CINTA MATI Seorang Mafia

CINTA MATI Seorang Mafia
-EPISODE 54- = BERTEMU PETER


__ADS_3

"TIDAAKKK!!!"


"JANGAN!!!"


Rossalia membelalakkan matanya, badannya seperti terpental dari posisi tidur menjadi duduk.


"Apakah hanya mimpi?"


Kemudian ia menekan matanya dengan kedua telapak tangan, dan membuka lebar-lebar mengelilingi ruangan, ia berbaring di ranjang besar, dengan memakai baju dress putih bersih di tubuhnya.


"Tidak, bukan mimpi."


"Dimana ini?"


Rossalia bergumam sendiri, ia mengelilingi ruangan yang mewah dan besar, bak istana megah.


Ruangan yang sangat luas dengan dinding dan jendela sama besarnya, tirai menjuntai panjang.


"Kau sudah bangun?"


Terdengar suara dari ambang pintu, pria itu baru saja masuk.


"Mateen?"


"Kau?"


"Kenapa...?"


Rossalia terkejut penuh pertanyaan di kepalanya, namun ia tak bisa mengungkapkan, linglung, bahkan tak bisa menemukan kalimat yang tepat.


"Aku terpaksa."


"Aku sangat menderita."


Mateen mendekat, namun Rossalia mundur perlahan.


"Aku masih belum mengerti dengan apa yang terjadi, kau... tidak mungkin... tapi kenapa aku merasa takut denganmu..."


Rossalia mundur perlahan.


Mateen semakin mendekat, sedangkan Rossalia masih mundur dengan teratur menjauhi pria itu.


"Aku tidak akan menyakitimu, aku hanya ingin memelukmu."


"Sudah sangat lama aku merindukanmu."


Dengan 1 langkah cepat Mateen mendekat dan memeluk Rossalia menciuminya secara paksa.


Gairah nya semakin memuncak ketika gaun Rossalia turun hingga batas dada nya, kulit putih dan mulus terekspose di depan Mateen, membuatnya semakin bergairah, kerinduan yang ia tahan dan ia pendam, kini ingin ia luapkan semuanya


Mateen makin tak bisa mengendalikan dirinya, ia mendorong Rossalia, hingga tubuhnya terpental di atas ranjang, Mateen masih menggeray*ngi tubuh Rossalia dengan bringas seperti binatang yang sudah lama terkekang dan dapat mengembara bebas, melampiaskan segala hasrat berburu dan menjelajahi seluruh dunia, mengeluarkan semua keinginannya.


Kemudian ia menyibakkan pakaian putih Rossalia, hingga memainkan keintiman itu.


"Tidakkk!!!"


"Jangan!!!"


"Aku mohon, jangan lakukan ini!!!"


Rossalia menangis, air matanya tak berhenti.


"Apakah Jordan juga melakukannya seperti ini?"


"Aku akan lebih bisa menyenangkanmu."


"Mateen aku sangat membencimu, hingga aku mati pun kau akan menjadi orang yang paling ku benci."


Rossalia menahan segala gejolaknya ketika Mateen mempermainkannya lagi, tangannya tak berhenti ingin membuat Rossalia menikmati semua sentuhannya, dan membuat tubuh wanita itu mulai panas, lemas dan tak bertenaga.


Mateen sudah hilang akal, ia benar-benar di butakan oleh obsesinya sendiri, ia sudah siap pada posisinya, hanya tinggal mendorongnya masuk.


"Jika kau berani melakukannya, aku akan membunuh diriku dan anak-anak ku yang ada dalam perutku!!!"


Tubuh kecil Rossalia melemah karena kekuatan Mateen yang tak bisa ia tandingi, meronta pun percuma dan kalimat yang diucapkannya bahkan di sisa sisa tenanga terakhirnya, Rossalia tidak main-main ia benar-benar akan melakukannya.


"Kau hamil?"

__ADS_1


Mateen mundur dari tubuh Rossalia.


"Anak Jordan?"


Rossalia tak menjawab, tenaga nya telah habis saat berusaha melepaskan dirinya, dan hanya berharap kali ini ia akan selamat.


Seketika Maten menunduk dan membenarkan pakaian dan celananya, pria itu berlalu pergi tanpa sepatah kata pun membanting pintu dengan sangat kasar.


"Ibu akan mencari cara, bagaimanapun kita harus keluar dari tempat ini."


Rossalia berbisik pada dirinya sendiri dan untuk anak-anaknya yang masih di dalam perutnya.


Beberapa pelayan masuk menemui Rossalia.


"Nona anda harus ikut dengan kami, Tuan Besar ingin bertemu."


"Siapa Tuan Besar?"


Rossalia bergidik ngeri mendengar kalimat sebutan itu.


"Mari."


Para pelayan memapah Rossalia kemudian berjalan di belakangnya.


Rossalia tertegun melihat bangunan di desain sangat mewah, bak istana besar, bayangannya seperti istana buku dongeng masa kecil nya yang berjudul beauty and the beast, buku pertama yang ia baca saat mulai bisa membaca.


Para pelayan membawa Rossalia ke dalam ruangan yang besar, di sana telah ada yang menantinya.


"Tuan Besar."


Mereka memanggil pertanda Rossalia sudah menghadap, dan para pelayan pergi dengan menunduk.


Pria besar berotot namun rambutnya sudah beruban, meski ada keriput di wajahnya tak sedikitpun memperlihatkan usia yang tua.


"Rossalia."


"Aku adalah Peter ayah angkat Jordan."


Rossalia tersentak mendengarnya. Kakinya lemas tak kuat menopang tubuhnya.


Tak berapa lama seorang wanita masuk dengan penyangga di leher dan pipinya.


Angela tertawa sinis, namun di susul dengan kesakitannya karena rahang yang retak bekas cengkraman Jordan.


"Kau tahu?"


"Kamilah yang merencanakan penculikanmu, bahkan Mateen ada di pihak kami."


Angela maju dan menarik baju Rossalia.


"Aku sangat membencimu hingga aku ingin mencabik-cabik tubuhmu dan ku sebarkan di kandang peliharaanku."


"Aku membencimu sejak masih kecil, apa bagus nya kau, kumuh, pendek, wajah mu juga jelek, aku bahkan tidak dapat membayangkan bagaimana saat kalian bercinta, apakah Jordan benar-benar puas."


"Kau melihatnya sendiri saat aku berada di kantornya, ia bahkan tidak sabar ingin bercinta denganku."


Angela berbicara dengan nada di setiap kalimat terdengar rancau karena ia harus menjaga rahangnya agar tidak sakit.


"Apakah karena terlalu bersemangat saat kalian bercinta hingga Jordan mematahkan rahangmu, dia memang kuat tenaganya tak pernah habis, tapi Jordan sekalipun tidak pernah kasar saat kami diatas ranjang, dia menyentuhku dengan kelembutan."


Rossalia menatap tajam Angela hingga matanya seperti mengiris harga diri Angela.


"Apa kalian tidak menghargaiku, terutama kau Angela."


Kalimat Peter datar tapi terdengar mengerikan di telinga Angela.


Suara berat yang besar.


"A-aku... Paman... maafkan aku."


Angela terbata-bata dan menundukkan pandangannya.


"Kau saja tidak becus mengurus Jordan, kenapa kau seolah sudah menang darinya, sudah sejak kecil ku atur kalian untuk bersama, tapi kau tidak bisa membuatnya menyukaimu."


Peter melangkah mendekati mereka berdua.


"Rossalia... pergi dari kehidupan Jordan, jika kau memilih tetap di sisinya bersiapkan kehilangan nyawamu."

__ADS_1


Peter mengancam dengan mata yang penuh kebencian, entah dendam apa yang ada dalam hatinya.


Suaranya rendah tanpa berteriak, namun intonasi suara berat Peter cukup membuat orang yang mendengar bisa membuat mereka menciut.


Rossalia terdiam sesaat, otak dan kepalanya masih di penuhi tanda tanya besar sulit mencerna setiap kejadian yang ia lalui.


Rossalia lelah dengan pikirannya sendiri yang kalut, serba tak bisa mengurai semua permasalahan ini, ia sangat khawatir dengan anaknya.


Peter pergi meninggalkan 2 wanita yang mungkin akan berakhir dengan pertengakaran lagi, memang itulah yang Peter harapkan.


Rossalia memikirkan wanita itu dengan diamnya, menimbang dan memilih kata atau kalimat yang tepat, semata-mata agar wanita itu tidak melukainya apalagi tubuhnya yang sedang mengandung.


Namun Rossalia tak bisa lagi menahan amarahnya di saat hormon kehamilan juga memperngaruhinya


Angela terlihat seperti anak yang egois, kejam, dan tak mau kalah yang terjebak di tubuh orang dewasa.


Angela tak pernah memikirnya akibat dari semua perbuatannya, ia tidak berfikir panjang, dan tidak menyesali tindakannya sama sekali, ia pikir tidak akan ada konsekuensi apapun jika ia memilih jalan yang seperti ini.


Namun Rossalia hanya memandang dari sisi yang ia lihat.


Bukan dari sisi Angela.


Ada banyak rahasia yang Angela bungkam rapat-rapat dalam benak dan mulutnya.


Lagi-lagi Rossalia masih memikirkan Angela, bagaimana mungkin keluarganya membiarkan anaknya berkeliaran dengan sangat tidak sopan dan menimbulkan bahaya, apalagi bekerja sama dengan Peter membakar mansion dan menculiknya.


Rossalia heran, keluarga macam apa mereka yang berada di kalangan elit, tentunya mendapat gelar bangsawan berdarah biru.


Apakah sikap mereka yang selalu senyum sopan hanya tipuan belaka, yang sebenarnya mereka tak lebih rendah dari binatang.


"Kau menatapku tanpa berkedip, meski aku memakai penyangga kecantikanku memang tak pudar."


Angela melirik Rossalia dengan menggunakan ekor matanya, wanita itu berdiri memyedekapkan tangan.


"Kau menjijikkan."


Kata Rossalia berang.


"Kau bisa mengatakannya sekarang, tapi beberapa hari lagi kau akan melakukan semua perintahku demi makanan dan air, apalagi Jordan akan bertunangan denganku mejadi milikku seutuhnya, kau bahkan tak akan punya tempat untuk berteduh, orang miskin tetap orang miskin."


"Ahhh .. kau bahkan tak tahu identitasmu sendiri, apa itu tidak lebih menjijikkan."


Angela tertawa namun ia terkejut lupa bahwa rahangnya masih dalam perawatan.


"Ehhmmm.. sialan."


Angela berbicara lagi dengan sedikit bibir tertutup membuat kalimatnya terdengar rancau,nia mengumpat.


"Apa maksudmu?"


Rossalia tak mengerti.


"Akan ku beritahu..."


"Sebenarnya kau memiliki keluarga bahagia, sangat bahagia, itu yang membuat semua organisasi mafia iri."


"Ayahmu adalah...


"ANGELA !!!"


"TUTUP MULUTMU !!!"


Kalimat Angela terputus ketika seseorang memanggil dengan membentak.


"Kenapa?"


Angela melihat Mateen berjalan mendekat.


"Bukan kau yang berhak memberitahukanya, bahkan pula bukan aku."


Mateen menatap tajam Angela.


Angela membuang nafas nya kesal, ia berjalan keluar meninggalkan Rossalia.


.


.

__ADS_1


.


-Bersambung-


__ADS_2