CINTA MATI Seorang Mafia

CINTA MATI Seorang Mafia
-EPISODE 53- = PARA PENGKHIANAT


__ADS_3

Suara wanita yang tak asing menyentuh kulit wajah Jordan dengan lembut, tangan itu dingin, memancingnya dari timbunan kegelapan.


"Ada yang tidak beres."


Sesuatu yang dingin, ganjil, dan menusuki tubuhnya mengepungnya hingga lemas, bayangan kegelapan yang jahat menembus setiap pikirannya.


Pria itu menggeliat "Rossalia..."


Jordan menggelengkan kepalanya, ia mulai terjaga, mengerang karena kepalanya sangat sakit, dan mengantuk.


"Ya Tuhan.."


Pria itu mengedipkan berulang ulang matanya, menekannya dan mencoba membukanya lebar melihat sekeliling, ia duduk dengan menyangga tubuhnya yang terasa berat, kemudian menyipitkan lagi mata nya mengamati sekeliling ruangan, ia mulai mengenali ruangan yang tak asing itu, Mansion Beverly Hills.


Kemudian di samping nya, berdiri Dokter Imanuel, Paman Peter, Lorez dan juga Freya.


Dada Jordan serta tubuhnya terasa sakit karena memar.


"Apa yang terjadi."


Jordan berguman menggosok matanya.


Pria itu mulai mengingat sepotong demi sepotong kejadian yang telah terjadi.


"Kebakaran... Rossalia... anak-anakku..."


"Dimana Rossalia..."


Jordan berang melihat mereka semua bertukar pandangan.


"Kepar*t kalian semua, bangs*t!!!"


"Jawab aku !!!"


Dokter Imanuel sangat menyesal bahkan Paman Peter juga terpukul.


Dokter Imanuel mulai angkat bicara,


"Dia tidak di temukan di mana-mana Jordan, Rossalia terperangkap di dalam api, pasti sulit untuk selamat."


Jordan mengeluarkan rintihan suara parau, mimpi buruk menimpanya lagi, tubuhnya mulai gemetar.


perasaan dan kesakitannya selama 13 tahun kembali menjangkitinya, beribu jarum-jarum menusuki tulang-tulangnya, tubuhnya mulai menggigil kedinginan, ketakutannya kehilangan Rossalia sebagai pegangan hidupnya kian menjeratnya.


"Mungkinkah aku akan gila?"


"Aku akan gila, aku akan menjadi manusia tak waras!!!"


Berulang kali kalimat-kalimat itu bernaung di telinga dan kepalanya.


Berulang kali pula Jordan memeprcayai instingnya bahwa Rossalia masih hidup.


"Tidak, dia masih hidup, aku merasakannya di hatiku."


"Tuan..."


Mata Paman Lee berkaca-kaca yang terlihat dari balik kacamatanya.


"Jordan, kau tidak sendirian, kita akan saling membantu melewati ini."


Dokter Imanuel menenangkannya.


Namun Jordan mengabaikan perkataan mereka semua dan memilih meyakini hatinya.


"Lorez apa yang kau temukan."


Jordan menahan nafasnya, dan mengambil nafas panjang untuk menyebarkan di seluruh dadanya, agar darah mengalir dengan sempurna di seluruh tubuhnya.


"Penyelidikan menemukan unsur bahan yang membuat api semakin besar."

__ADS_1


Lorez menjelaskan.


"Apa itu."


Jordan menjawab singkat.


"Ada unsur minyak tuan, namun belum bisa di pastikan minyak itu ada dimana, jika dilihat dari letak roboh serta susunannya kemungkinan minyak itu ada di lantai atas, di kamar Nona Rossalia."


"Periksa semua pengawal, dan bunuh yang berkhianat."


"Ya Tuan."


"Yang lainnya pergi, aku ingin berbicara dengan Lorez."


Dan semua pergi sesuai perintah Jordan, kecuali Lorez.


"Bagaimana penyelidikanmu."


Jordan masih duduk di ranjangnya.


"Saat pembantaian Nona Rossalia masih berumur 1 tahun tepat setelah perayaan ulang tahunnya."


"Kemudian pembantaian itu terjadi sebelum Nicholas Douglas menjadi anggota Red Sword Tuan."


"Selang beberapa tahun kemudian Nicholas baru bergabung dengan Red Sword, dan melakukan kudeta saat Peter datang ke Negara K hanya dengan pengawal sedikit, Peter terluka parah, saat itulah anda menyelamatkannya."


"Lanjutkan."


Jordan tak sabar.


"Nicholas Douglas memiliki latar belakang bangsawan elit, keluarganya sangat kaya namun tidak pernah tercium publik, keluarganya sangat tertutup, mereka memilih tinggal di perbatasan untuk bertani, namun di sisi lain perusahaan dan aset-aset nya sangat besar.


"Nona Lily adalah tunangan dari Nicholas Douglas, Nona Lily adalah adik kandung Tuan Raiford."


"Tuan Raiford sengaja tidak mengekspose nya karena dia lah senjata terakhir di keluarganya yang akan di percaya menyelamatkan generasi Raiford, dan tibalah dimana pembantaian itu terjadi."


"Ketika Nona Lily sampai di perbatasan Negara K menggunakan kapal, ia mulai terdesak dan menaruh Nona Rossalia di depan Panti Asuhan."


"Jadi pembantaian dilakukan oleh Peter."


"Dari mana kau tahu sebanyak ini?"


"Nona Lily sudah sadar Tuan, dan Tuan Nicholas siap membantu anda melawan Peter."


"Bajing*n kau Peter !!!"


"Dan aku lebih bajingan darimu !!!"


Jordan berdiri melangkah dengan gontai, memukuli dinding, meninjunya hingga tangannya berdarah.


"Aku menyelamatkan orang yang seharusnya mati!!!"


"Tuhan kau mempermainkan hidupku!!!"


Jordan meneriaki Tuhannya.


"Rossalia kuharap kau tidak membenciku..."


"Tuan..."


Lorez menenangkan Jordan.


"Bawa semua pengawal, kita menuju Kota J."


"Namun sebelum itu kita harus membersihkan serangga-serangga yang masih hidup di markas pelatihan."


"Baik Tuan.


Insting Jordan tak pernah salah, selama 13 tahun ia percaya Rossalia masih hidup, dan sekarang ia percaya Rossalia pasti selamat dari kebakaran, kini istrinya sedang menunggu untuk di selamatkan.

__ADS_1


Tidak ada yang jauh lebih penting dari semua yang Jordan miliki kecuali istri dan anaknya.


"Sabarlah sayang aku akan datang."


Jordan mantap melangkah kan kaki nya menuju heli yang sudah siap terbang di atas atap Mansion, diikuti Lorez heli perlahan naik mengudara menuju Pulau JR markas pelatihan.


Paman Lee, Dokter Imanuel, dan Freya menunggu di Mansion dan berharap semua akan berakhir dengan baik.


Setelah beberapa puluh menit mereka sampai, Jordan dengan aura membunuh memerintahkan untuk semua pengawal berkumpul.


Sekitar 1500 pengawal telah siap melawan Peter dan juga 500 pengawal unggulan akan terjun paling akhir.


"Aku tahu di dalam lingkaran kekuasaanku ada yang berkhianat, dan saat inilah yang tepat mengakhiri nya."


"Lorez lakukan."


Dari atas atap Lorez membidik 1 persatu pengawal dan menembaki mereka.


Membuat para pengawal merasakan aura yang sangat mencekam.


Namun mereka percaya insting Tuannya tak pernah salah.


Ada sekita 50 pengawal yang tewas, dan semua tepat sasaran. Setiap pengawal memiliki chip yang tertanam di dalam tubuh.


Lorez menembaki mereka dengan cepat, ia memakai kacamata khusus untuk melihat sinyal radar chip.


Lorez turun dari atas atap, mengiris setiap lengan kiri di tubuh para mayat dan mengeluarkan chip-chip itu untuk di musnahkan.


"Masih ada pengkhianat di sini, waktu kalian 10 detik, untuk mati, atau aku akan menyiksa kalian dengan sangat kejam."


Terlihat pengawal-pengawal menggelepar kejang mereka menggingit racunnya sendiri yang telah di siapkan di mulut mereka."


"Aku sangat bangga akan pertahanan di sini."


"Kau sebagai komandan seharusnya memiliki insting tajam, kecuali kau juga berkhianat."


Gerakan Jordan cepat dan tepat, ia menembak kan pistolnya dengan tangan kiri tanpa melihat sedangkan komandan yang berada di sampingnya telah mati, tembakan itu tepat di dahi Robertus.


"Lorez panggil semua pengawal keamanan ruang pusat data."


Jordan memerintah.


"Baik Tuan."


Tak berapa lama para pengawal berdatangan, mereka ketakutan.


Menelan ludah mereka sendiri, dan tak kuasa untuk berdiri.


"Cih.. aku tidak percaya, kalian tergabung dalam pengawal unggulan."


"Maafkan kami Tuan Jordan, kami terpaksa, keluarga kami di penjara, Tuan Robertus yang mengatur nya."


"Aku tahu itu, akan kuselamatkan keluarga kalian, itu adalah janjiku, namun setelah mereka selamat, kalian harus menembak kepala kalian sendiri atas pengkhianatan yang sudah kalian lakukan, akan ku tanggung semua biaya hidup keluarga kalian, mereka tak akan kekuarangan sedikitpun, serta penjagaan yang ketat."


"Terimakasih atas kebaikan Tuan Jordan, kami akan melakukannya."


Salah satu pengawal menjawab mewakili rekan-rekannya, yang berjumlah 20 orang.


Total pengawal yang bekhianat ada sekitar 221 orang yang di pimpin oleh Robertus.


"Lorez bawa 500 pengawal kita terbang ke Negara J."


"Siap kan kapal dan heli untuk mereka."


"Baik Tuan."


.


.

__ADS_1


.


-Bersambung-


__ADS_2