
-Bluesky Meeting Room-
Mateen merasakan amarah yang dalam, akan ketidak mampuannya melindungi kekasih dan keluarganya.
Ketika Jordan memeluk Rossalia, Mateen hanya bisa menahan emosinya menyimpan di kedua kepalan tangannya yang siap ia arahkan pada Jordan.
Jordan memberikan mantel jas nya kepada Rossalia, dan mendekapnya.
Gadis itu hanya tertunduk, ia merasa menjadi orang yang menyebabkan berbagai masalah.
"Bisakah kau berikan kami waktu untuk bicara, aku ingin berbicara berdua saja dengan Tuan Mateen."
Rossalia masih menundukkan wajahnya, ia tak berani melihat siapapun, ia merasa malu telah menjadi seseorang yang mengacau dan membuat kehebohan dimana-mana.
Bahkan ia merasa tidak layak untuk siapapun.
"Apakah waktu yang sudah ku berikan beberapa hari ini masih kurang sayang?"
"Kau sudah cukup bermain-main di luar."
"Ayo kita pulang ke rumah."
Rossalia menahan tangisnya.
"Pulang?"
"Rumah?"
"Benarkah?"
"Aku rasa itu adalah penjara untukku, itu bukan rumah,itu penjara dimana aku akan selalu mendapat siksaanmu."
Dalam hati Rossalia memaki.
Mateen berdiri, seketika emosinya memuncak melihat Jordan membawa Rossalia dengan memeluknya.
"-BBUUGGK- !!!"
Mateen menggapai bahu Jordan dan memukul wajahnya.
Jordan menghapus noda darah yang ada di ujung bibirnya.
Mateen masih tidak puas, serangannya kembali ia berikan, kini ia mengarahkan pukulannya pada perut Jordan namun dengan cepat Jordan menangkis nya, dan memukulnya balik.
-BBUGg...!!! BBbUgg...- !!!"
Suara pukulan itu mengerikan di telinga Rossalia. Kemudian Amber dan Rossalia saling melerai.
Terlihat Mateen yang sudah tergeletak di lantai.
Rossalia menutup mulutnya dan menangis.
"Apa kau masih belum puas menyakitinya dan menekan perusahaannya !!!"
"Aku ingin kau kembalikan perusahaannya, sekarang juga !!!"
"Dan jangan pernah menganggunya lagi Jordan !!!"
Rossalia sekuat tenaga berteriak pada Jordan meski ia benar-benar takut, dan tidak bisa membayangkan apa yang akan Jordan lakukan padannya karena sudah membentak pria dingin itu.
Jordan tertegun melihat Rossalia menangis dan berteriak kepadanya.
"Baiklah..."
__ADS_1
"Tenangkan dirimu..."
Jordan meraih Rossalia dan memeluknya, membelai kepalanya dengan lembut.
"Lorez kembalikan perusahaan MATH GRUP seperti semula."
Jordan memapah Rossalia keluar dari ruangan, gadis itu menatap Mateen dengan iba dan rasa bersalah, Mateen masih tidak rela dan ingin menggapai namun tangannya tak cukup kuat dan tak pernah sampai.
Bahkan badannya mulai melemah.
Seketika ruangan itu sepi dan hening.
Mateen menitikkan air matanya tak percaya dia masih tidak cukup kuat melawan Jordan, bahkan dia merasa persiapannya sudah matang, ia mengira orang-orang di belakangnya yang telah ia rekrut mampu menjadikan Tim yang unggul untuk melawan Jordan
"HA HA HA HA HA...!!!"
Mateen tertawa namun matanya mengeluarkan air, ia menutupi wajahnya dengan lengannya, badannya masih berbaring di lantai.
Amber tidak tahan melihat adik sepupu yang jatuh dalam lubang besar, ia membalikkan badannya dari Mateen menatap pemandangan di luar gedung dan menangis.
"Ayo kita pulang..."
"Aku akan mengurus kepulanganmu ke eropa, paman dan bibi pasti mencemaskanmu.
Amber memapah Mateen dengan badannya.
"Jangan coba-coba..."
"Aku tidak akan kemana-mana..."
"Dan aku masih baik-baik saja..."
"Heiiiii...!!!"
Amber berteriak kesal.
"Aku kesakitan, ayo kita pulang dulu..."
Mateen menahan iganya yang terasa nyeri dengan sebelah tangannya, tangan kirinya melingkar di bahu Amber.
- Mansion Pearl -
Mobil mewah sudah terparkir rapi di halaman Mansion yang luas.
Di dalam rumah para pengawal sudah bersiap menyambut majikan mereka.
Kepala pelayan Paman Lee sudah menunggu di paling depan.
"Selamat datang Tuan Jordan."
"Selamat datang kembali Nona Rossalia."
Paman Lee menundukkan kepalanya, diikuti pelayan-pelayan yang lainnya.
Jordan menggandeng tangan Rossalia, mengajak gadis itu ke ruang baca.
Kini hanya ada 2 makhluk hidup yang saling menatap di ruangan itu.
"Kamarmu masih tetap sama, dan kau boleh melakukan apapun yang kau suka dengan kamar itu jika ada yang tidak sesuai dengan seleramu."
Jordan duduk diatas meja, menyedekapkan tangannya.
"Apa perusahaan itu sudah kembali?"
__ADS_1
Rossalia menunduk dan melepaskan mantel jas milik Jordan dari tubuhnya, ia memeluk mantel itu di dadanya entah untuk menutupi dirinya atau ingin bersembunyi di balik mantel besar itu.
"Apa kau sekhawatir itu?"
"Aku sudah mengembalikannya seperti yang kau mau."
Jordan menjawab tanpa melihat Rossalia dan tanpa membuat ekspresi sedikitpun di wajahnya, ia bermain-main dengan globe mini dengan memutar-mutarnya, dan masih duduk bersender di atas meja dengan kaki yang panjang masih menapak di lantai.
"Baiklah, kalau begitu aku akan ke kamarku."
Rossalia membalikkan badannya, ketika tangannya ingin menggapai gagang pintu, Jordan dengan cepat berjalan ke arah Rossalia memeluknya dari belakang.
"Aku sangat merindukanmu."
Jordan membenamkan wajahnya di leher Rossalia.
Lengan nya yang panjang dan jemarinya melengkung dengan lembut di pinggul Rossalia, seperti memegang benda berharga, kulit Rossalia lembut seperti sutra kualitas terbaik.
"Apakah kau masih membenciku?"
"Aku tidak tahu."
Rossalia menjawabnya singkat.
Wangi rambut gadis itu membuat Jordan semakin tidak bisa mengendalikan dirinya.
Godaan untuk mencium Rossalia semakin kuat.
Jordan tidak bisa mengendalikan pikiran-pikiran mengerikan yang membanjiri benaknya.
Kerinduannya yang sudah ia rasakan selama 13 tahun.
Jordan ingin sekali menahan gadis itu, membawanya ke ranjang, dan memeluknya hingga pagi.
Namun Jordan menggelengkan kepalanya seolah mengibaskan pikiran yang berterbangan di atas kepalanya, ia tidak ingin membuat gadis itu semakin membencinya.
"Istirahatlah.."
Jordan mencium kepala Rossalia,dan melepaskan pelukannya.
Rossalia keluar dari ruangan itu tanpa menoleh, dan tanpa mengatakan apapun, ia menuju kamarnya, kini gadis itu hanya ingin sendiri, kepala Rossalia dipenuhi tanda tanya, apakah Jordan akan memperlakukannya seperti dulu, mempermainkannya, merendahkannya, menyiksanya, bahkan hampir memperk*sanya, semakin ia pikirkan kepalanya semakin sakit, serasa kamarnya sedang berputar, badannya menggigil ketakutan, ia memeluk dirinya sendiri dan melingkar kan tubuhnya di atas ranjang.
Ada kengerian kembali muncul di pikirannya.
Perasaan nya merasa tertekan.
Di satu sisi ia seperti menjadi seseorang yang memberikan kesialan pada Tuan Mateen nya.
Tuan Mateen yang selalu menolong dan melindunginya.
Namun ia tak pernah memiliki perasaan yang lebih untuk Mateen.
Tanpa Rossalia sadari, semakin malam semakin badannya lelah, dan matanya perlahan-lahan terpejam.
Jordan masih merasa gelisah, ia mondar mandir di dalam ruangannya tak tahu apalagi yang harus ia lakukan agar Rossalia memaafkannya.
Kini Jordan berusaha mengabaikan demam atau gejolak di dalam tubuhnya, ia benar-benar menginginkan Rossalia, ingin melahapnya habis agar ia tenang.
Perasaan cemburu yang hebat kepada Mateen membuat hatinya merasakan sakit yang berdesir.
Ketika kulit gadis itu bersentuhan dengan Mateen , kepalanya terasa panas mendidih.
Sedangkan Rossalia tidak benar-benar sadar siapa Jordan sebenarnya, dan seberapa besar seharusnya ia takut pada Jordan, laki-laki yang selalu haus akan ketidak puasan, arogan, dingin, dan masa lalu kelamnya, bahkan kini Jordan harus melindungi Rossalia dari dirinya sendiri, namun ketidak mampuannya melepaskan Rossalia dari tangannya, dari hatinya, dari pandangan matanya, membuat Jordan harus berusaha menahan sakit di dadanya gejolaknya yang dahsyat akan harum wangi tubuh gadis itu yang sudah ia rindukan dan ia pendam selama 13 tahun, ia harus memadamkan api yang membara di dalam hasratnya.
__ADS_1
-Bersambung-