CINTA MATI Seorang Mafia

CINTA MATI Seorang Mafia
-EPISODE 11- = MASUK ANGIN?


__ADS_3

-Negara K , Mansion Pearl-


Jordan sampai di negara K pada malam hari setelah menggunakan pesawat jet pribadinya dan menaiki helikopter menuju Mansion, heli itu mendarat di atap Mansion. Melihat gadis di sampingnya sudah lelah dan tertidur, ia tidak ingin terkena macet.


Semua pengawal dan pelayan berkumpul di depan pintu memberi hormat sekaligus terkejut Jordan menggendong seorang perempuan.


"Siapa gadis itu, beraninya membuat Tuan Jordan menggendongnya."


Beberapa pelayan wanita saling berbisik.


"Paman Lee sepertinya bawahanmu punya banyak waktu untuk bergosip, aku tidak mau mereka ada di mansion lagi."


Paman Lee adalah kepala pelayan kepercayaan Jordan.


"Baik Tuan..."


Paman Lee menunduk kemudian dengan tanggap dan tatapan tajam mengusir para pelayan-pelayang yang bergosip.


Jordan sampai di kamarnya, ia membaringkan Luna di tempat tidur.


"Aku seorang Jordan, mafia nomor satu, orang paling kaya, dan sudah dua kali menggendongmu."


"Kenapa kau tidur seperti b*bi, tidak peduli dengan sekelingmu."


Jordan mandi dengan air dingin, seperti biasanya dia tidur hanya memakai boxer. Sebelum tidur dia melihat banyak bintang dan bulan dari atapnya.


Memang atap diatas tempat tidurnya di desain terbuat dari kaca sehingga ketika berbaring Jordan bisa menikmati pemandangan bulan, bintang bahkan hujan dan petir atau kilat.


Luna merenggangkan tubuhnya, dengan nyaman ia memakai lengan Jordan sebagai bantal dan memeluk dada berotot itu.


"Aku ingin tidur tenang, tapi kau tidak mengijinkanku?"


Jordan mencium bibir gadis itu dengan lembut, kemudian tangan Jordan membelai lembut rambutnya, lagi-lagi pria itu menjelahi leher jenjang Luna, membuat tanda begitu banyak. Jordan benar-benar menyukai leher jenjang Luna yang putih dan mulus.


Jordan mendengar Luna mendesah.


"Lihat, kau hanya malu, bahkan tubuhmu tak menolak sentuhanku."


Luna masih tidak sadar, dia terus saja mengerang dan mendesah, lagi-lagi ia sedang bermimpi bermain dengan seekor beruang yang menjilatinya.


Jordan masih mengontrolnya ia ingin sedikit demi sedikit menikmati tubuh gadis itu.


Kemudian pria itu memilih tidur dengan memeluk Luna.


"Entah penyakit apa yang sedang ada di tubuhku, tapi kau membuatku bersemangat."


Jordan mencium kening Luna, mereka tidur dengan berpelukan.


.


.


.


.


-Keesokan pagi-


"Drrttttt...... Dddrrtttt... Dddrreeetttttttt.."


Luna terbangun mendengar suara ponsel bergetar di meja sebelahnya, sedikit demi sedikit ia membuka mata, merasakan tubuhnya seperti tertindih batu yang sangat berat membuatnya sulit bernafas, setelah melihat dengan jelas ia terkejut mendapati Jordan yang tengah tidur dengan memeluknya begitu erat. Dengan gerakan reflek dan cepat ia melihat pakaiannya.


"Syukurlah pakaianku masih utuh."


Jordan yang melihat tingkah gadis itu tertawa dalam hati, Jordan melepaskan pelukannya, kemudian ia meraih ponsel yang ada di meja dan secara otomatis ia menindih tubuh Luna.


Gadis itu menahan nafasnya, hidung dan mulutnya tepat ada di dada serta di bawah leher Jordan, kemudian ia menelan ludahnya.


"Katakan..."


Jordan menjawab dengan ketus.

__ADS_1


"Tuan hari ini..."


Lorez belum selesai berbicara namun Jordan sudah menyela.


"Aku ingin istirahat satu hari ini Lorez."


"Baik Tuan."


Lorez yang sebenarnya ingin memberitahu bahwa dokter Imanuel sudah datang merasa tidak enak kepada dokter itu, dan menyuruh dokter Imanuel kembali pada malam hari.


Sedangkan di dalam kamar yang mewah dan besar, Jordan masih memeluk dan berada di atas tubuh Luna.


"Kau mandilah, semalaman aku seperti memeluk b*bi yang bau."


Jordan masih di posisi semula dan mencium gadis itu.


Luna dengan cepat bangun dan menuju kamar mandi.


"Kau bilang aku bau?"


"Dan kenapa kau masih memciumku?"


Luna berbicara sendiri menghadap kaca, sambil membuka bajunya.


"AAARRGHH !!!"


Jordan yang terkejut bergegas masuk ke dalam kamar mandi, melihat Luna tak memakai pakaian Jordan menelan ludahnya. Secepat kilat Luna menyambar handuk dan menutupi tubuhnya.


"Ada apa?!!"


"Apa kau terjatuh?!!!"


Jordan merasa khawatir. Dia ingin maju meraih dan menolong Luna namun gadis itu menolak dan menahan tangannya mengisyaratkan bahwa Jordan tidak boleh menyentuhnya.


"Ti-tidak Tuan, ini memalukan, dan saya sangat malu, tapi badan sa-saya penuh dengan merah-merah, apakah saya kena angin?"


Jordan menahan tawannya di dalam hati.


"Apa iya?"


"Ti-tidak Tuan, saya malu, tapi apakah saya boleh ke dokter untuk periksa."


Jordan mengernyitkan dahinya.


"Ke dokter?"


"Periksa?"


"Dan dokter laki-laki?"


"Apa dia sudah gila, membuat ku marah saja."


Dalam hati Jordan berguman, merasa bahwa gadis itu begitu bodoh tapi lucu.


"Tidak usah nanti akan ku jelaskan."


"Kau mandilah."


Jordan keluar dengan kesal.


Jordan sempat melirik Luna yang hanya memakai handuk mini, dia menahan gejolak di dadanya, sengatan listrik yang mendesir dalam dada serta jiwa kesepiannya.


Jordan mengambil piyama kemudian ia keluar menuju meja makan, Lorez dan Freya berdiri dari tempat duduknya ketika Jordan duduk mereka kembali duduk, pria itu mengambil roti tawar dan mengoleskan selai strawberry.


"Apa kau sudah memanggil dokter Imanuel?"


Tanpa melihat Lorez dan Freya, Jordan masih mengoleskan selai strawberry.


Lorez menarik nafasnya panjangnya.


Freya yang melihat hanya menahan geli, di dalam hatinya, sambil bergumam.

__ADS_1


"Betapa tidak mudah menjadi assisten Tuan Jordan, bahkan Dokter Imanuel baru 5 menit yang lalu meninggalkan Mansion."


Lorez menangkap gumaman Freya, seakan mereka sedang berbicara menggunakan telepati.


"Tuan Jordan, anda belum mandi tumben ingin sarapan roti selai, dan itu adalah selai strawberry, anda tidak suka selai strawberry."


Paman Lee mencoba mengalihkan pembicaraan menyelamatkan Lorez dan Freya, Paman Lee sudah seperti keluarga Jordan, ia sangat tahu bagaimana suasana hati serta kebiasaan majikannya itu.


"Ini untuk gadis itu."


Jordan berdiri dan membawa roti itu ke dalam kamarnya.


Lorez yang sedang memakan roti selai cokelat nya, tersedak. Freya menepuk-nepuk punggung Lorez yang terbatuk batuk dan memberinya air.


"Ya Tuhan, apakah kutub utara sudah mencair?"


Freya seakan tak percaya Jordan membawakan sarapan untuk seorang gadis, bahkan dia sendiri yang mengoleskan selainya.


Paman Lee hanya tersenyum, entah mengapa dia terlihat bahagia. Sedangkan Lorez yang tidak percaya masih mencoba menghabiskan roti selainya dengan menelan secara cepat.


"Freya ayo kita ke kantor dan bantu Sean."


"Bagaimana dengan dokter Imanuel?"


"Tuan meminta nya datang bukan?"


Freya sedikit ragu.


"Tenang saja, suasana hati Tuan Jordan sedang bagus, kalian pergilah ke kantor, nanti jika Tuan Jordan ingin menemui dokter Imanuel biar aku yang menghubunginya."


"Terimakasih Paman Lee.."


Freya memeluk Paman Lee, dia adalah kerabat satu-satunya Freya. Paman Lee adalah kakak dari ayah Freya namun sayangnya kedua orang tua nya pun sudah tiada.


-Di dalam kamar Jordan-


"Kau sudah selesai mandi?"


Jordan menaruh roti selai itu di atas meja.


"Ehemm..."


Pria itu berdehem kecil.


"Kenapa kau tidak memakai baju?"


"Maaf Tuan , saya lupa tidak memiliki baju, biasanya Nona Freya yang mengurus semuanya dan memberi saya baju."


Luna masih memakai handuk kimononya, dan duduk di sofa.


Jordan menahan tawanya karena geli di dalam hati ia berkata,


"Bahkan dia memakai handuk kimono ku."


"Kau sangat menggemaskan."


"Baiklah kau pakai baju ku dulu, aku akan menyuruh Paman Lee membawakan semua keperluan mu, kau makanlah roti mu, aku mengoleskan selai strawberry, apakah kau suka selai strawberry?"


Gadis itu hanya menggangguk dan menurut, ia memakan roti selainya.


Jordan yang melihat banyak sekali tanda merah di leher dan di dad* Luna merasa bahwa itu adalah mahakarya nya yang luar biasa.


"Lain kali akan ku buat lebih banyak lagi."


Jordan tertawa kecil, ada rasa hangat di dalam dadanya yang membuat Jordan lebih sering tertawa saat berada di dekat gadis itu.


.


.


.

__ADS_1


.


-Bersambung-


__ADS_2