
-Mansion Pearl-
"Kau satu-satunya yang membuatku semakin ingin dan ingin, bahkan setiap hari kau memenuhi pikiranku dan juga..."
Jordan menghentikan kata-katanya, pria itu menelusuri leher jenjang Rossalia, menciumi setiap incinya.
"Ahh.. What the f*ck."
"Kau harus tahu aku mencintaimu."
Kelembutan Jordan setiap mereka melakukannya membuat Rossalia makin dan makin menginginkan sentuhan lebih suaminya, Jordan tak pernah memperlakukan Rossalia dengan kasar, yang pada awalnya Rossalia merasakan ketakutan yang luar biasa, mengira Jordan akan mengobarkan hasratnya seperti saat ia menjadi Luna.
Tapi Rossalia salah, Jordan mengklaimnya seperti pencuri yang mengendap-endap pelan, menjelajahi lekuk tubuhnya dengan kesabaran, membuat syaraf Rossalia terbakar dan seperti tersetrum aliran listrik yang nikmat, membuatnya terbakar pikirannya, tak menyisakan apapun selain kobaran api yang panas dan semakin memanas.
Jordan memperlakukan kemesraan tiap kemesraan mereka dengan lembut, pria itu bukan seperti perompak bajak laut yang menjarah atau merampas.
Jordan mencengkram lembut puncak dada Rossalia, bergantian dengan mulutnya, pelan-pelan lidah itu mencumbu payud*ra Rossalia, saling bergantian, menghis*p dan menggigit dengan pelan, hingga Rossalia menggeliat mendesah.
"Setiap bagian dirimu adalah milikku, luar dan dalam, kau milikku."
Jordan bermain di keintiman Rossalia hingga merasakan kelembaban di jari-jari nya, tubuh istrinya melengkung, sensitif terhadap sentuhannya.
Kemudian dengan hati-hati Jordan mendorong diri ke dalam tubuh Rossalia, mendesak masuk, dan pria itu memeluk Rossalia membenamkan wajahnya sesaat di leher istrinya yang mendesah memeluk punggungnya mengapit tubuh berotot itu dengan ke dua kaki Rossalia.
Kemudian Jordan menuruni leher Rossalia dan membuat banyak tanda merah, mulutnya tak henti membuatnya, pria itu mulai mengatur gerakannya yang makin lama semakin cepat.
Rossalia hanyut dalam ombak sensasi.
"Sayang, aku tidak tahan lagi."
Otot-otot Rossalia meremas Jordan, sambil merintih terengah-engah, Rossalia diam sementara gelombang kenikmatan besar menggulungnya, tidak tertandingi. Jordan membungkusnya dengan pelukan, mendesak lebih kuat, memperpanjang ketegangan yang luar biasa nikmat, ketika istrinya puas, Jordan memenuhi kebutuhannya sendiri, tubuhnya bergetar dengan pelepasan kuat.
Mereka tetap berbaring berpelukan cukup lama, bersantai di tengah selimut dan sprei yang kusut.
"Belum pernah aku merasakan sedamai ini."
"Kau hadir melengkapi hidupku yang berantakan."
Jordan mencium kembali kening istrinya yang tidur di dadanya.
.
.
.
-Apartment Dreams-
Beberapa hari kemudian Rossalia kembali menjadi istri yang hangat untuk suaminya, dan keadaan berubah seperti semula, dimana suami-istri yang saling mencintai, tak ingin terpisah yang di landa kasmaran tak henti memadu kasih.
Seperti biasa Rossalia mengantar Jordan sampai di halaman depan Mansion, pria itu harus pergi ke kantornya.
Jordan melakukan ritual mengecup kening, dan mencium bibir Rossalia berpamitan.
Mobil melaju namun arah nya berubah, bukan menuju kantor melainkan tempat yang lain.
Jordan melangkah dengan cepat, kaki nya yang panjang menapak dengan gagah.
Lorez yang menyamai tinggi Jordan tak pernah kesulitan mengikuti irama kecepatan cara Jordan berjalan, mereka menuju apartemen seorang wanita.
Lorez menekan bel dan wanita itu membukanya.
"Sayang kau datang?"
Angela terkejut saat melihat Jordan.
"Kau tidak menyuruhku masuk?"
Jordan memandang wanita itu sinis
"Ah tentu saja, masuklah sayang."
__ADS_1
Lorez melepaskan mantel Jordan yang menggantung di kedua bahunya, kemudian pria itu duduk di sofa.
"Kapan kau akan kembali ke Negara J."
Jordan menyedekapkan tangannya.
"Aku akan pulang jika kau juga ikut bersamaku."
Suara Angela sehalus sutra.
"Katakan pada Peter aku tidak akan menjadi alat atau boneka nya, atau hubungan ayah dan anak yang sebenarnya hanya kebohongan belaka, akan lebih cepat berakhir."
Jordan memandang santai Angela, namun justru itu lah caranya mengintimidasi seseorang.
"Aku tidak bisa melakukan itu, kau tahu ayahku tidak akan memaafkanku jika aku gagal membawamu pulang ke Negara J apalagi jika aku gagal membuatmu menyetujui pertunangan kita, lagipula aku sudah mencintaimu sejak kita pertama kali bertemu, kenapa kau tidak mencoba memberikan kesempatan pada hubungan kita"
"Kita tak pernah memiliki hubungan apapun."
"Jika kau masih mengusik, aku tidak akan pernah memaafkanmu, setelah apa yang kau lakukan pada istriku."
"Mari bertunangan tanpa sepengetahuan istrimu."
"Kau berani !!!"
"Kau tahu, aku bisa saja mencekikmu di sini."
"Jika pun aku tak bisa, jangan lupa Lorez bisa saja membunuhmu."
Jordan menatap tajam Angela, wanita itu kemudian menundukkan kepalanya, ia merasakan tubuhnya seperti di kuliti oleh Jordan.
"Mereka akan menghancurkanmu jika kau menolak pertunangan kita."
Angela memprovokasi Jordan.
"Aku menunggu saat itu tiba."
Jordan berdiri, Lorez memakaikan mantel itu kembali di bahu Jordan.
Jordan pergi, saat melewati pintu Angela kembali mengancam.
"Apa kau tahu identitas istrimu yang sebenarnya?"
Jordan terkejut dan memutar tubuhnya menatap tajam Angela, mengerutkan dahi nya dan berjalan mendekati Angela.
"Kau jangan macam-macam."
"Aku tahu Rossalia adalah anak itu, anak yang selamat dari pembataian."
Angela menegakkan kepalanya menatap Jordan.
"Dari mana kau tahu."
Suara Jordan pelan.
"Kau yang menginginkan hubungan antara organisasi kita berakhir demi wanita itu, tapi bagaimana jika Rossalia mengetahui bahwa yang sebenarnya ia berdarah biru, keturunan asli bangsawan, apakah tetap mau dengan seorang anak yang katanya di lahirkan di pembuangan air, bahkan ibunya seorang pel*cur, kau hidup dengan meminum susu para wanita pel*cur !!!"
Angela menatap nanar Jordan.
"Baik, aku tahu semua itu, tidak perlu kau repot-repot mengingatkanku."
Senyum masam melintasi wajah Jordan.
Angela mengarahkan mata birunya pada Jordan yang tanpa ekspresi, menelusurkan satu jari nya dadi atas dada Jordan hingga turun ke bawah.
"Maafkan aku, tapi kau memaksaku mengeluarkan kalimat itu."
"Aku bisa membuat kau menginginkanku, bahkan lebih menginginkanku dari pada saat kau menginginkan istrimu."
Jordan mendorong wanita itu dengan sangat kasar, sehingga Angela terjerembab di sofa, piyama sexy nya terbelah memperlihatkan paha mulus wanita itu.
"Kita tidak pernah memiliki hubungan apapun, dan tidak akan pernah memiliki hubungan."
__ADS_1
"Kenapa kau melakukan ini, apakah kau ingin aku memohon?"
Angela tersenyum provokatif.
"Aku akan berlutut di depanmu, apa kau suka itu?"
Angela merosot turun ke bawah mencengkram celana dan kaki Jordan.
Kemudian pria itu mengisyaratkan matanya pada Lorez.
Lorez mencengkram lengan atas Angela dengan kasar dan keras, memaksanya bangun.
"Dengarkan aku Angela, aku tidak pernah berbohong dengan ucapanku, jika kau melakukan sesuatu yang membuatku tidak suka, kau akan berakhir seperti sahabatmu, bahkan lebih buruk dari itu."
"Kau tidak bisa melakukan itu semua padaku, kau akan melanggar peraturan organisasi, aku adalah perjanjian yang di buat untukmu, sedari kecil kita sudah seharus nya bersama, memperkuat organisasi kita, jika kau melanggar Peter akan membunuhmu, ayahku akan memburumu, bahkan wanita jelek itu akan meninggalkan mu !!!"
Jordan dengan cepat menampar Angela, wajahnya kelam dan dingin, pria itu lepas kendali.
"Kau menyakitiku !!!"
Angela memangis matanyamelotot, dan bibirnya berdarah, serta pipinya merah dan terasa panas.
"Dan aku tak peduli dengan perjanjian bodoh itu, aku tak akan menjadi boneka Peter."
"Selamat tinggal Angela."
Jordan berbalik dan keluar apartemen angela, yang di susul Lorez di belakangnya.
"Tidak !!!"
Angela menggeram.
"Kau tidak akan meninggalkanku !!!"
"Kau akan menyesal Jordan."
Jordan pergi meninggalkan Angela, wanita itu berlari mengejar Jordan yang telah memasuki lift.
"Kembali sekarang Jordan."
"Atau kau akan menebus nya setiap hari dalam hidupmu."
"Jika aku tidak bisa memilikimu, tidak seorang pun akan bisa !!!"
"Kau mengerti !!!"
"Kau akan menebus ini Jordan Wigher !!!"
Jordan tidak menganggap ancamaan Angela serius, dan pintu lift tertutup, pria itu tidak peduli.
Setelah kepergian Jordan, Angela bangkit dari tempatnya tersungkur, ia berdiri dengan bertopang pada dinding dan masuk ke dalam apartemen, mengambil ponsel di atas meja.
"Kalian bisa bergerak."
"Pria itu sudah memilih."
Angela mengakhiri panggilannya dan tersenyum sinis.
"Aku akan melihatmu terpuruk dan menangis."
"Jika aku tak bisa mengalahkanmu, wanita itulah yang akan ku kalahkan."
"Aku akan melihat bagaimana kau menangisi jasad istrimu, dan aku melihat kehancuranmu."
Angela menyeka air matanya.
.
.
.
__ADS_1
-Bersambung-