CINTA MATI Seorang Mafia

CINTA MATI Seorang Mafia
-EPISODE 71- = KEPULANGAN ROSSALIA


__ADS_3

Mateen berdiri di depan jendela kamarnya, tirai besar yang menjuntai panjang telah terbuka, ia menanti datangnya fajar yang indah. Namun harapannya tak dapat dipenuhi oleh semesta, matahari pagi tak terlihat dan masih saja bersembunyi di balik awan kelabu, hanya seberkas cahaya yang pudar mewarnai langit.


Cuaca saat itu menyamai perasaannya. Dilema yang tebal mewarnai pikiran dan hatinya, kegundahan serta kebimbangan yang tak bertepi kini merasuki jiwa pria itu.


Rossalia adalah perempuan yang membangunkan hatinya, merasakan lautan cinta yang tak pernah Mateen rasakan sebelumnya.


Energi yang berbeda dari seorang Rossalia membuat hati Mateen yang beku dan dingin mencair berubah menjadi bara api yang memanas, namun Rossalia juga lah yang membuat Mateen terbakar oleh bara api nya sendiri, ia terluka sangat dalam ketika Rossalia tak bisa menyambut uluran tangannya yang penuh dengan cinta serta kasih sayang.


Mateen masih saja melihat berita demi berita yang semakin liar. Para Media yang bringas, tak berperasaan, mereka semakin memojokkan dan ingin menumbangkan Rossalia.


Pria itu memijat tengkuk lehernya dengan tangan kanan sedang tangan kirinya berada pada saku celana panjangnya, ia keluar dari kamar menuju ruang makan terlihat Angela sedang menikmati sarapannya, sedang Mateen hanya mengambil satu buah apel.


Wanita itu menginap di Luxury, namun barang-barangnya masih tetap berada di apartemen Dreams.


"Kau tidak sarapan?"


Kata Angela.


"Aku tidak selera."


Kata Mateen sambil berlalu pergi.


Angela adalah wanita gigih, ia juga tidak mudah menyerah, setelah menyelesaikan sarapannya wanita itu menyusul Mateen yang sedang berdiri di dekat kolam ikan nya, namun langkah Angela terhenti ketika ia mendengar pembicaraan Mateen melalui ponsel.


"Sejak kapan?"


Kata Mateen terkejut.


"Sejak kemarin siang tuan, sampai hari ini masih belum ada kabar."


Kata seorang pria di ujung ponselnya, dengan samar-samar Angela mendengar juga.


"Kerahkan semua pengawal aku akan pergi menemui Jordan, jika Rossalia dalam bahaya aku benar-benar akan menghajarnya sampai mati."


Mateen menutup ponsel dan berbalik kembali menuju kamarnya, ia tidak melihat Angela, wanita itu bersembunyi menempelkan punggung nya pada dinding.


"Rossalia Rossalia dan Rossalia!!!"


Geram Angela.


Tak berapa lama Mateen keluar ia pergi mengendarai mobil, pria itu mantap menginjak gas, menerobos lalu lintas jalanan kota yang padat, hati dan perasaannya geram serta kesal mengapa jalanan begitu ramai.


Tak sampai satu jam Mateen tiba di Mansion Beverly Hills, ia melihat sekeliling Mansion dan berjalan pelan.


Saat Mateen tiba, Jordan masih berada di ruang pusat kendali, tepatnya di bawah tanah Mansion Beverly hills, pandangan matanya seperti elang yang siap menerkam mangsanya, tatapan tajam pria itu tak pernah berpindah dari layar-layar besar yang menghubungkan tempat Rossalia menghilang.


Sebenarnya Jordan pun baru saja tiba di Mansion setelah semalaman ia berjaga dengan para pengawal di sekitar gedung terbengkalai itu namun tak juga ada tanda-tanda Rossalia kembali.


Pria itu harus pulang sementara para pengawal masih bersembunyi di balik semak-semak serta rindangnya pepohonan, mereka bersiaga di sana memdirikan pos pos dengan tenda.


Jordan pulang bukan karena lelah menunggu Rossalia, namun ia harus mengambil barang yang sangat penting.


Edgar pasti mengincar dan mengingikannya sebagai ganti Rossalia. Begitulah fikirnya.


Mateen tiba di Mansion Beverly Hills ia bertemu dengan Paman Lee. Mereka saling menyapa satu sama lain.


"Sudah lama sekali Tuan..."


Kata Paman Lee.


"Ya, sangat lama."

__ADS_1


Mateen membalas.


"Kau sehat?"


Tanya Mateen.


"Terimakasih Tuan, saya selalu sehat."


Kata Paman Lee.


"Bagaimana kabar Tuan Mathew?"


Tanya Paman Lee kembali.


"Dia sudah sehat."


Mateen menjawab singkat.


"Semoga Tuan Mateen juga selalu sehat dan bahagia."


Jawab Paman Lee lagi.


"Saya sudah cukup bahagia jika Rossalia bahagia namun ku dengar sudah satu hari satu malam dia menghilang, sampai saat ini belum kembali."


Mateen tertawa sinis, membuat bibirnya terangkat tipis.


"Maaf Tuan."


Paman Lee menundukkan kepala dan membungkukkan punggungnya.


"Kata siapa kau harus minta maaf padanya."


Tiba-tiba Jordan datang dari ujung ruangan, ia berjalan mendekat.


Kata Jordan santai.


Mateen mengepalkan tangan dan membalas tatapan tajam Jordan, sedang Paman Lee pamit undur diri.


"Aku sudah katakan, kau harus berhati-hati dengan Edgar tapi kau justru membiarkan Rossalia pergi menemuinya, pengawal ku kehilangan dia ketika sampai di perbatasan."


Geram Mateen.


"Jadi kau masih menguntit Rossalia?"


"Apakah selama ini kau selalu menguntit kami?"


"Apa kau juga menyuruh pengawalmu menguntit saat kami sedang berada di atas ranjang?"


Jordan berjalan semakin mendekat. Wajah dan ekspresi datar nya serta sikap santai yang Jordan tunjukkan justru membuat Mateen terhina.


"Persetan!"


Kata Mateen dengan kesal.


"Aku tidak punya waktu menemani mu bermain."


Kata Jordan sembari berbalik.


Mateen hanya bisa menghela nafasnya dengan kasar, kemudian ia kembali pulang menuju Luxury.


Sedangkan Jordan mulai kembali menuju gedung terbengkalai untuk menunggu Rossalia. Kali ini ia pergi bersama Lorez.

__ADS_1


Sesampainya di lokasi mereka siaga di posko yang didirikan para pengawal, Jordan memantau melalui layar komputer yang tersambung dengan cctv, dan banyak peralatan canggih yang sudah di pasang oleh para pengawal.


Sampai pada sore hari, matahari sudah terparkir di belahan lain, dan kini sudah waktunya tenggelam. Hingga malam tiba mereka masih menunggu namun tak ada tanda-tanda Rossalia keluar dari tempat manapun.


"Bagaimana jika besok pagi kita kembali mengerahkan pengawal untuk menyisir gedung itu lagi tuan."


Kata Lorez.


"Ide bagus."


Sahut Jordan.


"Saya akan ikut memeriksa, mungkin ada jalan rahasia di sana. Dari bentuk bangunannya, gedung itu memang terlihat seolah-olah bangunan mangkrak, namun saya fikir itu hanyalah kedok agar terlihat seperti bangunan tak terpakai."


Kata Lorez menganalisa. Saat hari pertama pencarian, Lorez memang tidak ikut, ia berada di Mansion dengan para pengawal Delta E untuk melacak Rossalia.


"Edgar pasti menginginkan barang itu, dan sekarang sudah ku bawa namun kita tak tahu keberadaannya dimana."


Jordan menyandarkan punggungnya mencoba berfikir.


"Saya rasa bukan Tuan."


"Jika Edgar menginginkan barang itu maka seharus nya dia sudah mulai melakukan barter dengan kita."


Lorez kembali menganalisa.


"Lalu apa yang ia inginkan?"


Kata Jordan mengerutkan dahi nya berfikir sangat keras.


"Entahlah Tuan namun kejadian di perusahaan dimana banyak pendemo sepertinya memang juga ada dalangnya, tapi saya belum bisa memastikan, mereka tidak akan berani melawan anda jika tidak memiliki tameng yang kuat."


Kata Lorez lagi.


"Masuk akal."


Jordan mengangguk.


Tiba-tiba ponsel Jordan bergetar. Pria itu mengambil nya dari saku jas namun matanya tetap siaga pada layar komputer.


"Ya Paman Lee."


Sahut Jordan pelan.


"Tuan, Nona Rossalia sudah kembali."


Terdengar Paman Lee memberi kabar mengejutkan.


Jordan sontak berdiri dengan cepat membuat para pengawal serta Lorez terkejut.


"Bagaimana keadaannya."


Jordan bertanya kembali melalui sambungan ponselnya.


Pria itu panik dan berbalik keluar dari tenda posko.


Namun langkahnya tiba-tiba terhenti, mendengar kalimat Paman Lee.


.


.

__ADS_1


.


-Beraambung-


__ADS_2