CINTA MATI Seorang Mafia

CINTA MATI Seorang Mafia
- EPISODE 83 - = ANAKKU BUKAN KEDELAI


__ADS_3

Dokter Imanuel hanya tertawa melihat Jordan yang uring-uringan sendiri, kemudian mulai menaikkan baju Rossalia.


Jordan menepuk kasar tangan Imanuel dan memicingkan matanya.


"Katanya kau ingin melihat anakmu bukan? Kau saja yang periksa."


Kata Dokter Imanuel menggoda.


"Kenapa kau menyingkap baju istriku?!"


Kata Jordan geram.


"Lalu dengan bagaiamana harus melihatnya, apakah dengan teropong?"


Dokter Imanuel tertawa.


Rossalia pun ikut tertawa namun Jordan masih terlihat tak mengerti, wajahnya masih kesal.


"Sayang kali ini menurutlah, Dokter Imanuel lebih pengalaman."


"Baiklah, tapi kali ini aku benci kalimat pengalaman."


Jordan mengalah.


Dokter Imanuel mulai memberikan gel dan mulai melakukan Usg di perut Rossalia.


"Seperti nya Rossalia benar-benar tidak menyadari jika dirinya hamil."


"Dimana anakku?"


Kata Jordan memicingkan matanya sembari melihat layar, tangannya masih menggengam Rossalia.


"Kantong bulat ini yang akan menjadi rumah anakmu, anakmu masih berukuran biji kedelai."


Kata Dokter Imanuel menerangkan dengan kalimat yang mudah di mengerti.


"Kedelai?"


Jordan mengulangi kalimat Dokter Imanuel dengan pertanyaan tak mengerti.


"Kenapa ada kedelai di sana?"


"Kenapa hanya kedelai yang masuk ke dalam telingamu."


"Anakmu masih kecil, dan berukuran seperti biji kedelai."


Kata Dokter Imanuel mengulangi.


Rossalia hanya tertawa melihat suaminya yang benar-benar seperti anak polos.


"Sayang kau mengejekku?"


Jordan menatap Rossalia.


"Tidak."


Kata Rossalia menahan tawannya.


"Tapi kau menertawakanku."


Jordan menatap tajam istrinya.


"Tidak aku hanya geli karena anakku menggelitiki perutku sayang."


Kata Rossalia berbohong.


"Benarkah, apakah anak kita bahagia kenapa dia menggeliti perutmu?"


"Coba kau perbesar gambar layarnya Dokter yang berpengalaman."


Jordan benar-benar serius menanggapi perkataan Rossalia.


"Ahh sayang aku sangat lapar bagaimana kalau kita kembali ke Mansion, aku rindu sekali masakan koki di sana."


Rossalia mengalihkan pembicaraan yang tidak jelas itu dan masih menahan tawanya, terlihat Dokter Imanuel juga menahan tawanya melihat Jordan yang pintar, cerdas serta angkuh benar-benar terlihat polos.


"Baiklah kau harus makan yang banyak agar anakku tumbuh lebih cepat."


Kata Jordan semangat.


"Berikan banyak vitamin terbaik untuk istriku."


Kata Jordan sembari membantu Rossalia turun dari ranjang.


"Baiklah, akan ku beri vitamin terbaik agar si kedelai cepat tumbuh dan berkembang."


Kata Dokter Imanuel sambil tersenyum.


"Hey... Dia anakku yang mewarisi gen terbaik dalam tubuh sehat ku, dia akan menjadi penerus dan pewaris terbaik, bukan kedelai."


Sahut Jordan.

__ADS_1


"Dengar ya Tuan sok pintar, beberapa bulan kedepan istrimu akan mengalami morning sickness memang tidak semua perempuan yang mengandung akan mengalami hal ini namun untuk berjaga-jaga dan mengantispasi agar kau tidak sedikit-sedikit menelponku menyuruhku datang karena kecemasan mu yang tak berdasar lebih baik aku beritahu sekarang."


Kata Dokter Imanuel sembari mengetuk ngetuk penanya di meja.


"Jadi istrimu akan mengalami mual serta muntah itu wajar untuk 3 bulan ke depan, lalu jangan melakukan hubungan selama 3 bulan eh 5 bulan, bukan bukan selama 9 bulan dan setelah istrimu melahirkan."


Kata Dokter Imanuel menahan tawanya.


"Kau mengerjaiku?"


Kata Jordan.


"Katakan yang sebenarnya, jika tidak kau akan menyesal."


"Baiklah, aku hanya bercanda. Jangan lakukan hubungan selama 3 bulan pertama karena itu masa rawan janin sedang berkembang, setelah itu jika kalian ingin melakukan hubungan lakukan dengan hati-hati, pada umur kehamilan yang semakin mendekati persalinan lakukan hubungan lebih sering itu akan membuat persalinan Rossalia nanti lebih mudah."


"Kenapa?"


Jordan bertanya.


"Lakukan saja, kenapa masih banyak bertanya."


Kata Dokter Imanuel kesal.


"Kenapa kau yang kesal, aku hanya bertanya."


Jordan menghentakkan kakinya.


"Sembari berjalan kau akan mengerti, pergilah aku sibuk."


Dokter Imanuel mengayunkan tangannya.


"Hey... kau dokter pribadi kami, seharusnya kau tidak boleh sibuk."


Jordan masih tak mau mengalah.


"Sayang anakmu ingin segera makan, ia kelaparan."


Kata Rossalia menyela.


"Baiklah anakku, maafkan ayah."


Jordan berdiri dan merengkuh perut Rossalia mengusapnya dan merangkul tubuh istrinya berjalan keluar.


Rossalia mengedipkan matanya pada dokter Imanuel memberikan isyarat bahwa ia mengerti apa yang dokter itu rasakan.


"Apa kau main mata dengan pria lain sekarang?"


Kata Jordan menjewer telinga istrinya.


"A-aa-aaaw... Aku hanya bercanda sayang."


Rossalia memeluk tubuh Jordan.


Akhirnya Rossalia serta Jordan pun kembali pulang ke Mansion, di tengah perjalanan tiba-tiba Rossalia mual, ia ingin muntah.


Jordan dengan cepat menepikan mobilnya.


"Sayang apa kau baik-baik saja?"


Jordan menggosok-gosok punggung istrinya.


"Aku hanya mual."


Kata Rossalia memegangi lehernya.


"Bagaimana jika kita buka saja jendelanya, aku akan menyetir dengan pelan."


Jordan membelai kepala istrinya.


"Baiklah."


Rossalia mengangguk.


.


.


.


.


Hari demi hari yang sangat berbanding terbalik dengan sifat arogan Jordan. Pria yang kasar dan penuh kalimat perintah kini tak bisa berkutik dengan segala aturan dan permintaan sang istri yang sedang hamil.


Permintaan-permintaan yang kadang tak masuk akal, namun Jordan tak bisa menyangkal dan hanya bisa melaksanakannya.


Kadang Rossalia marah tanpa sebab, kadang pun kesal dengan Jordan ketika berpamitan ke kantor pria itu memakai warna dasi yang tidak cocok menurut Rossalia.


Bahkan pada suatu waktu Rossalia marah hanya karena Jordan tanpa sadar tidur memunggunginya.


Pernah tidak ingin di cium hanya karena bau parfum mahal Jordan yang bahkan bisa untuk membeli satu buah sepeda motor.

__ADS_1


"Lorez apa kau benar-benar sudah sembuh?"


Kata Jordan duduk menyandarkan punggungnya, ia terlihat kelelahan.


"Ya tuan terimakasih, tapi kenapa anda di sini, memakai sarung tangan, dan kenapa taman Nona Rossalia menjadi berantakan apakah anda sedang marah?"


Kata Lorez.


"Apa kau tidak bisa melihat aku sedang menanam bibit-bibit bunga istriku?"


Jordan melirik Lorez dengan tajam.


"Maaf tuan, saya tidak bermaksud... Tapi kenapa itu lebih terlihat seperti merusak taman Nona Rossalia."


"Kenapa kau tidak membantuku daripada hanya melihat?"


Jordan mulai kesal.


"Kenapa anda menanam bibit bunga tuan, apakah anda ingin berbisnis bunga sekarang?"


Kata Lorez mengalihkan pembicaraan.


Akan jadi seperti apa jika taman Rossalia dijamah dua lelaki yang tangan mereka terbiasa memegang pistol menembaki musuh, sekarang harus memegang sekop kecil dan menanam bibit-bibit itu dengan hati-hati.


"Istriku ingin aku menanam bibit bunganya, ia takut jika tidak segera ditanam akan busuk."


Jordan melepas sarung tangannya.


"Kenapa anda yang menanamnya tuan?"


Lorez bertanya kembali.


"Iya ya, kenapa harus aku? Di Mansion ini banyak sekali pelayan, tapi kata istriku bibit itu harus aku yang menanam itu keinginannya, dan aku tidak bisa menolaknya."


Kata Jordan.


Tak berapa lama Freya datang membawa beberapa dokumen.


"Tuan saya membawa dokumen yang harus anda tanda tangani dan saya menyampaikan proyek kota S sudah selesai, semua sudah menunggu anda untuk peresmian."


"Nanti malam akan menjadi pesta yang sebenarnya."


"Bantu istriku bersiap."


Kata Jordan sembari berdiri setelah menandatangani dokumen.


"Baik Tuan."


Kata Freya menunduk, dan berjalan mengikuti Jordan.


Rossalia yang tidak tahu menahu dan mendadak Freya meriasnya hanya bisa menurut.


Sesekali ia merasa mual saat bebauan make up menyembul terhisap pada hidungnya.


"Maafkan saya Nona."


Kata Freya.


"Tidak apa-apa."


"Apakah masih lama?"


Rossalia mulai jenuh.


"Sudah selesai, Tuan Jordan sudah menunggu anda di atas atap."


Kata Freya menggandeng lengan Rossalia dengan hati-hati.


"Atap?"


"Kita akan ke Kota S Nona, agar perjalanan lebih cepat dan tidak terkena macet kita harus memakai helikopter menuju landasan pribadi, pesawat jet tuan Jordan sudah menunggu di sana."


"Ada apa di kota S?"


Rossalia masih bertanya, langkah mereka terhenti ketika mereka sampai di atas atap.


"Kita sudah sampai Nona, tuan Jordan sudah menunggu."


Kata Freya mengalihkan pembicaraan.


"Sayang kemarilah, kita harus cepat."


Jordan tersenyum sembari mengulurkan tangannya dan membantu Rossalia naik.


.


.


.


-Bersambung-

__ADS_1


__ADS_2