CINTA MATI Seorang Mafia

CINTA MATI Seorang Mafia
-EPISODE 22- = LUNA ADALAH ROSSALIA


__ADS_3


Perusahaan Rossalia Grup -



Jordan masih memandangi hamparan gedung-gedung yang menjulang tinggi.


"Apa kalian tahu?"


"Gedung-gedung di bawah sana yang tak terlalu tinggi dan tak terlalu besar dalam 1 menit bisa ku matikan seluruhnya."


"Saham-saham yang beredar di luar sana bisa ku tekan hingga batas terendahnya."


"Hanya dalam 1 menit saja."


Benni dan Jenni berdiri mematung, mendengar Jordan berbicara, mereka merasa ada hawa dingin yang menusuk di tulang dan sendi.


"Duduklah."


Jordan memerintah tanpa menengok, tubuh tingginya terlihat gagah dengan tangan kanannya ia selipkan dalam saku celana.


Setelah mereka duduk di sofa, Jordan membalikkan badan, kemudian duduk di atas mejanya.


"Ada perlu apa?"


"Maaf Tuan, saya kemari ingin memberikan informasi, namun harga informasi ini tidak murah."


Benni menyela ibunya sebelum ibunya berbicara.


"Apa kau tahu siapa yang kau ajak tawar menawar."


Jordan berpindah duduk di sofa, tatapannya dingin dan ia sangat sinis.


"Maafkan kelancangan saya Tuan, tapi wanita yang anda bawa sebenarnya bukan bernama Luna."


"Aku tidak suka sesuatu yang berbelit-belit dan berputar-putar, katakan maumu, waktuku tidak banyak."


Jordan menatap Benni dengan sinis.


Kemudian berpindah kepada Jenni,


"Dan untukmu, apa kau lupakan perjanjian kita?"


"Anak mu sudah ku beli, kau mendapatkan banyak uang dan rumah mewah."


Jordan mulai malas dengan mereka.


Benni menyenggol ibunya, kini ia meminta ibunya untuk berbicara dan menceritakan kisah yang sebenarnya.


"Maafkan saya Tuan, ini memang kesalahan saya yang tidak dapat mendidik anak gadis saya dengan benar, bahkan saya berlaku kejam karena memang dia anak yang susah diatur."


"Saya menemukan gadis itu sekitar 13 tahun lalu atau 14 tahun lalu, mungkin umur gadis itu masih 6 atau 7 tahun."


"Saat saya menjemur baju di belakang rumah, ada sesuatu yang saya kira itu adalah ikan besar kemudian saya mendatanginya, tidak saya sangka dia adalah seorang gadis kecil yang terdampar di pantai, dia adalah gadis yang Tuan bawa saat ini."


Jordan terkejut dengan cerita wanita tua itu.


Seketika jantungnya seperti berhenti, dia menahan nafasnya lebih lama, kemudian menarik nafasnya dalam dan kini jantungnya berubah berdetak tak beraturan.


"Baju apa yang gadis itu kenakan waktu itu."


Jordan menatap dengan tatapan tajam.


"Jika tidak salah ingat baju merah jambu, atau putih Tuan, saya sudah tidak begitu ingat."


Badan Jordan semakin panas, dan detak jantungnya semakin cepat, nafasnya tak terkontrol, beradu dengan rasa takutya.


"Lanjutkan ceritamu."


"Baik Tuan..."


"Saat itu memang tidak banyak orang yang tahu, bahwa saya menemukan anak perempuan karena saya merahasiakannya, dan berkata pada orang-orang bahwa dia adalah anak yang saya adopsi."


"Saat itu dia penuh luka hingga kurang lebih 1 minggu tidak sadar, saya pikir dia akan mati, saya tidak punya biaya untuk pergi ke rumah sakit."

__ADS_1


"Namun Tuhan begitu baik, hingga pada hari ke 7 dia sadar, dan mengingat semua apa yang telah terjadi, bahkan dia mengingat namanya."


"Siapa namannya."


Jordan mulai mengepalkan tangannya, menegakkan duduknya, seakan sudah sangat siap dengan apa yang wanita tua itu akan katakan.


Dada nya begitu sesak dan badannya sudah berkeringat, suhu AC yang dingin di ruangan itu tidak cukup untuk mendinginkannya.


Jantungnya berdetak cepat tak beraturan berdesir dan sakit.


"Jika dia mengatakan bahwa namanya Luna kepada anda, dia adalah pembohong Tuan, yang sebenarnya dia bernama Rossalia."


Jordan menutup matanya, menyandarkan badannya, bahkan ia ingin menangis, kemudian ia menarik nafasnya panjang, entah kenapa tiba-tiba energi di tubuhnya menghilang.


Jordan berdiri dan berjalan di dekat mejanya memandangi bingkai foto gadis kecil kemudian ia memegangi kepalanya dengan kedua tangannya, dan berteriak hingga menggema di seluruh ruangan,


"AAAaaaRrrrrgggh !!!"


Jordan membanting segala barang yang ada di atas mejanya bahkan laptop termahal miliknya jatuh terlempar ke lantai.


Dokumen pun tersebar kemana-mana.


Dia mencoba mengatur nafasnya, kini air matanya benar-benar mengalir.


Jordan masih berdiri membelakangi mereka berdua, anak dan ibu yang keheranan melihat sikap Jordan tidak seperti apa yang mereka bayangkan.


Jordan memegangi meja dengan 1 tangannya, dan menatap lantai.


Perasaan nya benar-benar campur aduk, antara benci dengan dirinya sendiri, amarah, sedih, dan kekecewaan serta penyesalan yang dalam.


"Berapa uang yang kalian inginkan?"


Jordan masih pada posisi yang sama dengan masih menahan kesedihannya.


"1milyar."


Benni menyebut angka yang besar, dia benar-benar manusia yang rakus.


Jordan mengambil cek dan menuliskan angka 1 milyar kemudian membuangnya ke lantai, Benni mengambilnya dengan sigap.


"Keluarlahh..."


Jenni sudah lebih dulu keluar, namun Benni masih saja memancing Jordan, ia benar-benar rakus.


"Tuan apakah anda akan mengusir Rossalia?"


Benni berdiri di belakang Jordan.


"Jika anda ingin mengusirnya, saya titip 1 barang untuk di berikan pada nya."


"Entah kenapa dia sangat melindungi barang itu padahal hanya cincin usang."


Benni menahan tawannya.


Benni maju dan meletakkan cincin kecil itu di atas meja Jordan.


Jordan mengambil cincin itu, ia melihat di dalamnya memiliki ukiran "JR".


Ingatannya kembali pada Jordan kecil yang setiap hari bekerja sebagai loper koran, setiap uang yang di dapat ia kumpulkan dalam celengan kaleng bekas, ketika sudah cukup terkumpul ia membeli cincin titanium untuk Rossalia.


Saat itu Rossalia sangat senang bahkan berjanji tidak akan melepaskannya dari jarinya.


"Saya heran kenapa gadis itu sampai menangis saat meminta cincinnya kembali, padahal cincin ini sudah tidak muat di jarinya apalagi cincin ini sangat jelek, bahkan ketika saya bilang untuk bersujud di kaki saya dia pun melakukannya, ketika saya memintanya melep*s semua pak*iannya dia menolak jadi cincin itu masih saya bawa."


Benni tertawa tanpa dosa.


Jordan menggengam cincin itu dan berbalik arah melihat Benni.


"Lalu apa yang gadis itu lakukan lagi?"


"Dia hanya berlutut dikaki saya Tuan, sampai dia mau menem*ni dan memu*skan saya, saya berjanji akan memberikan cincin itu padanya."


"Jika Tuan sudah bosan bermain dengannya saya sudah sangat lama menantikannya untuk menikm*ti tubuhnya."


"Saya rela meski dia sudah menjadi bekas anda Tuan."

__ADS_1


Benni tertawa lagi.


Jordan menarik kerah Benni dan mendorongnya hingga membentur pintu.


Lorez dan Jenni kaget seketika mereka masuk dan terkejut dengan apa yang mereka lihat.


Jordan dengan brutal dan memb*bi buta mem*kuli Benni hingga wajahnya tak bisa dikenali lagi, hingga dar*h berlumur dimana-mana.


Hingga Benni sudah tidak sadar Jordan masih brutal mem*kuli nya sekuat tenaga, kini kemeja mahal Jordan di penuhi d*rah, dan ia membuka bajunya melemparkan kesembarang arah.


Jordan ingin melanjutkan mem*kuli Benni, namun Lorez menahan Jordan untuk berhenti. Jordan justru semakin emosi.


"Apa kau sudah kehilangan instingmu !!!"


"Ku suruh kau mencari informasi dengan benar, apakah kau bekerja dengan benar !!!"


Jordan memarahi Lorez dan mem*kul wajah Lorez dengan keras, hingga wajah tampannya berd*rah.


Freya masuk dan menutup pintu agar tidak ada karyawan yang melihat meski ruangan Jordan terbilang jauh dari para karyawan, ruangan Jordan ada di lantai paling atas.


Freya menelpon dokter Imanuel namun dengan cepat Jordan merebut handphonenya dan membantingnya ke lantai.


Jenni ketakutan, badannya gemetaran dan lemas melihat anaknya tak bisa dikenali lagi, wajahnya h*ncur penuh darah, tangan kiri Benni masih menggenggam cek yang sudah berlumuran darah.


Jenni menjerit-jerit karena ketakutan, Lorez memukul pundak Jenni, seketika ia pingsan.


Itu satu-satunya cara membuat Jenni diam, agar dia tidak menjadi korban Jordan berikutnya.


"Cari tahu Rossalia ada dimana sekarang!!!"


Jordan duduk di sofanya, memperbaiki nafasnya yang tak beraturan karena emosinya.


"Maaf Tuan,maksud anda..."


"Luna adalah Rossalia, apa kau sudah mulai tua?"


"Pekerjaanmu tidak beres semua."


"Bagaimana caramu dulu mencari informasi tentang gadis itu."


"Kali ini cari informasi dengan benar, jika tidak kau akan habis juga."


"Jangan lupa bereskan orang-orang ini, mereka benar-benar sudah mengotori ruanganku.


Jordan mengancam Lorez.


Freya menyiapkan baju baru untuk Jordan.


Lorez segera memanggil para pengawal untuk membereskan Benni dan Jenni.


Sedangkan Freya membereskan ruangan Jordan yang berantakan dan penuh dar*h dimana-mana.


Jordan masuk ke dalam kamarnya, yang masih 1 lingkup dengan ruangan kantornya, dulu Jordan tidak pernah pulang dan ia memilih tidur di kantor maka dari itu kantor di desain seperti rumah Jordan yang memiliki fasilitas lengkap.


Lorez mengetuk pintu kamar Jordan.


Jordan keluar memakai setelan jas mahal dengan kemeja biru donker, sedangkan dasinya berwarna abu perak, sangat tampan.


"Tuan Jordan, saya mendapatkan informasi Tuan Mateen Open House, para media sedang berkumpul di Luxury."


"Lalu?"


Jordan berjalan dengan mengancingkan lengannya.


Ruangan itu sudah bersih dan wangi.


Freya membawa jas Jordan dengan hati-hati.


"Tuan Mateen akan membuat pengumuman bahwa dirinya akan segera bertunangan dengan seorang wanita..."


Sebelum Lorez melanjutkannya, Jordan sudah melangkah dengan cepat memerintahkan untuk segera menuju Luxury.


.


.

__ADS_1


.


-Bersambung-


__ADS_2