
-Pukul 4 pagi-
Terjadi kegaduhan di hotel, semua pintu di buka dengan kasar oleh Jordan. Semua pengawal memeriksa satu per satu kamar hotel bahkan kamar mandi, gudang, semuanya tak luput dari pemeriksaan. Banyak pengawal yang turun hingga membuat para tamu ketakutan.
Amber dengan kesal dan marah menyuruh semua pengawal untuk pergi namun Jordan mengabaikan.
"FREYAAAA !!!!"
Jordan berteriak, Lorez mencoba untuk menenangkan.
"FREYAAA !!!"
"KEMARILAH APA KUPINGMU TULI !!"
"DIMANA GADIS ITU !!"
Jordan berteriak, dan mulai menendang i meja, dia begitu marah, pria itu seperti orang gila yang lepas kendali.
Orang-orang melihat dengan ketakutan, mereka tahu bagaimana tempramen seorang Jordan. Siapa yang tak kenal Jordan.
Mereka diam-diam saling berbisik,
"Matilah orang itu, siapa yang berani mengganggu Tuan Jordan."
"Apakah dia mencari seorang gadis atau pacarnya?"
"Bukankah Tuan Jordan begitu dingin dengan semua wanita bahkan aku mendengar rumor wanita-wanita penggoda yang setiap hari datang ke kantornya, tak pernah berhasil."
"Bahkan Putri Walikota saja bertepuk sebelah tangan."
Ya, begitulah para tamu yang ketakutan itu bergosip sambil berbisik-bisik.
Di sisi lain Amber menghubungi engawal-pengawalnya nya juga, sekarang para pengawal masing-masing sedang pada posisi siaga.
Freya datang dengan berlari memakai piyama nya.
Jordan bertanya kembali dengan berteriak.
"DIMANA GADIS ITU !!!!!"
Jordan mengatur nafasnya, kedua tangannya berada pada pinggangnya.
Kepalanya terasa sangat panas, sedang tangannya serasa ingin memukul sesuatu.
"Maaf tuan , tadi malam saya mengantar kan Nona, namun sampai di Lobby, Tuan Mateen menghentikan kami dan Tuan Mateen lah yang mengantarkan Nona Luna ke kamar."
Lorez memeloti Freya dan bergumam menggerakkan bibirnya.
"Apa kau b*doh !!"
Jordan memelototi Freya, seakan ingin membunuhnya, Freya hanya bisa menundukkan kepala menyesalinya, ia merasa bersalah tidak memastikan lebih dulu di kamar Luna.
Jordan bergegas menuju kamar Matheen dan menggedor-gedor kamar itu.
Mateen yang masih setengah sadar buru-buru bangun, melihat Luna masih tidur dengan pulas, dia bergegas membuka pintu, agar tidak mengganggu tidur Luna.
Setelah pintu di buka, Jordan mendorong Mateen dengan kasar dan menerobos masuk.
Jordan marah melihat Luna tidur di atas ranjang Mateen, Jordan menerawang, dan dia melihat sekeliling, ada bantal di sofa, banyak dokumen berserakan di meja dan sofa, dia bernafas lega mengetahui bahwa mereka tidur terpisah.
Namun amarahnya masih tinggi.
"Punya hak apa kau membawanya kemari !!!"
Tanpa menoleh Jordan berbicara kepada Mateen.
Para assisten dan pengawal masih menunggu di luar kamar.
"Pelankan suaramu, kau akan membangunkannya !!"
Mateen mencoba menahan amarahnya yang akan meledak pula.
Jordan menggendong gadis itu dan berhenti di samping Mateen tanpa menoleh.
"Kau mencoba bermain denganku, aku akan lihat sejauh mana keberanianmu !!"
"Jika kau menyakiti nya lagi, kau bahkan tidak akan bisa menghalangi ku untuk merebutnya dari sisihmu !!"
Mateen menekankan kalimatnya masih dengan menahan amarahnya, dia tidak ingin membuat suara keras menjaga agar gadis itu tidak terbangun.
__ADS_1
Jordan balik menatap Mateen. Kini tatapan mereka menjadi tatapan musuh. Mereka saling menatap tajam seakan ingin saling membunuh.
Jordan melangkah keluar dengan menggendong gadis itu kembali ke kamarnya.
Amber masuk ke dalam kamar Mateen.
"Jordan membuat semua tamu ketakutan."
"Dia seperti orang yang hilang akal, orang gila, pengawal-pengawalnya membuat keributan, semua kamar mereka geledah ."
"Lalu kenapa kau juga memanggil para pengawal kita."
Mateen duduk dan membereskan dokumen-dokumennya.
"Pergilah aku mau tidur."
Mateen kemudian merebahkan dirinya di ranjang.
Amber pergi dengan kesal, tak percaya dengan Mateen, bahkan gadis itu lebih penting dari tujuannya melebarkan sayap Hotel Amour sekelas Hotel Dream.
Mateen berbaring, menutup matanya dengan lengannya.
" tskk.... karena saking khawatir dan merasa tenang melihat Luna tidur, aku bahkan lupa menciumnya..."
"Luna, pantas saja Jordan sangat gila, kau punya sisi kecantikan yang lain, yang tidak dimiliki wanita-wanita di luar sana."
.
.
.
.
-Kamar Presidential Suit-
Jordan membaringkan Luna di ranjangnya dan menyelimutinya.
"Kau tahu aku sangat marah, hingga aku ingin merobohkan hotel ini, sihir apa yang kau berikan padaku."
Jordan bermain dengan rambut gadis itu dan membelai lembut pipi Luna.
Kemudian Jordan melepaskan piyama nya, ia terbiasa tidur dengan hanya memakai boxer tanpa baju.
Dalam kenyataan yang sesungguhnya, Jordan yang sedang bermain-main menggunakan lidah dan mulutnya di tengkuk gadis itu, hingga turun di bahu dan telinganya, matanya, pipinya sambil memeluk gadis itu dari belakang.
.
.
.
.
Keesokan harinya , Luna sangat nyaman memeluk sesuatu yang bagi dirinya itu membuatnya hangat, sedimit demi sedikit ia mulai terbangun meraba kesana dan kesini, dalam benaknya mulai bertanya, jantungnya mulai tak beraturan, dalam hati ia mulai bergumam.
"Seperti kulit manusia."
"Seperti dada manusia."
Luna meraba kesana dan kemari, ia terkejut, mata yang awalnya hanya berani melirik seketika melotot.
"Ya Tuhan ini adalah Tuan Jordan, kenapa aku bisa di sini !!"
"Apa kau sudah selesai meraba ku kesana kemari ?"
"Apa kah dada ku membuatmu sangat bersemangat?"
"Apakah kau tahu konsekuensinya?"
Jordan membalikkan badannya dengan cepat, membuat posisi Luna berada di bawah tubuh kekarnya.Gadis itu merasa canggung untuk bertanya, bahkan ia takut untuk melihat Jordan.
"Kau ingin tahu bukan kenapa tiba-tiba ada di kamarku ?"
Jordan bertanya, dan Luna hanya mengangguk pelan.
"Semalam aku bahkan ingin sekali memakanmu karena aku sangat marah padamu."
Jordan mendekatkan wajahnya pada wajah Luna. Menbuat gadis itu menutup matanya.
__ADS_1
"Tapi kau selamat, karena hari ini suasana hatiku sedang baik, mandilah kita akan makan di bawah."
Jordan berbalik dan melepaskan Luna.
Gadis itu dengan secepat kilat bangun dari tempat tidur berjalan dengan cepat bahkan nyaria berlari menuju kamar mandi.
Di dalam kamar mandi dia memegangi dada nya.
"Ya Tuhan, apakah jantungku baik-baik saja?"
"Apakah aku selamat lagi?"
"Aku benar-benar seperti melewatkan sesuatu..."
Luna memukul-mukul kepalanya dengan satu tangan.
"Aahh sudahlah aku benar-benar tidak bisa mengingatnya, tapi yang aku tahu sekarang aku harus cepat mandi jika tidak Tuan Jordan akan marah."
Jordan yang melihat tingkah gadis itu tersenyum,
"Sebegitu takutkah kau padaku, hingga secepat itu kau berlari ingin mandi dan menghindariku?"
Jordan memanggil Freya untuk menyiapkan keperluan Luna yang sekarang sedang mandi.
Setelah Freya selesai membantu gadis itu berhias mereka menuju restoran untuk sarapan, sedangkan Jordan masih bersiap di kamarnya, ia akan menyusul.
.
.
.
.
-Restoran Hotel Amour-
Orang-orang melihat sinis Luna, mereka mulai berbisik bisik. Entah apa yang mereka bicarakan. Luna merasa risih dan merasa sedang di perhatikan oleh banyak orang.
Setelah menunggu, akhirnya Jordan datang dengan pakaian casual nya, kaos lengan pendek berwarna putih , dan celana pendek berwarna hitam, membuat Jordan semakin tampan dengan kulit putihnya yang bersih, tak lupa jam tangan mahal melingkar di pergelangan tangan kirinya, kemudian ia duduk di depan Luna menikmati sarapan mereka.
Lorez datang mendekat membisikkan sesuatu kepada Jordan
"Tunggulah di sini aku akan segera kembali."
Jordan memegang tangan Luna.
Kini gadis itu duduk sendirian dan mendengar semua orang berbisik-bisik.
"Apakah itu gadis nya?"
"Astaga bahkan dia tidak secantik aku?"
"Kenapa dia terlihat kampungan?"
"Apakah benar dia gadis yang semalam membuat Tuan Jordan marah hingga ingin merobohkan hotel ini."
"Cihh..!!" "Apa hebatnya diaaa..."
Jordan kembali dengan suasana hati yang buruk, Lorez menerima kabar tentang Nathan Grup dan Anna, ia menyampaikan pada Jordan bahwa Anna mencoba mendekati Jordan, dan itu membuatnya harus bersikap tegas.
Jordan melanjutkan sarapannya, ia melihat gadis di depannya begitu pucat, kemudian meraba kening Luna. Sontak membuat semua orang yang sedang makan terkejut dan melototkan matanya.
"Kau tidak panas tapi kenapa terlihat pucat, apa karena makanannya tidak sesuai seleramu?"
"Atau kau merasa tertekan makan denganku?"
Tanya Jordan.
"Aku sudah kenyang, aku ingin kembali ke kamar."
Jawab Luna.
"Baiklah ayo kita kembali dan istirahat, nanti sore kita akan kembali ke negara K."
Jordan memapah Luna dan kembali membuat para wanita di ruangan itu terkejut, ada yang sampai mulutnya menganga, ada wanita yang menggigit serbetnya, ada wanita yang memegangi garpu serasa ingin membunuh seseorang, bahkan ada seorang wanita yang pingsan karena ia sangat memuja Jordan, ia dari keluarga elit yang ingin mengejar cinta Jordan
.
.
__ADS_1
.
-Bersambung-