
Jordan menelpon semua pengawal untuk bergerak mencari Rossalia, pria itu sudah mencari ke seluruh ruangan Mansion namun tidak menemukannya, seorang pelayan berkata melihat Rossalia duduk di taman belakang.
Jordan berlari untuk memastikannya, ia mulai tenang, dadanya dingin seperti terguyur air es saat melihat Rossalia berada di taman belakang duduk sendiri memandangi tanaman dan bunga-bunganya yang penuh warna. Tepatnya ia sedang melamun.
Jordan berjalan mendekati Rossalia dengan perlahan.
"Sayang apa kau akan percaya jika itu bukan perbuatanku?"
Jordan mendekat namun tak berani menyentuh Rossalia, kini ketakutan terbesarnya adalah ketika gadis itu marah padanya.
"Itu benar-benar bukan perbuatanku, Freya memang mengakuisisi semua media agar bisa menekan berita-berita yang berseliweran tak jelas memojokkan dirimu sayang."
"Itu memang kesalahanku hadir diantara kalian, lalu kenapa jika mereka menulis atau memberitakan buruk tentangku, aku memang terlahir yatim piatu dan besar di Panti Asuhan, apakah kau malu?"
Rossalia masih duduk tanpa melihat Jordan yang berdiri di belakangnya.
"Aku tidak malu sayang, aku tidak suka ada yang mengekspose dirimu atau fotomu di semua tempat."
"Aku tidak rela, banyak mata pria memandangi fotomu, punggung dan bahumu terekspose dimana-mana."
"Bahkan sekarang aku tidak tahu berapa ratus juta milyar laki-laki di seluruh belahan dunia yang sudah menyimpan fotomu di ponselnya."
Tangan kanan Jordan berkacak pinggang, sedang tangan kirinya menekan pelipis hidung diantara kedua matanya, menandakan betapa frustasinya ia mencoba menekan berita-berita yang berseliweran dimana-mana bahkan sampai membuat poster menghina Rossalia dengan kata-kata tidak pantas yang sudah pasti itu di buat oleh klub para wanita pengagum garis keras Jordan, apalagi banyak jurnalis dan media yang mencoba mengorek masa lalu Rossalia, Jordan mengerahkan banyak pengawal di Panti Asuhan untuk selalu berjaga.
Ketika mereka akan mengunjungi Panti Asuhan pun Jordan harus menunggu para pengawal mengusir wartawan yang berkerumun di depan gerbang Panti, agar Rossalia tidak merasa curiga dan tertekan.
"Kau malu !"
Rossalia masih tak percaya pada Jordan.
"YA TUHAN SAYANG, AKU BERANI BERSUMPAH DEMI APAPUN AKU TIDAK PERNAH MALU."
Jordan kini mendekati Rossalia dan memeluknya dari belakang.
"Aku tidak mau semua orang menyimpan fotomu, aku tidak mau kau dijadikan bahan konsumsi semua media dan para haters yang penuh kata makian kasar, aku tidak mau para lelaki menyimpan fotomu di ponsel mereka, kau hanya milikku."
Jordan membenamkan wajahnya di leher Rossalia dan sesekali ia menciumi leher serta bahu gadis itu, badannya membungkuk mendekap erat Rossalia yang masih terdiam di kursi besi berwarna putih bersih.
"Lalu siapa yang membuat berita untuk menjatuhkan perusahaan MATH GRUP."
"Aku tidak tahu sayang, memang aku mengakuisisi media yang ada di Negara K, namun media dan jurnalis yang tak berlisensi di Negara K begitu banyak, aku berusaha menangkap mereka semua yang tak punya ijin."
"Lagi pula aku hanya mengakuisisi media yang dengan gencar memberitakanmu, aku tidak menyentuh dan tidak ikut campur sedikitpun persoalan MATH GRUP."
"Percayalah padaku sayang."
Beberapa saat mereka saling terdiam, Jordan masih memeluk Rossalia, pria itu melepaskan pelukannya dan beralih menghadap Rossalia menyeret kursi dengan tangan kirinya, untuk ia duduki.
Jordan menatap Rossalia dan menggenggam tangan gadis itu.
"Apakah kau percaya padaku sayang?"
Jordan menatap Rossalia begitu dekat.
__ADS_1
"Bolehkah aku memakai ponsel?"
Rossalia sedikit takut dan ragu meminta kepada Jordan.
Pria itu terdiam sesaat dan mengganggukkan kepalanya sembari tersenyum.
"Aku akan memberikanmu ponsel, tapi kau harus janji padaku, gunakanlah dengan bijak."
"Aku tidak mau kau menghubungi pria lain dengan ponsel itu."
Jordan mengelus lembut tangan Rossalia.
"Jadi apakah kita akan melanjutkan membeli bibit?
Jordan tersenyum membujuk Rossalia.
"Tidak usah, aku sudah menyuruh Brida membeli semua nya."
Rossalia mengangkat kedua bahunya.
"Ohh pantas saja mobil mu tidak ada di halaman."
"Sayang bagaimana jika kita berlibur?"
"Kau ingin kemana?"
Jordan menyandarkan punggungnya di kursi menyedekapkan tangannya dan menyilangkan kaki nya, bertumpu di kaki satunya.
"Aku belum pernah merasakan liburan, apakah seperti kita bermain-main ke taman hiburan layaknya anak-anak yang sedang libur sekolah atau bersenang-senang ke pantai dengan semua anggota keluarga mereka?"
"Ya, bisa juga dikatakan seperti itu, tapi aku ingin mengajakmu liburan ke luar negara K."
"Ya Tuhan, itu sangat jauh sekali, bagaimana jika nanti aku tersesat atau menghilang, aku tidak tahu jalan pulang, tidak aku takut."
Rossalia memeluk lengannya sendiri.
"Tenang saja sayang, kau tidak akan tersesat aku akan selalu menjagamu."
Jordan tertawa dan membelai rambut Rossalia.
"Jika kau setuju aku akan menyuruh Lorez dan Freya menyiapkan semuanya."
"Apakah mereka berdua juga akan ikut bersama kita?"
"Hanya Lorez yang akan ikut dengan kita, ia akan menjaga kita selama kita berlibur di luar negeri."
"Apa kau setuju?"
"Baiklah tapi jangan pernah meninggalkanku ya..."
Rossalia masih merasa khawatir.
Malam kian larut, Rossalia kini sudah mulai tidur di kamarnya sendiri, ia baru saja selesai berendam dengan air hangat ditambah aroma therapy mawar merah, badannya terasa lebih tenang setelah ia berendam cukup lama.
__ADS_1
Seperti biasa dimasa kecil kini kebiasaan Rossalia sebelum tidur adalah memakan roti kering kismis dan susu tanpa gula, gadis itu ingat bahwa kapanpun Rossalia mau makan roti kismis di dapur para pelayan sudah menyiapkan stocknya.
Rossalia turun kebawah, Mansion sudah gelap jam menunjuk pukul 12 malam, karena para pelayan sudah tidur serta mematikan sebagian lampu.
Rossalia tidak menyalakan lampu di dapur, hanya remang-remang cahaya dari lampu luar halaman yang masuk ke dalam dapur, gadis itu membuka laci lemari kecil yang ada di pantry, berjongkong mengambil toples kaca kecil dan ia letakkan di atas meja marmer, saat hendakberbalik untuk membuat susu, seseorang memeluknya dari belakang, sontak jantung nya seakan jatuh ke lantai.
"Sayang kenapa malam-malam begini kau mengendap-endap seperti tikus."
"Apa kau bisa melihat, jika lampu tak kau nyalakan?"
Jordan memeluk Rossalia dan mencium rambut halusnya.
"Ya Tuhan, kau mengagetkanku."
Rossalia mendengus membuang nafasnya dengan kasar.
"Aku mengambil roti kismis dan ingin membuat susu."
"Kau wangi sekali?"
Jordan masih memeluk gadis itu dengan kedua tangannya, membenamkan wajahnya di rambut Rossalia.
"Jangan seperti ini, tidak enak dilihat Paman Lee atau para pelayan."
Rossalia memprotes namun Jordan masih tidak menghiraukan.
"Bisakah kau melepaskan tanganmu?"
Rossalia masih memohon dengan hati-hati, ia tidak ingin menyinggung Jordan.
"Panggil namaku, kau tidak pernah memanggil namaku."
"Pernah sekali saat kau marah padaku karena melindungi pria lain."
Jordan mulai menggelantungkan badannya di punggung Rossalia sambil terus memeluk gadis itu.
"Jordan badanmu sangat berat, aku tidak kuat menahannya."
"Panggil namaku lagi, aku suka saat kau memanggil namaku."
"Jordan, bisakah kau lepaskan pelukanmu, aku kepanasan."
"Sayang kau sangat manis, dan penurut, aku sangat gemas denganmu."
Malam yang cerah dengan bulan bersinar terang melewati jendela-jendela dapur, sepasang manusia menjadi satu, badan mereka saling menempel dan memberikan gairah yang tak bisa mereka tahan.
.
.
.
-Bersambung-
__ADS_1