
Jam makan siang telah lewat, dan Rossalia baru akan memulai makan siang nya yang terlambat berdua dengan Jordan.
Di dalam kamar, Jordan melepaskan jas nya, dan Rossalia membantunya.
"Apakah setiap jam makan siang Nona Freya yang menyiapkan makanan-makanan ini untukmu?"
"Tidak pernah sayang, aku jarang makan siang, aku sudah berharap hari ini bisa makan bekal buatanmu."
Jordan membalas Rossalia dengan menikmati makanannya, dan gadis itu hanya terdiam.
"Sayang apa kau tidak suka menu nya?"
"Aku akan menyuruh Freya memesankan yang lain."
"Bukan itu, padahal aku telah menyiapkan bekal untukmu, maafkan aku."
"Kenapa kau minta maaf, lain kali buatkan dan bawakanlah bekal lagi."
Jordan membelai pipi Rossalia yang terlihat murung.
"Makanlah sayang, kau telah kehilangan banyak tenaga karena permainan kecil kita, apa kau tidak lapar, aku bahkan sangat lapar."
Jordan tersenyum ingin melihat ekspresi Rossalia.
"Kau... mesum lagi."
Rossalia menutup wajahnya yang panas memerah karena malu.
Jordan hanya tersenyum, dan melanjutkan melahap makanannya.
Kamar itu luas, memiliki jendela yang tak kalah besar dengan dinding. Rossalia memandang keluar dimana hujan telah mengguyur gedung-gedung pencakar langit.
Kemudian gadis itu berjalan mendekati jendela, jemari-jemari lentiknya menekan kaca.
Bulan basah telah tiba, dalam kalender Negara K, bulan basah berarti adalah bulan dimana hari-hari di penuhi dengan musim hujan dan angin yang dingin.
Rossalia memandangi hujan yang turun begitu deras, kilat-kilat di langit terlukis di mendung hitam yang pekat dan terlihat mengerikan, suara guntur saling sahut menyahut seakan mereka bertarung mana yang lebih keras menggema di langit yang gelap.
Jordan menyelesaikan suapan terakhinya, ia meminum jus buah milik Rossalia.
Semenjak Rossalia hadir, pria itu benar-benar berhenti minum dan merokok, karena gadis itu melarangnya.
Jordan Wigher seorang pria dingin yang angkuh tidak takut siapapun, tidak suka diatur siapapun, kini tunduk pada satu wanita yang telah mengisi jauh di relung hatinya yang telah tertanam bertahun-tahun.
Dengan pelan pria itu berjalan mendekati Rossalia, tubuh kekar yang tak terlalu besar dan tak kurus benar-benar tubuh yang ideal untuk seorang lelaki, pria berotot yang sempurna, wajahnya tampan entah ketampanan itu ia dapat dari siapa, Jordan mengenakan kemeja putih yang semakin memancarkan kharismanya, pria itu melonggarkan dasinya, melepaskan kancing baju bagian atas, dan memeluk Rossalia dari belakang.
"Kau sedang melamunkan apa?"
__ADS_1
Jordan memeluk gadis itu dan menyenderkan dagunya di bahu Rossalia, punggungnya terlihat membungkuk, karena tubuh Rossalia yang tak terlalu tinggi.
"Aku senang memandangi hujan, tapi petir dan kilat itu terlihat menakutkan, mereka seakan ingin melahap gedung-gedung itu."
Rossalia menunjuk dimana petir-petir itu bertarung.
"Kau lihat gedung yang di sebelah sana, gedung yang tinggi dan besar, bertuliskan Ross Apartment itu adalah milikmu."
Jordan menunjuk dengan tangan kanannya.
"Aku sudah bersyukur hanya dengan memilikimu, rasanya ini masih seperti mimpi, aku terjebak selama 13 tahun di antah berantah dan sekarang aku berada di sini, bersamamu."
"Jika ini mimpi aku tak ingin terbangun."
Telapak tangan Rossalia masih menekan kaca, ia masih memandangi hujan yang menambah kesenduan di hatinya, berharap ini semua bukanlah sekedar mimpi.
Jordan memutar tubuh Rossalia dan menghapus air mata yang jatuh membasahi ke dua pipinya, pria itu menangkupkan kedua tangan besarnya di wajah Rossalia.
"Jika ini mimpi mari tetap tidur bersama, aku pun tak ingin bangun dari mimpi yang indah ini, namun ini nyata sayang, ini bukan mimpi, 13 tahun lamanya, kau tidak tahu bagaimana aku menjadi gila karenamu."
Pria itu mencium kedua mata basah Rossalia, kemudian bibir Rossalia, dan kedua tangan kokoh masih menangkup di wajah Rossalia.
Ciuman yang tadinya terasa biasa, kini berubah menjadi lebih panas, Rossalia bersandar pada kaca jendela dan pria di depannya masih menikmati bibir gadis itu, semakin panas, dan semakin memanas.
"Sayang aku mencintaimu..."
Tangan kiri Jordan masih melingkar di pinggang Rossalia namun tangan kanannya mulai naik membelai punggung, dan kemudian naik lagi membelai lembut kulit gadis itu.
"Sebut namaku sayang..."
Jordan mulai menurunkan resleting baju Rossalia, perlahan dress merah jambu itu turun hingga ke pinggulnya, pria itu menuruni setiap inci leher jenjang Rossalia hingga turun di bahu dan terus turun.
"Jordan..."
Rossalia mendongakkan kepalanya ke atas, bersandar pada kaca jendela, rambut-rambut Rossalia menempel di kaca, ia memejamkan matanya, merasakan sensasi kelembutan setiap sentuhan Jordan, kini pria itu menurunkan baju Rossalia, pakaian itu telah teronggrok di lantai.
Jordan masih dengan kelembutanya menjelajahi Rossalia, membuat Rossalia mencengkram kepala Jordan, jemarinya meremas rambut-rambut Jordan.
"Jo... Jordan, kita berada di kaca jendela... orang-orang bisa melihat kita."
Rossalia masih memejamkan matanya, ia mencoba menyadarkan akal sehatnya takut kemesraan mereka menjadi tontonan banyak orang.
"Kita berada di gedung paling tinggi, dan semua kaca di gedung lantai atas di buat tembus pandang dari dalam, dari luar gedung tidak akan bisa melihat kita, bahkan jika kita telanjang dan menari gila disini, dan juga kaca ini di buat tahan peluru."
Jordan menggendong Rossalia, ia membaringkan gadis itu di atas ranjang yang besar, membelai lembut rambutnya, dan mencium bibirnya, kemudian Jordan melepaskan seluruh baju yang menempel di tubuhnya.
Pria itu sudah berada di atas Rossalia, kedua lututnya sudah bertumpu di masing-masing samping tubuh Rossalia.
__ADS_1
"Lepaskan suaramu sayang, tidak akan ada yang mendengar kita, setiap ruangan di desain kedap suara."
Jordan masih membuat Rossalia lebih panas.
Ini kali kedua mereka melakukannya, pasti masih sedikit sakit untuk Rossalia yang bertubuh kecil.
Tubuh gadis itu basah dengan keringat, mata nya sendu, rambutnya yang panjang membuat Rossalia semakin menggoda Jordan.
Rossalia masih merasakan perih, ia menggigit bibir bawahnya dan memejamkan matanya, jemarinya mencengkram bahu Jordan, membuat bahu-bahu Jordan kemerahan.
"Sakit..."
Rossalia bergumam.
"Kita harus melakukannya sesering mungkin agar kau tak merasakan sakit lagi sayang.."
"Sayang, sebut namaku..."
Jordan mempercepat gerakannya hingga tubuh Rossalia berguncang.
"Jordaann..."
Nafas Rossalia menderu berlomba dengan desahannya.
"Mulai sekarang panggil aku dengan kalimat "sayang".
"Aku ingin mendengarnya..."
"Sayangggg..."
Suaranya lemah dan merdu di telinga Jordan.
Rossalia sudah tak bisa menahannya lagi, ia mencapai puncaknya untuk yang kesekian kali.
Jordan melakukannya hingga lebih dari 2 jam, keringat nya menetes di pelipisnya, sedangkan Rossalia pun tak kalah penuh dengan peluh keringat, badannya mulai tak kuat menahan tenaga Jordan, mata sendunya seakan memohon kepada Jordan untuk menghentikan permainan mereka.
Jordan merasa tak tega, meski ia masih bisa melanjutkannya lebih lama lagi, permainan di tutup oleh Jordan.
"Terimakasih sayang."
"Aku mencintaimu."
.
.
.
__ADS_1
-Bersambung-