Pelayan itu dengan hati-hati menaruh pesanan mereka di atas meja.
Sedangkan Muffy bergegas menata celemek di atas pangkuannya.
Selesai menaruh pesanan mereka pelayan itu pergi.
Aria nampak dikejutkan berkali-kali seharian ini dengan tingkah Muffy yang bertolak belakang sebelumnya.
"Apakah kau yakin makan kue sebanyak itu?" Tanya Aria dengan ekspresi ingin tahun.
Muffy menjawabnya dengan senyum tipis, berhasil membuat Aria tertegun kehabisan kata.
Lalu Muffy dengan anggunnya menuangkan susu ke dalam tehnya.
Setelah itu memasukkan dua sendok gula ke dalam cangkirnya.
Kemudian ia mengaduk dengan sendok teh berlawanan arah dari depan ke belakang, bukan diputar.
Aria yakin dia sedang menunjukkan cara minum teh ala bangsawan kerajaan Inggris, yang biasa disebut dengan tehknik tea manner.
Aria merasa kecil. Dan ayolah kenapa suasana ini semakin canggung, ditambah lagi semua orang mencuri pandang ke arah mereka.
Dan ia cukup sadar yang sekarang menjadi pusat perhatian bukanlah dia. Tapi Muffy.
"Apakah anda tidak berselera sekarang? Kue anda akan dingin." Tanya Muffy dengan gaya bicara formal, dan terkesan tegas dan anggun.
Aria buru-buru memakan kue pesanannya setelah mendengar pertanyaan Muffy seolah-olah dari cara bicaranya, jangan menyia-nyiakan makanan yang sudah kau pesan.
Apakah hari ini rencananya gagal menggali informasi mengenai mengapa Mexim menyukai gadis itu, Muffy.
Muffy mengunyah kue scone hangat dengan memegang kue itu ditangan kanannya tanpa mengunakan sendok, garpu, atau pun pisau. Dan itu terkesan berkelas.
Sedangkan Aria menatap dirinya yang terlihat biasa saja, dan sepotong chesee cake yang ia pesan telah habis, dan lemon teanya yang berisi penuh digelas sudah habis disedot olehnya, dan suara sedotannya terdengar jelas dan bersisakan es batunya saja.
Dia sungguh luar biasa...
__ADS_1
Dan saat ku lihat diriku seperti butiran debu, tidak!
Kenapa kau memikirkan itu?!
Ini bukan saatnya mengaguminya, jadi inikah alasan Mexim menyukai gadis ini?
Lalu tiba-tiba...
Aduh kenapa tiba-tiba perutku sakit. Batin Aria sambil memegang perutnya yang kram.
"Muffy, sepertinya aku harus ke toilet sebentar." ujar Aria berpamitan dan ingin melaksanakan panggilan alam yang ada di dalam perutnya ini minta untuk dikeluarkan.
Muffy menghentikan aktifitas makannya, dan menaruh kue scone yang ia makan. Lalu ia menatap Aria,
"Baiklah! Jangan terlalu menahannya, dan keluarkan semuanya!" Kata Muffy tenang, dan sekarang semua orang berhasil memperhatikan Aria.
Sebab suara Muffy terlalu terdengar jelas, dan itu membuat raut wajah Aria merah padam dan ia berlari pergi.
"Aria toilet bukan ke arah sana!" Panggil Muffy dan ia menyebut namanya,
oh tuhan! Biarkan aku mati daripada merasakan malu seperti ini!
"Jangan menyebut namaku!" Pekik Aria yang tubuhnya sudah tidak terlihat lagi di ambang pintu keluar sana.
Sedangkan Muffy hanya menatap heran.
"Apakah aku salah mengucapkan sesuatu?" Gumamnya bingung sambil menyeka sudut bibirnya yang tersisa remahan kue scone tadi dengan serbetnya.
Lagi-lagi ia bertingkah misterius, dan elegan.
***
Seorang lelaki berjalan lemas dengan tas punggung miliknya dibiarkan bergesek dengan jalan setapak halaman rumahnya.
Dia benar-benar kecewa hari ini.
Kali ini dia tak bisa dielus, eh bukan, digigit, salah, menikah dengan eh salah. Tapi mengajak pulang tambatan hatinya lagi.
Ia mencoba menatap langit biru jauh di atas sana, dengan penuh tekat bahwa ia takkan menyerah.
"Aku takkan menyerah! Walau bumi berubah menjadi matahari atau batman menjadi penjahat,
sedangkan joker menjadi orang baik!" jeritnya sekencang-kencangnya sambil tangan kanannya mengepal ke atas dan hidungnya mengeluarkan asap saking semangatnya.
Ia pulang naik bus, dan tidak mengendarai mobil sama sekali.
Mengingat Muffy naik bus juga.
Dan tak ada yang tahu bahwa bajunya sobek karena keganasan para gadis bahkan sampai parah wanita berusia lanjut, itu disebabkan hanya mengaguminya yang seperti patung dewa Yunani.
Rambutnya sekarang acak-acakan, dan terdapat bekas lebam dimata kanannya, entah mereka menginginkannya atau ingin membunuhnya.
Walau begitu ia masih tak menyerah akan cinta setengah matinya pada Muffy.
Jangan mencoba mengejeknya kalau cintanya hanya setengah mati saja, namun bukan sepenuhnya.
Jika sepenuhnya sama saja ia akan mati beneran, dan tak bisa bertemu dengannya.
Drrt...
Bunyi dan geteran hape di balik saku almamater yang sekarang lagi mengitari perutnya.
Dia mecoba merogohnya, dan memeriksa.
Awalnya ia malas untuk meraihnya karena sekarang dia lagi frustasi, namun ia tak boleh mengabaikan jika ada sesuatu hal yang penting.
Keningnya berkerut kala melihat sesuatu yang ada di balik layar hapenya itu.
Sesuatu yang membuat matanya melotot lalu kemudian teduh,
"Dia manis sekali! Oke aku akan simpan!" Ujarnya tak bisa menahan senyum sumringan dan pesan ini berasal dari Gary yang mengatakan bahwa pujaannya sekarang menjadi berita hangat di instangame.
"Oke! Dia di Lotto Mall! Aku akan pergi ke sana sekarang!" Dia segera berlari menuju pagar halamannya yang berjarak 500 meter dari sini ke sana.
Sial! Dia melupakan dua hal: Yang pertama badannya bau perlu mandi dan menganti pakaiannya.
Ia harus menyesuaikan pakaiannya dengan yang dikenakan pujaannya itu, agar mereka terlihat seperti pasangan, dia terlalu berpikir liar.
Dan tidak ada yang memintanya untuk memakai pakaian yang sama seperti Muffy, jadi abaikan saja.
Yang kedua jika ia berjalan kaki ke sana, akan menghambatnya, dan ia takkan melupakan kejadian bus tadi.
__ADS_1
Jadi dia memerlukan kendaraan. Akan tetapi, jika ia berjalan sampai rumahnya lebih tepatnya ke bagasi, ia bakal harus berjalan sejauh 1500 meter.
Bagaimana bisa orang tuanya memiliki halaman rumah seluas ini!