
-Paradise Luxury Mansion-
Hujan masih saja mengguyur Negara K, telah berhari-hari matahari sembunyi tak menampakkan wujudnya, di ganti mendung dan serbuan air dari langit.
Petir menggelegar dengan keras, angin tak mau kalah menunjukkan kehebatannya, mungkin sebentar lagi badai akan datang lagi, setelah kemarin badai juga membuat pemerintah Negara K mengevakuasi beberapa wilayah yang terdampak.
Di dalam arena pelatihan pribadi tepatnya di dalam bangunan Luxury seorang pria duduk dengan badan yang berpeluh keringat, pria kesepian, kisah cintanya yang rumit di permainkan oleh keadaan masa lalu membuatnya dipukul mundur secara paksa oleh pria lain yang lebih kuat darinya.
Ya, masa lalu kekasihnya dan pria yang menghujamkan panah dengan 1 kali tarikan mampu meluluh lantakkan segalanya, harga dirinya dan perusahaannya di longsorkan dalam 1 menit, perusahaan yang telah di nobatkan sebagai perusahaan terbesar di bidang farmasi dan kesehatan hanya dengan 1 telfon dari seorang Jordan mampu meruntuhkan segalanya.
Meski semua kondisi sudah kembali normal karena Rossalia memilih untuk kembali pada pria itu dan memintanya untuk tidak mengganggu Mateen lagi namun harga dirinya justru semakin terluka.
Mateen mengatur ritme nafasnya yang menderu saling berlomba dengan dadanya yang naik turun karena kelelahan, ia mengambil botol nya, meminumnya kemudian mengguyur sisa air dalam botol itu di kepala.
Arena pelatihan pribadinya telah menjadi saksi bisu bagaimana Mateen berlatih tak kenal ampun dengan dirinya sendiri, memaksa tubuhnya untuk terus mempertajam keahlian pedang samurai, menembak, bahkan bela dirinya.
Kekalahannya melawan Jordan dan ketidak mampuannya melindungi keluarga, perusahaan bahkan kekasihnya yang selangkah lagi menjadi tunangannya runtuh hanya dalam hitungan menit.
Jordan memang kuat, bahkan organisasinya mulai merangsek masuk mengalahkan organisasi para bangsawan elit.
Mateen mencoba selalu menyibukkan dirinya dengan aktifitas yang tak pernah berhenti meski sejenak, pikirannya kalut dan labil ketika ia harus berdiam diri, isi kepalanya selalu di penuhi dengan Rossalia
Gadis itu memang candu baginya.
Tiba-tiba pria itu tertawa.
"Ha ha ha ha ..."
"Bahkan Tuhan pun mempermainkanku."
"Aku hanya sebagai alatmu mempertemukan mereka berdua."
"Tapi aku tidak akan menyerah dengan takdir yang kau berikan, aku tak akan ikut permainanmu."
Mateen mengutuki Tuhannya.
Mateen bangkit, ia melampiaskan segala emosinya dengan memukul dan menendang punching bag , tenaganya masih di forsir hingga nafasnya tersengol karena kelelahan.
Amber datang dan membantu Mateen yang tergeletak di atas lantai, pria itu menghirup udara dengan rakus.
"Mateen sadarlah, dia tak mungkin kembali, atau meskipun kau mampu membawanya kembali, hatinya bukan untukmu."
"Apalagi sekarang makin sulit untuk kau mengejarnya."
"Informasi apa yang kau dapat."
Mateen masih memejamkan matanya, tubuh nya yang penuh keringat berbaring di atas lantai.
"Beberapa hari yang lalu mereka mengajukan berkas pernikahan, kemarin surat pernikahan mereka telah selesai, mereka sudah menjadi suami istri."
"Suami-istri juga masih bisa bercerai."
Mateen menutup mata sendunya dengan lengan kanannya.
"Terserah kau saja, teruslah bermimpi !!!"
Amber tidak percaya Mateen masih terobsesi dengan cinta mustahilnya
.
__ADS_1
.
.
Hari terus berlanjut seakan tidak memberikan kesempatan Mateen untuk bernafas dan mengambil sebuah rencana untuk meraih tangan kekasihnya kembali, ia terperosok dalam pusaran cinta tak terbalasnya.
Akhirnya mentari pagi menampakkan pesona anggunnya, sinar matahari pagi yang lembut memancar ke segala ruangan Luxury.
Mateen menggosok matanya dengan 1 tangan, ia melihat sekitar nya dengan mata yang masih sedikit terpejam.
Pria itu meraskaan sekujur tubuhnya lemah, kepalanya linglung, tangan kanannya memukul pelipis kepala dengan sedikit menggoyangkan kepalanya.
Mateen menekan tombol panggilan cepat untuk pelayan, meminta untuk membersihkan kamarnya yang banyak botol-botol alkohol berserakan, kemudian ia melangkah menuju kamar mandi, untuk menyiram sekujur badannya dengan air dingin.
Beberapa jam berlalu Mateen keluar dari kamar mandi, dan melihat kamarnya telah selesai di bersihkan, ia berjalan menuju ranjang dan duduk di tepian mengambil sesuatu di dalam meja kecil di samping ranjangnya.
Sebuah kotak berukuran kecil, dan Mateen membukannya. Cincin berlian yang indah dengan kualitas terbaik yang Mateen pesan untuk Rossalia.
Pria itu memandangi sekilas, kemudian kembali menutup dan menyimpannya lagi.
"Mari kita lihat siapa yang akan benar-benar terluka."
Mateen tersenyum entah apa yang akan ia lakukan kali ini, jiwa dan pikiran nya telah di rasuki sesuatu yang berlainan dari prinsip hatinya.
Semua berawal dari kisah cinta pelik nya yang tak terbalas.
Keinginan memiliki yang tak mampu dan tak rela menerima takdirnya.
Mateen berjalan mantap menuju mobil sport nya, ia mengemudikan mobil itu menuju Apartment Dreams miliknya.
.
.
.
Mateen duduk di sofa menyilangkan kaki dan menyedekapkan tangannya, seorang wanita memakai piyama panjang dengan belahan piyama itu memperlihatkan paha mulusnya serta dada nya yang besar terlihat berisi, ia membawa secangkir teh panas untuk Mateen.
"Aku tahu kau akan datang, kau memilih keputusan yang tepat, dengan bergabung bersama Demon Star kau bisa menjatuhkan Jordan."
"Aku begitu terluka ketika Jordan dengan cepat membuat keputusan untuk menikahi gadis itu."
Angela meminum teh nya dengan perlahan.
"Tapi kau harus ingat, jangan pernah lukai Rossalia."
Mateen mengancam dengan tatapan tajam.
"Kau tahu?"
"Aku sangat membenci gadis itu, bahkan jika aku bertemu dengan nya ingin sekali mencekik, tapi rencana ku bukan itu, aku ingin gadis itu menjauhi Jordan dengan keinginannya sendiri, itu akan lebih membuat Jordan sakit, terpukul, dan jatuh, apalagi jika ia tahu istrinya lebih memilih mu."
"Apa rencanmu."
Mateen bertanya dan meminum teh nya.
"Tenang saja aku tidak akan membunuh kekasihmu, aku hanya ingin membuatnya merasakan apa itu pengkhianatan."
Angela menyedekapkan tangannya, ia berdiri menyederkan punggungnya di dinding.
__ADS_1
"Jangan sampai rencanamu membuatnya sakit, apalagi alam bawah sadar Rossalia memiliki trauma, aku dan para dokter berusaha menekannya agar tidak bangkit, trauma itu ada karena kebangsatan Jordan."
Mateen mengepalkan tangannya, wajah nya marah tak terima.
Angela mendekati Mateen, ia duduk di atas paha pria itu dan memeluk tengkuk Mateen.
"Aku tahu kau kesepian."
"Tapi sebentar lagi gadis itu pasti akan memilihmu, dan aku akan membuat Jordan tidak memiliki pilihan lain selain menerima pertunangan kami."
Angela perlahan mendekatkan bibirnya pada pria itu, ia tak menyangka Mateen memiliki paras yang lebih tampan dari foto yang ia lihat, bahkan kharisma pria itu mendorongnya untuk lebih dekat menempelkan tubuhnya.
"Kau tampan dan berkharisma meski Jordan masih jauh melampauimu, namun kau memiliki sesuatu yang tak Jordan miliki."
"Apa itu."
Mateen memeluk pinggul Angela dan membelai lembut.
"Status bangsawan."
"Keturunan asli darah biru dari kalangan bangsawan elit."
"Latar belakangmu, aku mengetahuinya."
Angela membisikan kalimat itu di telinga Mateen dan menggigitnya pelan, bibir merah menyala itu menuruni leher Mateen.
"Aku bisa menggantikan peran kekasihmu sementara, untuk menghilangkan dahaga di dalam hatimu, mungkin kau bisa melampiaskan nya padaku."
"Apakah kau mau menerima kekuatan yang mungkin akan meretakkan tulang punggung dan pinggulmu."
Mateen membalas Angela dengan membisikkan kalimatnya di telinga wanita itu.
"Yaahhh... Aku menantikannya..."
Angela merasa tubuhnya semakin panas, Mateen memiliki daya tarik yang luar biasa, ia menempelkan tubuh dan payudar*nya di dada Mateen.
"Benarkah?"
"Kau mau kita lakukan dimana."
Mateen menciumi leher Angela.
"Dimana saja, atau kita bisa lakukan itu di sini."
Angela mulai tak tahan, ia memeluk Mateen mengarahkan pria itu untuk menciumi dadanya.
"Sayangnya, aku tidak tertarik dengan wanita sepertimu, apalagi yang gampang di sentuh."
Mateen membisikkan lagi kalimatnya di telinga Angela.
"Lakukan saja tugasmu dan jangan sakiti Rossalia."
"Kau boleh berdiri, aku akan pergi."
Angela berdiri dan menghela nafasnya dengan kasar, ia melihat Mateen keluar dari apartemen.
.
.
__ADS_1
.
-Bersambung-