
-Mansion Beverly Hills-
"Braakkk!!!!!"
"Praanggg!!!"
"Pyaarr!!!"
Jordan memukuli seluruh perabotan dengan stick golf nya, sikapnya kembali tak terkendali.
Para pelayan merasakan dejavu yang nyata, setelah sekian lama Jordan tidak pernah lagi memporak porandakan seluruh ruangan, kini kekejamannya bangkit kembali.
"Bodoh kalian semua!!!"
"Keparat kalian!!!"
"Tidak becus semua!!!"
Jordan emosi, karena kehilangan Rossalia ketika ia masih berada di kantor mengurus para pendemo, kemarahannya bertambah memuncak ketika melihat siaran langsung saat Rossalia di serbu oleh para haters.
Jordan bergerak dengan cepat ke titik lokasi namun, tempat itu sudah sepi, hanya beberapa orang berlalu lalang dalam kesibukan mereka masing-masing.
"Kerahkan semua pengawal cari sampai dapat!!!"
Jordan berteriak kepada para komandan pengawal yang kemudian mereka bergerak sibuk menghubungi setiap pengawal-pengawal yang sedang mencari di setiap penjuru Negara K.
Jordan kembali menjadi monster yang emosinya tak bisa di kontrol, ia menghancurkan seluruh perabotan ruangan bahkan menghancurkan mobil yang Brida pakai. Mobil mewah itu remuk bahkan pecahan kaca mobil bertebaran di halaman Mansion para pelayan tidak berani menyentuh apapun sebelum Tuannya kembali tenang.
Brida ketakutan hingga ia tak sanggup berdiri.
Jordan murka ia kalap tak berapa lama ponselnya berdering.
"Katakan dengan jelas atau ku bunuh kau."
Kalimat Jordan tegas dan garang.
"Tuan, sekarang Nona Rossalia ada di apartemen milik Tuan Gregorius Edgar."
Terdengar suara Lorez dari ujung ponsel.
"Edgar?"
"Lorez kau tetap awasi mereka, aku akan segera kesana."
Jordan panik dan melajukan mobil sportnya menerobos dengan kecepatan tinggi.
Perasaannya semakin tidak karuan, mengingat Edgar adalah lawan main nya dalam bisnis yang kejam.
"Aku tidak akan memaafkanmu jika kau berani menyakiti istriku."
Kalimat itu keluar dari mulut Jordan yang geram, tangannya mencengkram stir mobil kuat-kuat, kemudian ia menginjak gas lebih dalam lagi membuat mobilnya semakin melaju kencang.
Lorez berjaga di luar apartemen menunggu Jordan tiba, setelah beberapa puluh menit tak sampai 1 jam Jordan sampai dan terlihat emosi, ia mulai masuk naik diikuti para pengawal, mengetuk pintu dan memencet kamar Edgar dengan tidak sabar.
Namun tak ada jawaban, Jordan menyuruh para pengawal mendobrak ketika pintu di dobrak kamar itu tenyata kosong.
Jordan menarik kerah baju Lorez ia emosi, amarahnya kembali bangkit, membuat nafasnya tak teratur.
"Kemana mereka!!!"
"Kau berjaga atau tidur!!!"
"Sepertinya mereka keluar dengan mengelabuhi kami Tuan."
"Tuan saya hanya menemukan pakaian Nona Rossalia yang kotor."
Pengawal itu memperlihatkan pakaian yang ia temukan, memang benar pakaian itu adalah pakaian yang Rossalia kenakan saat mereka jalan-jalan dan saat istrinya sedang di serbu para haters.
"Arrghhh!!!"
Teriak Jordan sambil meninju dinding.
"Kerahkan pengawal lebih banyak lagi, kalau perlu bakar semua kota agar mereka tahu siapa yang mereka usik!!!"
__ADS_1
"Bangsat!!!"
"Jangan ada yang kembali sebelum kalian menemukan istriku!!!"
"Baik Tuan."
Semua pengawal kemudian bergegas pergi.
"Lorez apa kau sudah melacak ponsel Rossalia serta lacak kalung zamrudnya, saat pergi ia mengenakan kalungnya."
"Maaf Tuan kalung dan ponsel itu berada di titik ini."
Kemudian Jordan menggeledah seluruh kamar serta laci, Lorez ikut membantu, akhirnya Jordan menemukan kalung serta ponsel Rossalia, namun tak ada tanda-tanda atau pun petunjuk lainnya.
Jordan terkulai lemas mengingat ia baru saja ingin menapaki kehidupan yang indah, tentram, dan damai dengan istrinya setelah kejadian-kejadian mengerikan menimpa mereka, namun kenapa selalu saja ujian menerpa kehidupan mereka.
.
.
.
.
- Di sisi dan tempat yang lain -
Rossalia bangun dari pingsannya, ia melihat sekeliling yang nampak asing.
Ruangan mewah yang tak pernah ia lihat sebelumnya.
"Oh jangan lagi... "
"Jangan katakan Peter bangkit dari kuburanya kemudian hidup lagi dan aku di culik kembali."
"Aahhh... Kepalaku."
Rossalia memegangi dahinya.
"Apakah Peter ingin melanjutkan peperangan dan membalas dendam karena kalah telak... "
"Siapa kau dan dimana aku?"
Rossalia melihat tubuhnya.
"Siapa yang mengganti pakaianku."
"Siapa lagi, tidak ada siapapun disini selain kau dan aku. "
"Kau lancang sekali!!! Dimana barang-barangku dan kalung ku."
Rossalia menyentuh lehernya.
"Begitukah kalimat yang kau katakan pada orang yang telah menyelamatkanmu?"
"Ahh ya aku lupa, barang-barangmu masih tertinggal di apartemen ku yang dulu."
"Aku tidak butuh bantuanmu."
Jawab Rossalia ketus, tangannya memukul-mukul kepala pelan, ia merasa pusing.
"Ya ya ya, dan kau akan habis di serang oleh para klub monster itu."
Ejek pria tampan itu.
"Siapa kau?"
Rossalia mengulangi pertanyaannya kembali dengan suara lirih.
"Gregorius Edgar. Kau bisa memanggilku Edgar. "
"Edgar, terimakasih karena kau telah menolongku, namun aku juga marah karena kau telah lancang mengganti pakaianku, sekarang aku harus kembali, jika tidak suamiku akan membakar seluruh kota."
"Ahh ya... Ku kira Jordan sudah mulai membakarnya."
__ADS_1
Pria itu tersenyum dan berdiri.
"Aku tidak tahu ternyata kau adalah istri Jordan, tanpa sengaja aku melihatmu keluar dari toko bunga, aku mengamatimu dan terus memperhatikanmu hingga tanpa sadar aku mengikuti mu, dan akhirnya kau di serbu para penggemar Jordan."
Edgar tertawa kecil.
"Kau kenal suamiku? "
Wajah Rossalia datar.
"Ya bisa dikatakan seperti itu."
Kata Edgar sembari berjalan mendekat.
"Aku harus pulang. "
Rossalia bersikeras dan mengulangi kalimatnya lagi.
"Baiklah, aku akan mengantarkanmu pulang."
Edgar melangkah keluar kamar lebih dulu diikuti Rossalia, benar saja kali ini Edgar mengantarkan Rossalia pulang, namun pria itu mengantarkan Rossalia tepat di depan Mansion.
"Jordan pasti akan membunuhmu, aku sudah memintamu untuk menurunkanku di depan gerbang."
Rossalia turun perlahan. Edgar membantu namun di tepis oleh Rossalia.
"Oh Ya Tuhan, kenapa mobil Brida hancur, apakah Jordan mulai kambuh lagi."
Saat itulah Jordan keluar dan berlari ia memukul Edgar dengan keras hingga membuat pria itu terjatuh, ada darah di bibirnya hingga menetes di kemeja putihnya, Edgar kemudian berdiri membenarkan pakaian dan jasnya.
Rossalia menahan Jordan yang siap melayangkan pukulannya lagi.
"Jordan sudahlah, berhenti."
"Hey Bung, Aku tidak membutuhkan ucapan terimakasih, tapi memukulku dengan tiba-tiba bukankah terlalu berlebihan."
Kata Edgar, ujung bibirnya terangkat, ia tersenyum sinis, seakan mengejek Jordan.
"Apa hak mu membawa Rossalia, ketika aku sudah tahu dan menemukan mu di apartemen."
Jordan geram.
"Aku hanya ingin menyapamu."
Edgar tertawa kecil, ia menyentuh ujung bibirnya lagi yang masih berdarah dengan tangan kanan, sedang tangan kiri ia sembunyikan dalam saku celana.
"Jika kau berani bermain-main, kau tidak akan bisa membayangkan apa yang akan aku lakukan."
Peringatan Jordan menjadi akhir penutup perdebatan mereka, Jordan membawa Rossalia masuk.
"Apa kau yang melakukan ini semua?"
Terlihat para pelayan sedang membenahkan serta membersihkan seluruh ruangan yang penuh pecahan-pecahan vas.
"Sudahlah, ini hanya masalah kecil ada yang lebih penting dari ini."
Jordan menarik Rossalia menuju kamarnya.
"Masalah kecil?"
"Oh Ya Tuhan, aku tidak percaya itu."
Rossalia hanya pasrah saat Jordan menariknya.
Perdebatan antara suami istri kini sedang terjadi di dalam kamar Jordan.
Pertengkaran yang tidak pernah Jordan bayangkan sebelumnya, mereka saling melemparkan kalimat-kalimat yang menyakiti satu sama lain, emosi yang meluap-luap hingga tak bisa di bendung lagi.
.
.
.
__ADS_1
-Bersambung-