
"Siapa namamu."
Tiba-tiba Jordan bertanya.
Entah dia sendiri pun bingung kenapa menanyakan hal ini.
"Sayaa..."
"Ross...."
Suaranya lirih, begitu pelan, seperti tercekat ditenggorokannya.
Jordan mengernyitkan dahinya. Menekankan pandangannya bahwa iia tidak mendengar apa yang gadis itu katakan.
"Saya... Luna Tuan."
"Aku tidak boleh menyebutkan nama asliku.
Aku harus mengambil kesempatan ini untuk pergi dari kota ini."
"Walaupun aku tidak tahu harus kemana, namun aku tidak ingin kembali pada ibuku, jika aku kembali pasti Herder akan datang lagi."
"Jalan satu-satunya aku harus menyamar dengan nama Luna dan ketika ada kesempatan, aku akan pergi ke negara K, seingatku Panti Asuhan itu berada di Negara K."
"Ya aku harus berjuang demi diriku sendiri."
"Maafkan saya tuan, saya telah berbohong kepada anda, saya tidak punya pilihan lain."
Dalam hati gadis itu berbicara serta menyesalinya tindakannya karema telah berbohong.
"Kenapa kau bisa bersama Herder."
Jordan mulai duduk dengan menyilangkan kaki kanannya bertumpu di atas kaki kiri, tangannya bersedekap. Seakan ia siap mendengar penjelasan dari gadis itu.
Jordan masih tidak sadar jika dirinya mulai penasaran dengan seseorang parahnya ia penasaran dengan seorang gadis yang bahkan belum ia kenal.
Hal yang paling ia benci dan membuang waktu adalah penasaran dengan orang lain. Namun sekarang seperti nya hal itu tidak akan berlaku untuk gadis ini.
"Rumah saya berada di pantai utara dan pantai tepat di belakang rumah saya, Ibu saya hanya buruh cuci kemudian dia meminjam uang kepada Tuan Herder untuk modal membuka kedai mie ayam di rumah."
"Namun bunga yang di berikan Tuan Herder sangat besar, bahkan bunga itu menjadi lebih besar dari uang yang Ibu saya pinjam..."
Gadis itu mencoba menarik nafasnya panjang, kemudian ia melanjutkan ceritanya kembali.
"Ibu saya tidak bisa mengembalikannya, kemudian Tuan Herder meminta saya sebagai istri keduanya, sebagai gantinya hutang-hutang ibu saya dianggap lunas, namun saya tidak mau."
"Saat itu, ketika akan masuk ke dalam mobil, saya beralasan ingin ke kamar kecil dan diantar oleh 2 pengawal saat itulah saya melarikan diri, saya terus berlari hingga tiba dijalan besar itu, saya berharap ada seseorang yg akan menolong saya namun saya ingat tidak akan ada orang yang melewati jalan itu karena itu adalah jalan "terlarang".
"Saya benar-benar putus asa apakah saya harus terjun ke Pantai saja."
"Ketika saya melihat dari ujung ada mobil yang melintas, akhirnya saya berfikir ingin mengakhiri hidup saya dengan menabrakkan diri namun ternyata mobil Tuan berhenti dan saya bersyukur, sangat berterima kasih kepada Tuan mau membantu saya."
Gadis itu menceritakannya dengan menangis.
Bahkan matanya terlihat sudah bengkak mungkin karena terlalu banyak menangis.
"Tuan tolonglah saya sekali lagi, saya tidak ingin kembali kepada ibu saya, saya takut Tuan Herder akan kembali, bahkan jika Tuan Herder tidak kembali pun saya tidak ingin pulang."
Gadis itu kembali menangis dan menutup matanya dengan kedua telapak tangannya.
"Kenapa kau tidak ingin pulang, bukankah kau memiliki ibu yang harus kau jaga dan kau rawat." Jordan kembali penasaran
Kali ini Gadis itu tidak akan menyimpannya lagi, ia sudah lelah mendapat perlakuan dari ibunya, dan ingin hidup damai meski harus bekerja keras menghidupi dirinya sendiri.
"Saya..."
"Saya bukan anak kandungnya, sejak kecil saya dipukuli dan jika pekerjaan saya tidak benar, saya akan di kunci di dalam kamar tidak diberikan makan, kakak tiri saya sudah beberapa kali mencoba menggoda saya, bahkan akhir-akhir ini ketika di rumah tidak ada orang, kakak saya semakin berani, sehingga setiap rumah sepi saya harus keluar dan menunggu di pantai hingga ibu saya kembali."
Jordan hanya diam, entah apa yang ia fikirkan.
__ADS_1
"Tidur dan istirahatlah."
Jordan kemudian berdiri.
"Baik Tuan."
Gadis itu masih penasaran dan tidak bisa menebak apa yang akan Tuan itu lakukan.
Jordan keluar dari kamar, ia kembali menuju kamarnya. Mengambil ponsel dan menelpon seseorang.
"Ya Tuan, apakah ada masalah?"
Lorez yang sedang tidur tiba-tiba dikejutkan oleh suara ponselnya yang berdering, ia bangun menjawab panggilan dengan suara serta mata yang dipaksa untuk tetap siaga.
"Kemarilah aku butuh kau untuk mengurus sesuatu."
Beberapa menit kemudian Lorez berada di dalam kamar Jordan, ia seperti orang yang sedang bermimpi atau tersambar petir bahkan beberapa kali ia mencubit dan menampar pipinya sendiri.
"Tuan apakah anda yakin, dengan hal ini, bahkan kita tidak tahu gadis itu berbohong atau tidak, bagaimana mungkin tuan ingin membawanya ke negara K."
"Bagaimana jika gadis itu mata-mata, bahkan pekerjaan kita disini masih beberapa hari lagi."
Lorez masih merasa dirinya belum bangun dari tidurnya.
"Lakukan saja seperti apa yang aku suruh, aku tidak ingin mendengar pendapatmu."
"Pergilah!"
"Baik Tuan."
Lorez pergi dengan pikiran dan perasaan yang masih di penuhi tanda tanya besar.
.
.
.
.
Jordan masih memantau para pekerja dari dalam mobilnya. Sedangkan Freya dan Lorez berada di luar.
Mereka menunggu kedatangan Nathan Grup.
Nathan Grup adalah kontraktor yang memenangkan lelang proyek yang di garap ROSSALIA GRUP.
Selang beberapa menit pihak perwakilan Nathan Grup datang dan membuat Jordan tidak senang.
"Maafkan saya Tuan dan Nona sudah menunggu, perkenalkan saya Ronald assisten pribadi Nona Anna, dan beliau adalah Nona Anna, anak dari presdir Nathan Grup, presdir berhalangan hadir karena sedang tidak enak badan."
Lorez dan Freya melihat bergantian.
"Kenapa tidak mengabari terlebih dahulu, jika presdir berhalangan."
Kata Lorez menahan emosinya.
Jordan yang mengamati dari dalam mobil menurunkan jendela mobilnya sedikit.
"Lorez suruh assisten pribadinya yang masuk." Dengan pelan dan tenang Jordan memberikan perintah, kemudian Jordan kembali menutup jendela kaca mobilnya.
Demgan sedikit kesal Lorez membukakan pintu mobil.
"Silahkan masuk Tuan Ronald, Tuan Jordan tidak suka menunggu dan membuang waktu."
Ronald dan Anna saling menatap.
Anna terlihat jengkel dan marah dia menyedekapkan tangannya dan mengumpat pelan.
Sekitar 1 jam Ronald dan Jordan di dalam mobil entah apa yang mereka bicarakan namun ketika Ronald keluar dari dalam mobil wajah nya terlihat pucat, badannya yang gemetaran tak mampu dia sembunyikan.
__ADS_1
Kemudian Lorez dan Freya masuk ke dalam mobil dan melajukan mobilnya kembali ke Hotel Amour.
"Ada apa denganmu !!"
Anna bertanya dengan ketus dan wajahnya sangat sinis.
"Ti-tidak Nona, hanya saja saya seperti melihat dewa kematian, Tuan Jordan sangat menakutkan, saya pikir saya akan mati, selama kurang lebih 1 jam saya menjelaskan proposal auranya sangat dingin dan menakutkan, bahkan dia hanya menatap saya 1 kali, saya bahkan tidak berani menatapnya dan berharap dia tidak menatap saya lagi."
"Jordan setampan itu mana mungkin dewa kematian, kau b*doh yaa... Gara-gara kau, aku bahkan tidak bisa merayunya, dan sekarang kau bilang dia dewa kematian, kau mau di pecat!!!"
"Sekarang aturlah agar aku bisa bertemu dengannya atau makan malam dengan dia, apa kau mengerti !!!"
Anna berkata sinis dan sedikit berteriak, karena kesal.
"Bahkan suaranya saja begitu membuatku tergila-gila.... aaahhhh."
Dalam hatinya, ia begitu terobsesi, Anna membelai lehernya sendiri dengan kedua tangannya, sembari membayangkan Jordan yang tampan dan gagah.
.
.
.
.
-Hotel Amour-
Jordan melangkah dengan cepat, suasana hatinya sangat buruk. Lorez dan Freya mengikuti dari belakang. Aura Jordan mencekam dan seakan ingin membunuh siapa saja yang menghalangi jalannya.
Saat tiba di lobby Jordan berhenti mendadak, sontak Lorez dan Freya terkejut. Seperti mobil yang melaju kencang, sedangkan yang di belakang tak ingin tertinggal mobil di depannya namun tiba-tiba mobil di depannya berhenti dan mereka harus menginjak rem dengan cepat, mereka takut jika terlambat menginjak rem sedikit saja akan menabrak boss nya.
Ya seperti itulah perumpamaannya.
Jordan seperti melihat seseorang yang tak asing, benar saja itu adalah gadis yang dia selamatkan, sedang duduk berbincang dengan Wakil Presdir Math Grup.
Senyumnya mengembang halus, Mateen terlihat bahagia dan mereka seperti sangat menikmati obrolan yang entah apa sehingga membuat mereka saling mengumbar tawa.
"FREYA !!!"
Jordan memanggil dengan keras nyaris membentak.
Suaranya lantang dan menggelegar hingga semua pegawai kaget namun tak berani memperhatikan apa yang sedang terjadi.
"Iya Tuan... Saya."
Freya maju selangkah dan menundukkan pandangannya kebawah.
"Apa kau sudah bosan bekerja !!!"
"Mengawasi satu gadis saja tidak becus !!!"
"Bawa gadis itu ke kamarnya, suruh dia mandi sampai bersih !!!"
Jordan kemudian berlalu meninggalkan mereka, ia menuju kamarnya dengan emosi yang memuncak dan hawa ingin membunuh.
Lorez masih tidak percaya namun kali ini ia yakin akan sesuatu, bahwa ada yang aneh dengan tuan nya.
"Semalam Tuan Jordan bahkan membangunkanku jam 2 dini hari hanya untuk membuat surat perjanjian dengan keluarga gadis itu, Tuan ingin membawanya ke Negara K."
Lorez menceritakannya kepada Freya. Namun Freya hanya diam saja ia berlalu meninggalkan Lorez dan menghampiri gadis itu untuk mengajaknya kembali ke kamar.
.
.
.
-Bersambung-
__ADS_1