CINTA MATI Seorang Mafia

CINTA MATI Seorang Mafia
-EPISODE 60- = SALING MENGUATKAN


__ADS_3

Angin berhembus masuk melalui jendela-jendela yang sedikit terbuka, tirai-tirai putih besar yang menjulang tinggi dan halus berkibar-kibar dengan lembut.


Para pelayan telah membersihkan kamar Rossalia, terlihat Jordan masih tertidur di samping istrinya dengan posisi duduk menggunakan kursi, tangan besarnya menggenggam erat jemari lentik Rossalia.


Kepala nya miring ke kanan tepat di samping tubuh istrinya.


Angin yang masuk membawa kesejukkan, perlahan matahari mulai naik memancarkan cahayanya masuk menyinari kamar utama, membuat tubuh Jordan menghangat.


Namun ada yang salah, tubuhnya seakan di belai angin dan cahaya dengan lembut, wajah Jordan, kemudian kepalanya, belaian yang penuh kasih sayang.


Jordan membuka perlahan matanya, tangan yang seharusnya ia genggam menghilang dan berpindah membelai pipinya.


"Sayang kau sudah bangun?"


Jordan terperanjat mengusap mata, suaranya terdengar berat.


"Yaa.. sudah beberapa menit yang lalu."


Rossalia tersenyum namun wajahnya masih terlihat pucat.


"Apa yang kau rasakan, aku akan panggilkan dokter agar memeriksa kondisimu."


Jordan hendak berdiri namun tangan Rossalia menahannya untuk tetap duduk, membuat infus yang menggantung bergoyang.


"Duduk lah dulu, kau terlihat lelah, aku baik-baik saja, atau berbaringlah bersamaku sebentar."


Rossalia tersenyum, suaranya lirih dan lembut.


"Baiklah sayang."


Jordan berbaring di sisi samping Rossalia dan memeluk istrinya.


"Apakah ini nyaman?"


Jordan bertanya memastikan, ia tidak ingin menyakiti tubuh istrinya.


"Hmm... Ini sangat nyaman, aku merasa aman dan hangat dalam pelukanmu."


"Seperti sudah sangat lama kita tidak tidur seperti ini."


Rossalia memejamkan matanya.


Jordan menciumi kepala istrinya dengan lembut dan mendekap Rossalia di dadanya.


"Sayang...?"


Jordan tidak melanjutkan kalimatnya.


"Aku tahu, aku dan anak-anakku memiliki ikatan batin yang kuat, mereka telah ikut berjuang bersama, tidak ada yang aku sesali, tidak ada dendam di hatiku, tidak ada amarah apapun di hatiku, kau pun juga harus begitu."


Air mata Rossalia mengalir membasahi pipi serta dada suaminya, ia menelan ludahnya saat tenggorokannya tercekat sakit.


"Tapi mereka tak berdosa, tidak seharusnya menanggung dosa-dosaku, karena kesalahankulah kalian harus menanggung nya."


Bisik Jordan, matanya berair dan terlihat letih.


"Mereka anak-anak yang kuat, mereka akan bahagia di alamnya, dan akan tumbuh menjadi remaja yang ceria. Kita akan berkumpul lagi di sana, jika waktu telah datang menjemput."


Rossalia menenangkan dirinya dan juga suaminnya.


"... Dan mereka akan melambai kan tangan bersamaan, menyambut kedatangan kita, tersenyum dengan ceria, berlari ke arah kita, memeluk kita, memanggil kita dengan sebutan ayah dan ibu."


"Jangan lagi ada peperangan atau dendam untuk siapapun, semua itu hanya akan membuat diri sendiri menderita."


"Sayang maafkan aku..."


Jordan memeluk istrinya erat, menciumi istrinya dengan lembut.


"Aku gagal melindungi kalian."


"Tidak, kau sudah melindungi kami, kau laki-laki hebat."


"Ini sangat berat, namun aku yakin kita bisa melewatinya jika kita saling menguatkan satu sama lain."


"Aku akan selalu ada di sisimu sayang."


Jordan membelai kepala Rossalia.


"Lalu...."


Kalimat Rossalia terhenti memilah kata yang tepat.


"Dimana anak-anak kita tidur?"


"Nicholas telah membawa mereka ke pemakaman keluarga Raiford tepat di samping makam ayah dan ibumu, yang juga kakek nenek mereka."

__ADS_1


"Apa kau ingin kesana sayang?"


"Ya, aku ingin mengunjungi mereka."


"Lalu bagaimana dengan Mateen?"


Rossalia seakan siap menerima kabar buruk, ia menahan nafasnya.


"Mateen masih dalam perawatan di kamar yang lain namun semalam ia dipindahkan ke Rumah Sakit milik Math Grup, Amber bersikeras, dan pria itu kehilangan banyak darah, Amber memiliki golongan darah yang sama, sedangkan Angela selalu menangis, namun operasi berjalan lancar."


"Semoga dia bisa melewati masa kritis."


Rossalia mengalihkan pandangan nya keluar jendela, melihat pantai dengan pantulan sinar matahari membuat laut terlihat seperti hamparan mutiara.


"Ini sangat indah, aku menyukainya."


"Memang ku buat agar kau menyukainya."


Namun Rossalia kembali merasakan kesedihannnya mengingat bagaimana anak-anak yang ia sayangi harus pergi meninggalkannya.


"Sayang maafkan aku."


Jordan mencium tengkuk istrinya, yang miring melihat pantai, ia memeluk tubuh Rossalia dari belakang.


"Ya aku memaafkanmu."


Mereka saling terdiam dalam pikiran masing-masing, menikmati kehangatan tubuh yang saling mendekap.


Merasakan damai, namun juga sedih.


Tak berapa lama para Dokter dan perawat tiba untuk melakukan pemeriksaan


"Selamat pagi Tuan Jordan."


Jordan berdiri dari ranjangnya dan mengamati.


Para dokter memeriksa dengan hati-hati sedangkan para perawat membantu.


"Tuan Jordan, kondisi tubuh Nona Rossalia masih lemah, dan juga karena efek pembersihan rahim, saya harap untuk beberapa minggu ke depan jangan melakukan hubungan intim, dan juga jangan membuat Nona Rossalia dalam keadaan tertekan, apalagi emosinya cepat berubah karena pengaruh hormon."


Jordan hanya menatap para dokter membuat mereka saling bertukar pandang, takut jika salah-salah berucap.


"Terima kasih dokter, suamiku tidak akan menyebabkanku dalam keadaan emosiaonal."


Rossalia tersenyum melihat tingkah para dokter yang gugup dan kepanasan.


Kemudian para dokter pergi sembari menundukkan kepala pada Jordan.


"Kenapa kau selalu dingin terhadap orang lain?"


Rossalia tersenyum mengangkat tangannya memberikan kode untuk Jordan mendekat dan berbaring di sampingnya lagi.


"Aku benci diatur sesuatu yang aku sudah tahu."


Jordan membenamkan kepalanya di dada Rossalia seperti anak manja, tangan Rossalia melingkar di kepala suaminya.


"Hmm terserah kau saja, jika kau ingin tidur, tidurlah, aku akan menjagamu."


"Aku tidak sakit, aku yang seharusnya menjagamu."


Suara Jordan samar karena ia membenamkan wajanya di dada istrinya.


"Kau terlihat lelah, matamu sayu, wajahmu terlihat kusam."


Kata Rossalia.


"Apakah ketampananku sudah mulai memudar?"


Tanya Jordan.


"Tidak, kau masih tetap Jordan yang tampan, yang memiliki kharisma menawan."


Rossalia memuji suaminya, karena memang kenyataannya seperti itu.


"Benarkah?"


"Aku menawan?"


Jordan menyibakkan baju Rossalia menjilat Payudar* istrinya dan menghisapnya, membuat tanda merah.


"Ehmmmm..."


Rossalia mendesah.


Tangannya meremas kepala dan rambut Jordan.

__ADS_1


"Bisakah kau tidur dengan tenang, atau jika kau tidak ingin tidur, ambilkan makanan yang diatas meja aku sangat lapar."


Rossalia kesal.


"Baiklah, hanya kau yang bisa menyuruh-nyuruh dan memerintah ini dan itu kepada seorang Jordan, bahkan dengan nada kesal."


Jordan membenarkan baju Rossalia, kemudian ia bangkit mengambil baki yang berisi makanan.


"Apakah sang Ratu juga ingin di suapi?"


"Ya aku ingin kau menyuapiku, mari kita makan bersama."


"Kau pasti juga lapar."


Jordan menyuapi Rossalia sedikit demi sedikit.


"Ternyata makan dengan menggunakan tangan orang lain jauh lebih enak."


Jordan tertawa melihat istrinya yang makin manja dengannya.


"Bagaimana bisa kau membangun kastil seindah ini dan sebesar ini, dan penghuninya hanya kau saja."


"Aku membangunnya untuk kita, aku ingin memiliki setidaknya 10 anak denganmu, bahkan aku sudah membangunkan taman penuh dengan rumput agar kita bisa bermain dengan anak-anak kita."


"10 anak?"


"Kau saja yang mengandung dan melahirkan."


Rossalia mengernyitkan dahinya.


"Kenapa? Atau kurang banyak?"


"Bagaimana kalau 20 anak?"


"Jordan!!!"


"Kau pikir aku ini mesin pencetak anak."


Rossalia memukul bahu Jordan.


"Auww sakittt..."


Jordan mengaduh dan memegangi bahu dengan tangan kananya.


"Apakah sesakit itu?"


"Aku hanya bercanda dan aku memukulmu tidak begitu keras."


"Aku juga hanya bercanda sayang."


Jordan tersenyum puas.


"Hmmm... Kau mengagetkanku."


Rossalia membuka mulutnya melanjutkan memakan sarapan dari suapan suaminya.


"Sepertinya aku ingin mandi, dan ingin menghirup udara diluar, pemandangan pantai mungkin akan membuatku lebih tenang,."


"Kau belum boleh mandi dan berendam, aku akan membantu melap tubuhmu sayang."


Jordan memanggil pelayan untuk membereskan baki-baki sarapan mereka, setelah para pelayan juga selesai menyiapkan air hangat untuk Rossalia, pria itu membantu menyandarkan tubuh istrinya dengan hati-hati.


Butuh setidaknya beberapa minggu pendarahan Rossalia berhenti, dan juga kram di perut Rossalia menghilang.


Matahari kian condong menampakkan sinar keemasan dan itu membuat Rossalia takjub dengan pemandangan yang di sajikan sang pencipta.


Ingin rasanya Rossalia melihat dan menunggu hingga matahari tenggelam namun Jordan tidak ingin Rossalia terlalu lelah.


Pria itu menggendong Rossalia dengan di belakang mereka di ikuti para pelayan yang masing-masing membawa infus serta tiang infus di tangan mereka.


Jordan membaringkan tubuh Rossalia di atas ranjang, kemudian membenarkan baju istrinya.


"Hmm.. ranjang ini nyaman, hangat, lembut, dan empuk."


Rossalia menikmati dengan memejamkan matanya.


Jordan tersenyum melihat istrinya sudah kembali ceria.


Tak lama pintu di ketuk, kemudian seseorang masuk, ia adalah Nicholas bersama dengan seorang wanita di belakangnya, bersembunyi di balik tubuh besarnya, sedikit takut dan khawatir.


.


.


.

__ADS_1


-Bersambung-


__ADS_2