CINTA MATI Seorang Mafia

CINTA MATI Seorang Mafia
-EPISODE 17- = OBAT PENENANG


__ADS_3

Jordan masih tidur di atas ranjangnya, disampingnya Luna setia menemani, dia masih tidak percaya seorang Jordan memiliki masa lalu yang kelam bahkan berimbas pada kepribadiannya sekarang.


Paman Lee menceritakan masa lalu Jordan pada Luna, namun hanya beberapa cerita yang sebenarnya masih banyak masa lalu Jordan yang dia simpan.


Bahkan Luna sempat tak percaya saat Lorez bercerita Jordan paling tidak suka di sentuh oleh wanita.


Luna yang mendengar Paman Lee bercerita, terkejut Jordan pernah mengemis dan hidup di jalanan semasa kecil, dan itu mengingatkannya pada seorang kakak laki-laki semasa dia masih di panti asuhan, yang selalu menjaganya dengan kehangatan.


Luna membelai lembut rambut Jordan, kemudian dia cepat-cepat menarik tangannya.


"Apa yang kupikirkan, selagi Tuan Jordan tidak sadar aku harus mencari dokumen aslinya."


Luna kesana kemari menggeledah, hingga dia mencarinya di meja kerja Jordan yang ada di dalam kamar.


Dia mencari dan membuka setiap almari di dalam meja kerja, sembari berfikir jika disini tidak ada apakah di ruang baca?


Namun jika di ruang baca tidak ada apakah di ruangan yang kata Pak Lee terlarang itu?


Luna masih mencari kesana kemari , hingga dia tidak sadar Jordan mengamati nya dari belakang.


"Kau mencari apa?"


Luna terkejut setengah mati, mendengar suara yang tak asing di telinganya.


"Aku pasti mati hari ini."


"Tu-Tuan kenapa anda bangun, anda harus istirahat Tuan..."


Luna ketakutan, dia sedang membuka setiap laci meja Jordan.


Tangannya gemetar. Saat dia berdiri kakinya terasa lemas, dia mencengkram meja dengan kuat untuk menopang badannya.


Jordan mendekat, dan mengangkat Luna duduk di atas meja, dia masih sedikit lemah namun badannya masih cukup kuat untuk mengangkat Luna.


"Jangan macam-macam..."


Jordan mendekatkan wajahnya hingga hidung mereka bersentuhan.


Luna merinding mendengar kalimat Jordan.


Kemudian tangan Jordan menelusup masuk ke dalam baju Luna, membelai punggung gadis itu, sambil menciumi leher Luna.


"AKU TAHU YANG KAU CARI."


"Aku bisa memberikannya asal kau berjanji tidak akan meninggalkanku."


Jordan dengan lembut menci*mi Luna.


Menghirup wangi nya rambut gadis itu, tangan kirinya di samping Luna berpegang pada meja menopang badannya, tangan kanannya masih sibuk membelai kesana kemari dengan lembut.


Saat itu Luna merasa Jordan benar-benar lembut dan memberikannya kehangatan, dia lemah dan memohon pada Luna untuk tidak meninggalkannya.


Entah kenapa Luna mulai menikmati sentuhan itu, seluruh tubuhnya merinding, tanpa sadar dia merangkulkan tangannya pada tengkuk Jordan, Luna tidak bisa mundur lagi, dia sudah kehilangan akalnya, badannya tak bisa berbohong.


Jordan ******* bib*r gadis itu dengan lembut.

__ADS_1


Tangan kanan Jordan mulai sibuk memainkan p*yud*r* Luna, 30 menit berlalu mereka masih pada posisi yang sama.


Luna mendesah hebat.


"aaaaaaahh..."


Inilah pertama kalinya gadis itu merasakan ada sesuatu yang bergetar hebat dalam tubuhnya. Tubuhnya berguncang dan memeluk Jordan.


Laki-laki itu mengerti, dia harus mengakhirinya, mata indah itu terlihat sayu. Jordan tersenyum dan mengecup lembut bib*r Luna.


Jordan melepaskan rangkulan tangan gadis itu, berjalan beberapa langkah memencet sesuatu di bawah lukisan abstrak. Lukisan itu bergeser, kemudian Jordan memutar kode brangkas dan mengambil sebuah dokumen.


"Kau mencari ini kan?"


"Simpanlah."


Jordan sedikit linglung dan memegangi kepalanya.


"Dokter sialan itu sepertinya menambah dosis obat penenang."


"Tuan, anda masih sakit mari saya akan memapah anda ke tempat tidur."


Luna masih duduk diatas meja,ketika akan turun Jordan menahannya.


"Kau bercanda?"


Jordan tertawa lembut.


"Aku bahkan masih kuat menggendongmu."


"Kau tidak percaya?"


Jordan menggendong Luna dengan mesra, dan membaringkan di ranjang, Luna menaruh dokumen itu di atas meja.


"Jangan bergerak, biarkan aku tidur seperti ini."


Jordan menaruh kepalanya diatas dada Luna dan tidur dengan pulas.


-Keesokan pagi-


Luna bangun dan mengusap matanya.


Jordan membenarkan dasinya dengan menatap Luna.


"Kau tidur dengan nyenyak, aku tidak mau mengganggumu."


Jordan tersenyum dengan lembut dan berjalan mendekati Luna.


Gadis itu duduk dan reflek melihat dokumen yang ada di atas meja, dia berfikir kenapa dokumen itu tidak ia simpan dengan baik.


"Jangan khawatir, simpanlah baik-baik dokumen perjanjian kita."


"Aku akan ke kantor, jika kau bosan di rumah kau bisa jalan-jalan tapi jangan melakukan sesuatu yang membuatku marah."


Jordan mengecup lembut kepala Luna dan pergi meninggalkannya.

__ADS_1


Luna bergumam dan mencoba mengingat-ingat kembali kejadian semalam.


"Jika diingat-ingat semalam kepala Tuan Jordan tidak terbentur dan semalam kami melakukan sesuatu."


"Ya Tuhan kenapa aku jadi seperti itu, badan ini mengkhianatiku lagi."


"Aku sangat malu...."


Luna berguling-guling diatas tempat tidur.


"Tok-Tok-Tok...!!!"


"Nona Luna, Dokter Imanuel ingin menemui anda, dia menunggu anda di taman belakang."


"Baik Paman Lee saya akan segera turun.


Luna keluar dari kamar Jordan menuju kamarnya untuk mandi, ia tak lupa membawa dokumen itu dan menyimpannya, setelah beberapa saat Luna turun dan menemui Dokter Imanuel, Dokter itu tampan, tatapannya sangat lembut.


Mereka duduk berhadapan.


"Apa anda yang menanam bunga-bunga itu..."


"Semua pelayan membicarakan anda, mereka mengagumi kebaikan Nona Luna, yang pandai dalam segala hal, bahkan mereka memuji anda pandai memasak."


"Terimakasih Dokter."


"Mereka terlalu berlebihan, saya hanya bosan jika terus-terusan di kamar tanpa melakukan apapun, dan apakah Dokter bisa memanggil saya Luna saja?"


Luna menundukkan kepalanya dan meremas kedua tangannya, dia masih merasa canggung dengan dokter itu, mengingat posisinya yang sebenarnya lebih rendah dari pembantu, apalagi dokter itu memanggilnya dengan sebutan Nona, dia merasa tidak pantas.


"Baiklah Luna..."


"Ini antara kau dan aku..."


"Jordan memiliki gangguan pada kepribadiannya sejak dia masih kecil, dia mengalami trauma yang panjang karena penyiksaan dan banyak lagi."


"Jordan diadopsi oleh Paman Peter dan kami tumbuh bersama, ayahku lah yang mencoba mengobatinya, kemudian sekarang tugas itu menjadi tanggung jawabku."


Dokter Imanuel meminum teh nya, dan berhenti sejenak untuk menarik nafasnya.


"Paman Peter tidak ingin Jordan semakin parah, hingga suatu hari kami melakukan penelitian uji obat formula baru untuk Jordan."


"Hasilnya tidak cukup bagus, dia semakin tidak bisa terkendali ketika berada di situasi yang membuatnya mengingat masa lalunya."


"Dalam contoh kasus seperti tadi malam, kau juga mendengarnya ketika Lorez menceritakan apa yang terjadi ketika Jordan makan siang di tempat Federic."


"Tadi pagi, Jordan menelpon ku dan dia memarahiku kenapa aku menambah dosis obat penenang pada dirinya."


"Aku bahkan tidak memberikannya obat sama sekali, semalam aku hanya membersihkan luka ditangannya dan membalutnya kembali, mungkin itu obat penenang yang Paman Lee berikan waktu malam itu, bahkan dosisnya sangat kecil."


"Kau ingat bukan, kau meminumkan obat pada Jordan yang Paman Lee berikan padamu?"


"Sepertinya Jordan menemukan obat penenang baru yang lebih efektif, itu adalah kau Luna."


Luna masih tak percaya dengan apa yang Dokter Imanuel katakan, dia duduk sendiri di taman memikirkan semua itu, dokter Imanuel sudah pergi meninggalkannya, namun Luna masih tidak beranjak dari tempat duduknya.

__ADS_1


-Bersambung-


__ADS_2