
-Hari kedua di Chicago-
Jordan duduk dengan angkuh, mata nya bak elang yang sedang mengincar musuhnya, tanpa meminum anggurnya pria itu menahan semua gejolak amarah yang ingin ia lampiaskan.
Di hadapannya duduk seorang pria paruh baya mengenakan Mantel besar berbulu .
"Kau datang tiba-tiba sekali, membuat kehebohan dimana-mana, pengawalmu hampir menghabisi seluruh anggotaku."
Pria paruh baya itu menunjuk Lorez dengan tangannya yang sedang memegang gelas alkohol, cincin-cincin besar terpasang di jari-jarinya.
"Moreno apa kau yang telah menjebakku?"
Kata Jordan.
Moreno tertawa hingga suaranya menggelegar mengisi seluruh ruangan bar.
Para pelayan serta pengunjung di bubarkan secara paksa oleh Moreno. Saat Jordan datang Lorez dengan tangkas membekuk semua pengawal Moreno yang bejaga di depan kantornya dan menyeret pria paruh baya itu bertemu dengan Jordan yang sudah duduk di sofa besar.
"Apa kau tahu siapa yang ingin kau ajak bermain?"
Jordan kembali menekan, ia mengangkat tangan kanannya memainkan telunjuknya diatas meja marmer hingga menimbul kan bunyi.
"-Tek-Tek-Tek-"
Sebuah peringatan dan tanda penekanan.
"Mana mungkin Black Eyes akan mengkhianatimu Jordan."
Moreno memasang wajah serius.
"Siapa yang melakukannnya."
Kata Jordan tak sabar.
"Kenapa kau tidak melakukan Tes DNA saja, itu lebih mudah, saat seperti ini justru jangan kau tinggalkan istrimu, bisa saja ada harimau lain yang ingin menyantapnya."
Moreno menenggak alkoholnya kembali.
"Saat sampai di Mansion Paman Lee diam-diam telah mengambil sample rambut anak itu, Lorez sudah mengecek nya dan hasilnya 99%..."
Kalimat Jordan terhenti, ia tidak dapat melanjutkan karena tiba-tiba lidahnya terasa kelu.
"Dengan kata lain dia adalah anak kandungmu? Atau sebenarnya kau pergi kesini hanya ingin menghindari istrimu karena kesalahanmu?"
"Kau hanya belum menerima bahwa kau pernah khilaf dan mengkhianatinya."
"Cih!!!"
Moreno mengejek, sudut bibirnya terangkat.
"Aku yakin dia bukan anakku, aku tidak pernah menyentuh Sarah, meski dalam keadaan mabuk alarm bawah sadarku selalu aktif."
Jordan kembali meyakinkan.
"Kecuali..."
Moreno berfikir keras.
"In-Vitro Fertilization atau metode inseminasi."
"Bayi tabung?"
"Jangan mulai mengarang, aku bahkan menyimpan para kecebong-kecebongku aman di dalam, gen ku sangat di nanti oleh para wanita."
Jordan mulai kesal.
"Atau pengawalmu mulai berkhianat memalsukan tes DNA."
Moreno kembali tertawa sengit dan melirik Lorez.
"Carilah informasi yang berdasar aku tidak ingin mendengar bualanmu."
Jordan berdiri dan kembali ke Hotel dimana ia menginap.
__ADS_1
.
.
.
.
"Lorez hubungi istriku, aku ingin bicara dengannya."
Jordan melepaskan mantel dan menggulung kemeja putihnya.
Setelah beberapa menit menempuh perjalanan kini mereka telah tiba di kamar hotel.
"Tuan sebaiknya jangan menghubungi Nona Rossalia dulu, banyak penyadap di Chicago. Baru saja saya mendapat kabar ada yang menyadap ponsel anda. Keamanan Nona Rossalia sekarang jauh lebih penting."
"Baiklah aku akan mandi kau bisa keluar."
"Baik tuan."
Jordan masuk ke dalam kamar mandi, menghidupkan air panas tiba-tiba pria itu merasakan sesuatu yang janggal, asap aneh sedikit demi sedikit memasuki kamar mandi melalui celah pintu, Jordan dengan cepat mengambil handuk untuk menutup hidungnya ia keluar dari kamar mandi namun kamar hotel telah di penuhi gas yang membuatnya linglung, tubuh besarnya lemas terkulai di lantai dengan posisi tengkurap, matanya masih terbuka, terlihat seseorang dengan sepatu hitam berdiri tepat di depan wajahnya.
Pria itu berjongkok, lutut kaki kanannya bertumpu pada lantai sedang lutut kirinya sebagai tumpuan untuk tangan kiri, terlihat ia memakai alat pelindung pernapasan atau respiratory protective equipment (RPE) melindungi dirinya dari asap beracun.
"Sorry boss, tapi temanmu sudah menyadarinya, lebih baik aku mempercepat rencana."
Kata Lorez, suaranya terdengar berat karena memakai alat respirator.
Lorez menyeret Jordan dan memasukkannya ke dalam karung besar kemudian menggendongnya seperti menggendong kumpulan sampah. Melalui pintu belakang dan lift khusus Lorez mulai bergerak keluar dari hotel.
Ketika Lorez sampai di bassment ia memasukkan karung yang berisi tubuh Jordan ke dalam bagasi, terdengar alarm hotel berbunyi, kemudian pria itu mengemudikan mobil dengan kecepatan penuh.
Mobil perlahan masuk ke dalam sebuah gudang besar terbengkalai dan berhenti.
Lorez keluar mengambil karung dari dalam bagasi dan melemparkannya tepat di hadapan seorang pria.
"Kerja bagus."
"Buka."
Perintahnya.
Para pengawal membuka ikatan karung dan mengeluarkan Jordan yang masih pingsan.
Mereka menyiram Jordan dengan air dingin.
Pria itu mulai menggeliat, kepalanya pusing dan tubuhnya masih lemah karena gas yang ia hirup.
"Aaghh..."
"Apa yang terjadi..."
Jordan mulai mengangkat tubuhnya menggunakan tangan untuk bertumpu, ia duduk dengan menaikkan sebelah lututnya, dan menekuk kaki sebelahnya.
"Lorez kau..."
Jordan mulai mengenali sekeliling, ia juga melihat para pengawal yang sedang berjaga.
Kemudian pria itu memalingkan wajahnya melihat seorang pria tinggi yang kokoh berkulit maskulin.
Jordan tersenyum mendesahkan nafasnya.
"Kau berani keluar dari persembunyianmu."
"Aku kesini hanya ingin melihat bagaimana kau di khianati oleh orang-orang terdekatmu."
Kata pria itu.
"Tidak penting."
Jordan mulai berdiri.
"Aku menemui istrimu saat malam hari."
__ADS_1
Pria itu berkata sambil memasukkan kedua tangannya ke dalam saku celana kemudian tertawa mengejek.
"Jangan sekali kali kau menyentuh istriku."
Geram Jordan.
"Aku menciumi lehernya, aku ingin bercumbu dengan istrimu dengan mencengkram rambut panjangnya."
Pria itu tertawa kembali.
"EDGAR!!!"
Jordan emosi ingin menyerang Edgar namun Lorez menahannya, para pengawal maju memukuli tubuh Jordan dengan pemukul bisbol yang mereka bawa.
Namun Edgar memerintahkan para pengawalnya untuk berhenti.
"Biarkan pengawal setianya yang memukulinya."
Edgar puas melihat rencananya berhasil.
"Satu persatu para pengawalmu akan berkhianat, aku juga akan membuat istrimu berkhianat."
Kata Edgar duduk di kursi yang telah usang.
"Lorez remukkan tulang-tulangnya."
Lorez maju dan memukuli Jordan dengan pemukul bisbol yang telah disiapkan oleh para pengawal Edgar.
"-Bug-Bug-Buugg-"
Terdengar pukulan demi pukulan terus menerus dilakukan oleh Lorez.
"Hei bung, apa bayaran yang ku berikan kurang hingga kau berani memukulku dan mengkhianatiku."
Kata Jordan sambil meludah karena darah yang mengalir di mulut nya. Tubuhnya pun telah begitu banyak memar.
"Aku bekerja untuk siapa saja yang mampu membayarku dengan upah tinggi, dan tuan Edgar membayarku lebih tinggi."
Lorez kembali memukul punggung Jordan.
"Baiklah, jika itu maumu, kau akan menjadi lawanku sekarang."
Jordan berdiri menegakkan tubuhnya, memfokuskan penglihatannya, otaknya mulai menggambar posisi posisi musuhnya.
Lorez maju dan memukul Jordan kembali namun pemukul bisbol itu mampu Jordan tangkis dan ia rebut, pria itu bertarung satu lawan satu dengan Lorez tanpa menggunakan senjata apapun.
Pukulan demi pukulan saling mendarat di tubuh dan wajah mereka, Jordan melayangkan seranganya kembali pada Lorez dengan cepat ia naik lebih tinggi dari tubuh Lorez seakan ia terbang ke atas dan memukul bahu Lorez kemudian turun memukuli tubuh Lorez bertubi-tubi.
Saat Lorez tidak siaga Jordan menarik pistol yang berada di pinggang Lorez di balik jasnya dengan cepat, kemudian Jordan membungkus kepala serta punggung Lorez dengan Jas pria itu.
Merasa Lorez tak bisa melawan lagi karena terkunci dengan Jasnya, Jordan mengarahkan pistol pada para pengawal, satu persatu pengawal berguguran Jordan mundur sembari berlari bersembunyi di dalam gedung.
"Para pengawal jaga gedung jangan sampai Jordan keluar dengan selamat, jika perlu bunuh dan buang."
Perintah Edgar.
"Baik Tuan."
"Lorez aku percaya kau bisa di andalkan, kita kembali ke markas."
Edgar berjalan diikuti oleh Lorez yang sembari menghapus darah di sudut bibirnya.
Sedangkan Jordan masih berjuang di kelilingi oleh puluhan pengawal yang siap membunuhnya.
Pria itu sembunyi di balik tumpukan kursi yang tinggi, kemudian ia memeriksa pistolnya yang hanya tersisa 2 peluru.
.
.
.
-Bersambung-
__ADS_1