CINTA MATI Seorang Mafia

CINTA MATI Seorang Mafia
-EPISODE 30- = PENYERANGAN


__ADS_3

Jordan dan Rossalia bersiap untuk kembali ke Mansion, dari kejauhan Rossalia melihat bayang-bayang bertubuh tinggi, namun Rossalia tak tahu siapakah pria itu.


Pikirnya mungkin hanyalah tukang kebun atau seseorang yang berkunjung ke Panti Asuhan atau entah siapa.


Mobil mulai bergerak pelan untuk keluar dari Panti Asuhan, baru beberapa menit mobil berjalan insting Lorez mulai memberikan sinyal bahaya, ia mulai sibuk menghubungi seseorang.


"Kirimkan 50 pengawal Delta A, akan ku kirimkan posisi kami."


"Para pengawal Delta A persiapkan diri kalian, lindungi Tuan dan Nona."


Jordan sudah merasa dari awal ketika mereka pergi sudah diiukuti, hanya saja dia tidak ingin membuat Rossalia takut, ia tidak menyangka para penguntit itu akan berani menyerang. 


Bahkan ketika mereka masih ada di Panti Asuhan, Lorez sudah membicarakannya dengan Jordan. Namun Jordan punya rencana lain, ia ingin tahu tujuan mereka, jika tujuannya hanya perampok biasa Jordan akan menggilas habis mereka.


Tak berapa lama mobil Jordan mulai di tabraki, Rossalia panik apa yang sedang terjadi.


"A-ada apa ini..."


Rossalia berpegangan pada pintu mobil dengan erat, namun badannya terguncang dengan keras, Jordan dengan cepat menangkap dan mendekapnya seerat mungkin.


"Aku tidak akan memaafkan orang-orang itu jika mereka berani menyakitimu."


Jordan mulai menunjukkan amarahnya.


"BRAKKK !!!" 


"BRAAAKK !!!"


Para penguntit mulai tak sabaran dan kemudian terdengar suara pistol saling menembak, tak kalah bringas para pengawal Jordan menyambut pesta itu.


Pengawal Jordan terbagi menjadi beberapa kelompok, biasanya 1 kelompok berisi 300 orang.


Kelompok Delta A adalah pengawal dengan tingkat level paling rendah namun meski paling rendah para pengawal-pengawal memiliki kemampuan yang luar biasa.


Saat ini Jordan hanya membawa sekitar 15 pengawal terbagi di depan dan di belakang mobil mereka dengan keahlian 1 sniper di setiap mobil pengawal.


"DOOORRRR !!!"


"DOORRRR !!!"


"BRUUUKKKK DDUUAAARRR !!!"


Mobil penguntit 1 sudah terguling dan meledak, namun mobil Jordan mulai terdesak para penguntit berjumlah lumayan banyak.


Tentu saja sopir Jordan membawa mereka di wilayah perbatasan dimana tak banyak ditinggali para warga sipil dan menjauh dari kota yang penuh dengan bangunan, akan menjadi besar urusannya, apalagi Jordan sedang berencana untuk masuk ke dalam anggota pemerintahan.


Mobil Limosin itu mulai ditembaki, Jordan makin mendekap erat Rossalia hingga tubuh kecilnya tak terlihat.


"Lorez apa kau pingsan !!!"

__ADS_1


"Berikan mereka pelajaran !!!"


Jordan mulai naik pitam.


"Baik Tuan."


Lorez mengambil pistol yang selalu ia selipkan di pinggang belakangnya kemudian mengeluarkan setengah badannya dari jendela mobil, menghadap kelangit, dan badan sexy nya sedikit ia miringkan ke kiri, jas hitamnya berterbangan terkena angin, wajah dingin dan tampannya terlihat keren, ia mulai membidik dengan tenang salah 1 mobil yang sedari tadi menembaki dengan brutal tak terarah, si penembak brutal itu berterak-teriak tak jelas dalam bahasa spain.


"DOORRR !!!"


"CEKKKIIITTTTTTT... BRAAAKKKK DDUAAARRR !!!


Hanya dengan 1 tembakan Lorez sudah mampu melumpuhkannya, kini sisa 3 buah mobil dari total 11 mobil penguntit yang sedari dari menembaki mereka.


Lorez adalah assisten pribadi Jordan namun masa lalu nya sebagai pemberontak mafia kelas dunia, jiwa nya haus akan pertarungan dan darah dari musuhnya, ia tak pernah puas ketika dalam peperangan, ia ingin lebih dan lebih, pada saat itulah Jordan menemukan Lorez, di saat dunia mafia sedang di kejutkan oleh Lorez yang melakukan pemberontakan entah untuk tujuan apa, ia hanya senang menyiksa musuhnya, entah siapapun ia jadikan musuh, Lorez tak punya tujuan hidup yang pasti, tak punya keluarga untuk ia lindungi, namun ia sangat pintar, Lorez butuh seseorang untuk menjadi pembimbing atau Tuannya yang mampu mengarahkanya. Akhirnya Jordan membawa Lorez, dan ia jadikan pengawal pertamanya.


Dari kejauhan terlihat gerombolan mobil-mobil melaju dengan cepat.


"Tuan, para pengawal Delta A sudah tiba, apakah kita musnahkan semua tikus-tikus itu?"


"Sisakan beberapa orang, aku ingin melihat bagaimana ia menyampaikan pesanku pada bossnya."


Mobil berhenti di tengah jalanan tanpa aspal, debu berterbangan hingga udara terasa mencekat di tenggorokan, mereka kini berada di perbatasan Negara K.


Jordan keluar dari dalam mobil diikuti oleh Rossalia, mobil limosin mewah kini berubah menjadi mobil rongsok yang penuh lubang tembakan dengan bagian-bagian bamper mobil copot sana sini.


Rossalia menutup mulutnya dengan kedua tangan melihat 4 orang laki-laki sudah duduk bersimpuh di hadapan Lorez, begitu banyak darah di tubuh-tubuh dan kepala mereka.


"Katakan atau 1 per 1 dari kalian akan ku tembak."


Lorez mengarah kan pistol nya di kepala pria paling ujung yang bersimpuh tepat di depan Lorez.


Rossalia tak berani melihat, ia menyembunyikan wajahnya di dada Jordan, tangannya memeluk erat pinggang Jordan.


Pria penguntit pertama masih diam tak menjawab, kemudian ia menggigit sesuatu, ternyata ia sudah memasang racun di balik lidah dan memakannya, tak lama kemudian ia mulai kejang-kejang, pria itu memilih mengakhiri hidupnya sendiri daripada harus mengatakan maksud dari tujuannya dan siapa boss nya.


Lorez beralih pada pria kedua, ia menodongkan pistolnya di kepala pria itu, namun mengejutkan pria itu justru meludahi Lorez.


Salah 1 pengawal maju untuk mengelap baju Lorez yang kotor karena air ludah, namun Lorez masih merasa jijik kemudian ia melepaskan bajunya, kini dadanya yang bidang, kekar serta ketampanannya ter ekpose dengan leluasa hingga udara di sekitar pun mungkin ingin mencumb*nya.


Dengan emosi dia menendangi dan menginjak-injak pria itu, Lorez mengarahkan pistolnya.


"DDDOORRR !!!"


Satu kali tembakan Lorez tepat di tengah kepala pria itu.


Jordan menutup telinga Rossalia dan mendekapnya dengan pelukan yang erat.


Kini giliran pria yang ketiga. 

__ADS_1


Lorez sudah lelah membuang-buang waktu.


"katakan atau mati."


Lorez berbicara dengan nada santai dan tenang, emosinya sudah mereda.


"Sa-saya hanya disuruh Tuan, saya memang pembunuh bayaran namun saya tidak tahu apa-apa, dan kami tidak saling mengenal satu sama lain, baru beberapa jam tadi kami dikumpulkan, dan ternyata target yang harus kami incar juga baru tadi di berikan."


Pria itu menjelaskannya dengan ketakutan.


"Bawa mereka ke gudang bawah tanah di markas pelatihan atau habisi mereka Lorez, aku sudah malas."


Jordan mulai kehabisan kesabaran, ia sudah tidak tega merasakan badan Rossalia yang tidak berhenti gemetar.


"Ayo kita pulang sayang, percayalah padaku, aku tidak akan membiarkan seorang pun menyakitimu bahkan mereka tidak akan bisa menyentuh ujung rambutmu, itu tak akan pernah terjadi."


Jordan meggendong Rossalia menuju mobil pengawal yang baru tiba.


Mobil pengawal melaju meninggalkan Lorez dan beberapa pengawal lainnya yang sedang membereskan mayat dan para tahanan penguntit.


Setelah beberapa jam menempuh perjalanan, akhirnya mereka sampai di mansion. Jordan menggendong Rossalia yang sudah sedikit tenang namun masih shock mengingat peluru-peluru berseliweran di dekatnya, serta suara-suara tembakan yang membuat telinganya sakit dan berdengung.


"Paman Lee !!!"


Jordan berteriak memanggil kepala pelayan sambil menggendong Rossalia, Jordan melangkah dengan cepat, kakinya begitu panjang, ia membawa Rossalia ke kamarnya dan membaringkannya di ranjang.


Paman Lee datang tergopoh-gopoh.


"Ya Tuan, ada apa dengan Nona Muda."


Paman Lee terlihat khawatir dan panik melihat wajah Rossalia yang pucat pasi, gadis itu dalam keadaan pingsan.


"Buatkan sesuatu yang bisa menghangatkannya, badannya sangat dingin, dan juga panggil kan Imanuel, ahh jangan, panggilkan dokter perempuan."


Jordan menggosok gosok tangan Rossalia dengan kedua tangannya.


Ketika Paman Lee akan pergi Jordan menghentikannya.


"Panggil Dokter Imanuel saja."


"Baik Tuan Jordan saya akan memanggil Dokter Imanuel."


Jordan masih mondar-mandir tak karuan, Paman Lee sudah membuatkan air minum hangat, badan Rossalia sudah di basuh serta para pelayan mengganti pakaiannya, namun gadis itu belum juga bangun.


"Ya Tuhan Rossalia bangunlah, aku akan menghukum diriku sendiri jika kau tidak bangun, aku akan membunuh mereka semua mengejar sampai ke akarnya, akan ku siksa dan ku kuliti mereka, perset*n dengan mereka semua !!!"


.


.

__ADS_1


.


-Bersambung-


__ADS_2