CINTA MATI Seorang Mafia

CINTA MATI Seorang Mafia
-EPISODE 36- = LIBURAN


__ADS_3

Pagi-pagi Jordan sudah membuat semua pelayan dan para assistennya panik, ia seperti anak kecil yang baru pertama kali ingin berlibur.


Ya, pagi ini Jordan berencana membawa Rossalia terbang ke Negara yang terkenal dengan keromantisannya dan Jordan ingin menunjukkan keindahan belahan bumi yang lain kepada Rossalia. Lokasi pertama yang akan ia kunjungi adalah, menjelajahi seluruh kota Roma.


Dini hari bahkan ayam dan matahari belum berani menampakkan pesona mereka, Jordan sudah menyuruh para pelayan bekerja membuatkan stock roti kering kismis, untuk beberapa hari atau beberapa minggu selama Jordan berlibur, ia ingin Rossalia tetap bisa menikmati roti kering kesukaannya,roti dengan rasa yang Rossalia mau dengan kwalitas yang tetap terjaga.


Setelah beberapa jam pesawat sudah selesai di maintenance untuk melakukan perjalanan antar negara, Rossalia pun sudah siap untuk berangkat, namun kegugupan dan ketakutannya masih belum mereda, karena ia harus berada di dalam pesawat, mengudara di atas daratan yang tingginya melebihi tinggi awan.


Jordan menggandeng Rossalia menaiki helikopter yang sudah siap terbang di atas atap Mansion, baling-baling helikopter itu membuat angin yang cukup besar hingga rok dan rambut Rossalia berterbangan.


"Ayo naik, ulurkan tanganmu sayang."


Rossalia hanya menurut apa kata Jordan.


Tak lama mereka sampai di landasan pribadi untuk menaiki pesawat Jet mewah Jordan.


Lorez dan Freya sudah menunggu mereka, namun hanya Lorez yang akan menemani perjalanan liburan pasangan itu.


Rossalia memasuki pesawat jet dan mulai tercengang.


"Apa di dalam pesawat juga memiliki hotel?"


"Mewah sekali, seumur hidup aku belum pernah melihat hotel di dalam pesawat, kenapa pesawat bisa sebagus ini."


"Sayang pakai dulu sabuk pengamanmu, kita akan lepas landas, saat kita sudah di atas kau boleh bertanya sesukamu, aku senang saat kau menanyakan sesuatu yang lucu."


Jordan membantu Rossalia untuk memakai sabuk pengamannya.


Terdengar Pilot sedang melakukan percakapan dan pesawat mulai berjalan pelan, kemudian mesin semakin menderu kencang, pertanda pesawat akan lepas landas dan mengudara.


Beberapa menit pesawat lepas landas, Rossalia masih merasakan ketegangan dalam dirinya, ia tak bisa percaya kini berada di udara yang tinggi bahkan ia bisa melihat awan-awan yang seperti kapas.


Sabuk pengaman sudah boleh di lepas dan penumpang sudah di perbolehkan berjalan.


Jordan menghampiri Rossalia dan mepaskan sabuk pengamannya.


"Apa kau baik-baik saja sayang?"


"Aku... hanya sedikit pusing."


"Tenanglah, jangan terlalu tegang, atau kau mau tidur duluu?"


"Aku antar ke kamar."


Rossalia mencoba menenangkan dirinya, dan berbaring di kamar. Pesawat Jet pribadi Jordan memang mewah.


Jordan menyelimuti Rossalia saat akan pergi Rossalia menahan tangan pria itu.


"Ja-jangan pergi, tetaplah disini bersamaku."


Wajah Rossalia sedikit merona karena malu, ini pertama kalinya Rossalia yang meminta Jordan untuk tinggal.


"Sayang, kau sangat imut saat kau manja, teruslah seperi ini, aku menyukainya."

__ADS_1


Jordan duduk di samping Rossalia sesekali membelai kepala gadis itu.


"Apakah pesawat ini juga milikmu?"


Rossalia membuka obrolan setelah beberapa menit mereka saling diam.


"Apa kau menyukainya?"


"Jika kau suka pesawat ini akan jadi milikmu, atau kau mau yang lebih besar dan mewah lagi?"


"Pesawat ini jarang di pakai, aku lebih sering memakai helikopter."


"Kalaupun memakai pesawat aku pakai pesawat jet yang 1 nya, lebih kecil dari ini."


"Kau sangat kaya."


Rossalia masih berbaring, namun pandangannya mengarah keluar jendela melihat banyak awan-awan besar bergumul di sana.


"Dulu aku mengira-ngira, apakah aku bisa meneruskan kisah hidupku, dan sepertinya aku tidak akan bisa meneruskan hidupku pikiran itu ada ketika sesaat sebelum bertemu denganmu, ketika kau masih sekecil pucuk bunga, dan membawaku ke panti, harapan mulai kembali ada dalam hidupku untuk berjuang lebih keras lagi."


"Saat kau hilang aku berharap bisa memutar waktu, penyesalan terdalamku adalah ketika kau menarik tanganku untuk bermain ombak air di pantai tapi aku hanya duduk memperhatikanmu."


Jordan mengecup kening Rossalia.


"Itu sudah berlalu, aku bahkan tidak mau mengingatnya, sekarang yang tersisa hanyalah batas dinding yang besar antara kau dan aku."


"Kau memiliki segalanya bahkan semua gadis cantik, dan wanita bangsawan akan berebut ingin bersamamu."


Jordan dengan cepat mencium gadis itu, melum*t habis bibir mungil Rossalia.


"Aku tidak mengijinkanmu berbicara hal seperti itu."


"Peter mengangkatku sebagai anaknya, dan ia melatih serta mendidikku dengan keras."


"Apa kau tahu, aku terlahir di daerah kumuh, di telantarkan orangtuaku, ayahku lebih mencintai botol alkohol, ia meminum alkohol nya sampai ia mati, sampai pada waktunya ia dikubur, bahkan tangannya tak mau melepaskan botolnya."


"Ibuku seorang pel*cur, kata orang-orang dia melahirkanku di pipa pembuangan air kotoran, setiap hari ia memaksaku melihat adegan-adegan kotornya dengan para pelangganya, jika aku menutup mataku ia akan memukuliku hingga aku sekarat."


"Kau tahu, bahkan yang paling mengerikan, banyak wanita pel*cur yang menyusuiku, karena ibuku tak ingin aku hidup, katanya aku adalah sebuah kesalahan yang tidak seharusnya ada."


"Anak-anak jalanan yang kelaparan, kurus, kering, mencari makan di tempat sampah, bekerja kasar, menguli, pencopet, pengemis, dulu aku seperti mereka.


"Lantas kau pikir aku akan peduli dengan pesolek muda wanita-wanita yang menjatuhkan diri mereka dengan suka rela kepadaku? Aku bahkan selalu mual ketika mereka mendekatiku."


Rossalia mulai merasa tidak enak, ia duduk bersandar dan Jordan membantunya untuk memberikan bantal di belakang punggungnya.


"Aku tidak bermaksud mengorek masa lalu mu, aku ..."


"Aku menceritakannya dengan suka rela kepadamu, memang tak banyak orang yang tahu, bahkan Paman Lee dan Lorez, aku sangat marah ketika ada yang mengungkit masa laluku."


"Tapi berbeda dengan mu, aku merasa tenang dan lega saat bercerita padamu, aku akan menceritakan semua kisah ku di masa kecil jika kau mau mendengarnya."


"Jika itu membuatmu lebih lega, dan kau mempercayaiku kau boleh bercerita sesukamu."

__ADS_1


Rossalia mengulurkan tangannya dan memeluk kepala Jordan, mendekapnya, Jordan membenamkan kepalanya di dad* Rossalia.


Perjalanan di tempuh belasan jam, akhinya mereka sampai di tempat tujuan. Italy. Rossalia mulai merasakan kelelahan, ia langsung ambruk di ranjang yang besar dan empuk, kamar itu sangat mewah, Hotel berkelas untuk para bangsawan elit.


Rossalia merenggangkan tubuhnya mengendorkan semua syaraf-syaraf ototnya, Jordan masih di luar mengobrol dengan Lorez entah membicarakan apa.


Kemudian Jordan masuk ke dalam kamar, membuat Rossalia terkejut.


"Ke-kenapa kau masuk ke sini?"


Rossalia duduk dengan bersimpuh.


"Aku tidur disini juga, memangnya aku harus tidur dimana?"


Jordan melepaskan sepatu dan merebahkan diri diatas tempat tiduur.


"Hemmm lembutnya..."


"Kalau begitu pesankan kamar 1 lagi untuk aku."


"Aku sudah tidak punya uang sayang, kamar ini begitu mahal."


"Kalau begitu aku akan tidur di kamar Lorez, kau bisa tidur dengannya di sini."


"Lorez tidak akan tidur, di akan terus berjaga sepanjang malam selama kita berlibur."


"hah !!! Apa ?!!"


"Kau menggunakan sistem perbudakan ..."


"Apa kau tidak kasihan dengan Lorez?"


"Aku akan keluar dan mengajak Lorez tidur disini, biar aku tidur di sofa."


Ketika Rossalia akan turun dari ranjang, Jordan dengan cepat menarik tangannya, gadis itu terjatuh di atas dada Jordan, ia mendekapnya dengan erat.


"Aku sudah menyuruh Lorez istirahat lebih cepat dikamarnya, tp ia tidak mau, jika lelah ia akan istirahat sendiri, kau tidak pelu mengkhawatirkan laki-laki lain apalagi jika sedang bersamaku, aku tidak pernah mengijinkanmu, bahkan sekedar untuk memikirkannya, ahh walaupun tidak sedang bersamaku kau tetap tidak boleh memikirkan laki-laki lain."


"Aku mengajak mu liburan kesini karena ingin menikmati hari demi hari bersamamu, yang sudah hilang selama 13 tahun, apa kau pikir aku mau tidur sendirian sepanjang malam?"


"Aku sangat mencintaimu, aku berjanji tidak akan berbuat yang aneh, aku akan menunggu mu siap, dan kau sendiri yang akan memintanya."


Jordan membisikkan kalimat panjangnya di telinga Rossalia dan mencium telinga gadis itu, wajah Rossalia memerah dan terasa panas, sangat jelas terlihat, Jordan tersenyum senang.


Entah mengapa Jordan yang biasanya angkuh dingin dan tidak pernah bicara banyak kini di hadapan Rossalia ia bisa berganti peran seperti pujangga.


.


.


.


-Bersambung-

__ADS_1


__ADS_2