CINTA MATI Seorang Mafia

CINTA MATI Seorang Mafia
-EPISODE 63- = ANGELA BERUBAH


__ADS_3

Mateen duduk di atas kursi roda memandangi kuda-kuda yang sedang berlarian, para groom sedang merawat dan melatih kuda-kuda kesayangannya.


Kesehatan kuda merupakan tanggung jawab para groom.


Groom merupakan istilah yang digunakan untuk menyebut seorang perawat kuda.


Dalam merawat kuda dibutuhkan kesabaran, ketelatenan, ketegasan, keberanian dan harus selalu berhati-hati.


Jika seorang groom tidak sabar dan tidak telaten dalam merawat kuda, hasilnya tidak akan maksimal. Apalagi jika tidak memiliki ketegasan, keberanian dan ke hati-hati an, mereka bisa mencelakai diri mereka sendiri dan kuda ketika merawatnya. Setiap pagi dan sore kuda harus dibersihkan. Bahkan juga dimandikan ketika pagi hari. Kemudian diajak berjalan-jalan santai ataupun melatihnya berlari cepat, agar kuda tidak bosan dan untuk menjaga kesehatannya.


Sedangkan Mateen adalah pria yang sangat teliti dan jeli akan kuda-kudanya, namun biasannya yang akan melatih kuda-kuda itu adalah Mateen sendiri.


Setiap anak bangsawan di haruskan bisa berkuda, memanah, serta ketrampilan-ketrampilan yang lain.


Angela berjalan mendekati Mateen, mereka berada di lobby halaman belakang, masih memandangi kuda-kuda.


"Apakah semua itu milikmu?"


Tanya Angela.


"Ya, setiap kali ke Negara J aku selalu menyempatkan diri untuk berkuda."


Mateen menjawab.


"Aku juga memiliki anjing, mereka sangat lucu, induknya bernama clowy dan anaknya ku beri nama terry, pasti mereka merindukanku."


Angela terlihat sedih.


"Pulanglah, aku juga tidak tahu kenapa kau masih di sini."


Jawab Mateen ketus.


"Aku... Aku tidak punya siapa-siapa."


Angela menahan air mata nya.


"Apakah kau benar-benar tega mengusirku? Aku janji tidak akan menganggu mu."


Angela berdiri dengan menggenggam kedua tangannya.


"Bukannya kau wanita liar, kenapa sekarang berubah jadi wanita yang sok imut!"


Mateen memutar kursi rodanya dan masuk ke dalam Mansion.


Angela tahu, tak akan ada yang mau memaafkan nya atas semua kesalahan dan kebodohannya, ia berbalik dan mengikuti Mateen mengekor di belakangnya.


Terlihat para dokter sudah datang untuk memeriksa Mateen.


Kesembuhannya sangat cepat, bahkan para dokter terkejut Mateen pulih begitu cepat dengan luka yang cukup dalam.


"Tuan mari saya bantu masuk ke dalam kamar, hari ini kami akan membantu anda melakukan therapy agar sedikit demi sedikit anda dapat berjalan."


Dokter Andrew mendorong kursi roda Mateen, dokter Andrew adalah dokter terbaik di Negara J.


Angela mengekor di belakang dan memperhatikan para dokter mulai mentheraphy Mateen agar dapat berjalan sedikit demi sedikit, namun pria itu terlihat uring-uringan dan memaki para dokter, entah karena merasa malu atau bagaimana seorang Mateen kesulitan berjalan, Angela yang memperhatikan dari ujung kamar Mateen mulai masuk ketika Mateen menyerah.


"Biarkan aku membantumu."


Angela mengulurkan tangannya, ketika Mateen duduk di tepi ranjang.


Namun Mateen menepis tangan Angela dengan kasar.


"Pergilah untuk apa kau disini, kau pasti senang dan menertawakanku karena sekarang aku adalah pria cacat."


Mateen membuang muka dan pandangannya dari Angela


"Tidak aku hanya ingin membantumu, cobalah sekali saja bersamaku, jika itu tidak berhasil aku akan pergi."


Angela masih mengulurkan tangannya.


"Benar Tuan, cobalah kami akan berjaga di samping Tuan."


Para dokter pun ikut meyakinkan.


Mateen tak punya pilihan, ia memdenguskan nafasnya dengan perasaan kesal menerima uluran tangan Angela.


Perlahan Mateen berdiri berhadapan dengan Angela, perut nya terasa tertarik dan nyeri, pria itu bertopang di bahu Angela, tubuh Angela ideal, dan berisi, ia juga memiliki perawakan yang tinggi.

__ADS_1


"Pelan-pelan kau pasti bisa"


Angela memberikan semangat.


Mereka masih saling berhadapan dengan sisi-sisi mereka para Dokter ikut berjaga.


"Therapy dengan teknik manual seperti ini akan lebih cepat memberikan hasil."


Angela membuka obrolan.


"Sok tahu, kau mencoba memberikan pengetahuan pada siapa, apa kau lupa aku memiliki perusahaan yang bergerak di bidang kesehatan."


Mateen masih melangkah sedikit demi sedikit bertumpu pada bahu Angela sesekali ia merasakan tarikan nyeri di perutnya.


"Ya aku tahu, tapi kau bukan seorang dokter, tidak tahu banyak tentang kesehatan."


Angela masih memancing Mateen mengajaknya mengobrol.


"Kau bicara tentang siapa?" Kau mengejekku?"


Mateen tertawa sinis.


"Siapa yang mengejek siapa? Aku hanya membicarakan tentang therapy kesehatan, kau yang mengarahkan tentang ejek mengejek."


Angela masih terlihat sabar.


"Ya ya setidak nya kau juga bukan lulusan kesehatan."


Mateen membeo.


"Kata siapa aku lulusan dari universitas kesehatan terbaik, ayahku selalu menekanku agar dapat lulus dengan peringkat 1, jika tidak ia akan memukuliku."


Mata Angela berkaca-kaca.


"Apakah ayahmu benar-benar akan memukulmu?"


Mateen penasaran.


"Sejak kecil ia selalu memukuliku, aku harus selalu peringkat satu, saat Jordan datang ia selalu mengalahkanku dalam segala akademik bahkan non akademik ia selalu unggul, saat itulah ayahku mulai sering memukuliku, padahal aku ada di peringkat 2 di bawah Jordan."


Mateen terdiam melihat Angela yang seperti kucing kehilangan kedua orang tuanya, tersesat di jalanan, tak ada yang memungut, yang hanya bisa mengeong dan kedinginan, terlihat kasihan.


"Ahh lihatlah, kau sudah sampai di ujung."


Angela merubah mimik mukanya dengan cepat.


"Aku benar kan, theraphy seperti ini lebih cepat berhasil."


Mateen pun tak sadar ia sudah berjalan begitu jauh, ia tampak bingung.


"Ahh yaa..."


"Baiklah aku akan kembali ke kamar, kau lanjutkan dengan para doktermu."


Angela tersenyum dan melambai.


Mateen melihat Angela yang berlalu pergi, para dokter ingin melanjutkan therapy namun Mateen menolak, ia merasa hatinya sedang tidak mood.


"Aku akan berbaring, suasana hatiku sedang tidak bagus."


"Baik Tuan."


Para dokter menjawab.


Mateen berbaring melihat langit-langit kamarnya, ia mengingat ekspresi Angela ketika ia terlihat sedih, ada perasaan aneh merasukinya, ia merasa kasihan dengan Angela.


"Ya ini hanya sebatas belas kasihan."


Kata Mateen meyakinkan dirinya sendiri.


Amber datang setelah beberapa minggu ia tidak menemani Mateen, ia sibuk dengan pekerjaannya, apalagi ia harus selalu berbohong pada kedua orang tua Mateen akan keberadaan anaknya.


"Hey, kau tidak bosan berbaring begitu terus, kau ini pria tangguh kenapa jadi pemanja begini."


Amber duduk di tepi ranjang Mateen.


"Aku selesai therapy berjalan."

__ADS_1


Kata Mateen acuh.


"Ohya, tunjukkan padaku."


Amber menyedekapkan tangannya.


"Malas, aku mau tidur."


Jawab Mateen.


"Ini masih pagi kau mau tidur, dasar pemalas."


Amber mengejek.


"Aku sedang tidak mood dengan apapun terserah kau mau bilang apa."


Mateen memejamkan matanya.


"Baiklah, tapi kudengar beberapa minggu lalu Rossalia sudah kembali ke Negara K, apakah kau tidak ingin kembali ke Negara K juga?"


"Enyahlah!"


Mateen sedikit berteriak karena kesal.


"Sepertinya Jordan kuwalahan menghadapi para media, ia mengeluarkan banyak uang untuk mengakuisisi media hampir setengah Negara K, tapi begitu banyak media yang ingin naik perusahaannya, Jordan serta Rossalia adalah mangsa mereka seperti daging lezat, Jordan tidak mungkin membinasakan mereka dengan kekuatan Mafianya."


Amber tertawa geli, ia selalu menertawakan kelakuan Jordan yang seperti anak kecil.


"Hati-hati nanti kau bisa jatuh cinta padanya."


Kata Mateen masih memejamkan matanya.


"Mana ada Mateen, kau tahu siapa pemilik hatiku."


Amber melihat kuku-kuku cantiknya.


"Memang ada berita apa di Negara K?"


Mateen penasaran.


"Hm.. para media menyiarkan berita tentang masa lalu Rossalia, tentang kebakaran Mansion, tentang Rossalia yang kehilangan bayi nya, katanya Rossalia adalah wanita matrealis yang membawa kesialan untuk Jordan."


Amber menghela nafasnya.


Mateen hanya diam, lengan nya menutup kedua matanya.


"Apa kau hanya akan diam saja melihat Rossalia menjadi santapan para media?"


Amber bertanya.


"Jordan akan mengurusnya."


"Pergilah."


"Kau membuat suasana hatiku makin buruk!"


"Baiklah, selamat bermalas-malasan, dan selamat untukku bekerja pada presdir yang pemalas."


Amber berdiri sambil menekan perut Mateen yang sudah mulai sembuh.


"Auwww!! Brengs*k!"


Mateen memaki.


Luka Mateen memang sudah sembuh dan kering, hanya masih kaku dan perlu pelemasan, terlalu lama berbaring membuat tubuhnya kaku.


Saat Mateen terluka dan memerlukan perawatan Amber dengan cepat membentuk tim dokter unggulan agar Mateen sembuh dengan cepat.


Bahkan obat penelitian Perusahaan Math yang Mateen konsumsi selama ia sakit akan melantai di pasaran, melihat efek yang membuat luka mengering dengan cepat.


.


.


.


-Bersambung-

__ADS_1


__ADS_2